
Mobil yang Cyra kendarai akhirnya sampai juga di butik miliknya. Dari kemarin dirinya sibuk dengan butik khusus muslimah. Saat ini dirinya ingin sekali menyambangi butik miliknya yang menjual khusus laki-laki.
Dari kemarin Cyra terus memakai mobil terbaru miliknya. Dan entah kenapa, dirinya saat ini ingin memakai salah satu mobil milik Mirza.
Sesampainya di butik. Cyra langsung disambut oleh semua karyawan butiknya yang ke semuanya para laki-laki.
Memang Mirza dulu sengaja memperkerjakan laki-laki saja di butik miliknya yang khusus laki-laki.
Kedatangan Cyra di sambut ramah oleh para karyawan dan juga staf gudang yang melihatnya. Cyra banyak bertanya ini dan itu tentang semua produk, serta barang-barang yang dijual di butiknya itu.
Kalau butik khusus perempuan, hampir semuanya Cyra sudah pada hapal. Karena dirinya memang fokus di situ. Tapi yang butik khusus laki-laki, Cyra harus lebih mendalami lagi. Sebab dirinya tidak setiap hari datang ke situ.
Sedang asik mengobrol dengan karyawannya tentang menanyakan beberapa barang dan harga. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu sosialita yang datang bersama anak laki-lakinya menghampiri Cyra.
Sang anak laki-laki yang sedang sibuk memilih barang, tidak tahu jika sang mama sedang berjalan mendekati Cyra.
"Maaf ya Mbak," sapa sang ibu tersebut kepada Cyra.
Cyra dan karyawan laki-lakinya sontak mengalihkan pandangannya ke arah sang ibu tersebut.
"Eh! Iya Bu? Ada apa ya?" jawab Cyra dengan sopan.
"Jika Mbaknya nggak punya uang mending pergi saja deh dari sini. Daripada banyak bertanya seperti itu kepada masnya. 'Kan kasihan masnya sampai bingung menjelaskan."
Cyra dan karyawan laki-lakinya wajahnya terlihat terkejut. "Hah!"
Ternyata ibu-ibu sosialita itu daritadi tanpa Cyra sadari memperhatikannya yang sedang mengobrol dengan karyawannya. Dan Ibu-ibu itu mengira jika Cyra pembeli yang menyusahkan.
"Maksud saya. Jika Mbaknya nggak punya uang. Mending jangan beli di butik ini. Butik ini terkenal mahal dan bagus kualitasnya. Takutnya, Mbaknya nggak bisa bayar. Karena daritadi banyak bertanya barang atau produk dan harga sama masnya."
__ADS_1
"Saya sampai kasihan melihat masnya daritadi menjelaskan beberapa produk dan harga kepada Mbaknya yang belum tentu akan membeli," sindir sang ibu-ibu dengan wajah judesnya.
"Maaf ya Ibu. Mungkin ibu salah paham kepada saya," Cyra masih sopan menjawabnya.
"Salah paham bagaiamana? Saya saja daritadi ada di sini dan mendengar sendiri apa yang kalian bicarakan!"
Sang karyawan laki-laki tersebut tidak tinggal diam dan mencoba ikut menjelaskan. "Mohon maaf Bu. Biar saya luruskan duduk permasalahannya."
"Anda mau meluruskan apa Mas? Kenapa Anda malah membela mbak ini. Padahal saya di sini sedang membela Mas!" jawab sang Ibu.
Suara ibu itu yang cukup keras akhirnya mengundang rasa penasaran dari beberapa pengunjung yang datang. Mungkin karena masih pagi. Jadi yang datang cuma ada lima orang saja. Termasuk anak laki-laki dari ibu-ibu sosialita tersebut.
Anak laki-laki dari ibu itu pun datang mendekat. "Ma! Ada apa ini Ma?"
"Tidak apa-apa Fajar! Mama cuma ingin mengusir mbak-mbak ini karena daritadi banyak bertanya kepada mas karyawan ini. 'Kan kasihan," ibu itu sambil menunjuk Cyra.
