IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
BANJIR AIR MATA


__ADS_3

Orang rumah dan semua kerabat, serta saudara, yang tidak diajak pergi ke pernikahan Akmal dan Aalifa tadi, yang pada akhirnya tidak jadi, mereka semua benar-benar sangat terkejut sekali, mendengar kabar, jika Mirza meninggal di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Aalifa.


Abraham dan Hamzah, yang diberitahu oleh Ayah Rafiq tentang Mirza, mereka berdua juga sama terkejutnya seperti yang lainnya.


Abraham dan Hamzah lalu mencoba menghubungi Kalila dan juga Misha, dan mereka berdua langsung menangis sejadi-jadinya, karena teringat dengan sang sahabat yang sedang hamil tua.


Kalila lalu mencoba menghubungi Deena, sama seperti dirinya, Deena juga langsung syok dan langsung menangisi kepergian Kak Mirza, yang harus meninggalkan Cyra yang sedang hamil tua.


Sebelum jenazah Mirza sampai di rumah Ayah Rafiq, mereka semua sudah pada menunggu di rumah Ayah Rafiq.


Para pekerja yang ada di rumah Ayah Rafiq, juga merasa sangat-sangat kehilangan sekali sosok Mirza yang sudah mereka kenal puluhan tahun lamanya.


Bahkan sudah ada yang bekerja sejak Mirza dan Akmal masih kecil. Jadi mereka sudah menganggap Akmal dan Mirza sebagai anak mereka sendiri.


Alhasil, ketika mereka mendengar kabar jika Mirza sudah meninggal, hati mereka semua tersayat sedih seperti Cyra, yang baru sebentar menjadi istrinya.


Di rumah Ayah Rafiq sendiri, sudah dipenuhi oleh para saudara dengan wajah yang bersedih dan air mata yang terus mengalir dari mata mereka.


" Kak Hamzah, lalu Cyra bagaimana keadaannya, Misha pasti tidak kuat jika berada di posisi Cyra saat ini ," ucap Misha kepada Hamzah.


Sambil merangkul pundak sang istri, Hamzah pun mencoba menenangkan Misha, supaya Misha tidak terlalu stres memikirkan Cyra.


" Tenanglah sayang, Kakak yakin, Cyra wanita yang kuat dan ahli surga ," jawab Hamzah.


" Cyra, ya Allah, Cyra ," ucap Kalila di dalam hatinya dengan air mata terus mengalir.


Akhirnya, setelah mereka semua menunggu cukup lama, suara mobil ambulance pun terdengar di telinga mereka yang sedang memasuki kawasan komplek perumahan.


Semua orang langsung bersiap-siap untuk menyambut kepulangan Mirza dan memberikan penghormatan terakhir baginya.


Melihat mobil ambulance sudah memasuki pekarangan rumah, para laki-laki langsung membantu yang lainnya, untuk menurunkan keranda dari dalam mobil ambulance tersebut.


Hingga akhirnya, Mirza pun sudah dipindahkan ke dipan yang sudah disiapkan sebelumnya.


Jenazah Mirza sudah disucikan sekalian tadi di rumah sakit. Bahkan tubuhnya juga sudah dibungkus dengan kain kafan oleh pihak rumah sakit, dan semua Keluarga tinggal menguburkannya saja.


" Abi ," ucap Cyra sambil menunduk di pinggir dipannya.


" Yang sabar Nak, tabahlah ," ucap Umma Nada.


Di samping Cyra juga ada Mama Jian, yang tidak kalah bersedih seperti Cyra, karena Umma Nada yang mengandung dan melahirkan Mirza ke dunia ini, tapi dia harus pergi lebih dulu darinya.

__ADS_1


" Abi, kenapa Abi tidak bangun, kita sudah sampai di rumah, Abi ," ucap Cyra dengan lembut.


" Nak, istighfar Nak ," ucap Umma Nada lagi.


Suara orang mengaji dan melantukan ayat suci Al-Qur'an, terdengar di seluruh penjuru rumah Ayah Rafiq saat ini.


Sedang khusuk mengaji, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan Cyra yang pingsan lagi.


Mereka semua sangat terkejut sekali dan berusaha membangunkan Cyra.


" Biarkan dia di sini, biar saya saja yang mengurusnya ," ucap Umma Nada kepada semua orang yang ingin membantu Cyra.


Mereka lalu menyingkir dan melanjutkan lagi mengajinya untuk memberikan doa kepada Mirza


Sedangkan Umma Nada, terus berusaha membangunkan Cyra yang sedang pingsan, dengan memijat kepala dan mencium kan minyak ke hidungnya.


Alhamdulillah, usaha Umma Nada tidak sia-sia, Cyra akhirnya sadar juga, dan menangis lagi. Sebab ternyata itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan, jika dirinya akan terpisah lama bersama sang suami untuk selama-lamanya.


