
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Cyra saat ini, yang bisa dia lakukan sekarang cuma berpasrah diri kepada sang Maha pencipta.
Cyra sekarang sedang menundukkan kepalanya di pinggir ranjang sang suami yang masih belum sadarkan diri, sedangkan Akmal, memilih duduk di sofa yang ada di situ, sambil menatap Cyra yang sedang bersedih.
" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?? ," kata batin Akmal.
" Di saat hamba sudah bisa sepenuhnya mengalihkan pikiran hamba dari Cyra, kenapa musibah ini terjadi di saat yang tidak tepat ," kata Akmal lagi seperti sedang curhat dengan Allah.
" Jika begini ceritanya, hati hamba bisa tergoyah lagi, karena air mata Cyra yang terus ke luar itu ya Allah ," curhat Akmal lagi.
Di saat Akmal sibuk sendiri dengan hatinya, tiba-tiba pintu ruang perawatan Mirza ada yang mengetuk dari luar.
Akmal langsung saja berdiri dari duduknya untuk membukakan pintunya, sedangkan Cyra masih anteng seperti sedia kala.
Ketika pintu sudah dibuka oleh Akmal, ternyata yang datang adalah Umma Nada dan Abi Rasyid.
Yang memberitahukan kepada Umma Nada dan Abi Rasyid adalah Akmal, ketika Cyra masih berada di ruang Dokter.
Abi Rasyid kebetulan sedang tidak ada jadwal praktek di rumah sakit, jadi ketika dia mendapatkan kabar dari Akmal, Abi Rasyid langsung bergegas menuju ke rumah sakit bersama Umma Nada.
Abi Rasyid dan Umma Nada benar-benar sangat terkejut sekali, ketika mendengar kabar, jika Mirza sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Sedangkan untuk Ayah Rafiq dan Mama Jian, mereka akan ke rumah sakit esok hari, sebab perjalanan yang akan mereka tempuh cukup lumayan jauh.
Ayah Rafiq dan Mama Jian pun pikirannya sudah tidak tenang, ketika mendapatkan telepon dari Akmal, jika sang putra sulung sedang dirawat di rumah sakit.
Ingin sekali mereka langsung pulang saat ini, akan tetapi, jika sudah sampai di kota, pasti waktu sudah berganti dengan malam.
" Cyra ," panggil Umma Nada langsung berjalan mendekati Cyra.
" Umma ," kata Cyra mendongakkan kepalanya
Cyra yang melihat kedatangan dari ke dua orang tuanya, dia langsug memeluk sang Umma sambil meneteskan air matanya, sedangkan Abi Rasyid hanya mengusap punggung sang putri sambil menampilkan wajah bersedihnya.
Akmal juga ikut berdiri di samping brankar satunya, dan dia sangat mengerti sekali, bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Cyra saat ini.
" Nak, sebenarnya Mirza sakit apa,? kenapa banyak selang yang menempel ditubuhnya saat ini?? ," tanya Abi Rasyid.
Abi Rasyid yang seorang Dokter, pastilah sangat tahu sekali, dari banyaknya selang dan layar monitor yang sedang menunjukkan kestabilan tubuhnya Mirza, Abi Rasyid sudah menebak, pasti ada penyakit yang serius ditubuh sang menantu.
" Kak Mirza terkenal kanker otak Abi ," jawab Cyra sambil menangis pilu.
__ADS_1
" Astaghfirullah ," ucap Abi Rasyid dan Umma Nada dengan ekspresi yang sangat terkejut sekali.
" Kanker otak tidak tiba-tiba menjadi kanker Cyra, pasti sebelumnya Nak Mirza sudah mengalami gejala terkena tumor ," kata Abi Rasyid.
" Iya Abi, memang sebelumnya Kak Mirza sudah pernah terkena tumor otak ," jawab Akmal mewakili Cyra.
" Dulu, ketika umur Kak Mirza sekitar dua puluh lima tahun, dia sudah pernah menjalani 0p3r451 pengangkatan tumor tersebut yang bersarang di kepalanya Abi ," cerita Akmal.
" Namun seiring berjalannya waktu, sepertinya Kak Mirza sudah tidak lagi rutin untuk mengecek ke Dokter, Abi, hingga akhirnya, tumor itu tumbuh kembali menjadi ganas dan sekarang berubah menjadi kanker ," jelas Akmal lagi.
" Astaghfirullah Cyra, yang sabar Nak ," kata Umma Nada sambil menangis menenangkan Cyra.
" Astaghfirullah ," kata Abi Rafiq cukup terkejut mendengar penjelasan dari Akmal.
