
Beberapa hari kemudian. Deena akhirnya diijinkan pulang juga oleh pihak rumah sakit. Kepulangannya disambut suka cita oleh semua anggota keluarga. Baik keluarga Fadli maupun keluarga Deena.
Cucu pertama dan cucu kebanggaan oleh ke dua nenek serta ke dua kakeknya. Senyum kebahagiaan terpancar terus di wajah mereka semua. Dan tepat di umur satu minggu. Fadli dan Deena mengadakan syukuran aqiqah baby Aksa di rumahnya.
Di rumah Fadli sendiri sudah sibuk sejak kemarin. Bahkan mama Rina dan mama Ika menginap di rumah Fadli - Deena sejak pulang dari rumah sakit.
Tidak cuma Fadli saja yang merasa bahagia. Melainkan Akmal pun sama.
Setiap hari melihat perut Cyra yang sudah terlihat membuncit. Ada rasa tersendiri yang dia rasakan di dadanya. Dulu dia hanya bisa memandang dari jauh ketika Cyra sedang hamil. Sekarang dirinya bahkan bisa mengusap lembut perut Cyra dengan mesra.
"Kenapa Abu suka sekali mengusap si dedek? Abu sudah tidak sabar ya ingin melihatnya lahir ke dunia?"
Saat ini Akmal sedang rebahan dengan kepala yang dia alaskan paaha Cyra.
"Tidak cuma ingin segera melihat dia lahir Umi. Tapi Abu juga sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana wajahnya nanti?"
Cyra tersenyum melihat Akmal suka mengusap dan mencium perutnya. Sedangkan dirinya sendiri memilih mengusap lembut kepala Akmal.
"Abu! Umi mau tanya?"
Akmal langsung mendongak menatap wajah Cyra. "Tanya saja Sayang."
Sambil mengusap rambut Akmal. Cyra melanjutkan pertanyaannya. "Abu sendiri sukanya anak laki-laki apa perempuan?"
Sebelum menjawab. Akmal tersenyum dulu. "Mau anak laki-laki atau perempuan. Abu akan tetap menyayanginya ko Umi. 'Kan mereka sudah dititipkan oleh Allah kepada kita. Iya harus kita syukuri dan rawat dengan baik."
Cyra tersenyum. "Apapun jenis kelaminnya. Semoga dia sehat seperti yang kita harapkan."
"Aamiin." Akmal segera mengaamiinkan ucapan Cyra.
"Oh ya! Jadwal kontrolnya lagi ke Dokter kapan Umi?"
Cyra langsung menjawabnya. "Lusa depan Abu.Kenapa memangnya? Apa Abu mau cek USG biar tahu apa jenis kelaminnya?"
"Emm! Maunya sih. Tapi jangan deh. Biar kejutan saja."
__ADS_1
Karena selama ini Cyra kalau kontrol cuma kontrol biasa. Tidak USG. Terakhir USG waktu pertama mengetahui dirinya hamil dulu.
Cyra mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawabannya Akmal.
"Nanti malam 'kan acara aqiqahnya baby Aksa. Kita jadi datang ke sana 'kan Abu?"
"Jadi dong Umi! Kalau tidak datang ya kita malu sama Fadli dan Deena."
"Jangan lupa kado yang sudah kita beli Umi. Kasihkan ke Deena nanti."
Cyra mengangkat tangannya hormat. "Siap Abuku sayang."
Malam harinya. Seperti undangan yang sudah diberitahukan oleh Fadli. Akmal dan Cyra beserta baby Zahwa. Setelah selesai sholat maghrib, langsung bergegas pergi ke rumah Fadli dan Deena.
Sesampainya di sana. Akmal sedikit terkejut, karena melihat beberapa teman dosennya yang turut hadir juga di acara aqiqahnya baby Aksa.
Sedikit banyak yang sudah tahu, jika Cyra ini dulunya adalah istri dari kakak kandungnya Akmal. Tapi yang namanya orang berpendidikan dan bisa berpikir dengan bijak. Jadi mereka biasa saja melihat Cyra mesra dengan Akmal.
Sahabat Deena dan Fadli hadir semuanya untuk merayakan syukuran baby Aksa. Bahkan Kalila dan Abraham turut hadir. Dan acara aqiqah baby Aksa berjalan sangat lancar sekali sesuai dengan rencana.
Akmal dan Cyra kembali pulang ke rumah, ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Perut yang sudah buncit membuat Cyra cepat mudah sekali capek. Hingga dia sampai tidak sanggup meenyusui baby Zahwa lagi.
