
Selesai berbincang, semua orang pada terdiam lagi dengan pikiran yang fokus kepada Mirza.
Sebab Dokter sudah cukup lama belum ke luar juga dari dalam ruang perawatan tersebut, membuat pikiran mereka semakin cemas saja.
Cyra tidak henti-hentinya terus berdoa untuk keselamatan sang suami, dan sekarang dirinya sudah tidak ada lagi amarah terpendam untuk Akmal.
Semua hilang begitu saja, karena Cyra type orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Ada perasaan lega yang dirasakan oleh Akmal sekarang, karena pada akhirnya, ke dua orang tuanya sudah mengetahui bagaimana sifat aslinya Aalifa.
Akan tetapi perasaan lega itu hanya sebagian saja, karena dirinya belum mengetahui bagaimana keadaan dari sang Kakak.
Sedang pada termenung, tiba-tiba ruang perawatan Mirza terbuka dari dalam, dan para tenaga medis langsung mendorong ranjang pasiennya Mirza untuk mereka pindahkan ke ruang ICU.
Semua Keluarga yang melihat, tentu saja langsung saling mendekat, dan bertanya kepada salah satu Dokter atau asisten Dokter, akan dibawa ke manakah Mirza sekarang.
" Mau dibawa ke mana anak saya Dokter?? ," tanya Ayah Rafiq sambil terus mengikuti langkah Dokter yang sedang terburu-buru.
" Akan kami pindahkan ke ruang ICU, karena keadaannya sedang kritis ," jawab sang Dokter sambil terus melangkah.
" Astaghfirullah ," ucap semua orang secara bersamaan.
Setelah beberapa saat berjalan dengan langkah kaki yang lebar, akhirnya para tim medis tadi sudah bisa memindahkan Mirza ke dalam ruang ICU yang ada di rumah sakit tersebut.
Kaki Cyra seakan lemas seperti tidak bertulang, karena melihat keadaan sang suami yang bukannya membaik malah memburuk.
Hingga pada akhirnya, Cyra pun pingsan di atas lantai nan dingin tersebut.
" Cyra!! ," ucap semua orang secara bersamaan. Dan semua orang langsung mencoba menyelamatkan Cyra, dengan membawanya ke ruang UGD.
Para tim medis yang ditugaskan untuk menyelamatkan Cyra, setelah mereka memeriksa keadaan Cyra, mereka mengatakan, jika Cyra terlalu banyak pikiran alias stres, hingga membuat tekanan darahnya menjadi rendah.
Semakin bertambah saja pikiran mereka semua, mendengar kondisi Cyra yang sedang tertekan karena memikirkan keadaannya Mirza.
" Terimakasih Dokter ," ucap Umma Nada kepada sang Dokter.
Sedangkan Abi Rasyid hanya mengangguk ramah saja kepada Dokter tersebut. Setelahnya, sang Dokter pun berlalu pergi dari hadapan Abi Rasyid dan Umma Nada.
" Biar Cyra, Umma saja yang menemani, Abi kembalilah bersama mereka ," ucap Umma Nada.
" Tidak apa-apa kan Umma, Abi tinggal sendirian di sini?? ," tanya Abi Rasyid.
" Tidak apa-apa Abi ," jawab Umma Nada.
" Kalau ada apa-apa, segera hubungi Abi ya, Umma ," ucap Abi Rasyid.
" Iya baiklah ," jawab Umma Nada.
Abi Rasyid pun lalu pergi dari dalam ruang UGD, untuk ikut bergabung bersama yang lainnya lagi.
Sesampainya dihadapan semua orang, semua orang langsung bertanya kepada Abi Rasyid tentang keadaannya Cyra.
" Cyra terlalu stres hingga membuat darahnya menjadi rendah ," jawab Abi Rasyid.
" Pasti dia terlalu memikirkan keadaannya Mirza ," ucap Mama Jian.
" Iya Mbak Jian ," jawab Abi Rasyid.
Sedangkan Akmal yang juga mendengarnya, dia semakin bersedih, sebab tidak tega melihat Cyra sampai ikut-ikutan drop juga seperti itu.
__ADS_1
Beralih ke ruang UGD lagi.
Akhirnya, Cyra sadar juga dari pingsannya, dan ketika terbangun, Cyra cukup terkejut, sebab dirinya sudah terbaring di atas ranjang pasien, dengan infus yang menusuk di tangannya.
" Aku ada di mana ini?? ," ucap Cyra sambil menetralkan pandangannya.
Umma Nada yang melihat Cyra sudah tersadar, langsung tersenyum senang.
" Kamu ada di ruang UGD, Nak, tadi kamu pingsan ," jawab Umma Nada.
" Umma ," ucap Cyra.
" Bagaimana keadaan Kak Mirza?? ," tanya Cyra.
" Belum tahu, karena belum ada kabar dari semua orang ," jawab Umma Nada.
" Cyra tidak bisa berdiam diri di sini saja Umma, Cyra ingin menemani Kak Mirza bersama yang lainnya ," kata Cyra.
" Tapi keadaanmu masih lemah, Cyra ," jawab Umma Nada.
" Cyra tetap tidak mau berada di sini, Umma ," jawab Cyra.
" Baiklah tunggu sebentar ," kata Umma Nada.
Umma Nada lalu mencoba meminta ijin kepada salah satu Dokter, untuk mengijinkan Cyra melihat keadaannya Mirza.
