
Setelah acara mengharukan tadi. Ayah Rafiq, mama Jian, abi Rasyid dan umma Nada. Akhirnya kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Tinggallah saat ini cuma Akmal dan Cyra saja di rumah tersebut, bersama para bibi dan penjaga serta sopir yang ada di rumahnya.
Cyra yang sudah berdiri dari duduknya langsung berbicara kepada Akmal. "Abu. Umi mau memandikan Aiza dulu ya di dalam kamar."
"Ayo! Abu ikut juga ke dalam kamar," Cyra cuma mengangguk saja.
Sambil jalan berdua dengan Cyra yang menggendong baby Zahwa. Mereka lalu masuk ke dalam kamar yang ada di lantai atas.
Sesampainya di dalam kamar. Cyra langsung melepaskan baju baby Zahwa dan menitipkan baby Zahwa kepada Akmal sebentar karena dia mau menyiapkan air hangat.
Akmal dan baby Zahwa bercanda, hingga baby Zahwa tertawa dengan begitu kerasnya.
Cyra yang sudah selesai menyiapkan air hangat. Dan sekarang sedang berjalan ke arah Akmal dan juga baby Zahwa, dia tersenyum senang melihat kebersamaan mereka berdua.
"Ayo Sayang kita mandi dulu."
"Mau dong dimandikan juga seperti Aiza," Akmal terlihat manja sekali.
"Abu itu sudah besar. Malu dong sama Aiza."
Akmal langsung memajukan bibirnya berpura-pura cemberut. "Humpt!" sambil bersedekap tangan.
Cyra yang melihat sifat manjanya Akmal merasa lucu sendiri. "Lihatlah Sayang. Abu kamu itu. Dia masak lebih manja dari kamu."
Akmal masih berpura-pura merajuk kepada Cyra. Dan sikapnya persis seperti anak kecil yang sedang marah kepada ke dua orang tuanya.
"Baik-baiklah. Nanti setelah Aiza, Umi mandiin Abu. Ok! Sekarang diam ya anak Umi yang paling besar."
Akmal langsung memeluk kaki Cyra dengan mesra. Sebab Cyra sedang berdiri dihadapannya. "Yeaayy! Sayang Umi."
Cyra langsung tertawa melihat tingkah Akmal yang seperti itu. Dan Akmal pun jadi ikut-ikutan tertawa karena sikapnya sendiri.
Cyra lalu memandikan baby Zahwa dengan telaten di dalam kamar mandi. Selesai mandi, seperti biasanya Cyra langsung memakaikan pakaian kepada baby Zahwa dengan cekatan.
Untuk pertama kalinya mereka sekarang sudah tinggal berdua saja di rumah pribadi milik mereka. Akmal yang melihat Cyra begitu telaten dan cekatan dalam mengurus baby Zahwa, dia tersenyum manis sambil terus memperhatikan dari atas ranjang.
__ADS_1
Di atas ranjang. Akmal cuma beristirahat saja dengan menyandarkan punggungnya disandaran ranjang, sambil memvideo Cyra yang sedang mengurus baby Zahwa.
"Nah! Sekarang sudah cantik dan harum. Sekarang gantian Abu yuk yang mandi."
Akmal tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Cyra. "Abu cuma bercanda saja ko Sayang."
"Kalaupun tidak bercanda juga tidak apa-apa. Lagi pula Umi juga belum mandi."
"Mau mandi bersama? Kalau mau? Biar Aiza, Umi titipkan sama bibi."
Wajah Akmal berbinar senang mendengar ajakan Cyra. Cyra benar-benar tidak malu sama sekali dengannya. Sebab pengalaman berumah tangganya dulu sudah mengajarkannya untuk apa malu dengan suami sendiri. Justru jika dia sembunyikan malah hukumnya dosa.
"Benarkah?"
Cyra langsung menganggukkan kepalanya. "Iya! Benar Abu ku sayang."
"Baiklah. Abu tunggu kalau begitu."
Cyra mengangguk lagi. Setelah itu. Cyra berlalu ke luar dari dalam kamar untuk menitipkan baby Zahwa kepada salah satu bibi yang bekerja di rumahnya.
Setelah menitipkan baby Zahwa kepada salah satu bibi. Cyra langsung kembali ke dalam kamar untuk mandi bersama Akmal seperti yang sudah dikatakannya tadi.
