IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
PENJELASAN


__ADS_3

Sebelum Akmal benar-benar menaiki tangga. Abi Rasyid bertanya lagi kepadanya. Hingga membuat Akmal berbalik badan menghadap abi Rasyid.


"Apakah ini penyebabnya kamu belum mau menikah hingga sekarang Akmal? Padahal usia kamu sudah tidak muda lagi?"


Mencoba tenang, Akmal lalu menjawabnya. "Iya Abi. Karena Akmal belum menemukan wanita yang cocok di hati Akmal seperti Cyra."


"Tapi sekarang Akmal sudah menemukannya. Jadi Akmal akan memperjuangkannya, sebelum dia bersama laki-laki lain seperti dulu. Permisi."


Akmal langsung berbalik badan tanpa mau berbicara lebih banyak lagi kepada mereka semua.


Setelah kepergian Akmal. Ada rasa canggung yang menyelimuti para orang tua.


Sedangkan kembali kepada Cyra.


Setelah masuk ke dalam kamarnya tadi. Dia langsung memasukkan beberapa baju miliknya dan milik baby Zahwa ke dalam koper untuk dia bawa ke rumah sang abi.


Baru saja membuka pintu kamar. Mata Cyra dan Akmal saling bertabrakan. Karena Akmal baru saja sampai di lantai atas ketika Cyra akan turun ke lantai bawah.


Cyra dan Akmal tidak saling menyapa. Mereka memilih diam dan berlalu menuju ke tujuan masing-masing.


Dada yang kemarin sedang berbunga-bunga sekarang seakan gelap seperti semula. Karena kehilangan cahaya yang meneranginya.


"Kak Akmal." Tiba-tiba Cyra memanggil dan membuat Akmal langsung menghentikan langkah kakinya.


Akmal lalu berbalik badan untuk menghadap ke arah Cyra.


"Terimakasih atas semuanya. Jika kita di tadirkan berjodoh, sejauh apapun kita berjauhan pasti akan bersatu juga." Cyra menjedanya sejenak. "Maafkan Cyra untuk sekarang. Karena Cyra belum bisa menerima cinta Kakak. Sebab masih terlalu dini bagi Cyra untuk memulai hubungan lagi."


Akmal cuma tersenyum. Dan senyumannya menyiratkan penuh arti tiada orang yang tahu.


Setelah itu. Cyra pun langsung melanjutkan lagi langkah kakinya menuju ke lantai bawah. Sedangkan Akmal langsung masuk ke dalam kamarnya.


Suasana canggung di antara para orang tua seakan memudar. Ketika mereka melihat Cyra sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa koper yang sangat besar.


"Bolehkah Mama menggendong Zahwa sebentar, Nak. Pasti Mama akan sangat merindukannya dan merindukanmu, Cyra." Mata mama Jian berkaca-kaca berbicara kepada Cyra.

__ADS_1


Cyra langsung memberikan baby Zahwa kepada mama Jian. Dan mama Jian lalu menggendongnya dengan penuh kasih sayang.


"Apakah mulai malam ini kamu akan pindah ke rumah abi kamu, Cyra?" Cyra mengangguk lemah kepada ayah Rafiq.


"Apapun keputusanmu. Tapi tolong jangan larang Ayah untuk melihatmu dan Zahwa."


Sambil duduk Cyra menjawabnya. "Tidak mungkin Cyra melarang Ayah. Sedangkan Ayah juga Kakeknya Aiza."


Cyra melanjutkan lagi ucapannya. "Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kita semua. Terutama bagi Cyra. Supaya tidak ada lagi fitnah yang terjadi antara Cyra dan kak Akmal." Semua orang bisa melihat kesedihan di mata Cyra.


"Walau akhir-akhir ini Cyra dan kak Akmal sering jalan berdua. Tapi ketahuilah. Kak Akmal sangat menghargai Cyra dan bisa menjaga imannya."


"Tidak bisa Cyra bohongi. Jika Cyra merasa nyaman bersama kak Akmal, seperti Cyra bersama kak Mirza dulu. Karena sifat dan sikap kak Akmal hampir mirip dengan kak Mirza." Cyra berbicara sambil menunduk menyembunyikan air matanya yang siap tumpah.


Umma Nada yang melihat Cyra bersedih, lalu berpindah tempat duduk di samping Cyra.


