IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KESEDIHAN AKMAL


__ADS_3

" Abi, bagaimana keadaan Cyra?? ," terlihat sekali jika Akmal benar-benar sangat peduli dengan Cyra.


" Dia terlalu banyak pikiran ," jawab Abi Rasyid.


" Setelah sadar dari pingsannya, Cyra terus menangis ," ucap Abi Rasyid lagi.


Baik Abi Rasyid, dan yang lainnya, terutama Akmal, pada terlihat bersedih sekali raut mukanya.


" Sebenarnya, bagaimana keadaan Mirza, Rasyid?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Sel kanker yang ada di kepala Nak Mirza sudah menyebar ke mana-mana, Mas ," jawab Abi Rasyid.


" Tadi 0p3r451 yang di jalaninya, juga tidak berjalan dengan lancar, karena ternyata ada sel kanker yang sudah menyerang sel penting di dalam otaknya ," jelas Abi Rasyid lagi.


" Sebagai seorang Dokter, kami pasti sudah berusaha membantu pasien yang sedang kami tangani semaksimal mungkin ," ucap Abi Rasyid.


" Tapi kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, ketika penyakit yang diderita oleh pasien sudah termasuk parah ," ucap Abi Rasyid lagi.


" Kemoterapi dan Radioterapi yang nantinya akan di jalani oleh Nak Mirza, itu juga tidak akan membuat sel kankernya mati. Cuma akan menghambat pertumbuhannya saja ," jelas Abi Rasyid lagi.


" Yang bisa kita lakukan sekarang, cuma pasrah kepada Allah, dan menyerahkan semuanya yang terbaik kepada-NYA ," kata Abi Rasyid.


Mama Jian sudah menangis daritadi mendengar penjelasan dari Abi Rasyid, begitu pula dengan Umma Nada yang ikut meneteskan air matanya, melihat cobaan yang di alami putri dan menantunya.


Akmal benar-benar sangat bersedih sekali. Kakak yang selama ini menemaninya sejak kecil, yang sudah banyak mengajarkan kepadanya berbagai hal yang belum dia ketahui, sekarang harus berjuang melawan penyakit yang sangat parah sekali di otaknya.


Akmal tiba-tiba berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati sang Kakak yang belum sadarkan diri.


Sesampainya di samping ranjang pasien, Akmal menatap sang Kakak sangat lekat sekali.


Bayang-bayang kenangannya dengan sang Kakak terlintas di ingatannya. Ketika dulu mereka bermain layang-layang, sepak bola, memanjat pohon mangga yang ada di samping rumah, lalu terjatuh karena digigit semut dan serangga.


Semua itu membuat dada Akmal semakin sesak saja dan tidak terasa meneteslah air matanya.


" Kakak sering pernah berkata kepada Akmal, untuk selalu membahagiakan Mama dan Ayah, supaya mereka bangga mempunyai anak seperti kita ," kata Akmal di dalam hatinya.


" Tapi kenapa sekarang Kakak malah membuat Mama menangis dan Ayah bersedih?? ," kata batin Akmal lagi.


" Apa yang harus Akmal lakukan Kak,? jika Kakak pergi dari sisi Akmal?? ," tanya Akmal di dalam hatinya.


" Apakah Akmal bisa membahagiakan Mama dan Ayah, jika tanpa Kakak di samping Akmal ," kata Akmal lagi masih di dalam hatinya, dengan air mata semakin deras pula mengalirnya.


Dengan ke dua tangan yang dia masukkan ke dalam kantong celananya, Akmal masih terus menatap sang Kakak yang belum sadar dari pasca 0p3r451 tadi.


" Sepertinya, Akmal tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan Akmal dengan Aalifa, Kak ," kata batin Akmal.


" Semoga nanti Kakak mengerti, dan semoga Allah memberikan umur yang panjang, hingga bisa melihat Akmal menikah dengan wanita yang lain ," doa Akmal di dalam hatinya.


Setelahnya, Akmal pun berlalu ke luar dari dalam ruang perawatan sang Kakak, untuk menenangkan hatinya yang sedang terasa sesak melihat keadaan sang Kakak.


Begitupula dengan Cyra.

__ADS_1


Setelah sadar dari pingsannya tadi, ke tiga temannya yang masih setia menemani Cyra, mereka terus berusaha menghibur Cyra.


" Terimakasih, kalian bertiga masih menemaniku, di saat aku sedang terpuruk saat ini ," kata Cyra.


" Kamu bicara apa sih Cyra!! ," jawab Deena.


" Kamu itu sahabat terbaik kita, masa kita akan meninggalkanmu di saat kamu butuh teman di sampingmu ," kata Deena lagi.


" Iya, dan lagi pula kita kan sahabat, yang namanya sahabat tentu harus saling menemani baik suka dan maupun duka ," kata Misha.


" Yang sabar ya Cyra, aku yakin kamu pasti bisa melewati cobaan ini dengan baik ," kata Kalila.


Sedang asik berbincang, tiba-tiba ada suara dering ponsel berbunyi, yang ternyata ponsel tersebut milik Kalila.


