IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KEKHAWATIRAN AYAH RAFIQ


__ADS_3

Di dalam kamar Ayah Rafiq.


Setelah selesai makan malam tadi, Ayah Rafiq langsung saja menuju ke dalam kamarnya, dan disusul oleh Mama Jian.


Di dalam kamar, mereka berdua berbicara cukup serius sekali, tentang permintaan Mirza yang ingin pindah di rumah sendiri.


Apakah Mirza mempunyai rumah pribadi sendiri, jawabannya sudah.


Mirza membeli rumah sendiri setelah dia meminang Cyra empat tahun yang lalu, dan Ayah Rafiq, Mama Jian serta Akmal juga mengetahui akan hal itu.


Namun Cyra belum mengetahui hal itu, jika Mirza sang suami, sudah mempunyai rumah sendiri.


" Ayah, apakah Ayah akan menyetujui keinginannya Mirza?? ," tanya Mama Jian.


" Entahlah Ma, Ayah bingung ," jawab Ayah Rafiq.


" Ayah cuma khawatir dengan keadaan Mirza, karena kita tidak bisa melihatnya setiap hari, jika dia akan pindah ke rumahnya sendiri ," kata Ayah Rafiq lagi.


" Itu juga yang sedang Mama pikirkan Ayah ," kata Mama Jian.


" Apakah Ayah tidak mau mencoba berbicara dengan Mirza?? ," tanya Mama Jian lagi.


" Besok saja Ma, ini sudah malam ," jawab Ayah Rafiq.


" Dan sepertinya Cyra juga belum tahu tentang semua ini ," kata Ayah Rafiq lagi.


" Iya, sepertinya juga begitu ," jawab Mama Jian.


" Baiklah, ayo kita tidur dulu Ayah ," kata Mama Jian lagi.


Keesokan paginya, ketika Ayah Rafiq, Akmal dan juga Mirza, yang baru saja pulang dari masjid karena baru selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Ayah Rafiq pun menyuruh Mirza untuk ikut dengannya sejenak menuju ke ruang kerjanya.


" Apa yang ingin Ayah bicarakan dengan Mirza?? ," tanya Mirza setelah masuk ke dalam ruang kerja sang Ayah.


" Apakah ini soal Mirza yang ingin pindah rumah?? ," tanya Mirza lagi.


" Iya, apakah kamu tidak bisa membujuk Cyra untuk tetap tinggal di sini saja Nak?? ," jawab Ayah Rafiq.


" Ayah sama Mama akan berusaha bersikap baik dan adil sebisa mungkin, supaya Cyra betah tinggal bersama kita Nak ," kata Ayah Rafiq.

__ADS_1


" Dan Ayah sama Mama rasanya sangat khawatir sekali, jika berpisah denganmu ," kata Ayah Rafiq lagi.


" Ayah sama Mama kenapa khawatir berlebihan begitu Yah?? ," kata Mirza.


" Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran ( cemas ), atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya,” (Hadits Riwayat Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573). "


" Ayah kan sudah tahu hadist tadi, jadi untuk apa Ayah merasa cemas berlebihan ," kata Mirza lagi.


" Karena yang namanya berlebihan itu temannya setan Ayah ," kata Mirza.


" Iya, Ayah tahu, maksud Ayah begini Nak, jika kamu tinggal di sini, dan jika ada apa-apa kan cepat ada yang membantu, karena di sini banyak orang ," jawab Ayah Rafiq.


" Jika kamu di rumah kamu sendiri, di sana cuma ada pembantu dan penjaga rumah saja, terlebih lagi Cyra saat ini sedang hamil ," kata Ayah Rafiq lagi.


" Tinggallah di sini sampai Cyra melahirkan ya Nak, karena jika kamu atau Cyra kenapa-kenapa ada kami yang siap menolong kalian ," kata Ayah Rafiq.


" Mengertilah perasaan Ayah dan Mama, Nak, kami begini karena sayang denganmu dan Cyra ," kata Ayah Rafiq memohon.


" Baiklah Ayah, Mirza setuju, nanti akan Mirza bicarakan dengan Cyra ," jawab Mirza.


" Jangan bersedih ya Ayah, Mirza tidak tahan melihat Ayah sama Mama bersedih karena Mirza ," kata Mirza sambil tersenyum menenangkan sang Ayah.


