
Di dalam kamar. Setelah menidurkan baby Zahwa. Cyra memilih duduk di meja riasnya untuk mengambil buku diarynya yang dia simpan rapi di rak mejanya.
Cyra membuka setiap lembar buku diary tersebut dengan bibir yang tersenyum tipis. Ada kenangan di setiap kata dan kalimat di dalam sebuah kertas tersebut yang dia tulis dengan tangannya sendiri. Hingga tiba saatnya. Cyra sampai di lembaran terakhir buku diarynya yang sudah lama sekali dia tulis. Sejak dirinya akan menikah dengan Mirza dulu.
Cyra mengusap tulisannya itu dengan bibir yang tersenyum dan hati yang menghangat.
"Tidak Umi sangka Abi. Jika dulu Umi bisa menulis sebuah kata-kata seindah ini untuk hubungan kita." Ucap Cyra.
Cyra lalu mengambil pena miliknya untuk mulai menuliskan sebuah kalimat lagi yang ingin dia tulis.
"Burung bagaikan hewan yang paling bahagia di antara yang lainnya. Karena dia bisa terbang bebas mengitari luasnya alam yang dia sukai. Tanpa rasa takut akan terjatuh."
"Tinggi di angkasa hingga seperti sulit digapai oleh kita manusia."
"Abi Mirza."
"Dulu namamu selalu ku sebut supaya kita bisa membina rumah tangga seperti yang diajarkan oleh Nabi kita.
"Tapi sekarang? Namamu selalu ku sebut di setiap doaku. Agar engkau di tempatkan yang layak di sisi-Nya. Tenanglah kamu di sana Abi. Damailah kamu di perabadianmu yang sesungguhnya."
"Kamu sudah mengajarkan begitu banyak cinta yang belum pernah abi Rasyid berikan kepadaku. Hingga kamu juga memberikan sebuah hadiah yang akan selalu mengingatkanku. Bila kamu pernah hadir di sisiku dan singgah di hatiku."
"Terimakasih atas cinta itu kak Mirza. Terimakasih atas kebahagiaan singkat yang kamu berikan kepadaku."
"Bukan ingin hati untuk melupakanmu sayang. Sampai kapanpun namamu akan selalu terkenang di hatiku. Sampai nyawa ini pergi dari raganya. Aku cuma ingin melangkah dan memperbaiki jalan arahku yang hilang karenamu."
"I love you kak Mirza. Aku dan Aiza akan selalu mengingatmu."
___***___
Cyra membuka lembaran yang satunya. Lalu menuliskan sebuah kalimat lagi yang kali ini untuk Akmal.
"Teruntuk kak Akmal."
Cyra masih terus melanjutkan menulisnya di buku diarynya.
"Setiap langkah yang kamu langkahkan adalah sebuah doa. Hingga doa itu terkabulkan oleh Allah dan membuat hatiku tergerak untuk memilihmu."
"Sungguh tiada laki-laki lain. Selain dirimu saat ini yang bisa membuatku berani melangkah memperbaiki diri."
"Caramu tersenyum kepadaku. Dan caramu memintaku dengan segala caramu. Membuatku selalu teringat akan semua itu. Hingga perlahan namamu bisa bersanding di dalam hatiku bersama kak Mirza."
__ADS_1
"Kamu laki-laki hebat yang pernah ku temui kak. Karena ketulusan cintamu itulah yang mampu membuat hatiku bergetar lagi. Ketika hati ini sudah mati karena dibawa pergi oleh kak Mirza."
"Semoga apa yang kita inginkan dan rencanakan mendapatkan ridho dari-Nya. Dan aku berjanji akan mengabdikan diriku sepenuhnya kepadamu kelak. Untuk menebus pengabdianku kepada kak Mirza yang tertunda dulu."
"Zawji almustaqbalii ( calon suamiku )."
Setelah puas menuliskan sebuah untaian kata di dalam buku diary miliknya. Cyra lalu memilih ikut beristirahat di samping sang putri tercintanya.
Dengan lembut dia mengusap pipi baby Zahwa sambil tersenyum manis.
"Walau kamu tumbuh tanpa seorang ayah kandung. Tapi Umi yakin. Jika abu kamu, pasti akan bisa menjadi sosok ayah pengganti ayah kandungmu."
Kecupan lembut Cyra berikan ke pipi baby Zahwa. Dan setelahnya. Dia pun ikut mencoba memejamkan matanya dengan memeluk tubuh kecil sang putri.
Sedangkan beralih kepada Akmal.
Akmal yang sudah sampai di rumah. Dia memutuskan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Setelah selesai bersih-bersih badannya. Akmal memilih berdiri melamun di depan jendela kamarnya. Sambil memandangi langit yang gelap gulita. Yang cuma ada beberapa bintang saja yang menghiasinya.
"Semoga kak Mirza di sana mendoakan dan merestui rencana Akmal yang ingin menggantikan posisi kakak." Akmal berucap di dalam hatinya.