Setelah dilihat oleh Kalila, ternyata yang sedang menelpon adalah Abraham.


" Emm, aku permisi sebentar ya, Kak Abraham sedang meneleponku ," kata Kalila dan ke tiga temannya hanya mengangguk saja.


Kalila memilih ke luar dari dalam kamar pribadi tersebut, lalu ke luar dari dalam ruang perawatan Mirza.


Setelah di luar, barulah Kalila mengangkat sambungan telepon dari Abraham.


" Assalamu'alaikum Kak ," sapa Kalila.


" Wa'alaikumussalam Kalila ," jawab Abraham.


" Oh ya, katanya tadi kamu mau menjenguk Mirza, apakah jadi?? ," tanya Abraham.


" Apakah kamu sudah pulang?? ," tanya Abraham lagi.


" Belum, ini Kalila sama yang lainnya masih menenangkan Cyra yang baru saja pingsan ," jawab Kalila.


" Pingsan,? kenapa Cyra bisa sampai pingsan, Kalila?? ," tanya Abraham.


" Terlalu banyak pikiran Kak, karena penyakit Kak Mirza sudah sangat mengkhawatirkan ," jawab Kalila.


" Astaghfirullah ," ucap Abraham terkejut.


" Kakak sedang perjalanan ke sana, kamu jangan pulang dulu ya ," kata Abraham lagi.


" Bukannya Kakak masih ada di luar kota,? ko sudah mau perjalanan ke sini?? ," tanya Kalila.


" Sebenarnya Kakak sudah pulang sejak habis subuh tadi, lalu Kakak istirahat dulu di rumah ," jawab Abraham.


" Ko Kakak tidak cerita sama Kalila, jika Kakak sudah pulang sejak tadi pagi?? ," kata Kalila lagi.


" Maaf sayang, tidak sempat, itu saja tidak Kakak rencanakan ," jawab Abraham.


" Iya tidak apa-apa, yang penting Kakak pulang dengan selamat ," kata Kalila.


" Kalau begitu, Kakak tutup dulu ya teleponnya, assalamu'alaikum ," pamit Abraham.

__ADS_1


" Wa'alaikumussalam ," jawab Kalila dan selanjutnya sambungan telepon mereka terputus.


Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya, Kalila mencoba mengecek ada pesan masuk dari siapa saja di ponselnya.


Namun, ketika Kalila sedang membaca beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya, dia tidak sengaja mendengar seseorang yang ada di balik tembok seperti sedang bertengkar.


" Kenapa kamu tidak bisa mengerti keadaan Kakak sih Aalifa?? ," begitulah yang didengar oleh telinga Kalila.


" Ko seperti suara Kak Akmal?? ," tanya Kalila di dalam hatinya.


Kaki Kalila berjalan mendekat ke arah tembok tersebut, dan semakin jelas saja suara orang yang didengarnya tadi.


" Jika Kakak disuruh menjauh dari Cyra, maaf Kakak tidak bisa!! ," kata Akmal.


" Sekarang Kakak putuskan, mau pilih Aalifa atau Kak Cyra!! ," kata Aalifa.


" Cyra ," jawab Akmal dengan mantap.


" Walau Kakak tidak bisa memilikinya, tapi setidaknya Kakak masih bisa dekat dengannya!! ," kata Akmal lagi.


" Tega sekali kamu Kak Akmal ," kata Aalifa.


Tut!!


Akmal langsung mematikan sambungan teleponnya, tanpa mau mendengarkan ucapan dari Aalifa terlebih dahulu.


" Aarrgghh, sudah tahu jika keadaanku sedang seperti ini, kenapa Aalifa malah menambah beban pikiranku saja!! ," gerutu Akmal.


Kalila yang takut ketahuan Akmal, jika dirinya sedang mengupingnya, dia pun lalu kembali masuk ke dalam lagi.


" Ternyata Nona Aalifa sudah mengetahui, jika Kak Akmal mencintai Cyra ," kata batin Aalifa sambil masuk ke dalam ruang perawatan Mirza.


Kalila sampai tidak sadar, jika para orang tua sedang melihat ke arahnya, yang tiba-tiba masuk tanpa mengucapkan salam sama sekali.


" Nak, kamu dari mana?? ," tanya Umma Nada.


" Eh-eh Umma, maaf Kalila tidak sadar ," jawab Kalila.


" Kalila tadi baru saja menerima telepon dari Kak Abraham, Umma ," ucap Kalila lagi, dan Umma Nada hanya ber oh ria saja.


" Kalila permisi dulu ya Umma, Abi, Paman, Bibi ," kata Kalila.


Bahkan Kalila sudah memanggil Ayah Rafiq dan Mama Jian dengan panggilan Paman dan Bibi, seperti Hamzah dan Misha, atas permintaan Ayah Rafiq serta Mama Jian sendiri.


" Iya Nak ," jawab serempak dari para orang tua.


Setelahnya, Kalila langsung masuk kembali ke dalam kamar pribadi untuk menemani Cyra, bersama yang lainnya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2