Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 92


__ADS_3

Deavenny memilih kembali mendekati Dariush dan Delavar. Ia menghentak-hentakkan kakinya sebal sekali karena momen romantisnya harus diganggu oleh wanita yang tak ia kenal. Ia pun memasang wajah cemberutnya, bibirnya memanyun seperti bebek.


Dariush dan Delavar pun tertawa melihat adik bungsunya itu. Wajah Deavenny terlihat sangat menggemaskan.


“Kenapa? Ada yang mengganggu acara bermesraanmu, ya?” ejek Dariush menaik turunkan alisnya.


“Ck! Siapa sih wanita itu! Pengacau sekali,” gerutu Deavenny.


Dariush dan Delavar pun saling berpandangan dan bertukar senyuman seolah sedang memberikan suatu isyarat.


“Kau tak tahu wanita itu?” tanya Delavar.


Deavenny menggelengkan kepalanya. “Tidak.”


Dariush menepuk pundak adiknya itu seolah menguatkan. “Kau mau tahu siapa dia?”


Deavenny mengangguk lemah dengan sedikit ragu. Ia sesungguhnya tak ingin mengetahui, tapi jiwa keponya sangat membuncah. “Katakan siapa dia.”


“Dia itu wanita yang dicintai oleh Marvel,” celetuk Dariush. Dia berbohong, sejujurnya ia juga tak tahu siapa wanita itu. Tapi dia sangat ingin membuat Deavenny sadar, jika perasaan itu tak akan pernah bisa bersatu, sebesar apa pun usaha yang dilakukan.

__ADS_1


Deavenny membulatkan matanya. “Serius?” tanyanya tak percaya.


Kedua perjaka itu mengangguk bersamaan.


“Menyerahlah, carilah seseorang yang memang bisa kau gapai,” nasihat Delavar.


Kedua pria itu pun menepuk pundak Deavenny.


“Setidaknya, aku sudah dicium oleh Marvel, dan dia mengatakan bahwa itu adalah tanda sayangnya padaku.” Raut sedih Deavenny seketika berubah bahagia lagi. Ia juga menjulurkan lidah kepada kakak-kakaknya karena sangat bahagia.


“Senang kau?”


“Tentu saja.” Deavenny senyum-senyum sendiri. “Ayo kita ke Indonesia. Aku sangat merindukan Danesh. Aku ingin menceritakan hal ini padanya. Dia juga harus tahu jika aku baru saja dicium oleh Marvel,” ajaknya dengan antusias.


“Aduh ...,” rintih Deavenny mengusap kepalanya yang kena pukul oleh kembarannya. Meskipun pelan, namun tetap saja berasa.


“Kau pikir kami tak punya pekerjaan sepertimu, kami ini manusia sibuk,” tolak Delavar.


“Hm. Apa lagi aku, gara-gara Danesh dihukum, pekerjaanku Jadi bertambah. Aku harus mengurus perusahaan pusat yang sangat melelahkan. Semoga saja Danesh tak berulah lagi agar tak diperpanjang hukumannya. Aku ingin segera fokus ke cabang saja,” keluh Dariush, si anak kedua.

__ADS_1


Deavenny mengerucutkan bibirnya dan matanya terlihat mengiba. Kedua tangannya pun mengatup memohon. “Ayolah ... kalian ini saudara macam apa, kembaran kita sedang kesusahan malah tak ada yang memperdulikannya. Apa kalian tak rindu dengannya?”


Dua pria itu menghela napasnya. “Tentu saja kami rindu. Tapi kami—” Ucapan Dariush itu terhenti saat Deavenny mengeluarkan suara.


“Cukup! Memang kalian ini tega sekali dengan Danesh.” Wanita itu pura-pura merajuk.


“Baiklah, lusa kita berangkat. Tapi hanya sebentar, karena pekerjaan kami sedang menumpuk.” Akhirnya permintaan wanita manja itu pun disetujui juga.


...........


Selepas pesta, Davis masuk ke dalam ruang kerjanya yang sekarang sudah jarang ia gunakan untuk bekerja. Ia lebih sering menggunakan ruangan itu untuk bercinta.


Diora sudah terlebih dahulu istirahat. Sebab setelah pesta, Davis menggempur istrinya itu hingga lelah dan tertidur di kamar mereka.


“Masuk!” seru Davis memberikan perintah pada seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruang kerjanya.


Seorang pria yang ia utus untuk menyelidiki kehidupan Danesh di Indonesia pun sudah berdiri tegap. Pria bernama Louis itu membungkuk memberikan hormat.


“Ini hasil penyelidikanku selama dua minggu aku mengikuti semua kegiatan Tuan Danesh.” Louis memberikan sebuah amplop berisi foto-foto yang ia bidik secara sembunyi.

__ADS_1


...........


...Jadi kang asongan lagi ah ... cangcimen cangcimen. Salah ya. Bunganya-bunganya, kopinya-kopinya. Biar aku bisa ngopi di taman bunga....


__ADS_2