
Sedang asik mengobrol. Tiba-tiba baby Zahwa rewel karena mengantuk. Cyra langsung pamit undur diri sejenak untuk meenyusui baby Zahwa yang ingin tidur. Sholawatan terus terdengar di telinga baby Zahwa hingga akhirnya dia tertidur juga.
Telinga Cyra teralihkan ke ponsel miliknya yang ada di dalam tas yang sedang berdering. Perlahan tapi pasti sambil menimang baby Zahwa. Cyra langsung mengangkatnya yang ternyata dari Kalila.
"Halo! Assalamu'alaikum Kalila."
Kalila langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Cyra. Kamu sedang ada di mana sekarang?"
"Sedang ada di konveksi untuk mengecek jahitan. Ada apa memangnya Kalila?"
Kalila merasa terkejut. "Wah! Kamu punya konveksi sendiri ya Cyra? Hebat sekali!"
"Bukan! Ini konveksi yang bekerjasama dengan butikku. Ini juga aku cuma meneruskan usaha kak Mirza yang sudah membuat butiknya sangat maju seperti sekarang."
"Ok-ok. Nanti kamu bisa cerita semuanya kepadaku. Sekarang aku mau mengatakan jika nanti malam kita semua jadi ke rumahmu," kata Kalila.
Cyra tersenyum. "Baiklah. Aku akan menunggu kedatangan kalian semua nanti."
"Siiip! Kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Dan akhirnya sambungan telepon mereka terputus juga.
Selesai menerima telepon dari Kalila. Cyra langsung mencoba menghubungi Akmal. Dan kebetulan Akmal baru saja keluar dari dalam kelas. Sambil berjalan menuju ke ruang kantornya. Akmal langsung mengangkat sambungan telepon dari Cyra.
"Halo Sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Abu. Abu sedang apa?" jawab Cyra.
"Ini! Baru saja selesai mengajar. Setelah ini ada bimbingan skripsi sebentar dengan anak-anak. Setelahnya pulang deh. Ada apa Sayang?"
"Tidak apa-apa. Umi cuma mau bilang. Jika nanti malam teman-teman mau datang ke rumah kita, Abu."
__ADS_1
"Oh. Ya sudah! Tidak apa-apa. Lebih baik Umi pulang dulu deh dari sekarang. Supaya Umi tidak kecapekan. Biar Abu saja nanti yang memantau butik sama konveksinya," saran Akmal.
"Baiklah kalau itu keinginan Abu. Umi mau siap-siap pulang dulu."
Akmal mengangguk. "Hati-hati ya Sayang mengendarai mobilnya."
"Iya! Abu juga hati-hati. Umi tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. I love you."
"Love you too," sambungan mereka setelahnya berakhir juga.
Cyra lalu langsung bersiap-siap untuk pulang ke rumah seperti perintah sang suami. Dan seperti ucapan Akmal tadi. Setelah selesai bimbingan skripsi dengan beberapa mahasiswa atau mahasiswinya. Akmal segera pergi menuju ke butik milik Mirza.
Seperti mendapat firasat. Entah kenapa Akmal ingin sekali mengecek butik yang menjual khusus pakaian laki-laki. Dan sesampainya di sana. Akmal langsung mendapatkan laporan dari manajer butik tentang kejadian tadi pagi yang dialami oleh Cyra.
Terkejut! Tentu saja Akmal terkejut dong. Bagaimana bisa tidak terkejut jika istri yang paling dicintainya mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan di butiknya sendiri. Apalagi ketika Akmal mendengar anak dari ibu itu alias Fajar ingin meminta nomor teleponnya Cyra.
Sekejap Akmal dikuasai rasa cemburu. Namun perlahan dirinya sadar jika kesalahan bukan terletak di Cyra. Tapi di Fajar yang sudah berani meminta nomor teleponnya Cyra.
Sedangkan Cyra tadi. Sesampainya di rumah. Dirinya langsung masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa ya? Orang-orang suka menjudge orang lain tanpa mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Kalau seumpama kak Akmal tahu tentang kejadian tadi di butik bagaimana ya? Aku takut jika dia sampai marah kepadaku atau emm! Entahlah!" Cyra masih berbicara sendiri.
