
Tibalah saatnya. Di mana hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Abraham dan juga Kalila selama ini.
Hari ini! Tepatnya jam sembilan pagi nanti. Abraham akan mengucapkan ikrar janji suci dihadapan pak Penghulu dan juga para saksi dengan menyebut nama Kalila. Sang wanita tercinta.
Semua persiapan sudah sangat matang sekali. Dari dekorasi, WO, catering, tempat. Semuanya sudah tertata dengan apik dan juga rapi sesuai dengan ketentuannya.
Dua belah keluarga sudah pada sibuk sejak kemarin. Dan menjelang hari h sekarang. Mereka semua semakin sibuk dengan apa yang harus mereka lakukan.
Pernikahan yang dilaksanakan di sebuah masjid agung yang ada di kota mereka. Ballroomnya sudah disulap sedemikian rupa oleh para WO yang disewa Abraham dan juga Kalila.
Kalila sendiri saat ini sedang di make up di sebuah ruangan khusus yang sudah disediakan. Begitupula dengan Abraham yang berada di ruangan satunya bersama para kerabat laki-lakinya.
Meninggalkan mereka yang sedang pada sibuk di acara pernikahan Abraham dan Kalila. Kita beralih ke Akmal sejenak.
Akmal sebenarnya diminta khusus oleh Abraham untuk menemaninya sejak awal. Namun Akmal harus meminta maaf sekali kepada Abraham. Karena ternyata? Di waktu bersamaan dirinya harus menunggui para mahasiswa atau mahasiswinya yang sedang pada ujian.
Mau tidak mau Akmal harus lebih memilih kampusnya. Dan untung saja Abraham bisa mengerti. Mau meminta Hamzah pun. Abraham rasanya sungkan. Sebab Misha baru saja melahirkan.
"Bagaimana rasanya bro?" suara seseorang yang sangat mengejutkan bagi Abraham.
"Hamzah!" senyum merekah langsung terlihat di wajah Abraham yang sedang di make up.
Abraham sangat terkejut sekali melihat kedatangan Hamzah ke ruangannya.
Hamzah dan Abraham lalu bersalaman ala laki-laki. "Kamu ko ada di sini? Lalu Misha?"
"Tenang saja. Dia sudah mengizinkanku ko. Saat ini dia masih ada di rumah bersama Mama."
"Terimakasih Ham. Aku senang sekali ada kamu yang menemaniku. Walau tanpa ada Akmal di sini."
"Akmal beneran tidak bisa menemanimu Bray?"
Abraham menggelengkan kepalanya. "Tidak! Nanti jika dia datang menungguiku bisa dituntut sama pihak kampus."
"Benar. Sudahlah tak apa. Setidaknya doa darinya sudah mengalir untukmu hari ini," Abraham langsung menganggukkan kepalanya.
Kembali ke Akmal lagi. Di saat dirinya masih sangat sibuk di kampus. Akmal merasakan ponsel yang ada di saku celananya bergetar.
Ingin sekali dia melihatnya. Tapi waktunya tidak tepat. Dan setelah waktu menunggu ujiannya sudah selesai. Akmal yang sedang berjalan ke arah ruang kantornya segera membuka ponselnya.
"Cyra!" ucap Akmal yang membaca nama Cyra di dalam ponselnya.
Akmal memilih langsung menelponnya saja. Daripada membalas pesan yang sudah dikirimkan oleh Cyra.
__ADS_1
"Halo! Assalamu'alaikum Kak."
Akmal pun langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Cyra. Ada apa menelepon Kakak?"
"Cyra cuma mau tanya? Kakak kapan datang ke pernikahannya kak Abraham dan Kalila?"
"Kamu siang ini saja datang bersama Deena atau temanmu yang lainnya ya? Karena Kakak kan tidak bisa mengantarmu ke sana."
"Biar Kakak nanti datangnya setelahmu." ucap Akmal selanjutnya.
"Kakak khawatir jika kamu datang sorenya. Mengerti Bidadariku?"
Cyra tersenyum di seberang sana mendengar panggilan mesra dari Akmal. "Iya. Cyra mengerti ko Kak."
"Apakah Kakak masih sibuk sekarang?" tanya Cyra.
Sambil duduk di kursi kerjanya, Akmal lalu menjawab. "Iya! Kakak masih sibuk. Sebentar lagi ada jam mengajar lagi untuk Kakak."
"Semangat ya Kak. Lebih baik gaji kecil tapi berkah. Dan itu akan Cyra hargai. Daripada gaji banyak tapi haram. Karena sepeserpun Cyra tidak akan mau menerimanya."
Akmal tersenyum sangat manis sekali walau Cyra tidak bisa melihatnya. "Iya Bidadariku. Sudah dulu ya. Kakak mau menyiapkan materi dulu untuk anak-anak."
