IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
EHEM! ROMANTISNYA


__ADS_3

Membicarakan soal Aish. Tadi setelah dia ke luar dari dalam ruang kantor Akmal. Aish berjalan ke dalam ruang kantornya sendiri dengan ekspresi yang menyimpan amarah seperti siap meledak kapan saja.


Sesampainya di dalam ruang kerjanya. Aish langsung bergumam di dalam hati. "Hatiku rasanya sakit sekali diperlakukan tidak adil sama Pak Akmal."


"Dia harus menerima akibatnya. Terutama si janda gatel itu."


Aish tahu. Jika dua jam lagi dia ada jadwal mengajar. Namun karena otaknya sedang tidak sinkron. Akhirnya dia memutuskan memberikan tugas kepada asisten dosennya saja untuk menggantikannya sementara waktu.


Setelah memberi tugas kepada asisten dosennya. Aish memilih pergi meninggalkan kampus.


Sesampainya di dalam mobil miliknya. Tiba-tiba Aish melihat Akmal sedang bercanda bersama Cyra lalu masuk ke dalam mobil.


Sebenarnya, Aish tidak mempunyai niat jahat ingin mencelakai Cyra. Hanya saja amarah dan sakit hati yang sudah menguasai diri. Membuat Aish lupa, akan dirinya itu siapa.


Mobil Akmal yang sudah meninggalkan area kampus sengaja Aish ikuti dari belakang. Hingga akhirnya mobil Akmal sampai juga di butik milik Mirza.


"Aku ingin tahu. Apa saja yang kalian lakukan di dalam butik itu."


"Pasti si janda gatel itu yang sudah merayu Pak Akmal untuk mau membelikannya baju-baju branded di dalam butik yang mewah itu."


Aish benar-benar sudah dibutakan oleh cinta yang terlalu dalam kepada Akmal.


Ketika Aish melihat Akmal ke luar dari dalam butik untuk membeli rujak. Dia menjadi penasaran sekali. "Kenapa Pak Akmal malah membeli rujak?"


Tiba-tiba pandangannya teralihkan ke arah Cyra yang berdiri di pinggir jalan yang terlihat akan menyeberang mendekati Akmal.


"Lihatlah si janda gatel itu. Dia sepertinya ingin tebar pesona kepada Pak Akmal yang sedang membeli rujak. Paling juga itu akal-akalan dia saja, supaya Pak Akmal perhatian kepadanya."


"Huh! Rasakan apa yang akan aku lakukan kepadamu!"


Aish langsung tancap gas dengan kecepatan sangat kencang lalu dia arahkan stir mobilnya tepat di mana Cyra sedang berdiri.


Di saat Aish melihat tiba-tiba Akmal menyelamatkan Cyra dan terjatuh ke aspal. Aish langsung memukul stir mobilnya merasa kesal sekali.


"Siial."


Aish langsung lanjut saja meninggalkan tempat kejadian tanpa mau menolong atau ketahuan oleh semua orang. Jika dirinyalah yang sebenarnya sudah ingin mencelakai Cyra.


Malam harinya. Ketika Aish baru saja selesai makan malam dengan keluarganya. Semua penghuni rumah dikejutkan dengan kedatangan tiga orang polisi ke rumah sang Ayah.


Ke tiga polisi itu langsung dipersilahkan duduk oleh pembantu rumah yang ada di situ. Tidak lama ayah Aish yang bernama Pak July ke luar bersama Mama Ainul.


"Selamat malam Pak."


"Malam. Apa ada yang bisa kami bantu Pak polisi?" Pak July mencoba bertanya.


"Apakah benar di sini tempat tinggal bu Aish maharani?"


"Benar Pak. Kami orang tuanya." jawab pak July.

__ADS_1


"Bisakah tolong panggilkan bu Aish ke sini Pak?"


Pak July langsung mengangguk dan menyuruh sang istri untuk memanggilkan Aish yang sedang berada di dalam kamar.


Tidak lama. Aish pun sampai di ruang tamu bersama sang Mama yang berjalan bersamanya.


"Apakah benar anda yang bernama Aish maharani?"


Aish langsung mengangguk membenarkan ucapan dari pak polisi.


"Malam ini anda kami tangkap. Karena anda sudah terbukti melakukan percobaan menabrak saudari Cyra tadi di depan butik miliknya."


Aish sangat terkejut sekali. Dia pikir jika Cyra datang ke butik karena untuk memeras uang milik Akmal. Tidak tahunya?


"Tapi Pak? Bisakah anda menjelaskan sebentar kepada kami. Sebelum anda membawa putri kami bersama anda?"


Pak July benar-benar sangat syok sekali. Begitupun dengan Mama Ainul.