Setelah acara pembacaan yasin dan ayat-ayat suci Al-Qur'an dilantunkan untuk mengiringi kepergian Mirza.


Tibalah saatnya Mirza di kuburkan di pemakaman umum, yang tidak jauh dari komplek perumahan Ayah Rafiq.


Masih menggunakan ambulance yang tadi yang masih sengaja di sewa pihak Keluarga, akhirnya, mereka semua sudah sampai di pemakaman tersebut.


Cyra berjalan dengan langkah lemas dan seperti tidak ada semangat untuk menjalani hidup lagi.


Air mata terus membanjiri kepergian Mirza, laki-laki yang sangat sholeh dan juga baik sekali semasa hidupnya. Dan setelah selesai upacara pemakamannya, tinggallah cuma Keluarga Ayah Rafiq dan Abi Rasyid saja yang ada di situ.


Sebelum mereka pergi, Abi Rasyid memimpin jalannya doa untuk memberikan doa kepada Mirza.


Di saat doa sudah mau selesai, Cyra pun tiba-tiba mengaduh, jika perutnya terasa sangat sakit sekali.


" Aaaaaa, sakit!! ," ucap Cyra sambil memegangi perutnya.


Panik,!! tentu saja mereka semua sangat panik sekali dong, melihat Cyra mengaduh kesakitan begitu.


" Kamu kenapa Nak?? ," tanya Mama Jian yang duduk di samping Cyra.


" Sakit, Mama!! ," ucap Cyra.


" Aaaaaargh!! ," ucap Cyra lagi dengan ekspresi kesakitan.

__ADS_1


" Sepertinya, Cyra akan segera melahirkan, ayo kita segera bawa dia ke rumah sakit!! ," kata Abi Rasyid.


" Biar Akmal saja Abi ," ucap Akmal kepada Abi Rasyid yang ingin menggendong Cyra.


Bukan maksud Akmal ingin berdekatan dengan Cyra, hanya saja, tempat parkirnya cukup jauh, dan Akmal sengaja menawarkan diri, karena tenaganya masih muda dibandingkan Abi Rasyid.


Abi Rasyid hanya mengangguk saja, dan Cyra langsung mengalungkan tangannya ke pundak Akmal, ketika dirinya sedang digendong olehnya.


" Darah!! ," ucap Akmal yang di dengar oleh semua orang.


Akmal tidak sengaja melihat tangannya terkena warna merah di kaki Cyra, dan hal itu membuatnya sangat terkejut sekali.


" Ayo cepat Akmal, kita harus menyelamatkan Cyra dan bayinya!! ," kata Abi Rasyid.


Setelah perjuangan yang cukup melelahkan bagi Akmal, karena parkiran yang cukup jauh dari makam Mirza, akhirnya dia sampai juga membawa Cyra ke dalam mobil.


Akmal langsung menaruh Cyra dengan perlahan, dan mereka semua langsung bergegas membawa Cyra ke rumah sakit terdekat.


Pikiran yang terlalu stres, di tambah kandungannya sudah memasuki bulan terakhir, cuma menghitung hari saja. Membuat Cyra harus melahirkan bayinya maju sekitar 10 hari dari perkiraan lahirnya.


Semua orang merasa takut, jika terjadi apa-apa dengan Cyra, bahkan Abi Rasyid pun menjadi tidak tenang pikirannya, karena melihat darah yang membasahi gamis yang dipakai oleh Cyra.


Untung saja jarak rumah sakit tidak terlalu jauh untuk mereka jangkau, dan setelah bermenit-menit lamanya berada di dalam mobil, mobil yang mereka kendarai sampai juga di rumah sakit tersebut.


Akmal dan yang lainnya langsung memanggil Dokter jaga, untuk segera menyelamatkan Cyra dan bayinya.


Pikiran yang belum tenang, sekarang harus menghadapi situasi yang lainnya lagi, karena Cyra akan segera melahirkan anak pertamanya.


Sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, tiba-tiba salah satu asisten Dokter memaksa Akmal untuk segera ikut masuk bersamanya, karena dia mengira jika Akmal adalah suami Cyra.


" Tapi Dokter, saya?? ," ucapan Akmal terhenti karena di sela oleh sang Dokter.


" Tolong anda berikan semangat untuk istri anda ya Tuan, dia sangat membutuhkan anda saat ini ," jawab sang Dokter.


Akmal reflek saling pandang dengan Cyra, namun Cyra sedang tidak bisa membantah, jika Akmal bukanlah suaminya, sebab dia sedang menahan rasa sakit diperutnya.


" Ayo Tuan, pegang tangan istri anda, kami akan segera mengeluarkan bayi anda ," ucap sang Dokter lagi, karena Akmal malah terbengong saja.


Mau tidak mau, karena keadaan terdesak, akhirnya, Akmal langsung memegang tangan Cyra, dan Cyra mulai melakukan proses melahirkan sesuai arahan dari sang Dokter.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2