
Sebelum menjawab semua ucapannya Akmal, Cyra memilih beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke jendela kamar yang berukuran sangat besar sekali.
Di depan jendela itu, Cyra mencoba membuka gorden kamarnya, sehingga terlihatlah pemandangan luar yang sangat bagus dari atas situ.
Akmal masih diam saja sambil menggendong baby Zahwa dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh Cyra.
" Apakah Kakak pikir, bisa semudah itu mempersandingkan nama Kakak dengan nama Kak Mirza di hati Cyra?? ," ucap Cyra sambil membelakangi Akmal.
" Kakak tahu, jika Kakak tidak sebanding dengan Kak Mirza, tapi, apakah kamu tidak mau mencobanya dulu Cyra,? untuk membuka hatimu untuk Kakak ," jawab Akmal.
" Apakah kamu juga tidak bisa melihat cinta tulus di mata Kakak selama ini hanya untukmu?? ," tanya Akmal.
" Apakah dengan kematian Kak Mirza membuat Kak Akmal merasa senang sekarang, karena pada akhirnya, Kakak bisa mendekati Cyra lagi?? ," pertanyaan menyakitkan dari Cyra untuk Akmal.
Sakit,!! tentu saja hati Akmal cukup sakit mendengar pertanyaan seperti itu dari Cyra.
Sebelum menjawab, Akmal mencoba berjalan beberapa langkah, hingga akhirnya, dia cuma berjarak sekitar tiga meter saja di belakang Cyra.
" Jika Kakak di suruh untuk memilih, Kakak akan lebih memilih Kak Mirza hidup, dan Kakak tidak mendapatkan mu, Cyra!! ," jawab Akmal.
" Kamu memang cantik Cyra, kamu sholehah, baik, tapi jika dibandingkan dengan Kak Mirza, Kakak jauh akan memilih dia daripada kamu!! ," jawab lagi super pedas dari Akmal.
Diam-diam Cyra meneteskan air matanya mendengar jawaban super pedas dari Akmal.
Sebenarnya, Cyra tidak bermaksud memberikan pertanyaan sekasar itu untuk Akmal, namun entah kenapa, kata-kata itu seperti ke luar sendiri dari mulutnya tanpa bisa dia kondisikan.
" Kakak memang mencintaimu Cyra, tapi cinta Kakak tulus karena Allah, bukan semata-mata hanya ingin mendapatkan mu ," jelas Akmal.
" Kak Mirza segalanya bagi Kakak, karena dari kecil kita selalu bersama dan selalu menghabiskan waktu berdua selama kurang lebih tiga puluh tahun lamanya. Itu kamu bisa berani bilang kepada Kakak, jika Kakak merasa senang dengan kematian Kakak kandung Kakak sendiri?? ," ucap Akmal merasa kecewa dengan Cyra.
Semakin deras dan merasa bersalah Cyra atas ucapannya tadi untuk Akmal.
" Jika Kakak mencintaimu karena ingin bersanding denganmu, sudah dari dulu Kakak bercerita kepada Kak Mirza, dan Kak Mirza pasti akan memilih mundur daripada melihat Kakak sakit hati melihatmu bersanding dengannya, tapi apa nyatanya?? ," kata Akmal lagi.
__ADS_1
" Kakak juga tidak menuntutmu untuk menerima Kakak, Cyra, tapi dengan setulus hati, Kakak memintamu untuk memikirkan rasa cinta yang tulus dari Kakak untukmu selama ini ," ucap Akmal dan Cyra masih diam saja dengan posisinya semula.
Setelah mengungkapkan itu semua panjang lebar kepada Cyra, Akmal pun berbalik badan dan pergi dari dalam kamar tersebut, untuk menuju ke dalam mobilnya sambil menggendong baby Zahwa.
Akmal merasa dadanya sangat sesak sekali, karena Cyra seperti sudah dibutakan oleh cinta kepada sang Kakak, hingga tidak bisa melihat, jika ada cinta lain yang tidak kalah tulus untuknya.
Setelah kepergiannya Akmal, Cyra langsung berjongkok merasa lemas sambil menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang sudah dia tangisi, namun yang pasti, saat ini hatinya sedang merasa tidak baik-baik saja.
Sedangkan kembali ke Akmal lagi.
Akmal terus menenangkan baby Zahwa yang tiba-tiba rewel, karena mungkin sedang kontak batin dengan sang Umi yang saat ini sedang bersedih.
Gengsi juga rasanya, jika dirinya masuk lagi untuk menemui Cyra. Tapi, jika dia tidak memanggil Cyra, baby Zahwa akan terus gelisah dan juga rewel.
Dengan segenap jiwa dan perasaan, Akmal mencoba menenangkan baby Zahwa yang sepertinya sedang merasa haus.