"Terlebih jika mengetahui tentang laki-laki tadi yang berani meminta nomor teleponku dengan dalih ingin lebih tahu barang-barang terbaru keluaran butik."
"Huh!" Cyra menghela nafasnya.
Daripada pusing memikirkan hal yang membuat perasaannya tidak tenang. Setelah sholat dhuhur. Cyra memilih untuk beristirahat saja. Hingga tanpa dia sadari jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Bahkan ketika Akmal sudah pulang pun. Cyra masih tertidur dan dirinya tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Cyra terbangun ketika mendengar suara baby Zahwa yang mengoceh seperti memanggil seseorang. Yang ternyata dia melihat Akmal sedang memakai kaos rumahannya.
Cyra terkejut melihat Akmal sudah pulang. "Abu! Abu sudah pulang? Sejak kapan? Maaf Umi ketiduran."
Akmal tidak menjawab. Dirinya lalu duduk di pinggir ranjang sambil memangku baby Zahwa kepangkuannya. "Kenapa tadi di telepon Umi tidak bercerita tentang kejadian di butik? Dan tentang laki-laki itu yang sudah berani minta nomor teleponnya Umi?"
"Maafkan Umi, Abu. Umi tidak mau membuat Abu khawatir ketika masih ada di kampus. Dan rencananya Umi akan cerita di rumah saja."
"Untuk laki-laki itu. Abu tenang saja. Alhamdulillah, Umi masih bisa menjaga diri. Percayalah. Cinta Umi cuma untuk Abu seorang. Hanya Abu, surga yang Umi cari selama ini. Tidak ada laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi Abu di hati Umi," Cyra sambil rebahan di paaha Akmal. Dan Akmal langsung mengusap kepala Cyra dengan lembut.
Tapi karena posisi Akmal sedang memangku baby Zahwa. Alhasil rambut Cyra malah dijambak oleh baby Zahwa hingga Cyra mengaduh kesakitan. Hal itu membuat Akmal dan Cyra langsung tertawa melihat tingkah sang putri.
"Abu akui. Abu merasa cemburu. Tapi Abu lebih percaya sama Umi. Dan Abu juga merasa khawatir ketika ada ibu-ibu yang sudah berani merendahkan Umi seperti tadi."
"Umi sudah tidak apa-apa ko Abu. Tenanglah," Cyra menjawabnya dengan suara lembut sekali.
Cyra tersenyum manis. "Rasulullah orang yang paling baik akhlaknya di muka bumi ini. Masih mendapatkan cacian, hinaan dari orang-orang. Apalagi Umi. Yang cuma manusia biasa yang tidak luput dari dosa."
Gantian Akmal yang tersenyum sambil mengusap pipi Cyra. "Alhamdulillah jika Umi tidak kenapa-kenapa."
"Lain kali jika ada apa-apa segera kasih tahu Abu ya. Jangan Umi pendam sendiri." Cyra langsung menganggukkan kepalanya.
" Sudah sana! Mandi, lalu sholat ashar Sayang. Biar Aiza, Abu saja yang memandikannya."
Cyra mengangkat tangannya seperti hormat. "Siap Abu ku tersayang," sambil mengecup mesra bibir Akmal.
Akmal tersenyum melihat sikap Cyra yang bisa saja membuat hatinya merasa bahagia.
Kebahagiaan Cyra adalah kebahagiaannya juga. Dan ketika mendengar Cyra disakiti seseorang. Akmal seperti bisa merasakan rasa sakitnya juga. Itulah cinta. Cinta yang tulus dari dasar hati yang paling dalam. Dan yang paling terpenting didasari dengan landasan agama. Supaya bisa memperlakukan pasangan kita seperti yang sudah dicontohkan oleh Nabi besar kita Muhammad.
Akmal berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Cyra. Ada pepatah mengatakan. "Semakin sulit mendapatkan apa yang kita mau. Pastinya semakin besar pula kita untuk mempertahankannya."
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...