Fajar sendiri termasuk laki-laki yang tampan dan gagah. Dirinya yang mendengar jawaban sang mama langsung menatap Cyra yang sedang menggendong baby Zahwa.
"Maaf Bu. Daripada malu dilihat orang seperti ini. Mari kita bicara di kantor saja," ucap Cyra.
"Apa maksud ucapan Anda!"
"Mbak Cyra ini pemilik butik ini Nyonya. Dan beliau datang untuk mengecek butiknya," jawab sang karyawan laki-laki.
Ibu sosialita itu sangat terkejut dan langsung merasa malu dengan sikapnya yang sok tadi. Apalagi sampai mau mengusir Cyra dari butiknya sendiri.
Sedangkan si Fajar. Anak laki-laki dari ibu tersebut semakin menatap lekat ke arah Cyra dengan tatapan yang berbeda.
Dengan wajah malunya sang ibu pun berbicara. "Emm! Ma-maafkan saya Mbak. Saya tidak tahu."
__ADS_1
Cyra tersenyum. "Iya Ibu. Sudah saya maafkan."
"Lain kali jangan langsung percaya dengan apa yang dilihat. Karena apa yang kita lihat belum tentu adalah kebenaran yang sebenarnya."
"Dan satu hal lagi Bu. Jangan suka ikut campur urusan orang lain. Karena nantinya bisa membuat kita malu sendiri," sindiran halus dari Cyra.
Cyra lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dirinya langsung berlalu pergi dari hadapan sang ibu tersebut. Dan menyuruh kepada karyawan laki-lakinya untuk mengikutinya dari belakang.
Sedang berjalan beberapa langkah. Cyra tiba-tiba dicegah oleh Fajar. "Tunggu Nona!"
Cyra tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya. "Iya Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Maafkan atas sikap mama saya tadi Nona. Dan emm! Bolehkah saya meminta nomor telepon Anda untuk bertanya tentang baju keluaran terbaru. Karena sejujurnya saya langganan di butik ini."
Cyra tahu apa maksudnya Fajar. Karena pertemanan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada yang murni real berteman. Salah satu di antara mereka, pasti ada perasaan walau sedikit terhadap lawannya. Fajar yang mengatakan hal demikian. Tidak menutup kemungkinan dirinya juga ingin mendekati Cyra. Dan Cyra tidak mau membuka celah seperti itu. yang pastinya bisa membuat keretakan di dalam rumah tangganya nanti.
"Mohon maaf Tuan. Untuk urusan itu. Anda bisa bertanya kepada staf saya atau manajer butik ini. Dan jika Anda tidak mau ketinggalan barang keluaran terbaru dari butik ini. Anda bisa membeli katalognya yang akan keluar seminggu atau dua minggu sekali."
"Satu hal lagi. Maaf! Saya sudah punya suami. Anda bisa melihat sendiri dengan anak yang sedang saya gendong saat ini. Ini hasil buah cinta kami berdua. Dan saya tidak bisa memberikan nomor telepon saya ke sembarangan orang. Permisi."
Cyra langsung pergi dari hadapan Fajar tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu. Mood Cyra sedikit hancur gara-gara kejadian yang kurang menyenangkan di butiknya sendiri.
Akhirnya, dirinya memutuskan untuk pergi dari butiknya itu menuju ke konveksi untuk mengecek baju pesanan dari para pelanggannya. Sedangkan untuk Fajar sendiri. Dia terus menatap Cyra, hingga Cyra masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari area butik.
Setelah kepergian Cyra. Fajar langsung mengajak sang mama untuk pergi dari butik tersebut. Sebab Fajar sudah tidak mood lagi untuk berbelanja, gara-gara sikap sang mama yang membuatnya malu dihadapan semua orang.
Kembali ke Cyra lagi. Untuk meredakan gejolak hatinya yang sedang tidak baik. Cyra memilih berbincang dengan salah satu karyawannya tentang baju yang sedang mereka jahit. Hingga sampai Cyra lupa untuk memberitahu Akmal tentang rencana para sahabatnya yang ingin datang ke rumah mereka nanti malam.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...