IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KETAHUAN


__ADS_3

Kedatangan Keluarga besar Ayah Rafiq langsung disambut ramah oleh Keluarga besar Pak Ismail, dan Akmal pun langsung dituntun untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan sebelumnya.


" Waaah, calon suami Mbak Aalifa sangat tampan sekali ," begitulah bisik-bisik dari semua orang untuk Akmal.


Aalifa sendiri saat ini juga sedang berjalan bersama para saudaranya, untuk dituntun menuju ke meja Pak Penghulu.


Senyum Aalifa terlihat sangat cerah sekali, wajahnya menggambarkan kebahagiaan yang tiada tara, tapi tidak dengan Akmal, yang senyumannya karena keterpaksaan.


" Apakah sudah bisa dimulai?? ," tanya Pak Penghulu.


" Silahkan Pak ," jawab Pak Ismail.


Mirza sendiri saat ini sedang duduk bersama sang Ayah dan Abi Rasyid, yang mengapitnya di kanan dan di kirinya.


Sedangkan Cyra, dia duduk bersama rombongan perempuan yaitu Umma Nada, Mama Jian serta yang lainnya.


Pak Penghulu ketika mendapatkan restu dari Pak Ismail, dia pun langsung memulai acara ijab kabulnya.


Jantung Aalifa berdetak sangat kencang sekali, bahkan dia malu untuk mengangkat kepalanya dan tidak berani menoleh ke samping, untuk melihat Akmal yang sudah sangat gagah menggunakan setelan jasnya.


" Sebelum kita memulai acara ijab kabulnya, sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu, supaya diberikan kelancaran oleh Allah Subhanahu wa ta'ala ," kata Pak Penghulu dan diangguki oleh semua orang.


Pak Penghulu pun langsung menengadahkan ke dua tangannya untuk memimpin doa.


Ketika sedang berdoa, pandangan Mirza sudah terlihat sedikit kabur, mungkin efek kecapekan, karena perjalanan jauh yang tadi baru saja dia tempuh.


Sekuat tenaga, Mirza menahannya, walau keringat dingin sudah mulai membanjiri tubuhnya.


" Aamiin ," ucap Pak Penghulu ketika sudah selesai memimpin jalannya doa.


Pak Penghulu lalu mengajak Akmal untuk berjabat tangan, dan Akmal pun dengan gagah menjabat tangan Pak Penghulu dengan penuh kemantapan.


" Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Akmal Khan Muhammad Khaliq bin Rafiq Al-Khaliq dengan saudari Aalifa Khumairah binti Ismail Junaedi dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat sholat, dan emas seberat dua puluh empat karat dibayar tunai.” ucap Pak Penghulu.


" Saya ........ ,"


" Mirzaaaaaa!! ,"


Ucapan Akmal terhenti, karena tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama sang Kakak dengan sangat keras sekali.


Pandangan Akmal dan semua orang langsung teralihkan ke arah Mirza, yang sudah pingsan di pelukan Ayah Rafiq.


" Kakak!! ," teriak Akmal.


Akmal yang ingin mendekati Mirza langsung di cekal lengannya oleh Aalifa.


" Kita harus melanjutkan pernikahan ini Kak ," ucap Aalifa.


" Kakak saya lebih penting dari pernikahan ini!! ," jawab Akmal sambil melepaskan kasar cekalan tangan Aalifa tadi.

__ADS_1


Akmal langsung bergegas membantu sang Ayah dan Abi Rasyid yang ingin membawa Mirza ke dalam mobil.


Acara pernikahan yang tinggal selangkah lagi menjadi kacau, karena Mirza tiba-tiba pingsan ketika acara sedang berlangsung.


Semua Keluarga besar Ayah Rafiq dan Abi Rasyid, langsung pada bubar dan ikut mengantarkan Mirza ke rumah sakit.


Aalifa sangat sebal sekali, melihat kekacauan yang terjadi karena Mirza.


Pak Ismail dan Keluarga yang lainnya juga sangat terkejut, namun mereka semua juga tidak bisa menyalahkan Mirza yang tiba-tiba pingsan begitu.


" Ayo Ma, kita ikut menyusul mereka ke rumah sakit ," ajak Pak Ismail kepada sang istri.


" Ayo Pa ," jawab Mama Atika.


" Ayo Aalifa ," ajak Mama Atika.


Akhirnya, Pak Ismail, Mama Atika, dan juga Aalifa, menyusul semua Keluarga Ayah Rafiq, yang sedang perjalanan menuju ke rumah sakit terdekat.


Sedangkan untuk rumahnya, Pak Ismail menyerahkan semuanya kepada para sanak saudaranya.


Di dalam mobil, Aalifa menggerutu sendiri, sambil melepaskan aksesoris yang menempel di tubuhnya.


" Kenapa juga Kakaknya yang penyakitan itu ikut, jadi gagal rencana pernikahan Aalifa ," gerutu Aalifa.


" Aalifa, jaga ucapanmu itu!! ," tegur Pak Ismail.


" Jika keluarga mereka sampai tahu kelakuan kamu seperti ini, Papa jamin, mereka tidak akan sudi mempunyai menantu seperti kamu!! ," kata Pak Ismail lagi.