"Jika hati boleh berkata. Akmal saat ini merasa bahagia sekali. Dan bukan maksud Akmal berbahagia atas kematian kakak."
"Tenanglah di sana kakakku tersayang. Akmal tidak mau menggantikan posisi kakak di hati Cyra. Tapi Akmal cuma mau menggantikan posisi kakak yang sangat dibutuhkan oleh Cyra saat ini."
"Akmal berjanji akan memberikan cinta dan kasih sayang yang sepenuhnya untuknya dan untuk Aiza. Seperti kasih sayang yang kakak berikan dulu kepada mereka."
"Akmal akan selalu ingat bagaimana kakak memperlakukan Cyra dulu. Semoga Akmal bisa seperti kakak."
"Selamat malam kakakku tersayang. Akmal akan selalu mendoakan kakak dan selalu menyebut nama kakak di setiap doaku."
Akmal yang sudah puas mencurahkan isi hatinya. Lalu berbalik badan dan mengistirahatkan tubuhnya di ranjang mahal miliknya.
Malam itu mereka berdua seperti terikat kontak batin yang kuat. Hingga sama-sama mencurahkan isi hatinya kepada Mirza dengan cara mereka masing-masing.
Semoga harapan segera terkabulkan. Karena akan ada banyak hati yang bahagia dengan harapan tersebut.
*__________*
Hari-hari telah berlalu. Tidak terasa sudah berjalan sekitar lima hari saja sejak pertemuan malam itu di rumah abi Rasyid.
__ADS_1
Di saat Cyra sedang menyiram tanaman di halaman rumah. Matanya teralihkan ke arah pintu gerbang yang terbuka lalu masuklah sebuah mobil yang sangat mewah.
Untung saja sore itu abi Rasyid ada di rumah. Cyra yang melihat ada tamu datang ke rumahnya. Cyra memilih masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang abi dibandingkan menyapa tamu tersebut.
"Memangnya siapa tamunya Cyra?" abi Rasyid terus mengikuti langkah kaki Cyra. Karena tangannya sedang ditarik oleh Cyra.
"Itu Abi. Cyra tidak tahu." Tunjuk Cyra dari balik jendela kepada mobil yang sudah terparkir rapi di depan pintu garasi.
Abi Rasyid sangat memperhatikan sekali siapa tamu yang datang ke rumahnya. Dan dirasa abi Rasyid mengenalnya. Beliau langsung menyuruh Cyra untuk masuk ke dalam kamar.
Dengan menurut. Cyra pun masuk ke dalam kamar. Dan mengambil baby Zahwa yang sedang bermain dengan umma Nada serta Saqif.
"Tamunya siapa sih Cyra?" umma Nada ikut bertanya.
"Entahlah. Abi yang tahu. Cyra masuk dulu Umma."
Cyra langsung berlalu masuk ke dalam kamar. Dan umma Nada lalu ke luar ke arah ruang tamu.
"Wa'alaikumussalam." jawab umma Nada dan abi Rasyid kepada tamu yang datang ke rumahnya.
"Wah! Ada Mas Ridwan dan Mbak Nurza. Mari-mari silahkan masuk." Abi Rasyid menyapa ramah kepada tamunya.
"Ini siapa Mbak? Anak Mbak kah?" umma Nada menunjuk laki-laki tampan yang ikut bersama mereka.
"Iya Mbak Nada. Ini Fikri anak kami." Nurza menjawabnya dengan ramah juga.
Mereka semua saat ini sudah pada duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah abi Rasyid.
Umma Nada pun langsung menyuruh pembantu yang ada di rumahnya, untuk membuatkan minum dan juga camilan untuk para tamunya.
"Sudah lama ya Mas Ridwan kita tidak bertemu. Bagaimana kabarnya?" abi Rasyid mencoba berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik Mas Rasyid. Emm? Cyra mana Mas? Apa tadi yang menyiram tanaman itu Cyra?" kata Ridwan.
"Iya. Tadi Cyra, anak saya Mas. Memangnya ada apa ya Mas?" mendengar nama Cyra. Fikri tersenyum sambil curi-curi pandang ke dalam rumah.
"Sebelumnya? Maafkan atas kedatangan kami ke sini Mas Rasyid. Mungkin kunjungan kami ke sini sedikit mengejutkan kalian berdua." Abi Rasyid mencoba mendengarkan dengan baik.
"Kami sudah mendengar perihal suami Cyra. Dan kedatangan kami ke sini ingin melamar Cyra sebagai istri untuk Fikri anak kami."
Abi Rasyid dan umma Nada langsung saling pandang mendengar ucapan dari Ridwan tadi. Ini seperti cobaan pertama untuk abi Rasyid. Bisakah dia menjalankan amanat dari Akmal untuk jangan memperbolehkan ada laki-laki lain yang melihat bahkan melamar Cyra lagi selain dirinya.
__ADS_1
🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️
***TBC***