
Akmal tersenyum sendiri setelah kepergiannya Cyra. Ada rasa di dalam diri yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Karena sudah bisa berdekatan dengan Cyra seperti tadi.
"Kak Mirza. Doakan Akmal. Semoga Akmal bisa meluluhkan hati wanita yang sebelum kakak mengenalnya. Akmal sudah mencintainya lebih dulu."
Ucapan Akmal membuat mama Jian dan para bibi yang masih mengintipnya sukses langsung membuka mulutnya sangat lebar sekali.
"Jadi! Selama ini? Mas Akmal?"
Ucapan bi Darmi langsung diangguki oleh semua bibi yang ada di situ.
"Kita sependapat Mbak," ucap bi Tukiyah.
Mama Jian benar-benar kehabisan kata-kata dengan mata yang terus menatap Akmal dari tempat persembunyiannya.
"Akmal akan menjaganya. Dan Akmal berterimakasih karena Kakak sudah mengijinkan Akmal untuk menikahi Cyra," kata Akmal lagi yang masih didengar jelas oleh para bibi dan juga mama Jian.
Padahal Akmal berbicara tidak terlalu keras. Tapi mereka semua bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dikatakan oleh Akmal tadi.
Setelah puas berbicara sendiri. Akmal pun langsung berlalu menuju ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sedangkan mama Jian langsung ke luar dari tempat persembunyiannya menuju ke ruang keluarga dengan ekspresi wajah seperti orang linglung. Begitupula dengan para bibi yang langsung melanjutkan lagi pekerjaan mereka yang sedikit tertunda.
Malam harinya ketika jam makan malam tiba. Ayah Rafiq yang seharian pergi ke Yayasan sangat terkejut ketika melihat Akmal masuk ke dalam ruang makan dengan keadaan tangan seperti itu.
"Ya Allah. Akmal kamu kenapa?"
Wajah Ayah Rafiq benar-benar terlihat khawatir dan juga terkejut.
"Demi dia Ayah. Demi cucu dan menantu kesayangan Ayah. Akmal rela terluka begini."
Ucapan Akmal sukses membuat mama Jian menatap ke arah Cyra yang sedang menggendong baby Zahwa.
"Apa maksud ucapanmu Akmal?" Ayah Rafiq tidak mengerti sama sekali.
"Emm. Tadi Cyra hampir saja ditabrak mobil Ayah. Dan Kak Akmal datang menolong Cyra," jelas Cyra.
"Astaghfirullah. Ada-ada saja kejadian yang selalu menimpa keluarga kita."
"Tapi kamu baik-baik saja kan Cyra?"
Dengan mengangguk pelan. Cyra pun menjawab. "Alhamdulillah Ayah. Cyra baik-baik saja."
"Lalu mobil yang menabrak kamu itu bagaimana Cyra?"
Sebelum Cyra menjawabnya. Akmal sudah mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. "Ayah tenang saja. Semuanya sudah diurus oleh temannya Hamzah."
"Temannya Hamzah?"
"Iya Ayah. Karena kebetulan Hamzah sedang berada di butik dan langsung membantu Akmal menangani ini semua."
__ADS_1
"Semoga segera tertangkap. Atau paling tidak kita beri pengertian secara kekeluargaan. Supaya tidak mengulangi lagi kesalahannya untuk ke dua kali."
Akmal mengangguk setuju dengan apa yang sedang diucapkan oleh sang ayah. Begitupula dengan Cyra.
"Tangan kamu sakit Akmal?" tanya mama Jian. Lalu dia melanjutkan lagi ucapannya. "Tidak mau meminta tolong kepada Cyra saja untuk menyuapi kamu?"
Godaan dari mama Jian sukses membuat semburat warna merah di pipi Cyra terlihat. Namun untung saja, Cyra memakai niqab. Jadi tidak akan terlihat jika saat ini dirinya sedang merasa malu kepada mereka.
"Wah? Boleh juga itu ide Mama. Tapi Mama dan Ayah apakah mengijinkannya?"
Ucapan Akmal membuat ayah Rafiq yang sebenarnya ingin menjodohkan Akmal dengan Cyra menjadi bingung sendiri ingin menjawab bagaimana.
Mau bilang iya, malu sama Cyra. Mau bilang tidak, tapi dirinya ingin melihat Akmal semakin dekat dengan Cyra.
Akan tetapi kebingungan ayah Rafiq terhempaskan begitu saja, ketika mendapat tendangan pelan kakinya dari mama Jian dari bawah meja.
"Oh boleh. Boleh ko, jika Cyra mau."
Akmal mengedipkan sebelah matanya menggoda Cyra, ketika sang mama dan sang ayah memberikan ijin kepada mereka.
