
Sementara itu, di belahan bumi lainnya yang memiliki perbedaan waktu empat jam lebih lambat dari negara Indonesia. Tepatnya di Kota Helsinki, ibu kota negara Finlandia. Awan biru masih menghiasi seluruh bagian kota, matahari pun baru muncul beberapa jam yang lalu sehingga cuacanya belum terik. Udara segar pun masih bisa mereka hirup.
Seorang wanita berkisar umur empat puluh lima tahun tengah duduk di pinggir kolam renang mansionnya. Kakinya ia biarkan terendam di dalamnya. Matanya menatap genangan air yang lumayan dalam. Ia tak berkedip karena tengah melamun.
Sang suami yang masih terlihat gagah karena setiap hari ia berolahraga di umurnya yang menginjak enam puluh tahun, menggelengkan kepalanya melihat istrinya hampir setiap hari termenung. Ia pun mengambil handuk dan berjalan mendekati sang istri.
“Kenapa kau selalu merenung dipagi hari?” tanya Davis. Ia berjongkok agar istrinya mudah menatapnya.
Diora, sang istri pun menolehkan kepalanya dan pandangannya dipenuhi oleh pria yang setiap hari mengisi hari-hari tuanya. Ia pun mengedikkan bahunya. “Entahlah, aku juga tak paham. Tapi perasaanku seperti tak enak. Aku memikirkan Danesh. Apakah dia bisa melewati masa hukumannya itu?” jawabnya.
Davis perlahan menaikkan kaki istrinya dari kolam. Kulit itu sudah menjadi putih pucat akibat terlalu lama terendam. Ia pun mengelap dengan penuh perhatian dan kelembutan. “Aku sudah menawarkan padamu untuk menjenguknya atau mengirimkan orangku untuk memantaunya, tapi kau selalu menolaknya.”
__ADS_1
Dengan matanya yang sedih, Diora menatap suaminya. Kakinya ia tekuk dan kedua tangannya ia silangkan di atas kedua lututnya. “Aku hanya tak tega saja jika mengetahui anakku hidup susah. Aku takut tak bisa tegas dengannya,” tuturnya.
Davis hanya bisa menghela napasnya. Istrinya itu sungguh aneh. Dia yang memberikan hukuman, dia sendiri yang khawatir, tapi tetap saja tak mau mengetahui kehidupan putranya sendiri.
“Kita bicara di sana saja yang lebih nyaman,” ajaknya menunjuk kursi. Davis mengulurkan tangannya untuk membantu Diora berdiri.
Diora meraih tangan suaminya. Saat ia hendak berjalan sendiri, tiba-tiba tubuhnya sudah digendong oleh Davis.
Kaki Davis masih terus mengayun menuju kursi panjang, namun matanya menatap istrinya dengan alisnya yang terangkat sebelah. “Kau meragukan tenagaku? Kau mau mencoba berolahraga lagi yang menghasilkan peluh kenikmatan? Mau berapa ronde? Sepuluh? Dua puluh? Aku masih kuat meladeninya,” kelakarnya.
Diora mencubit gemas lengan suaminya. “Kau itu sudah berumur tapi pikirannya masih saja ke ranjang.” Ia berdecak dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Davis mulai menurunkan tubuh istrinya dan mendudukkannya di kursi kayu yang berukuran panjang. Ia pun ikut menghempaskan pantatnya di samping sang istri.
“Bercanda, aku tak sekuat dulu lagi. Mungkin sehari tiga ronde saja aku sudah lemas,” sahut Davis.
Diora kembali termenung karena perasaannya sungguh tak enak. Ia menatap suaminya dengan intens. “Apa hukuman yang aku berikan pada Danesh keterlaluan, ya?” tanyanya.
“Sedikit.”
Diora berdecak namun ada perasaan bersalah yang ia rasakan. Tapi ia sungguh belum memiliki keinginan untuk mencabut hukumannya.
Davis yang melihat istrinya kembali termenung, mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Diora. “Jika kau memiliki perasaan buruk terhadap anak kita, izinkan aku mengutus orangku untuk memantaunya di sana. Atau, kau sudahi saja masa hukuman dia,” tawarnya.
__ADS_1