"Ok baiklah. Jangan lupa makan ya?"
"Kenapa Kakak tidak pernah meminta foto Cyra? Katanya Kakak bisa memintanya secara langsung sekarang. Tapi nyatanya? Cyra perhatikan Kakak tidak pernah memintanya. Apa Kakak sudah mempunyai foto candidnya Cyra lagi ya?"
Akmal tersenyum lagi mendengar ucapan Cyra. "Untuk apa Kakak memintanya. Sedangkan wajahmu, senyumanmu, apapun yang ada di dalam dirimu. Semuanya selalu terbayang di mata Kakak setiap waktu."
Cyra tersipu malu mendengar jawaban manis dari Akmal. "Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum." Cyra memilih mengalihkan pembicaraan.
Akmal tidak marah. Namun langsung tersenyum geli sendiri. "Iya! Wa'alaikumussalam." Dan pada akhirnya sambungan telepon mereka terputus juga.
Setelah selesai menerima telepon dari Akmal. Cyra langsung mencoba menghubungi Deena. Dan alhamdulillah. Deena bisa berangkat bersama dengannya siang nanti untuk menghadiri pesta pernikahan Abraham dan Kalila.
Kembali ke ballroom masjid.
Abraham sudah duduk rapi di depan pak Penghulu. Dan disampingnya juga sudah ada Kalila yang sudah duduk anggun bersamanya.
Ingin mata selalu melirik ke arah Kalila yang terlihat sangat super cantik menurutnya hari ini. Tapi apalah daya. Abraham malu untuk melakukannya. Karena takut ketahuan jika dirinya sedang terpesona dengan calon istrinya.
"Bagaimana semuanya? Bisakah kita mulai ijab kabulnya?" ucap pak Penghulu.
"Bisa!" jawab serempak dari semua orang yang sudah pada hadir.
__ADS_1
Pak Penghulu lalu membaca bismillah sebelum memulai serangkaian acaranya. Dan doa juga tidak lupa dia panjatkan untuk Allah Subhanahu wata'ala.
Tibalah saatnya pak Penghulu saling berjabat tangan dengan Abraham. Dan Abraham menjabatnya dengan sangat kuat sekali.
Bacaan ijab kabul pun sudah mulai dibacakan oleh pak Penghulu dan dengan mantap serta tegas. Abraham menirukannya dengan lantang dalam sekali ucap.
Terdengar suara sah yang menggema di dalam ballroom masjid tersebut. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah semua orang. Terutama Abraham dan juga Kalila.
Sesi ijab kabul sudah terlaksana dengan baik dan lancar. Kini saatnya mereka berdua duduk berdampingan di atas singgasana yang sudah disiapkan khusus bagi mereka untuk menyalami para tamu undangan.
"Kamu cantik sekali sayang." Kalila tersenyum manis sekali mendengar bisikan mesra di telinganya.
"Akhirnya! Kamu sudah sah menjadi milikku. Kakak sudah tidak sabar untuk nanti malam." Kalila refleks langsung mencubit mesra pinggang Abraham, hingga membuatnya tersenyum geli bukannya sakit.
Kemesraan Abraham dan Kalila di panggung pelaminan dilihat oleh semua orang. Akan tetapi mereka tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Abraham bersama Kalila.
Sekitar pukul sebelas siang. Cyra akhirnya sampai juga di acara pernikahan Kalila dan Abraham bersama Deena.
Kalila, Cyra dan juga Deena. Langsung berpelukan khas seorang perempuan. Lalu berfoto-foto sejenak bersama di atas panggung pelaminan dengan ke dua mempelai.
"Terimakasih Cyra. Kamu sudah menyempatkan datang ke sini."
"Pastinya aku akan datang Kalila. Kamu kan sahabatku," jawab Cyra.
"Oh ya? Mana Akmal? Kamu datang cuma bersama Deena saja?" tanya Abraham.
"Iya. Kan kita tidak boleh bertemu dulu sama abi, Kak." Abraham mengangguk mengerti.
"Silahkan dinikmati ya Cyra, Deena. Semoga kalian berdua suka dengan acara serta hidangannya." Cyra dan Deena menganggukkan kepalanya.
"Siap Kak! Nanti Deena akan meminta dibungkus untuk dibawa pulang," canda Deena.
"Bawalah sebanyak yang kamu mau," jawab Kalila membuat Deena langsung tertawa terbahak-bahak.
Setelah berbincang sebentar bersama ke dua mempelai. Cyra bersama Deena lalu ikut berbaur dengan yang lainnya untuk menikmati hidangan yang ada.
Ketika Deena berpisah dengan Cyra untuk mengambil makanan yang dia inginkan. Dirinya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang dan terjadilah saling pandang di antara mereka berdua.
Nah 'kan? Siapa itu?"
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1