
Pandangan mata mama Jian teralihkan ketika dirinya mendengar suara seseorang sedang cekikikan dengan tertahan di sebelahnya.
"Kalian ngapain ikut-ikutan mengintip juga?"
Para bibi yang ditanya oleh mama Jian langsung pada tersenyum garing sambil menunduk malu.
"Anu Bu. Itu kami senang melihat Mbak Cyra dan Mas Akmal berduaan begitu. Mereka terlihat sangat serasi sekali, bahkan melebihi dengan Mas Mirza dulu."
Bi Narsih langsung menyenggol lengan bi Darmi yang terlalu jujur kepada mama Jian.
"Kamu kenapa bicara jujur seperti itu!"
Mama Jian yang mendengar bi Narsih berbisik gemas kepada bi Darmi pun dia langsung tersenyum.
"Tidak apa-apa Bi Narsih. Saya pun juga merasa begitu." ucap mama Jian sambil terus menatap ke arah Akmal dan Cyra yang sedang saling pandang.
"Nah! Benar kan Mbah Narsih. Ibu saja sependapat dengan kita ko."
Bi Narsih hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memutar bola matanya malas menanggapi ocehan dari bi Darmi.
Mereka lalu melanjutkan lagi acara mengintipnya. Yang saat ini Akmal dan Cyra benar-benar membuat jiwa jomblo ikut merasa senang.
"Eh! maaf Kak. Sakit ya?"
Akmal hanya mengangguk sambil terus menatap ke arah Cyra yang berada persis di depannya.
"Cyra akan lebih pelan-pelan lagi, Kak." ucap Cyra sambil melepaskan lengan kemeja yang sebelah kanan.
"Astaghfirullah."
Cyra beristighfar di dalam hati. Karena mencium aroma parfum mahal milik Akmal yang menguar di hidungnya.
Sedangkan Akmal. Masih terus menatap Cyra seperti tanpa berkedip. Dan entah kenapa, tiba-tiba tangannya seperti terangkat sendiri untuk menyentuh pipi Cyra yang tertutup niqab.
Cyra benar-benar sangat terkejut sekali dengan apa yang dilakukan oleh Akmal kepadanya. Cyra yang tadinya sedang sibuk memegang lengan Akmal yang sakit, langsung terhenti ketika Akmal menyentuh pipinya.
"Eh! Mbak. Itu mas Akmal mau apa? Ko pegang pipi mbak Cyra segala?"
Tidak cuma bi Darmi saja yang penasaran. Begitu pula dengan mama Jian, bi Narsih, bi Ningsih dan juga bi Tukiyah.
"Jangan-jangan! Mas Akmal mau mencium mbak Cyra!"
Ucapan bi Tukiyah sukses membuatnya mendapatkan jitakan di kepala dari bi Narsih yang paling senior di antara mereka.
"Tidak mungkin mas Akmal seperti itu! Tukiyah!" bi Narsih merasa gemas sekali.
__ADS_1
Mereka lalu melanjutkan lagi melihat ke arah Akmal yang saat ini sedang menyentuh pipi Cyra sambil terus saling pandang dengan Cyra.
Jantung Cyra seakan mau lepas dari tempatnya. Dan Cyra sangat takut sekali, kalau Akmal bisa mendengar detak jantungnya yang suaranya melebihi genderang perang.
Jarak yang cuma beberapa centi saja. Membuat Akmal tidak terlalu lama bisa mendekatkan wajahnya persis di depan mata Cyra.
"A-apa yang i-ingin Kak Akmal lakukan?"
Cyra bertanya dengan gugup. Tapi Akmal malah tersenyum sangat super manis sekali.
Dengan tubuh yang sudah berteelanjang dada. Membuat Akmal terlihat semakin gagah dan juga seksi di mata Cyra.
Tubuh yang bersih mulus. Menambah kesan manly di dalam diri Akmal yang selama ini selalu menjaga tubuhnya dengan baik.
Rasanya Cyra ingin menghindar. Tapi entah kenapa? Tubuhnya seakan kaku tidak bisa ia gerakkan sama sekali.
"Mbak-mbak! Itu mas Akmal pasti mau mencium mbak Cyra! Aduh! Bagaimana ini?"
Bi Darmi sangat heboh sekali. Hingga membuat pikiran semua orang menjadi buyar, termasuk mama Jian.
"Kamu bisa diam tidak sih Darmi!"
Nah kan! Dapat teguran dari mama Jian. Tapi mama Jian tidak percaya jika Akmal sampai berani mencium Cyra sebelum dia menjadi halal baginya.
Setelah Akmal tersenyum super manis kepada Cyra. Dia membelokkan sedikit kepalanya tepat di samping telinga Cyra.