" Susst-sustt-sust, oh sayang-sayang, tenang ya, kamu haus ya, ada Abu ko di sini ," ucap Akmal sambil menimang baby Zahwa.
Dapat pemikiran darimana, namun Akmal tiba-tiba membuka kancing kemeja bajunya, lalu mendekap baby Zahwa skin to skin untuk pertama kalinya dengannya.
Akmal lalu memundurkan kursi kemudinya, dan menyandarkan tubuhnya dengan nyaman, sambil menutup matanya untuk menikmati dekapan hangat dari baby Zahwa.
Kasih sayang yang Akmal berikan kepada baby Zahwa itu tulus, karena dia memang menyayanginya, bukan karena ingin mendapatkan perhatiannya Cyra.
Sekarang Akmal cuma bisa pasrah bagaimana tanggapan Cyra kepadanya nanti, tentang perasaannya selama ini.
Karena pertanyaan tadi dari Cyra untuknya, membuat Akmal merasa sedikit kecewa dengan sikap Cyra, yang seolah-olah cuma dirinyalah wanita yang terbaik yang ada di dunia ini.
Sambil menyetel murotal di dalam mobilnya, Akmal mendengarkannya bersama baby Zahwa dengan perasaan tenang dan damai.
Berbeda dengan Cyra yang masih menangis sesenggukan, sambil terduduk di atas lantai nan dingin.
Ketika sedang menangis sambil menunduk menyembunyikan wajahnya di ke dua lututnya, tiba-tiba, samar-samar Cyra mendengar langkah kaki seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Cyra langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapakah orang tersebut, yang Cyra pikir itu adalah Akmal, namun tidak tahunya ternyata Mirza.
" Kak Mirza!! ," ucap lirih dari Cyra dengan ekspresi terkejut.
Mirza yang sudah sampai di hadapan Cyra, dia tersenyum manis, sambil membangunkan Cyra untuk berdiri di depannya.
" Kenapa Umi menangis lagi?? ," tanya Mirza sambil mengusap air matanya.
Cyra tidak menjawab, namun langsung memeluk tubuh Mirza dengan sangat erat sekali. Akan tetapi Mirza tidak mau dipeluk oleh Cyra, malah memilih melepaskannya dengan paksa. Dan hal itu membuat Cyra merasa bingung dengan sikap Mirza.
" Apakah Umi tahu, apa kesalahan Umi saat ini?? ," tanya Mirza dan Cyra langsung menggelengkan kepalanya.
" Jika Umi menyakiti Akmal, itu sama saja Umi menyakiti Abi ," ucap Mirza.
" Karena bagaimanapun juga, Akmal adalah adik Abi satu-satunya, dan kalian berdua mempunyai arti tersendiri di dalam hati Abi ," jelas Mirza dengan lembut.
" Hah!! ," ucap Cyra dengan nafas tersengal-sengal. Karena tadi ternyata cuma sebuah mimpi. Mimpi yang terlihat sangat nyata sekali bagi Cyra.
Cyra yang menangis sambil terduduk di atas lantai tadi, tidak sengaja bisa sampai ketiduran. Dan dalam tidurnya, Cyra ditemui oleh Mirza yang sedang marah, karena ucapannya tadi kepada Akmal.
Tanpa pikir panjang, Cyra langsung bergegas bangun dari duduknya untuk ke luar dari dalam kamar dan mencari keberadaannya baby Zahwa bersama Akmal.
Melihat mobil Akmal masih terparkir rapi di depan halaman rumah, Cyra langsung masuk saja untuk mencari keberadaan mereka berdua. Dan ketika Cyra sudah melihat Akmal bersama baby Zahwa sedang tertidur dengan posisi yang nyaman, hati Cyra merasa sangat lega sekali.
Sebab Cyra pikir, jika Akmal sudah pergi meninggalkannya, karena dirinya merasa terlalu lama di dalam kamar tadi.
Sedangkan Akmal yang terkejut mendengar suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup secara bergantian, dia pun akhirnya terbangun dari tidurnya.
Cyra yang melihat Akmal terbangun, langsung mengambil alih baby Zahwa ke dalam gendongannya, dan Akmal langsung menjalankan mesin mobilnya meninggalkan rumah Mirza, ketika sudah mengunci pintu dan pagarnya kembali.
Selama perjalanan pulang menuju ke rumah Ayah Rafiq, Akmal dan Cyra tidak terlibat perbincangan sama sekali.
Mereka saling pada diam dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan sesampainya di rumah Ayah Rafiq pun, Akmal langsung saja berlalu masuk rumah setelah ke luar dari dalam mobil, tanpa mau membantu membukakan pintu mobilnya untuk Cyra seperti biasanya.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...