Akhirnya, permintaan ijin dari Umma Nada dikabulkan oleh Dokter, asal nanti kembali lagi ke ruangan, sampai keadaannya mulai membaik.
" Baik Dokter, terimakasih ," jawab Umma Nada.
Umma Nada lalu membantu Cyra untuk duduk di kursi roda dan meminjam kursi roda yang ada di situ. Karena Umma Nada takut, jika Cyra pingsan lagi di jalan, sebab keadaanya masih lemas.
Semua orang yang melihat keadaan Cyra sedang duduk di kursi roda, dengan infus yang masih menempel di tangannya, langsung bergegas mendekati Cyra.
" Cyra merasa lebih baik jika berada di sini Mama, daripada berada di sana ," jawab Cyra.
" Iya, terserah kamu saja Nak, yang penting kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya Nak ," jawab Mama Nada. Dan Cyra hanya tersenyum saja.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya, akhirnya ruang perawatan ICU pun terbuka dari dalam, dan ke luar lah seorang Dokter yang memakai pakaian dinasnya.
Melihat kedatangan sang Dokter, semua orang langsung berjalan mendekat ke arah Dokter tersebut.
" Dokter bagaimana keadaan Kakak saya?? ," tanya Akmal.
" Maaf, istrinya apakah ada di sini?? ," tanya balik sang Dokter.
" Saya Dokter ," jawab Cyra.
" Tuan Mirza ingin bertemu dengan anda, Nyonya ," jawab sang Dokter.
" Baik Dokter ," jawab Cyra.
" Tapi sebelum masuk, tolong Dokter lepaskan dulu infus ini, karena saya tidak mau, jika suami saya melihat saya sedang diinfus begini ," pinta Cyra.
" Baiklah ," jawab sang Dokter.
Setelah infus sudah dilepaskan oleh sang Dokter, Cyra pun lalu masuk ke dalam untuk menemui Mirza.
" Abi ," ucap Cyra.
__ADS_1
" Umi, jaga anak kita dengan baik ya, Abi sudah tidak kuat lagi ," jawab Mirza dengan suara lirih
" Abi bicara apa sih, Abi pasti sembuh ," ucap Cyra dengan jantung yang bertalu-talu.
" Tidak, sudah saatnya Abi pergi dari kehidupan kalian semua ," jawab Mirza.
" Tolong jaga anak kita dengan baik ya Umi ," ucap Mirza.
" Abi sangat mencintai Umi, dan Abi ridho, jika suatu saat nanti, Umi menemukan jodoh lain selain Abi ," ucap Mirza lagi.
" Tidak,!! Abi tidak boleh pergi meninggalkan Umi, Abi harus sembuh!! ," jawab Cyra.
" Tolong panggilkan Akmal ke sini ya Umi ," kata Mirza.
" Abi mohon ," ucap Mirza lagi, ketika Cyra seperti enggan meninggalkannya.
" Baiklah ," jawab Cyra dengan terpaksa.
Cyra lalu ke luar dari dalam ruang ICU tersebut, dan dia langsung memanggil Akmal untuk menggantikannya.
Akmal segera masuk ke dalam, dan dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang Kakak.
" Kak Mirza ," ucap Akmal.
" Akmal ," ucap lirih dari Mirza.
" Iya, Akmal di sini Kak, Kakak pasti sembuh, Akmal sudah tidak mau meninggalkan Kakak lagi ," jawab Akmal.
" Berjanjilah kepada Kakak, untuk selalu menjaga Cyra dan anak Kakak ," ucap Mirza.
" Jaga mereka dengan segenap jiwa ragamu ya Akmal ," ucap Mirza lagi.
" Kakak pasti sembuh Kak, yang semangat ," jawab Akmal.
" Tidak, sudah waktunya Kakak pergi, Akmal ," jawab Mirza.
" Kakak ikhlas jika kamu ingin menikahi Cyra, karena Kakak akan lebih tenang jika Cyra bersamamu, daripada dengan laki-laki lain ," ucap Mirza, yang membuat Akmal sangat terkejut sampai tidak bisa menjawabnya.
" Ke luar lah, Kakak ingin beristirahat sebentar ," kata Mirza setelahnya.
Mau tidak mau, tanpa banyak berbicara, Akmal pun langsung ke luar dari dalam ruang perawatan Mirza.
Melihat Akmal sudah ke luar, semua orang langsung bertanya kepada Akmal, apa yang tadi dikatakan oleh Mirza kepadanya.
" Kak Mirza cuma menitip Cyra dan anaknya kepada Akmal, setelahnya, Akmal di suruh untuk ke luar, karena dia ingin beristirahat ," jawab pelan dari Akmal.
" Apakah Kakak kamu, tidak mengatakan ingin bertemu dengan Ayah atau yang lainnya, Akmal?? ," tanya Ayah Rafiq dan Akmal langsung menggelengkan kepalanya.
Pandangan mereka semua lalu teralihkan lagi, ke arah Dokter yang baru saja ke luar dari dalam ruang ICU tempat Mirza sedang di rawat, dengan ekspresi yang membuat jantung semua orang berdebar-debar.
" Dokter ," ucap semua orang.
" Maafkan kami ," jawab sang Dokter.
" Apa maksud ucapan Dokter?? ," tanya Akmal.
" Tuan Mirza, sudah pergi meninggalkan kita semua ," jawab sang Dokter dengan suara pelan.
Semua orang tentu saja sangat terkejut sekali, dan Abi Rasyid sudah menduga akan hal itu, karena melihat kondisi Mirza sekarang.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...