Tangan Cyra dipegang oleh Akmal untuk dia taruh di depan dadanya yang bidang itu.
Mereka lupa, jika saat ini mereka berdua sedang berada di ruang keluarga dan bisa dilihat oleh siapapun yang sedang lewat.
Semakin kencang pula detakan jantung Cyra dengan apa yang dilakukan oleh Akmal sekarang. Dan tanpa mereka sadari, mereka melanggar larangan yang selama ini mereka jaga. Yaitu saling menatap dan juga bersentuhan.
"Mbak Narsih! Mas Akmal romantisnya. Aaa aku jadi iri."
"Bisa diam tidak!" Bi Narsih benar-benar merasa gemas dengan bi Darmi yang heboh sendiri daritadi.
"Jika Kakak tidak ingat batasan dan iman di dalam dada. Kakak pasti sudah mengajakmu ke pelaminan saat ini juga Cyra."
Mendengar ucapan Akmal. Cyra langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Akmal di depan dadanya.
Cyra langsung berdiri dari duduknya ingin pergi dari hadapan Akmal. Namun tangannya langsung dicekal oleh Akmal dengan sangat erat sekali.
"Mau ke mana Cyra?"
Cyra menggelengkan kepalanya sebelum menjawab pertanyaan dari Akmal. "Ini salah Kak?"
__ADS_1
"Apanya yang salah Cyra?" Akmal bertanya penuh arti.
"Kamu sudah sendiri sekarang Cyra? Dan rasa cinta Kakak tidak berubah sejak lima tahun yang lalu untukmu."
Jeng-jeng-jeng. Mama Jian dan semua para bibi sangat terkejut mendengar ucapannya Akmal yang ternyata sudah mencintai Cyra sejak Mirza masih ada.
"Tolong tanyakan kepada hatimu sekarang? Apakah tidak ada cinta sedikit pun untuk Kakak saat ini?"
Akmal terlihat memelas dan juga memohon kepada Cyra. Dan Cyra lalu berbalik badan untuk menghadap ke arah Akmal dengan posisi masih berdiri. "Tapi Kak ... ?"
"Tapi apa Cyra?"
"Apakah masih kurang pengorbanan Kakak selama ini untukmu?" Akmal berbicara begitu lembut sekali. Seakan ucapannya itu bisa langsung menusuk ke dalam kalbu.
Mama Jian dan yang lainnya semakin menajamkan telinga dan juga mata untuk memperhatikan Cyra dan Akmal dari tempat persembunyian mereka.
"Apa kata orang nanti Kak? Jika Cyra menikah dengan adik dari almarhum suaminya?"
Akmal memejamkan matanya sebelum mencoba meyakinkan Cyra lagi. "Bukan mereka yang memberikan kebahagiaan untuk kita Cyra. Tanyakan kepada hatimu yang paling dalam. Manakah kebahagiaan yang selama ini kamu cari di hidupmu?"
"Kakak dan kamu menikah itu sah Cyra? apa yang salah dari itu. Walau kamu mantan Kakak iparku sekalipun."
"Tapi Kak ... ?"
"Bantulah Kakak dulu untuk memakai kaos ini. Apakah kamu mau tubuh Kakak dilihat oleh semua orang karena tidak memakai baju."
Cyra langsung tersadar. Dan dia lalu kembali duduk lagi untuk membantu Akmal memakai baju.
"Kakak dapat mendengar detak jantungmu."
Ucapan Akmal sukses membuat Cyra langsung gemetar karena seperti ketahuan jika dirinya juga berdebar-debar.
"Kakak akan menunggumu sampai masa iddahmu selesai. Dan Kakak juga akan tetap memperjuangkan cinta Kakak ini sampai kamu menerimanya Cyra."
Cyra dapat melihat di mata Akmal. Jika dirinya saat ini sangat bersungguh-sungguh dan sangat meyakinkan sekali.
"Cyra permisi dulu Kak, mau ke dalam kamar."
Akmal hanya mengangguk. Dan ketika Cyra sudah berjalan beberapa langkah di depannya Akmal pun berkata lagi yang langsung menghentikan langkah kaki Cyra tanpa membuatnya berbalik badan menatapnya. "Kakak akan membuktikan kepada dunia. Jika kamu adalah jodoh Kakak sejak lima tahun lalu bahkan untuk lima ratus ribu tahun yang akan datang."
Setelah mendengar ucapannya Akmal. Tanpa menjawab sama sekali. Cyra langsung melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam kamarnya.
Sedangkan untuk mama Jian yang baru mengetahui kenyataan begitu besar dari sang putra bungsunya. Entah kenapa ada perasa bersalah yang hinggap di hatinya. Dan juga perasaan terkejut yang teramat besar sekali.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...