"Tidak salah jika kamu ingin bersama nak Akmal, Cyra." Umma Nada berbicara sambil mengusap punggung Cyra dengan lembut.


"Nak Akmal laki-laki yang baik dan sama-sama sholeh seperti nak Mirza." Umma Nada melanjutkan lagi ucapannya dengan lembut. Sedangkan yang lainnya hanya diam saja mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh umma Nada kepada Cyra.


"Cyra belum mau menikah lagi Umma. Dan kak Akmal tahu itu." Cyra berbicara sambil menatap ke arah sang umma dengan berderai air mata.


"Tolong jangan membicarakan ini lagi. Kedekatan kak Akmal dengan Cyra murni karena Cyra ingin membantu kak Akmal. Dan kak Akmal juga cuma ingin membantu Cyra meneruskan butik kak Mirza. Sudah itu saja tidak lebih!" Cyra terlihat lelah menjelaskan.


"Karena cuma kak Akmal yang tahu bagaimana menjalankan butik milik kak Mirza." Cyra langsung menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya menggunakan ke dua telapak tangannya.


"Kenapa seorang janda menjadi serba salah jika jalan bersama laki-laki. Apa di mata kalian menjadi janda itu adalah sebuah pilihan? Jawab Abi!" Cyra bertanya dengan penuh rasa sesak di dalam dada.


Abi Rasyid berjalan mendekati Cyra, lalu berjongkok di depannya. "Maafkan Abi. Abi yang tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Maafkan Abi yang tidak melihat ada beban besar di pundakmu yang harus kamu emban seperti keinginan suamimu."


Cyra masih berderai air mata sambil menatap sang abi yang sedang bersimpuh di depannya.


"Seharusnya Abi tahu. Seharusnya Abi lebih mempercayaimu daripada omongan di luar sana yang pastinya akan menyakiti hatimu." Ucap abi Rasyid dengan lembut.


"Bodohnya Abi yang sempat meragukanmu. Maafkan Abi ya Nak?" Cyra langsung memeluk sang abi dengan sangat erat sekali.

__ADS_1


Pemandangan mengharukan itu membuat mata ayah Rafiq berkaca-kaca. Sedangkan mama Jian dan umma Nada sudah ikut menangis sejak tadi.


"Maafkan Cyra juga ya Abi." Abi Rasyid menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak salah ko Nak."


"Abi percaya kepadamu. Jikalaupun kamu berjodoh dengan nak Akmal. Itu bukan kehendakmu. Tapi sudah takdir dan kehendak Allah Subhanahu wata'ala." Abi Rasyid tersenyum khas seorang ayah.


Sedang bermelow-melow ria, tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib berkumandang.


Ayah Rafiq langsung mengajak abi Rasyid untuk sholat berjamaah terlebih dahulu di masjid terdekat. "Lebih baik kalian pulangnya nanti saja. Ayo Rasyid kita berjamaah dulu di masjid."


Abi Rasyid langsung mengangguk. "Baiklah, ayo."


Sebelum pergi ayah Rafiq berpesan kepada mama Jian. "Ma tolong siapkan makan malam yang enak. Besan kita malam ini akan makan malam di sini sebelum pulang."


Abi Rasyid yang mendengar langsung menjawabnya. "Tapi Mas Rafiq?"


"Tidak ada tapi-tapian. Kita semua 'kan keluarga. Apa salahnya jika malam ini kita makan malam bersama?" Abi Rasyid tidak bisa menjawabnya.


"Emm. Apakah kita tidak mengajak Akmal juga untuk sholat berjamaah di masjid?" tanya abi Rasyid.


"Tidak perlu. Biar dia sholat di rumah saja." Abi Rasyid langsung mengangguk.


Pada akhirnya, mereka berdua keluar rumah untuk menuju ke masjid menunaikan sholat maghrib berjamaah.


Apa yang tadi mereka semua bicarakan. Akmal mendengarnya dengan sangat jelas sekali. Sebab tanpa mereka ketahui, Akmal menguping dari lantai atas dan bersembunyi dibalik lemari.


Akmal memegangi dadanya ketika mendengar Cyra berbicara seperti itu dan menangis cukup pilu. Seperti ada ribuan pedang yang menusuk dadanya saat ini.


Setelahnya, Akmal pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk menunaikan ibadah sholat maghrib di dalam kamar.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2