
Setelah semalam mendapatkan nasihat singkat dari Mama Jian, Cyra akhirnya sadar, jika apa yang dirasakannya itu tidak seberapa, dibandingkan dengan Mama Jian, Ayah Rafiq, maupun Akmal, yang selalu bersama sejak mereka masih kecil.
Ketika Cyra menyadari akan hal itu, perasaannya sudah semakin lebih baik, Dan pada waktu bangun tidur tadi, wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Di saat mentari sudah mulai menampakkan sinarnya, Cyra mengajak baby Zahwa ke luar dari dalam kamar, untuk berjemur di taman belakang rumah.
Akmal yang kebetulan baru saja mengambil air minum di dapur, tidak sengaja melihat Cyra sedang berjemur bersama baby Zahwa sambil bersholawatan.
" Ehem ," deham Akmal untuk mengejutkan Cyra.
Pandangan Cyra tentu saja teralihkan ke arah Akmal, yang sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
Entah kenapa di mata Cyra, wajah Akmal pagi itu terlihat lebih tampan dan fresh dari biasa, padahal Akmal setiap harinya juga begitu. Tapi kenapa Cyra baru sadar sekarang.
" Kak Akmal ," sapa Cyra.
Akmal lalu duduk di kursi seberang Cyra sambil menjawil pipi baby Zahwa.
" Makin gembul saja ya pipinya, ingin Kakak gigit rasanya ," basa-basi dari Akmal.
" Apalagi bisa gigit Uminya juga, eh,? bicara apa sih aku ini!! ," ucap Akmal di dalam hatinya sambil tertawa sendiri.
" Iya Kak, dia neeneennya lebih banyak dari sebelumnya, mungkin itu yang membuat baby Aiza jadi gembul begini ," jawab Cyra.
" Oh ya Cyra, ada yang ingin Kakak bicarakan kepadamu ," ucap Akmal.
" Tentang apa ya Kak?? ," tanya Cyra.
" Emm, bolehkah baby Aiza memanggil Kakak dengan panggilan Abu, daripada Paman?? ," tanya Akmal.
" Maksudnya ...... ," Akmal ingin menjelaskan, tapi sudah disela oleh Cyra.
" Iya, Cyra mengerti ko Kak ," jawab Cyra.
" Lalu, apakah kamu mengijinkannya Cyra?? ," tanya Akmal lagi.
" Kakak bukannya ingin menggantikan posisi Kak Mirza untuk baby Aiza, hanya saja Kakak rasanya tidak tega melihat baby Aiza .....? ," ucapan Akmal belum selesai, tapi lagi dan lagi disela lagi oleh Cyra.
" Iya, boleh Kak, Cyra tidak apa-apa ko ," jawab Cyra.
" Sungguh Cyra?? ," tanya Akmal dengan ekspresi bahagia.
" Iya Kak, Cyra bersungguh-sungguh ," jawab Cyra sambil tersenyum.
" Cyra tahu, jika baby Aiza membutuhkan sosok seorang Ayah di sisinya, tapi untuk sementara waktu ini, Cyra belum mau menikah lagi ," jelas Cyra.
" Jadi, apa salahnya, jika Kak Akmal mau membantu Cyra untuk memberikan kasih sayang seorang Ayah kepadanya ," ucap Cyra.
__ADS_1
" Terimakasih Cyra, terimakasih ," kata Akmal sambil tersenyum senang. Dan Cyra menanggapinya cuma tersenyum saja.
" Ayo Aiza, ikut Abu yuk, aduh-duh-duh-duh, gemesnya ," ucap Akmal sambil mengambil alih baby Zahwa dari gendongannya Cyra.
Akmal dan Cyra lalu berbincang, bercanda sambil menimang, serta menjemur baby Zahwa di bawah terik sinar matahari pagi. Dan mereka berdua sudah terlihat seperti sepasang suami istri yang bahagia.
Mama Jian yang mengintip mereka dari dalam, tiba-tiba menangis terharu, karena teringat dengan Mirza.
Ayah Rafiq yang baru saja datang, dan ikut melihat pemandangan antara Akmal dan Cyra, membuat Ayah Rafiq juga jadi teringat dengan Mirza sama seperti Mama Jian.
" Jika Mirza masih hidup, pasti akan ada pemandangan seperti itu ya kan Ayah ," kata Mama Jian tanpa mengalihkan pandangannya.
" Iya, tapi semuanya sudah takdir Ma, kita sebagai manusia tidak boleh berandai-andai, karena hukumnya dosa ," jawab Ayah Rafiq.
" Kalau seumpama Cyra kita jodohkan dengan Akmal saja bagaimana Yah?? ," tanya Mama Jian.
" Mama jangan berbicara sembarangan dulu ," tegur Ayah Rafiq.
" Mirza baru saja meninggal, dan lusa dia baru genap tujuh hari, jika ucapan Mama sampai terdengar di telinga Cyra, nanti Cyra bisa marah sama Mama ," nasihat Ayah Rafiq.
" Iya Ayah, Mama tahu akan hal itu ," jawab Mama Jian.
