
" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan,? jika begini terus, imanku lama-kelamaan akan terkikis ," kata Akmal ketika sudah masuk ke dalam kamar.
Akmal begitu sangat bingung sekali, ingin sekali dia pergi menghindar dari sang Kakak maupun Cyra, namun Akmal bingung bagaimana mencari alasan yang tepat kepada ke dua orang tuanya.
Ketika Akmal sedang gundah gulana sendiri, tiba-tiba ada sambungan telepon masuk dari seseorang, dan di saat sudah dilihat oleh Akmal, ternyata yang menelpon adalah Hamzah.
" Halo Assalamu'alaikum, Ham ," salam dari Akmal.
" Wa'alaikumussalam Mal ," jawab Hamzah.
" Ada apa?? ," tanya Akmal.
" Nanti malam kita nongkrong yuk, sudah lama juga kan kita tidak mengobrol ," ajak Hamzah.
" Sama Abraham juga, dia setuju katanya ," kata Hamzah lagi.
" Iya baiklah, jam berapa?? ," tanya Akmal.
" Jam tujuh di tempat biasa ," jawab Hamzah.
" Baiklah, nanti setelah sholat maghrib aku on the way ke sana ," jawab Akmal.
" Ok sip, aku tunggu ," kata Hamzah.
" Iya ," jawab Akmal.
" Kalau begitu aku tutup teleponnya, assalamu'alaikum ," kata Hamzah.
" Wa'alaikumussalam ," jawab Akmal dan dia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan Akmal jika sore hari, biasanya memilih untuk menonton televisi di ruang Keluarga.
Ketika Akmal sudah duduk di ruang Keluarga, dia langsung menyalakan televisi dan menontonnya sendirian.
Sedangkan Cyra, masih sibuk duduk sendirian di ruang tamu, menunggu kedatangan sang suami.
Cyra merasa sangat khawatir sekali, ketika sudah jam lima sore, tapi Mirza belum sampai ke rumah juga, sedangkan di luar, hujan masih turun membasahi bumi.
" Kenapa Kak Mirza belum pulang juga ya?? ," tanya Cyra di dalam hatinya.
Untuk mengurangi perasaan khawatirnya, Cyra pun mencoba menelpon sang suami.
" Halo Assalamu'alaikum sayang ," kata Mirza.
" Wa'alaikumussalam Kak, kenapa Kakak belum sampai rumah juga sampai jam segini, Kakak tidak kenapa-kenapa kan?? ," tanya Cyra dengan nada yang terdengar khawatir.
" Tidak, Kakak tidak kenapa-kenapa ko sayang, hanya saja di jalan yang biasanya Kakak lewati saat ini sedang macet parah, karena ada pohon besar yang tumbang, karena hujan lebat tadi sayang ," jawab Mirza.
__ADS_1
" Jadi kemungkinan Kakak masih akan terjebak macet di sini, sampai ada petugas yang membantu jalannya lalu lintas ," kata Mirza lagi.
" Apakah Kakak tidak bisa berputar arah?? ," tanya Cyra.
" Tidak bisa sayang ," jawab Mirza.
" Kamu tenang saja ya di rumah, Kakak baik-baik saja ko ," kata Mirza menenangkan Cyra. Dan untuk lebih menenangkan lagi hati Cyra, Mirza mencoba mengalihkan panggilannya dengan video call.
" Nah, istri Kakak sudah lihat sendiri kan,? jika Kakak masih berada di dalam mobil ," kata Mirza.
" Alhamdulillah, hati-hati ya sayang ," jawab Cyra merasa lega sudah bisa melihat wajah Mirza.
" Iya, ini lihatlah, sangat macet sekali ," kata Mirza mengeluh kepada Cyra, sambil membalikkan kamera ponselnya untuk memperlihatkan keadaan sekitar.
" Semoga Allah cepat memberikan jalan ke luar untuk kemacetan yang sedang terjadi ," kata Cyra.
" Aamiin ," jawab Mirza.
" Istri Kakak ini, benar-benar bisa selalu membuat Kakak rindu ingin berjumpa ," kata Mirza.
Cyra langsung tersenyum mendengar kata-kata manis dari Mirza.
" Kak, Cyra tutup dulu teleponnya ya, sudah mau maghrib, nanti di qodho saja sholat maghribnya, ketika sudah sampai rumah ," kata Cyra.
" Iya sayang, pasti ," jawab Mirza sambil tersenyum.
" Wa'alaikumussalam istriku, love you ," jawab Mirza.
" Love you too ," jawab Cyra, dan akhirnya sambungan video call mereka terputus juga.
Cyra yang sudah mematikan sambungan video call dari Mirza, langsung beranjak berdiri dari ruang tamu menuju ke dalam kamarnya.