" Terimakasih Nak ," jawab Ayah Rafiq sambil memeluk Mirza.


" Iya ," jawab Ayah Rafiq.


Mirza pun berlalu ke luar dari dalam ruang kerja sang Ayah menuju ke dalam kamarnya sendiri.


Di dalam kamar, dia tidak melihat sang istri, sebab Cyra sedang jalan-jalan santai di sekitar rumah, sambil menikmati udara pagi yang menenangkan.


Mirza mencoba membuka balkon kamarnya, dan dia langsung melihat Cyra sedang berdiri di samping tanaman bunga milik sang Mama.


Mirza mengamati Cyra sambil tersenyum manis sendiri, dan dia berdoa di dalam hati, semoga dirinya diberikan umur yang panjang hingga bisa melihat anaknya lahir ke dunia.


Sedang asik-asiknya mengamati sang istri dari atas balkon kamar, tiba-tibaaaa ........ tes.


Mirza merasakan ada yang mengalir di hidungnya, dan setelah dipegang oleh Mirza, ternyata itu darah segar.


Mirza langsung saja cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan mimisan yang baru saja di alaminya itu.


Mirza tidak mau, jika Cyra sampai melihat dirinya mimisan seperti tadi, karena Mirza tidak tega melihat Cyra merasa bersedih dan kasihan karenanya.

__ADS_1


Baru saja ke luar dari dalam kamar mandi, Cyra tiba-tiba membuka pintu kamar, dan pas sekali, Mirza sudah membersihkan darah dari hidungnya tadi, yang untungnya sudah tidak mengalir lagi.


" Umi, umi dari mana saja?? ," tanya Mirza berbasa-basi.


" Dari depan, cari udara segar untuk si dedek ," jawab Cyra.


" Abi sedang apa,? kenapa rambutnya basah semua,? apakah Abi mandi lagi?? ," tanya Cyra.


" Tidak, tadi Abi baru saja cuci muka, karena mata Abi rasanya masih mengantuk sekali ," jawab berbohong dari Mirza.


" Oh, kalau begitu, Umi mau menyiapkan pakaian untuk Abi dulu ," kata Cyra.


" Duduk dulu Umi, sini ayo ," kata Mirza mengajak Cyra untuk duduk di samping ranjang.


" Ada apa Abi? ," tanya Cyra.


" Tadi Abi sudah berbicara dengan Ayah, Ayah sama Mama mengijinkan kita pindah ke rumah kita sendiri, jika si dedek sudah lahir Umi ," jawab Mirza sambil mengusap perut Cyra.


" Mereka cuma khawatir dengan Umi, karena yang namanya wanita hamil pasti perutnya akan semakin membesar dan tidak baik jika berada di rumah sendirian ," kata Mirza lagi menjelaskan.


" Abi juga setiap hari berangkat mengajar, di rumah ini ada Mama dan Ayah yang sering di rumah, jadi akan membuat Abi tenang jika meninggalkan Umi dengan keadaan hamil besar ," kata Mirza dengan lembut sekali.


Sebelum menjawab perkataan dari sang suami, Cyra tersenyum sangat manis, sambil menggenggam lembut tangan Mirza.


" Iya Abi, Umi mengerti bagaimana kegelisahan dari Mama dan Ayah ," jawab Cyra dengan lembut.


" Tidak apa-apa ko jika kita harus tinggal di sini sementara waktu, sampai keadaan memungkingkan ," kata Cyra.


" Apapun yang dirasakan oleh orang tua kita, itu adalah hal yang terbaik untuk kita Abi, karena kita belum merasakan sendiri menjadi orang tua, jadi kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya ," kata Cyra.


" Jadi Umi tidak marah kan, jika kita masih tinggal di sini, bersama Mama, Ayah dan juga Akmal?? ," tanya Mirza untuk lebih memastikannya.


" Tidak ko Abi, selama ada Abi di mana pun kita tinggal, Cyra pasti mau ," jawab Cyra.


" Pintarnya istri Abi ," kata Mirza sambil membawa Cyra ke dalam pelukannya.


Mirza merasa beruntung dan juga bersyukur sekali bisa di pertemukan dengan wanita seperti Cyra yang sangat mengerti agama.


Mirza juga meminta maaf di dalam hati, karena belum bisa bercerita semuanya kepada Cyra.


...🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2