" Hanya saja, rasanya Mama tidak rela, jika Cyra suatu saat sampai menikah dengan laki-laki lain. Mama cuma takut, jika wanita sesholihah seperti Cyra, sampai jatuh ke laki-laki yang tidak baik ," jelas Mama Jian.
" Mama jangan mendahului takdir, tidak baik Mam ," kata Ayah Rafiq.
" Siapapun jodohnya Cyra nanti, Ayah yakin, jika dia pasti laki-laki yang baik ," ucap Ayah Rafiq.
" Kita doakan saja, semoga Cyra bisa cepat bangkit dari keterpurukannya saat ini ," kata Ayah Rafiq.
" Iya Ayah, aamiin ," jawab Mama Jian.
Sedangkan para pekerja yang juga sedang memperhatikan Cyra dan Akmal, mereka sama halnya seperti Mama Jian dan Ayah Rafiq, saling berbisik satu sama lainnya.
" Mbak, lihatlah, Mas Akmal dan Mbak Cyra terlihat sangat serasi sekali ya ," bisik salah satu pembantu yang bernama Bi Darmi dari dalam dapur.
" Iya, aku doakan mereka berjodoh, aamiin ," jawab Bi Narsih.
" Aamiin, benar sekali Mbak ," jawab Bi Ningsih.
" Daripada dengan Mbak Aalifa, yang ternyata berhati busuk ," lanjut lagi ucapan dari Bi Ningsih.
" Hust,!! jangan keras-keras Ningsih, nanti kalau kedengaran Bapak dan Ibu, bahaya ," tegur Bi Narsih.
Bi Ningsih pun langsung mengucapkan kata maaf, sambil menutup mulutnya menggunakan ke dua telapak tangannya.
" Kita doakan yang terbaik untuk Mbak Cyra saja, semoga jodoh pengganti Mas Mirza, adalah Mas Akmal, aamiin ," ucap Bi Narsih, Bibi yang sudah bekerja paling lama dan paling tua di dalam rumah Ayah Rafiq.
__ADS_1
Ucapan Bi Narsih langsung di aamiinkan oleh semua orang yang ada di dalam dapur. Dan setelahnya, mereka melanjutkan lagi memasaknya sambil terus memperhatikan Akmal dan Cyra dari dalam dapur.
Begitulah bisik-bisik yang dibicarakan oleh para Bibi di rumah Ayah Rafiq. Dan ternyata banyak yang mendoakan, supaya Akmal menjadi jodoh Cyra selanjutnya, untuk menggantikan Mirza yang sudah meninggal.
Kembali ke Cyra dan Akmal lagi.
" Kak, ada yang ingin Cyra tanyakan ," kata Cyra.
" Iya, tanyakanlah saja Cyra ," jawab Akmal.
" Kak Mirza sebelum dia meninggal, beliau menitipkan dua butik kepada Cyra ," kata Cyra.
" Cyra tidak tahu bagaimana mengelolanya dan menjalankannya Kak ," kata Cyra lagi.
" Apakah Kakak mau mengajari Cyra dan membantu Cyra untuk meneruskan bisnis peninggalan Kak Mirza?? ," tanya Cyra.
" Karena Cyra tidak mau, butik itu sampai bangkrut di tangan Cyra, sebab Cyra yakin, jika Kak Mirza sudah bersusah payah dalam membesarkan ke dua butiknya itu ," ucap Cyra.
Akmal tersenyum mendengar niat baik dari Cyra, yang ingin meneruskan bisnis dari sang Kakak.
" Baik, nanti akan Kakak ajari ," jawab Akmal.
" Serius Kak?? ," tanya Cyra.
" Iya, Kaka serius ," jawab Akmal sambil tersenyum.
" Kebetulan, Kakak juga tahu, di mana saja Kak Mirza mengambil semua baju-baju itu, dan siapa saja suppliernya ," kata Akmal.
" Oh ya?? ," kata Cyra.
" Iya. Karena Kak Mirza dulu sering mengajak Kakak, untuk beli semua baju-baju itu ke konveksinya langsung atau ke suppliernya ," jawab Akmal.
" Kalau begitu, nanti bisa antarkan Cyra ya Kak, untuk mencari inovasi yang baru, untuk mengisi butik milik Kak Mirza ," ucap Cyra.
" Karena jika tidak ada inovasi baru atau mengikuti perkembangan jaman, pasti butik Kak Mirza akan ketinggalan jaman, namun yang pasti, masih bernuansa islami dan sesuai syariat agama ," jelas Cyra.
" Betul sekali ," kata Akmal sambil tersenyum.
" Tapi nanti saja ya Kak, jika baby Aiza sudah bisa kita tinggal ," ucap Cyra.
" Siap, dan Kakak jamin, pasti Kak Mirza bangga melihatmu dari atas sana, sudah mau melangkah dan berjuang menghadapi kerasnya hidup ," puji Akmal.
Cyra hanya tersenyum saja menanggapi ucapannya Akmal, dan tiba-tiba baby Zahwa menangis seperti minta neeneen kepada Cyra. Alhasil, Cyra pun pamit kepada Akmal, untuk masuk ke dalam kamar, karena dia ingin meenyusuii baby Zahwa, sekaligus nanti mau memandikannya juga.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1