Ketika sedang menaiki tangga, Cyra tidak sengaja melihat Akmal yang baru saja naik tangga juga.
Jantung Cyra dan Akmal sama-sama berdetak lebih kencang dari biasanya, namun mereka berdua juga sama-sama mencoba bersikap biasa saja dan sewajarnya.
Akmal terus melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya, begitu pula dengan Cyra yang ikut melangkahkan kakinya di belakang Akmal, untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sesampainya di dalam kamar, baik Akmal dan Cyra langsung menghembuskan nafasnya dengan lega, mereka lucu, namun memang seperti itulah yang mereka lakukan.
Cyra sedikit pun tidak ada niatan sama sekali ingin berpaling dari sang suami, hanya saja dia merasa malu, risih dan juga sungkan, jika tidak sengaja berpapasan dengan Akmal.
Adzan maghrib pun akhirnya berkumandang dengan sangat keras sekali, untuk memanggil para umat muslim supaya segera menunaikan ibadah sholat maghrib berjamaah maupun sendirian di rumah.
Ketika Cyra sudah selesai memakai mukenanya dan lalu ingin melaksanakan sholat maghrib, tiba-tiba saja listrik di rumah itu padam.
Cyra reflek berteriak, karena terkejut dan juga takut, dan teriakan Cyra mengundang Akmal yang kebetulan lewat di depan kamar, karena tadi dia ingin ke masjid.
__ADS_1
" Cyra, kamu kenapa??!! ," kata Akmal dengan tiba-tiba sambil membuka pintu kamar.
Cyra semakin terkejut pula, ketika Akmal tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, dan saat ini dirinya sedang tidak menggunakan niqob.
Untung saja saat ini dalam keadaan mati lampu, jadi Akmal tidak bisa melihat begitu jelas wajah Cyra yang cantik jelita itu.
" Ke-kenapa Kak Akmal langsung masuk ke dalam kamar Cyra?? ," tanya Cyra dengan nada yang terdengar tidak suka.
Cyra pun berbicara sambil langsung membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Akmal.
" Kamu berteriak, dan membuatku terkejut ," jawab Akmal.
" Aku takut kamu kenapa-kenapa ," lanjut lagi kata Akmal.
" Cyra tidak kenapa-kenapa Kak, dan Cyra mohon, Kakak cepat ke luar dari dalam kamar Cyra ," jawab Cyra.
" Baiklah, kalau begitu ," jawab Akmal.
" Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil aku, Cyra ," kata Akmal lagi.
" Iya, terimakasih ," jawab Cyra sambil mengangguk.
Akmal pun berlalu pergi dari dalam kamar Cyra menuju ke dalam kamarnya sendiri, Akmal mengurungkan niatnya untuk sholat berjamaah di masjid, sebab saat ini keadaan komplek sedang ada pemadaman listrik.
Selain gelap jalannya, Akmal juga merasa tidak tenang meninggalkan Cyra sendirian di dalam rumah dalam keadaan mati lamu, sedangkan sang Kakak belum pulang sampai sekarang.
Sepeninggal Akmal dari dalam kamarnya, Cyra langsung menyalakan senter ponselnya untuk cahaya sementara di dalam kamarnya.
Dengan berusaha khusuk, Cya pun lalu menunaikan ibadah sholat maghrib sendirian.
Selesai sholat maghrib, Cyra memilih menunggu Mirza di dalam kamar saja, sebab dia takut jika berduaan lagi dengan Akmal jika ke luar kamar.
" Kak cepatlah pulang, Cyra takut ," kata Cyra.
" Cyra bukan takut dengan hal-hal seperti itu, yang Cyra takutkan justru karena Cyra berdua saja di dalam rumah dengan Kak Akmal dalam keadaan mati lampu begini ," kata Cyra lagi sambil memandang ke luar dari jendela kaca.
Akmal sendiri setelah menunaikan sholat maghrib tadi di dalam kamarnya, dia sengaja duduk santai sambil memainkan ponselnya di ruang Keluarga saja.
Akmal memang sengaja duduk di ruang Keluarga, karena dia ingin berjaga-jaga saja, karena siapa tahu Cyra nanti akan membutuhkan bantuannya, walau sebenarnya dia sudah ditunggu oleh Hamzah maupun Abraham.
Sekitar jam setengah delapan malam, akhirnya, Mirza sampai juga di rumah dengan selamat, dan bersamaan itu pula, lampu di komplek perumahaan Ayah Rafiq menyala.
Akmal yang melihat kedatangan dari sang Kakak, jujur tidak bisa dia bohongi, ada perasaan lega, sebab itu artinya dia bisa pergi dengan tenang untuk berkumpul dengan ke dua sahabatnya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1