"Benar Abu. Ayo! Jika mau mandi lagi. Lagi pula Abu itu suami Umi. Bahkan Rasulullah pun sering mandi bersama dengan Siti Aisyah atau istri-istrinya yang lain."
"Kalau Abu seumpama mau menikah lagi. Insyaallah, Cyra ikhlas. Karena Cyra berumah tangga ingin mendapatkan ridho dari-Nya dan salah satu surga milik-Nya."
Mendengar ucapan Cyra. Akmal langsung beranjak turun dari atas ranjang dan berjalan mendekatinya.
Akmal saat ini sudah berdiri dihadapan Cyra. "Sebelum istri pertama Nabi yaitu Khadijah binti Khuwailid. Nabi Muhammad istrinya cuma satu. Dan Abu sendiri juga tidak ada niatan sama sekali ingin mempunyai istri lebih dari satu."
"Cukup Umi dan hanya cuma Umi yang berhak memiliki Abu dan singgah di hati Abu."
"Jangan pernah lagi berkata seperti itu kepada Abu, ya Bidadariku. Karena seikhlas apapun hatimu untuk di madu. Tapi akan tetap sakit juga. Dan Abu tidak mau menyakiti hati wanita yang benar-benar sangat Abu cintai dan pertahankan selama bertahun-tahun ini. Mengerti?" ucap Akmal lagi sambil mencubit mesra hidung Cyra.
Cyra tiba-tiba memeluk Akmal. "Umi mengerti Abu. Maafkan Umi! Maafkan Umi yang sudah berbicara seperti tadi. Bukan maksud Umi ... "
__ADS_1
Akmal melepaskan pelukannya Cyra. "Abu mengerti. Dan Abu yakin. Umi juga pernah berkata seperti itu kepada kak Mirza. Tapi kak Mirza tidak mau." Cyra mengangguk membenarkan.
Memang benar dulu Cyra pernah berkata seperti itu kepada Mirza ketika akan tidur malam. Sambil berpelukan di bawah selimut yang sama. Cyra pernah mengijinkan Mirza untuk menikah lagi. Tapi Mirza tidak mau.
"Abu cuma mau Umi. Di dunia maupun di akhirat kelak," Cyra menganggukkan kepalanya.
Di dalam islam. Jika suami meninggal istri menikah lagi. Contohnya seperti Cyra. Maka pasangan yang akan bersama Cyra kelak di akhirat adalah Akmal. Bukannya Mirza.
"Sudah yuk! Ayo kita mandi. Takut jika Aiza nanti keburu rewel."
Akmal tersenyum super manis sekali. Apalagi ketika melihat Cyra mulai melepaskan semua bajunya dan sekarang cuma memakai lingerienya saja. Jakun Akmal terlihat naik turun dan tidak menyangka. Jika tubuh Cyra masih begitu bagus sekali walau sudah pernah melahirkan sebelumnya.
"Tapi Umi memakai peem6alut. Apakah Abu tidak merasa jijik."
Akmal langsung menggelengkan kepalanya. Dan lalu menarik tangan Cyra untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
Seperti yang kita tahu. Mereka tidak cuma sekedar mandi saja walau Cyra sedang berhalangan. Dan yah! Adegannya author skip ya.
Selesai mandi. Wajah Akmal terlihat benar-benar sangat fresh dan juga segar sekali. Berbeda seperti tadi yang terlihat pucat dan lemas.
Bahkan ganti baju pun. Mereka bersama-sama di dalam ruang walk in closet tanpa ragu dan juga malu-malu lagi.
"Rasanya Abu ingin menempel terus begini."
Blush! Pipi Cyra memerah ketika dirinya dipojokkan oleh Akmal dengan posisi sangat iintiim sekali.
"Abu jangan begini terus dong. Umi malu."
"Lihatlah! Pipimu memerah membuat Abu ingin menggigitnya," bukannya menggigit tapi Akmal menciumnya dengan mesra.
"Sudah yuk keluar. Kelamaan kita di dalam kamar Abu."
Akmal lalu memundurkan tubuhnya. "Iya! Umi menang kali ini karena Aiza. Tapi tidak jika nanti."
Cyra cuma tersenyum saja. Lalu dirinya bergegas berganti baju. Setelah itu dia langsung keluar dari dalam kamar disusul Akmal dibelakangnya.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...