Malam ini baby Zahwa sangat rewel sekali. Sebab untuk pertama kalinya baby Zahwa tidur tidak neenen dengan sang Umi.
Akmal sampai kewalahan menenangkan baby Zahwa yang menangis terus menerus.
"Sayang! Tenang ya. Ini minum dulu susunya."
Walau sudah ditenangkan oleh sang Abu. Tangan baby Zahwa terus mengayuh ke arah Cyra yang sedang menatapnya sedih di atas ranjang.
"Apa lebih baik Aiza, Umi susuui dulu Umi?"
Cyra menggelengkan kepalanya. "Umi tidak kuat Abu. Perut Umi rasanya sedang tidak baik-baik saja. Nanti kalau kram lagi seperti kemarin bisa bahaya."
Wajah Cyra terlihat sangat sedih sekali. Dan Akmal juga tidak bisa memaksa Cyra untuk meenyusui baby Zahwa. Karena jika dirinya melihat Cyra merasa kesakitan seperti kemarin. Dia pun menjadi tambah khawatir saja.
__ADS_1
Akmal berusaha keras untuk menidurkan baby Zahwa. Hingga waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dan setelah baby Zahwa sudah lelap dalam tidurnya. Baru Akmal dan Cyra bisa tidur dengan lelap juga.
Keadaan baby Zahwa yang rewel seperti itu tidak cuma sekali atau dua kali. Setidaknya hampir dua minggu lamanya dia terus rewel jika akan tidur. Hingga lama kelamaan baby Zahwa sudah terbiasa dan akhirnya bisa tidur sendiri sambil minum susu dari botol susunya.
Akmal dan Cyra sudah bisa bernafas lega melihat perkembangan sang putri yang sekarang sudah bisa tidur sendiri.
Hari-hari telah berlalu. Tanpa sadar kehamilan Cyra sudah memasuki usia sembilan bulan.
Selama hamil Cyra cuma melakukan USG sebanyak tiga kali saja. Dan selama itu pula Akmal dan Cyra sepakat untuk tidak mau mengetahui apa jenis kelamin dari calon anak ke dua mereka.
Saat ini di rumah Akmal sedang kedatangan abi Rasyid dan umma Nada.
"Kehamilan kamu sudah memasuki usia sembilan bulan 'kan Cyra?"
Cyra mengangguk membenarkan ucapan sang abi. "Iya Abi. Tinggal menghitung hari saja. Kalau tidak salah kurang dua minggu lagi."
"Semoga lancar ya Nak acara persalinannya. Umma sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu Umma itu."
Cyra dan Akmal tersenyum mendengar ucapan umma Nada. Malam harinya, karena perut yang sudah besar membuat Cyra sulit untuk tidur dan selalu merasa begah. Hal itu sering membuat Akmal juga jadi ikut-ikutan tidak bisa tidur sama sekali untuk menemani atau memijat tubuh Cyra.
"Tidak bisa tidur lagi ya Sayang?"
Cyra menganggukkan kepalanya ketika ditanya oleh Akmal. Akmal lalu mencoba memijat tubuh Cyra seperti biasanya. Supaya menjadi rileks dan bisa tidur dengan nyenyak.
Ketika Akmal sedang memijat tubuh Cyra. Dia mendengar Cyra seperti sedang menangis.
"Umi kenapa menangis?" wajah Akmal terlihat benar-benar khawatir. "Apa Abu terlalu kekencangan memijatnya?"
Cyra menggelengkan kepalanya. "Umi cuma teringat dengan yang lalu."
Mood ibu hamil mudah sekali sensitif. "Umi teringat waktu Umi hamil Aiza. Bagaimana perjuangan Umi waktu itu. Sedang hamil besar harus setia menunggu kak Mirza di rumah sakit. Bahkan melahirkan pun di hari yang sama dengan kak Mirza meninggal."
Cyra sesenggukan sendiri sambil berbicara. Akmal tidak marah. Dirinya mengerti bagaimana perasaan sang istri saat ini.
"Maafkan Umi, Abu. Bukan maksud Umi untuk membandingkan Abu dengan kak Mirza. Atau mengingat masa lalu Umi. Hanya saja! Beberapa hari ini masa lalu itu selalu hinggap di pikiran Umi."
__ADS_1
Sebelum menanggapi Cyra. Akmal tersenyum. Dia memegang pipi Cyra dengan lembut, sambil mengusap air matanya.
...~.~...