Karena sebelumnya, Aalifa juga pernah gagal menikah, karena calon suaminya sudah mengetahui, jika Aalifa wanita yang buruk akhlaknya.


Aalifa yang dimarahi oleh sang Papa, hanya bisa diam saja sambil memajukan bibirnya, karena merasa kesal.


Akhirnya, mobil yang Akmal kendarai sampai juga di rumah sakit terdekat, dan mereka semua langsung membawa Mirza untuk masuk ke dalam ruang UGD.


Semua orang menunggu dengan harap-harap cemas di depan ruang perawatan, dan pikiran mereka semua sedang tertuju kepada Mirza seorang, sambil terus berdoa di dalam hati mereka masing-masing.


Sedang sibuk menunggu dengan pikiran yang kacau, pandangan mereka semua tiba-tiba teralihkan ke arah Pak Ismail bersama Mama Atika dan juga Aalifa yang baru saja sampai di rumah sakit.


" Pak Rafiq, bagaimana keadaan Nak Mirza?? ," tanya Pak Ismail kepada Ayah Rafiq.


" Belum tahu ," jawab Ayah Rafiq sambil menggelengkan kepalanya.


" Emm, Aalifa ijin ke kamar mandi sebentar ya semuanya ," ucap Aalifa dan semua orang hanya mengangguk saja.


Aalifa pun lalu berjalan menghindar dari mereka semua untuk mencari kamar mandi yang terdekat.


Di dalam kamar mandi itu, Aalifa menghapus semua make up yang menempel di wajahnya, karena dia sangat malu sekali dilihat oleh semua orang datang ke rumah sakit memakai baju pengantin.


" Malas sekali sih harus ke rumah sakit menggunakan baju pengantin begini, malu-maluin!! ," ucap Aalifa.

__ADS_1


" Kenapa juga Kak Mirza yang sekarat itu ikut ke acara pernikahanku,!! jadi gagal kan jadi istrinya Kak Akmal, dasar siiaalan!! ," ucap Aalifa lagi.


" Aku sumpahin dia mati, biar tidak ada lagi yang mengganggu acara pernikahanku nanti dengan Kak Akmal!! ," kata Aalifa.


Jedarr!!


Ada suara pintu yang terbuka secara kasar sekali, dan itu langsung mengalihkan pandangan Aalifa yang sedang bercermin di depan kaca wastafel.


Mata Aalifa melotot sangat lebar sekali, ketika melihat orang yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi yang sama dengannya.


" Mama Jian ," ucap Aalifa.


Yaps, orang yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi adalah Mama Jian, dan wajah Mama Jian terlihat sangat marah sekali kepada Aalifa.


Setelah kepergian dari Aalifa tadi, Mama Jian pamit kepada Ayah Rafiq untuk menyusul Aalifa ke dalam kamar mandi, karena dia ingin meminta maaf kepada Aalifa secara langsung, sebab acaranya menjadi kacau tanpa mereka duga.


Namun tidak tahunya, ketika akan masuk ke dalam kamar mandi, Mama Jian mendengar semua apa yang diucapkan oleh Aalifa tadi, dan hal itu membuat Mama Jian merasa sangat marah sekali.


Mama Jian langsung berjalan mendekati Aalifa dan langsung juga menampar pipinya dengan sangat keras sekali, hingga suara tamparan itu sangat menggema di dalam kamar mandi.


" Ternyata penilaian Akmal tentang kamu itu benar adanya!! ," ucap Mama Jian.


" Kamu perempuan berhati busuk!! ," ucap Mama Jian lagi.


" Ayo ikut dengan saya!! ," kata Mama Jian sambil menyeret tangan Aalifa, untuk dia ajak ke luar dari dalam kamar mandi.


Sesampainya di depan semua orang yang masih menunggu Mirza dengan harap-harap cemas, Mama Jian langsung mendorong Aalifa ke arah ke dua orang tuanya dengan sangat kasar sekali. Dan sikap Mama Jian membuat semua orang sangat terkejut.


" Ada apa Ma,? kenapa Mama bersikap kasar kepada Aalifa?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apapun dengan Keluarga mereka, karena Mama tidak sudi mempunyai menantu seperti dia!! ," jawab Mama Jian sambil menunjuk Aalifa.


" Ada apa sebenarnya Bu Jian?? ," tanya Pak Ismail.


" Tanyakan saja kepada putri kesayangan anda itu, yang sudah berani menyumpahkan anak saya mati, dan mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan!! ," jawab Mama Jian kepada Pak Ismail.


Semua orang sangat terkejut mendengar jawaban dari Mama Jian tadi.


" Aalifa,!! apa yang sudah kamu katakan tadi?? ," tanya Pak Ismail kepada Aalifa yang tidak berani mengangkat kepalanya.


Aalifa tentu saja tidak bisa menjawabnya, sebab ucapannya tadi benar-benar sangat kasar sekali.


" Lebih baik, kalian semua pergi saja dari sini, dan kami tidak sudi melanjutkan lagi berbesan dengan kalian!! ," usir Mama Jian dengan tegas.


Marah, malu, dan sedih, tentu saja itu dirasakan oleh Pak Ismail dan juga Mama Atika sekarang.


Namun mereka berdua juga tidak bisa berbicara apa-apa, karena semua kesalahan terletak di putri tercintanya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2