Mau tidak mau. Cyra akhirnya mau menyuapi Akmal. Karena bagaimanapun juga, Akmal memang sedikit kesusahan dalam menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. "Baiklah," ucap Cyra.
"Eh! Biar Kakak saja yang pindah di kursi itu. Kamu diam saja di situ," cegah Akmal yang melihat Cyra akan pindah duduk di sebelahnya.
Cyra hanya mengangguk saja. Dan akhirnya Akmal duduk di kursi yang biasanya Mirza duduki.
Cyra langsung memberikan baby Zahwa ke pangkuan Akmal dengan perlahan.
Di mata mama Jian dan ayah Rafiq. Akmal dan Cyra terlihat seperti sepasang keluarga yang harmonis dan bahagia.
"Kakak mau makan apa?" tanya Cyra.
Akmal langsung menyebutkan makanan yang ingin dimakannya. Setelahnya, Cyra langsung menyuapi Akmal dengan penuh perhatian.
"Ini masakannya yang tumben enak. Atau karena aku makannya disuapi ya?" Ucap Akmal sambil tersenyum super manis sekali.
"Rasa masakannya sama seperti biasanya," jawab mama Jian.
"Kamu saja yang sedang kesenangan karena di suapi oleh Cyra,"
Akmal langsung tertawa terbahak-bahak karena disindir oleh sang ayah.
"Kamu makan juga Nak. Ingat kamu itu meenyusui. Kalau Akmal biarkan saja dia kelaparan," ucap mama Jian.
Akmal merajuk manja dihadapan mereka semua sambil merengek kepada Cyra. "Tapi kamu pasti tidak akan membuat Kakak kelaparan kan sayang?"
"Hei! apa kamu sayang-sayang! Mau Ayah tendang kamu!"
Akmal bukannya takut mendengar sang ayah bernada seperti itu kepadanya. Tapi dia malah tertawa semakin terbahak-bahak saja.
__ADS_1
"Sepertinya Akmal perlu dipanggilkan ustadz untuk meruqyahnya, Ayah."
"Nah, benar itu Ma. Ayah setuju."
"Kebetulan Ayah mengenal ustadz yang bisa meruqyah," ucap ayah Rafiq lagi.
"Humpt!"
Akmal yang begitu. Sukses membuat Cyra tersenyum geli melihatnya.
Selesai makan malam dan Cyra juga sudah ikut mengisi perutnya. Mereka semua lalu berpisah dengan tujuan mereka masing-masing.
Cyra memilih masuk ke dalam kamar bersama baby Zahwa. Akmal juga masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Begitupula dengan mama Jian dan ayah Rafiq yang ikut masuk ke dalam kamar mereka sendiri. Sebab mama Jian ingin bercerita tentang apa yang didengarnya tadi antara Akmal dan juga Cyra.
Ayah Rafiq benar-benar sangat terkejut sekali mendengar cerita dari sang istri. Kalau ternyata ke dua anak laki-laki mereka mencintai satu wanita yang sama.
"Sungguh cerita ini sangat membuat Ayah syok, Mama."
"Apalagi Mama, Ayah. Yang mendengarnya secara langsung dari mulut Akmal."
"Kita sudah sangat berdosa sekali kepada Akmal. Karena sudah membuat Akmal menahan rasa selama ini ketika melihat Mirza bermesraan dengan Cyra."
Mama Jian mengangguk setuju membenarkan ucapan dari sang suami.
"Kira-kira. Mirza sudah tahu belum ya Yah. Kalau Akmal juga mencintai Cyra?"
"Entahlah Ma. Tapi sepertinya belum." jawab ayah Rafiq.
"Bagaimana Ayah bisa yakin begitu?"
"Karena Ayah tahu bagaimana sifat Mirza. Dia pasti lebih memilih mengalah daripada melihat sang adik terluka atau bersedih karenanya."
Lagi-lagi mama Jian mengangguk membenarkan ucapan ayah Rafiq.
"Sekarang kita harus menyatukan mereka berdua Ma. Tapi tanpa sepengetahuan siapapun. Termasuk mereka berdua atau besan kita."
"Iya Ayah. Mama setuju. Semoga niat baik kita dipermudah oleh Allah."
Ayah Rafiq langsung mengaamiinkan ucapan mama Jian dengan sangat bersungguh-sungguh.
Walau Cyra janda sekalipun. Pasti akan banyak laki-laki yang mengantre untuk mendapatkannya.
Sebelum ada laki-laki lain yang mencoba mendekatinya. Akmal ingin segera meminang Cyra. Begitupun dengan ayah Rafiq dan mama Jian yang tidak mau sampai Akmal kalah mendapatkan Cyra untuk menjadi istrinya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1