
Daddy Davis membiarkan ketiga anaknya ikut mendengarkan percakapannya dengan Danesh. Kelima orang itu tetap berdiri di atas rooftop, sebab tak menemukan ada sofa ataupun kursi untuk duduk.
Ada sih yang bisa digunakan untuk duduk, tapi pada tembok setinggi perut mereka yang digunakan sebagai pembatas tepian. Mereka tak ingin mengambil resiko, siapa tahu ada setan yang jahil mendorong dan menjatuhkan mereka dari ketinggian sepuluh lantai.
“Hi ... aku belum siap untuk mati,” kelakar keempat kembar D itu saat melihat ke lantai dasar.
Plak! Plak! Plak!
Mereka saling melayangkan pukulan saat menyadari pikiran aneh mereka. Danesh menggeplak kepala Dariush, Dariush menggeplak kepala Delavar, Delavar menggeplak kepala Deavenny.
Dan Deavenny, tangannya masih menggantung hendak menggeplak kepala Daddynya yang berdiri di sampingnya, namun ia urungkan saat mendapatkan pelototan tajam pria berumur enam puluh tahun itu.
Deavenny menyengir kuda lalu melangkahkan kakinya mendekati Danesh.
__ADS_1
Plak!
Akhirnya pukulannya ia daratkan pada anak tertua.
“Gila, bisa-bisanya kita memikirkan mati didorong setan,” kelakar Delavar. Diikuti tawa ketiga kembar D.
Daddy Davis yang tak paham dengan arah pikiran anak-anaknya hanya menaikkan kedua alisnya. “Sudah, bercandanya?” tanyanya dengan suara tegas.
Keempat kembar itu kembali ke mode serius mereka. Dan siap mendengarkan apa yang hendak dibicarakan Daddy Davis.
“Kau.” Daddy Davis menunjuk Danesh. “Bagaimana bisa kau itu membiarkan dirimu diinjak-injak harga dirimu oleh keluarga istrimu? Mengapa kau diam saja? Memalukan! Anak Daddy tak ada yang ku ajarkan lemah jika ditindas ataupun disakiti,” ujarnya dengan rahangnya yang mengeras. Pikirannya kembali mengingat video yang ia lihat beberapa hari lalu.
Danesh tetap tenang, ia menjawab pertanyaan Daddynya. “Papa istriku mendesakku untuk membuat surat perjanjian dengannya karena dia tak menyukaiku yang miskin. Anakku yang berada dalam kandungan istriku sebagai taruhannya, dia tanpa segan-segan akan menggugurkan janin itu jika aku tak menuruti semua ucapannya. Janin itu adalah darah dagingku, sudah sepantasnya aku melindunginya untuk tetap sehat dan lahir ke dunia.”
__ADS_1
“Ha? Sombong sekali dia tak menyukaimu karena kau miskin,” serobot Deavenny yang gemas mendengar cerita Danesh.
“Aku jadi ingin melihat seberapa kaya mertuamu itu? Ingin sekali aku membandingkan dengan milik kita,” imbuh Delavar yang juga geram.
“Jika dia lebih kaya dari kita, memangnya kau mau apakan dia?” tanya Dariush yang gagal fokus pada Delavar.
“Ya aku ajak kerja samalah, lalu ku keruk uangnya hingga ia bangkrut,” balas Delavar percaya diri.
“Masih bisa kalian bercanda?” tegur Daddy Davis. “Sudah ku katakan, berbicara seperlunya saja. Kalian malah membuang-buang waktu dengan bercanda disaat serius seperti ini,” omelnya.
“Maaf, Dad.” Ketiga kembar D bersamaan berucap. Mereka kembali terdiam tak melanjutkan perdebatan kecil itu.
Daddy Davis kembali memusatkan matanya pada Danesh. “Bagus, artinya kau tanggung jawab. Tapi tetap tak aku benarkan caramu yang diam saja menerima hinaan dari mereka. Bahkan kau hampir mati diberi racun oleh mereka,” geramnya.
__ADS_1
“Dad, jika saat itu aku memiliki uang dan tak hidup kekurangan, aku pun tak akan mau diperlakukan seperti saat itu,” balas Danesh masih dengan wajah datarnya yang terlihat tenang.
Daddy Davis mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah kembali menyelimuti dirinya karena menyetujui hukuman yang dicetuskan oleh istrinya.