
Akmal tadi tidak tahu, jika Kalila mendengar pembicaraannya dengan Aalifa, dan saat ini Akmal sudah duduk bergabung dengan para orang tua lagi di dalam ruang perawatan Mirza.
" Perut saya lapar, saya mau beli makanan dulu ya untuk kita semua ," kata Ayah Rafiq dengan tiba-tiba.
" Ayo sama saya saja Mas ," kata Abi Rasyid.
" Saya juga mau membelikan sesuatu untuk Cyra, supaya dia dan calon cucu kita tambah sehat ," ucap Abi Rasyid lagi.
" Baiklah, ayo ," jawab Ayah Rafiq.
Akhirnya, Ayah Rafiq dan Abi Rasyid pergi bersama untuk membeli makanan bagi mereka semua.
Sekitar lima belas menit Ayah Rafiq dan Abi Rasyid pergi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruang perawatan Mirza.
Akmal yang sigap, langsung berdiri dari duduknya untuk membukakan pintunya dan yang datang ternyata Abraham bersama Hamzah.
" Abraham, Hamzah, ayo mari masuk ," sapa ramah dari Akmal.
Sambil berjalan masuk, Abraham dan Hamzah lalu tos bersama Akmal ala-ala mereka bertiga.
Abraham dan Hamzah yang melihat Mama Jian dan Umma Nada, langsung menyalami mereka berdua dengan sopan.
" Sepi sekali Umma, Bibi, di mana yang lainnya?? ," tanya Hamzah.
" Yang cewek masih ada di dalam kamar sana tuh untuk menemani Cyra, sedangkan Ayah sama Rasyid sedang membeli makanan ," jawab Mama Jian.
" Bibi, Umma, ini Abraham bawakan sesuatu untuk kalian semua ," kata Abraham sambil menyerahkan sesuatu yang dia bawa.
" Terimakasih Nak, kamu kenapa repot-repot membawa ini semua ," kata Umma Nada.
" Tidak repot ko Umma, cuma sedikit yang bisa Abraham bawa ," jawab Abraham.
" Maafkan Abraham ya Bibi, Umma, baru bisa datang menjenguk ke sini, karena dari kemarin Abraham pergi ke luar kota ," kata Abraham kepada Mama Jian dan Umma Nada.
" Tidak apa-apa ko Nak, kita semua kan mempunyai kegiatan masing-masing ," jawab Mama Jian.
" Lho, Kakak sudah sampai, kapan sampainya?? ," tiba-tiba ada yang menegur Abraham, yang ternyata Kalila.
" Baru saja Kalila ," jawab Abraham.
" Lho Kak Hamzah,? ko ikut sama Kak Abraham juga,? katanya mau jaga Cafe ," kata Misha yang tiba-tiba juga ke luar dari dalam kamar pribadi.
" Iya sayang, tadi di paksa sama Abraham nih ," jawab Hamzah.
Selanjutnya yang ke luar tentu saja Deena, setelah Misha tadi.
" Lho,!! kalian bertiga ko ke luar semua, lalu Cyra sama siapa di dalam?? ," tanya Akmal.
" Cyra sedang tidur Kak ," jawab Deena.
__ADS_1
" Dan dia berpesan tidak mau diganggu untuk sementara waktu ," lanjut lagi kata Deena dan Akmal hanya ber oh ria saja.
" Biarkan saja Cyra beristirahat, biar badannya kembali sehat dan pulih seperti sedia kala ," kata Mama Jian, dan langsung diangguki oleh semua orang.
Mereka lalu mengobrol, berbincang dan membicarakan tentang keadaan Mirza yang membuat mereka sangat khawatir sekali.
Setelah berjam-jam lamanya tertidur karena pengaruh bius, akhirnya Mirza sadar juga dari pasca 0p3r451 yang di jalaninya tadi.
Bahkan Cyra sudah ikut bergabung dengan yang lainnya, termasuk Abi Rasyid, serta Ayah Rafiq yang sudah pulang dari membeli makanan.
Kecuali para sahabat mereka, Abraham, Hamzah dan yang lainnya sudah pada pulang sejak dua jam yang lalu, setelah cukup lama mereka berada di rumah sakit.
Cyra yang senantiasa berada di samping Mirza, langsung segera memanggil sang Abi, ketika melihat Mirza mulai membuka matanya.
" Abi, Kak Mirza sadar Bi ," panggil Cyra.
Tentu saja para orang tua, termasuk Akmal, langsung berjalan mendekat ke arah Mirza.
Abi Rasyid yang melihat Mirza sudah membuka matanya, langsung memencet tombol darurat yang tersedia di situ, dan tidak lama sekitar beberapa menit kemudian, ada seorang Dokter dan tiga orang asistennya datang ke ruang perawatan Mirza.
Semua orang langsung menyingkir untuk memberikan ruang kepada Dokter yang akan memeriksa keadaannya Mirza.
Selang beberapa menit, akhirnya Dokter selesai juga memeriksa keadaannya Mirza, dan membuat semua orang langsung mendekat kembali.
