
Kedatangan Akmal dan Ayah Rafiq, membuat pandangan semua orang yang sedang menunggu di depan ruang perawatan Mirza, langsung teralihkan kepada mereka berdua.
Sebelum Akmal dan Ayah Rafiq sampai di rumah sakit, Mirza yang sedang melamun dan ditinggal Cyra sebentar ke dalam kamar mandi, tiba-tiba dia merasakan rasa sakit di kepalanya yang rasanya teramat sangat sakit sekali.
Para orang tua yang sedang berbincang pun, dibuat sangat terkejut melihat Mirza mengaduh kesakitan begitu.
Abi Rasyid tidak pakai lama, langsung memencet tombol darurat yang ada di situ, dan Cyra yang baru saja ke luar dari dalam kamar mandi, juga tidak kalah terkejutnya, ketika melihat sang suami kejang-kejang sambil memegang kepalanya menggunakan ke dua tangannya.
" Nak bertahanlah ," kata Abi Rasyid sambil mencoba mengecek keadaan Mirza.
Abi Rasyid tidak bisa berkata apa-apa, karena Abi Rasyid tahu, jika keadaan Mirza semakin memburuk, hingga akhirnya, para tenaga medis pun datang untuk mengecek kondisi Mirza.
Semua orang disuruh untuk ke luar terlebih dahulu oleh salah satu asisten Dokter, supaya mereka bisa memeriksa keadaan Mirza dengan lebih leluasa.
Dan di saat sedang menunggu tersebut, mereka semua dikejutkan oleh kedatangan Akmal bersama Ayah Rafiq.
" Akmal ," kata Mama Jian sambil memeluk Akmal dengan erat.
Pelukan dari sang Mama, langsung dibalas oleh Akmal tidak kalah eratnya.
Abi Rasyid dan Umma Nada juga mendekat ke arah Akmal, untuk memberikan sambutan dengan senyuman manis, kecuali Cyra, dia cuma melirik saja, setelahnya, Cyra memilih diam untuk berdoa di dalam hati, sambil terus menatap ke arah ruang perawatan sang suami.
" Bagaimana keadaan Kakak, Mama?? ," tanya Akmal.
" Tadi Kakak kamu kejang-kejang, dan sekarang sedang ditangani oleh Dokter ," jawab Mama Jian.
" Maafkan Akmal, Ma, maafkan Akmal, karena sudah membuat Kak Mirza semakin memburuk keadaannya ," kata Akmal lagi.
" Iya Nak, kamu tidak perlu meminta maaf, semua ini sudah takdir dari-Nya ," jawab Mama Jian.
Akmal lalu mencoba berjalan mendekati Cyra, yang cuma duduk sambil melamun menatap ke arah pintu ruang perawatan.
" Cyra ," panggil Akmal ketika sudah berdiri di depan Cyra.
Pandangan Cyra teralihkan ke arah Akmal yang sudah berdiri dihadapannya.
Para orang tua juga sedang memperhatikan, apa yang ingin Akmal katakan kepada Cyra.
" Maafkan Kakak, karena sudah membuat Kak Mirza masuk rumah sakit lagi ," ucap Akmal kepada Cyra.
Cyra masih diam saja, lalu dia berdiri dari duduknya tepat dihadapan Akmal, dan pasti kalian semua terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Cyra kepada Akmal.
__ADS_1
Karena tanpa banyak berbicara, tiba-tiba Cyra langsung menampar pipi Akmal dengan sangat keras sekali, hingga suara tamparan tersebut menggema di dalam lorong tersebut.
Umma Nada, Abi Rasyid, Ayah Rafiq dan juga Mama Jian, benar-benar terkejut dengan sikap Cyra yang berani menampar Akmal.
" Jika maaf bisa membuat Kak Mirza sembuh, lantas kenapa Kak Mirza harus masuk ke rumah sakit lagi!! ," ucap Cyra.
Setelahnya, Cyra berbalik badan dan sedikit menjauh dari mereka semua.
Abi Rasyid mencoba mendekati Akmal, lalu menepuk pundaknya.
" Maafkan Cyra ya Nak ," ucap Abi Rasyid.
" Ini pertama kalinya Abi melihat Cyra bisa bersikap kasar kepada seseorang ," kata Abi Rasyid lagi.
" Mungkin, sudah terlalu banyak beban yang dipikirkannya, hingga membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya ," kata Abi Rasyid lagi.