" Kenapa Kakak tidak bercerita kepada Cyra, tentang semua ini?? ," tanya Cyra sambil menangis.
" Sudah Kakak jelaskan Cyra, jika ini bukan keinginannya Kakak ," jawab Akmal.
" Maafkan Akmal, Abi ," kata Akmal.
" Kak Mirza meminta kami untuk menyembunyikan kenyataan ini dari Cyra, dan kalian semua ," jelas Akmal.
" Kami pikir, jika tumor itu tidak akan tumbuh lagi di kepala Kak Mirza, tapi ternyata ini semua kuasa Allah ," kata Akmal lagi.
" Ngomong-ngomong di mana Ayah dan Mama kamu?? ," tanya Abi Rasyid kepada Akmal.
" Ayah sama Mama sedang ada di Desa, Abi, mereka sedang menjenguk Nenek yang juga sedang sakit ," jawab Akmal.
" Dan sepertinya mereka akan ke sini besok ," kata Akmal lagi
Abi Rasyid hanya mengangguk saja, sedangkan Umma Nada sedang menenangkan Cyra yang masih sangat terpuruk sekali.
" Abi mengenal satu Dokter Bedah Onkologi yang sepertinya bisa membantu Nak Mirza untuk menjalankan kemoterapi ," kata Abi Rasyid.
Cyra yang sedang lemas, tiba-tiba sedikit bersemangat, ketika mendengar ada harapan kesembuhan untuk sang suami.
" Siapa dia Abi, ayo bawa Kak Mirza menemui Dokter itu ," kata Cyra sangat bersemangat sekali.
" Kita harus tunggu Nak Mirza sadar dulu Nak ," jawab Abi Rasyid.
" Yang harus Abi tekankan di sini, kita lihat dulu jenis kanker apakah yang sedang menyerang Nak Mirza ," kata Abi Rasyid.
__ADS_1
" Karena pengobatan kemoterapi bisa menyembuhkan total, atau cuma mengendalikan pertumbuhan kanker itu sendiri ," jelas Abi Rasyid lagi.
" Semoga kanker yang diderita Nak Mirza belum menyebar ke seluruh tubuhnya ," doa Abi Rasyid dan langsung di aamiinkan oleh semua orang.
" Semoga saja ada keajaiban untuk Nak Mirza ," kata Umma Nada juga.
" Aamiin ," jawab semua orang lagi.
" Kamu jangan terlalu stres memikirkan ini semua ya Nak, ingat, ada cucu Abi yang juga harus kamu jaga ," pesan Abi Rasyid.
" Iya Abi ," jawab Cyra.
" Apakah kamu sudah makan Cyra?? ," tanya Akmal.
Cyra reflek langsung menggelengkan kepalanya.
" Kalau begitu, Kakak belikan dulu makanan untuk kamu ya, apakah Abi dan Umma juga mau dibelikan sesuatu sama Akmal?? ," kata Akmal.
" Tidak Nak, Abi sama Umma sudah makan, belilah makanan untuk Cyra saja, kalau perlu ajaklah Cyra juga ," jawab Abi Rasyid.
Jantung Akmal, langsung berdebar-debar mendengar jawaban dari Abi Rasyid.
" Cyra di sini saja Abi ," jawab Cyra.
" Cyra mau menemani Kak Mirza sampai dia sadar kembali ," kata Cyra lagi.
" Ikutlah Nak, supaya kamu tidak terlalu memikirkan ini semua, nanti bisa berbahaya untuk tumbuh kembang janin kamu ," nasihat dari Abi Rasyid.
Niat Abi Rasyid bukan untuk mendekatkan Cyra dengan Akmal, hanya saja semua ini dia lakukan, karena dirinya sangat tahu, jika Cyra terlalu kepikiran dengan penyakitnya Mirza, akan sangat riskan untuk kehamilannya.
Cyra reflek mengalihkan pandangannya ke arah sang Umma, dan Umma Nada langsung mengangguk sambil menjawab sesuatu.
" Ikutlah beli makan juga dengan Nak Akmal, Cyra, asal kamu bisa jaga diri dan menjaga martabat suami kamu, tidak apa-apa Nak ," kata Umma Nada.
" Lagi pula, Nak Akmal kan adik ipar kamu ," kata Umma Nada lagi.
" Baiklah Umma ," jawab Cyra.
Akhirnya, Cyra dan Akmal pun pergi berlalu menuju ke sebuah Cafe atau restoran, untuk membeli makanan, lebih tepatnya mengisi perut kosongnya Cyra, supaya sang calon baby tidak kelaparan di dalam sana.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...