"Ini Pak. Cobalah lihatlah sebentar hasil rekaman cctvnya."


Pak July langsung melihat rekaman cctv yang ada di dalam ponsel milik salah satu polisi.


"Ini surat penangkapan untuk bu Aish, Pak."


"Kalian bawa bu Aish ke dalam mobil."


Perintah sang ke tua kepada ke dua anak buah yang datang bersamanya. Anak buah itu langsung menjalankan perintah sang ke tua untuk membawa Aish masuk ke dalam mobil polisi.


"Semua itu murni kecelakaan Pa, Ma. Tolong bantu Aish."


Aish merengek menangis memberontak di cekalan ke dua polisi yang memegangnya. Sedangkan sang mama menangis di pelukan sang suami yang saat ini hanya bisa diam saja karena masih terkejut dengan situasi yang ada.


Malam itu. Untuk pertama kalinya. Aish tidur di hotel prodeo untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah berani ingin mencelakai Cyra.


Beralih ke Akmal dan Cyra lagi.


Akmal merasa sangat bingung sekali ketika Cyra menawarkan diri untuk membantunya. Dan saat ini baby Zahwa sudah berada di gendongannya Mama Jian.


"Kenapa Kakak diam saja? Memangnya Kakak mau meminta bantuan apa?"


Cyra menatap Akmal penuh tanya. Tapi Akmal malah terlihat gugup setengah mati.


"Emm. Kakak mau meminta tolong diambilkan baju di dalam kamar."


"Oh. Baiklah. Sebentar, akan Cyra ambilkan."


Cyra bergegas menuju ke dalam kamar Akmal untuk mengambilkan baju yang Akmal minta. Walau Akmal belum menyebutkan baju seperti apa yang dia inginkan.


Cyra cukup kebingungan ketika sudah membuka lemari baju milik Akmal. Karena dia tidak tahu baju apa yang Akmal minta.

__ADS_1


"Bodohnya aku yang tadi tidak tanya dulu."


Cyra berdiri terpaku di depan lemari. Sambil memikirkan sesuatu.


"Untuk seorang laki-laki. Kak Akmal sangat rapi sekali dalam menata semua pakaiannya."


Cyra berbicara sendiri. Lalu mengambil kaos secara acak untuk dia berikan kepada Akmal.


"Ini Kak. Cyra ambilkan kaos saja, biar nyaman untuk bergerak."


Akmal menerima kaos tersebut dengan tangan kirinya.


"Apakah masih ada yang ingin Cyra bantu?"


Wajah Akmal terlihat sangat kaku sekali. Seperti kanebo kering.


"Bagaimana Kakak bisa memakai kaos ini. Sedangkan kemeja ini saja masih melekat di tubuh Kakak."


Cyra yang tersadar. Langsung menunduk malu sambil menutupi ke dua mukanya menggunakan ke dua telapak tangannya.


Mama Jian sengaja menghindar. Karena memang dirinya ingin menyatukan Akmal dengan Cyra.


"Mama haus. Mama mau ambil minum dulu ya. Kamu tolong bantu Akmal ya Nak."


Cyra tidak bisa mencegah sang mama mertua. Karena Mama Jian langsung berlalu pergi dari hadapannya.


Gluukk! Akmal menelan air liurnya sebelum berbicara dengan Cyra.


"Lebih baik menunggu mama saja Cyra. Kamu tidak perlu membantu Kakak. Terimakasih."


Tanpa diduga oleh Akmal. Cyra langsung duduk di sofa sebelahnya untuk menawarkan diri.


"Tidak apa-apa. Sini Cyra bantu Kak."


Jantung Akmal bertalu-talu sangat kencang sekali mendengar Cyra mau membantunya melepaskan kemeja yang sedang dipakainya.


Sebenarnya. Tidak cuma Akmal saja yang berdebar-debar jantungnya. Cyra pun sama seperti Akmal.


Akmal lalu berbalik menghadap ke arah Cyra. Supaya Cyra bisa membuka kancing dan melepaskan kemeja yang dipakainya.


Dengan perlahan dan sangat berhati-hati sekali. Cyra melepaskan kemeja yang dipakai oleh Akmal. Sambil Akmal terkadang mendesis menahan rasa sakit di tulang lengannya yang masih sangat sakit.


"Ah! Sakit!"


Cyra terkejut mendengar Akmal mengaduh kesakitan. Hingga wajahnya tanpa sadar berada cuma satu jengkal tepat di depan wajah Akmal.


Saling pandang pun terjadi di antara mereka berdua yang membuat mama Jian beserta para bibi yang mengintip mereka berdua di balik tembok tersenyum sambil tersipu malu.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2