" Dokter, bagaimana keadaan suami saya?? ," tanya Cyra.
" Kita belum bisa menyimpulkannya Nyonya ," jawab sang Dokter.
" Kita akan melihat untuk beberapa hari ke depan ," ucap sang Dokter.
" Jika kondisi Tuan Mirza memungkinkan untuk pulang dan bisa rawat jalan saja, saya akan mengijinkannya pulang ," jelas sang Dokter.
" Namun, Tuan Mirza harus rutin melakukan kemoterapi dan radioterapi serta mengkonsumsi obat-obatan yang sudah saya resep kan ," jelas sang Dokter lagi.
" Baik Dokter, kami mengerti ," jawab Abi Rasyid.
" Kalau begitu kami permisi dulu ," pamit sang Dokter, dan semua orang langsung mengucapkan kata terimakasih.
" Abi, Abi mau minum?? ," tanya Cyra merasa senang sekali melihat Mirza sadar.
" Tidak ," jawab Mirza.
" Abi cuma ingin bersama kamu ," ucap Mirza sambil tersenyum.
" Minum ya, Cyra ambilkan ," kata Cyra lagi.
" Sudah Nak, jangan terlalu banyak diajak berbicara dulu, biarkan suami kamu menstabilkan daya kerja otaknya terlebih dahulu ," kata Abi Rasyid.
" Ayo kita kembali duduk saja, biar Mirza bisa istirahat dulu dan tidak banyak bergerak maupun berbicara ," ajak Abi Rasyid.
__ADS_1
" Emm, Abi, maukah Abi mengantarkan Umma pulang, Umma mau melihat Saqif, kasihan dari kemarin Umma belum pulang ke rumah ," kata Umma Nada.
" Boleh Umma ," jawab Abi Rasyid.
" Lho, kami juga mau ijin pulang sebentar, mau mengambil pakaian bersih, karena pakaian yang ada di sini sudah pada kotor semua ," kata Ayah Rafiq.
" Ayah, Mama, Umma, dan Abi, pulanglah saja, biar Cyra, Akmal yang menemani ," kata Akmal.
" Baiklah, titip Cyra dan jaga Kakak kamu sebentar ya Nak ," kata Ayah Rafiq.
" Iya Ayah ," jawab Akmal sambil mengangguk.
" Kami pamit dulu, assalamu'alaikum ," kata Abi Rasyid.
Akmal, Cyra dan juga Mirza, langsung menjawab salam dari ke dua orang tua mereka. Dan setelahnya, mereka berempat berlalu ke luar dari dalam rumah sakit secara bersama-sama.
Tinggallah Cyra, Akmal dan juga Mirza saja yang di dalam ruang perawatan tersebut.
" Jika capek, kamu istirahatlah saja Cyra, biar Kak Mirza, Kak Akmal saja yang menjaga ," kata Akmal.
" Tidak Kak, Cyra masih ingin di sini ," jawab Cyra.
" Baiklah, kalau begitu Kakak mau duduk di sofa sana ," kata Akmal, dan Cyra hanya mengangguk saja.
Akmal lalu duduk di sofa yang ada di situ sambil menonton acara televisi dan juga sambil berbalas pesan dengan Aalifa.
" Sayang, maafkan Kakak ya, Kakak tidak bisa menjadi imam yang baik untuk kamu ," kata Mirza.
" Kakak bicara apa sih?? ," jawab Cyra.
" Bagi Cyra, Kakak itu adalah imam terbaik yang Cyra miliki dan laki-laki terbaik setelah Ayah, yang Cyra kenal ," kata Cyra lagi.
" Kakak pasti sembuh, percayalah, hanya Allah yang menentukan hidup dan mati seseorang, bukanlah Dokter ," kata semangat dari Cyra.
Mirza hanya tersenyum saja, wajah yang dulu tampan, sekarang terlihat pucat, dengan kepala yang diperban penuh, karena baru saja di 0p3r451 tadi.
" Kakak tahu sayang, jika kamu sangat khawatir dengan Kakak ," ucap Mirza di dalam hatinya.
" Tapi Kakak juga tidak bisa melawan takdir, jika tiba-tiba Kakak akan pergi meninggalkanmu ," ucap Mirza lagi di dalam hatinya.
" Kakak mohon, janganlah bersedih, jika suatu saat itu benar-benar terjadi, karena Kakak sangat tahu sekali, umur Kakak tidak akan lama lagi di dunia ini ," masih berbicara di dalam hati.
" Tuhan, terimakasih, Engkau telah memberikan istri yang sholehah di sisa umur hamba yang sedikit ini ," doa Mirza di dalam hati sambil meneteskan air matanya.
Cyra yang melihat, langsung mengusap air mata tersebut, tanpa banyak bertanya sama sekali kepada Mirza.
" Jika dirinya suatu saat nanti menemukan jodoh yang jauh lebih baik dari hamba, hamba ikhlas ya Allah, hamba ridho jika suatu saat Cyra ingin menikah lagi ," ucap Mirza lagi.
Tanpa sadar, semakin deras lah air matanya, ketika dirinya bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...