" Akmal tidak apa-apa ko Abi, semua ini pantas Akmal dapatkan, karena memang Akmal lah yang sudah membuat Kak Mirza semakin memburuk kondisinya ," jawab Akmal berusaha tegar.
Abi Rasyid hanya tersenyum tipis saja menanggapi ucapannya Akmal.
Hingga akhirnya, setelah beberapa menit menunggu, ruang perawatan Mirza terbuka juga dari dalam.
Semua orang langsung berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Mirza, dan seperti sebelumnya, Akmal dan Cyra hampir saja bertabrakan lagi, namun Cyra memilih menghindar, supaya dirinya tidak bertabrakan untuk ke dua kali.
" Tuan Mirza baru saja kami berikan suntikan penenang, dan juga suntikan pereda nyeri untuk sakit kepalanya Tuan ," jawab sang Dokter.
" Tolong jangan membuat Tuan Mirza semakin banyak pikiran, karena kondisi Tuan Mirza semakin lemah saja ," jelas sang Dokter.
" Jika dalam waktu dekat Tuan Mirza tidak sadarkan diri, bisa dipastikan Tuan Mirza akan mengalami koma, Tuan ," jelas lagi dari sang Dokter.
Semakin terkejut dan semakin bersedihlah semua orang mendengar penjelasan dari sang Dokter.
" A-apakah kemoterapi dan radioterapi yang dijalani suami saya tidak akan efeknya sama sekali Dokter?? ," tanya Cyra.
" Maaf Nyonya ," jawab singkat dari sang Dokter, dan semakin deraslah air mata Cyra mengalir.
" Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan, Nyonya ," pamit sang Dokter kepada semua orang.
" Iya Dokter terimakasih ," jawab semua orang.
" Lihatlah Kak Akmal, apa yang sudah Kak Akmal lakukan kepada Kak Mirza!! ," kata Cyra dengan tiba-tiba.
__ADS_1
" Cyra, jangan seperti itu Nak, tidak sopan ," tegur Umma Nada.
Cyra memilih menghindar, dan pergi sejenak dari dalam ruang perawatan Mirza, untuk menenangkan diri.
Sedangkan Akmal hanya bisa diam saja, sambil berjalan mendekati sang Kakak yang sedang tidak sadarkan diri di atas ranjang pasiennya.
" Abi mau mengejar Cyra dulu ya Umma ," pamit Abi Rasyid.
" Iya Abi, hati-hati ," jawab Umma Nada.
Abi Rasyid langsung bergegas ke luar dari dalam ruang perawatan Mirza untuk mengejar Cyra, karena Abi Rasyid sangat khawatir sekali dengan keadaan sang putri yang sedang banyak pikiran.
Untuk Akmal sendiri saat ini sudah berdiri di samping sang Kakak.
" Kak Mirza, bangun Kak, ini Akmal ," ucap Akmal.
" Maafkan Akmal, karena sudah membuat Kakak semakin kesakitan seperti ini ," ucap Akmal lagi.
" Maafkan Akmal, Kak ," kata Akmal lagi.
" Ayo bangun Kak, ini Akmal ," kata Akmal masih berbicara sendiri.
" Jika Kakak mau membuka mata lagi, Akmal berjanji mau mengabulkan semua keinginan Kakak, walau itu harus menikah dengan Aalifa sekalipun ," kata Akmal.
" Akmal, apa yang kamu katakan?? ," tanya Ayah Rafiq sangat terkejut mendengar ucapan Akmal.
Bukan Ayah Rafiq saja yang merasa terkejut, melainkan Umma Nada dan Mama Jian.
" Iya Ayah, Akmal serius dengan ucapan Akmal ," jawab Akmal.
" Jika itu bisa membuat Kak Mirza senang, karena ingin melihat Akmal menikah, Akmal siap berkorban demi Kakak ," ucap Akmal lagi.
" Tidak boleh main-main dengan pernikahan Nak, dosa hukumnya ," nasihat Umma Nada.
" Jika kamu sudah memilih dia untuk kamu jadikan istri, itu artinya semua dosa dan apapun yang berhubungan dengan Aalifa, itu adalah tanggung jawabmu ," kata Umma Nada lagi.
" Akmal tahu Umma ," jawab Akmal.
" Mungkin, Aalifa memang ditakdirkan berjodoh dengan Akmal ," kata Akmal dengan ekspresi bersedih.
Semua orang hanya bisa diam saja mendengar ucapan Akmal, karena mereka bingung harus berkata apa lagi, dengan situasi yang sedang terjadi saat ini kepada mereka semua, terutama kepada Akmal dan Mirza.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...