
“Benar apa yang dikatakan Mommy, Daddy kami memang wajahnya seperti itu,” tutur Delavar. Diikuti anggukan kepala oleh Dariush dan Deavenny.
Mommy Diora beralih memeluk dari samping tubuh menantunya. “Mulai sekarang, panggil aku Mommy. Dan panggil suamiku Daddy,” pintanya.
“I-iya, Mom.” Felly masih menyesuaikan panggilannya untuk mertuanya itu.
Wajah Felly yang semula pucat pasi, kini sudah berubah normal kembali. Ternyata pikirannya tentang orang tua Danesh semuanya salah. Mommy Diora begitu lembut dan menerimanya dengan lapang dada. Hanya saja. Ia belum tahu bagaimana Daddy Davis.
“Kau,” panggil Daddy Davis.
“Felly, Dad,” tegur keempat anak Davis kompak.
Daddy Davis berdecak. “Iya, Felly maksudku.”
“Ya, D-dad?” balas Felly lirih.
“Kau mencintai anakku?” tanya Daddy Davis. Ia kini beralih menginterogasi menantunya. Wajahnya masih saja sama, datar, namun matanya tajam.
Felly mengangguk yakin. “Aku mencintai suamiku,” jawabnya.
__ADS_1
“Jika kau mencintai anakku. Apa kau bersedia meninggalkan negaramu dan pindah ke negara kami? Karena aku tak akan mengizinkan Danesh tinggal di Indonesia lagi setelah mengetahui perlakuan buruk Papamu dan Adikmu,” tanya Daddy Davis.
“Dad ...!” Lagi-lagi pria berumur enam puluh tahun itu ditegur oleh anak-anaknya.
“Ck! Kalian ini, diam dulu, bisa tidak? Daddy sedang menginterview dia,” timpal Daddy Davis balik menegur anak-anaknya.
“Interview? Dia ini menantu Daddy, bukan calon karyawan Daddy,” sahut Dariush membenarkan Daddynya.
“Kalian ini diam dulu. Biarkan Daddy yang berbicara dengannya. Banyak komentar sekali, sudah seperti netizen saja kalian ini,” decak Daddy Davis. Ia lelah setiap kali ingin berbicara pada menantunya selalu dipotong oleh anak-anaknya.
Mata Daddy Davis kembali terfokus pada Felly. “Jadi bagaimana? Kau bersedia meninggalkan negaramu untuk tinggal bersama Danesh di Finlandia dan berpindah kewarganegaraan?” ulangnya.
“Ya, aku bersedia,” jawab Felly dengan suara yang sedikit lantang agar terlihat meyakinkan. Ia tak memikirkan bagaimana nasib perusahaan keluarganya, ditanya oleh mertuanya mendadak membuatnya sulit sekali berpikir seimbang.
“Bagus. Berarti, Daddy ingin kalian melangsungkan pernikahan ulang setelah kalian mengurus kepulangan ke Finlandia,” pinta Daddy Davis. Ia tak rela melewatkan pernikahan anaknya. Meskipun bukan janji suci pertama yang diucapkan oleh putranya, setidaknya ia bahagia menyaksikan salah satu anaknya untuk berkeluarga sendiri.
“Ya, Dad.” Danesh yang menjawabnya.
“Dan Felly, kau harus terbiasa dengan wajahku seperti ini. Aku bukan membencimu atau menakutimu. Memang seperti inilah Tuhan memberikanku ketampanan. Aku memang tak suka dengan perilaku kedua anggota keluargamu itu, tapi bukan berarti aku harus membencimu juga. Aku tahu kau tak seperti mereka,” ujar Daddy Davis. Ia ingin menantunya nyaman hidup bersama dengan keluarganya dan membiasakan diri.
__ADS_1
Felly mengangguk. “Iya, Dad.” Kini ia bisa berucap dengan lancar. Tak takut seperti tadi.
“Selamat Datang di Keluarga Dominique ...,” seru Deavenny. Ia berlari kecil memutari tempat tidur pasien untuk mendekati kakak iparnya. Ia langsung memeluk tubuh Felly.
“Ikut,” ucap Delavar.
“Aku juga,” ujar Dariush.
Dariush dan Delavar sudah merentangkan tangannya ingin memeluk Felly juga. Namun ...
Tuk! Tuk!
Danesh memukul kepala kedua adiknya itu. “Jauh-jauh dari istriku. Hanya aku yang boleh memeluknya,” tegurnya.
Dariush dan Delavar memutar bola mata mereka. “Dasar suami posesif, kau sama saja dengan Daddy,” ejek mereka.
“Kau pasti akan posesif juga jika sudah menikah.”
“Tidak mungkin!” balas Dariush dan Delavar bersamaan.
__ADS_1
“Ku sumpahi kalian berdua akan menjadi suami yang seribu kali lebih posesif daripada aku dan Daddy,” kutuk Danesh.