
Cyra memegang mesra tangan Akmal yang sedang berada di pipinya. Lalu dia mencium telapak tangannya dengan lembut. "Maafkan Umi."
"Untuk apa Umi meminta maaf sayang?" Akmal tersenyum meneduhkan sekali.
"Yang namanya manusia pasti punya masa lalu. Abu pun juga punya masa lalu. Dan masa lalu setiap orang tentu saja berbeda-beda."
"Abu tidak marah sama sekali jika terkadang Umi masih teringat dengan kak Mirza. Karena bagaimanapun juga, kak Mirza adalah laki-laki pertama yang memiliki Umi seutuhnya."
"Dan sejujurnya! Abu sendiri juga selalu teringat dengan kak Mirza. Setiap kejadian yang terjadi di hidup kita. Abu selalu mengaitkannya dengan yang lalu."
Akmal lalu melanjutkan lagi ucapannya. "Tapi semua itu Abu anggap sebagai pelajaran hidup. Karena hidup terus berjalan dan tidak selamanya menengok kebelakang. Seperti kaca spion yang kecil. Karena fungsinya untuk melihat sekali ke belakang. Beda dengan kaca mobil yang di depan. Karena fungsinya untuk melihat keadaan depan makanya ukurannya harus besar."
Cyra tersenyum mendengar perumpamaannya Akmal. Akmal yang melihat Cyra bisa tersenyum lagi, jadi ikut-ikutan tersenyum.
"Terimakasih."
Akmal mengangguk. "Ayo tidur. Sini biar si dedek, Abu ngajiin lagi."
Cyra masih tersenyum. Lalu dirinya mencari posisi yang nyaman untuk mendengarkan Akmal mengaji lagi untuk calon buah hati mereka.
Dengan lembut dan suara merdunya. Akmal mengajikan lagi calon buah hatinya yang ada di perut Cyra dengan tangan yang terus mengusap lembut perut Cyra.
Mata Cyra lama kelamaan bisa terpejam juga karena suara merdunya Akmal. Kegiatan yang sangat disukai oleh Akmal. Walau matanya terkadang harus di paksa untuk terbuka.
Melihat Cyra sudah lelap dalam tidurnya. Akmal lalu merebahkan lagi tubuhnya di samping Cyra. Sebelum membawa Cyra ke dalam pelukannya. Akmal mencium pipi Cyra dengan mesra.
Pagi harinya selesai sarapan. Cyra dan Akmal saat ini sedang duduk santai di ruang keluarga sambil menemani baby Zahwa yang sudah mulai aktif berjalan. Namun di saat sedang asik bersantai. Tiba-tiba Cyra merasakan perutnya sangat sakit.
"Abu! Umi mau ke kamar mandi dulu ya. Perut Umi rasanya sakit."
Akmal terkejut mendengar Cyra mengeluh sakit perut. "Perut Umi sakit?"
Cyra tersenyum. "Ini cuma sakit perut biasa ko Abu. Mau buang air besar."
Akmal merasa lega. "Hati-hati ya Umi."
Cyra cuma mengangguk saja. Dirinya lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk berlalu masuk ke dalam kamar. Setelah mencoba masuk ke dalam kamar mandi. Rasa sakit perut yang dirasakannya tiba-tiba sudah hilang dan Cyra tidak merasakan lagi rasa ingin mengeejaan.
Hal itu membuat Cyra memutuskan untuk keluar saja dari dalam kamar mandi dan ikut bergabung lagi dengan Akmal di ruang keluarga.
"Bagaimana Umi? Bisa buang air besarnya?"
__ADS_1
Wajar saja Akmal bertanya seperti itu. Karena sejak kemarin Cyra memang sedikit sembeelit atau susah buang air besar.
Cyra menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa Abu. Masih susah seperti kemarin."
"Tadi sampai di dalam kamar. Rasa sakitnya sudah hilang. Sekarang kenapa muncul lagi. Rasanya sangat tidak nyaman."
Tidak mau terjadi apa-apa dengan Cyra. Akmal pun mengajaknya ke rumah sakit saja. "Kita periksa saja yuk Umi. Abu takut jika terjadi apa-apa."
Cyra mengangguk. "Baiklah."
"Kalau begitu. Abu mau mengambil dompet dulu di dalam kamar. Apa Umi juga mau diambilkan sesuatu juga di dalam kamar?"
"Tolong ambilkan tas sama dompet yang biasa Umi bawa ya Abu," jawab Cyra.
Akmal menganggukkan kepalanya. "Siap sayang."
Akmal lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil yang ia dan Cyra perlukan. Setelah barang sudah berada di tangan masing-masing. Akmal langsung mengajak Cyra dan baby Zahwa untuk kontrol ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Akmal dan Cyra harus mengantre terlebih dahulu. Sebab mereka datangnya mendadak dan tidak ada janjian terlebih dahulu dengan sang dokter seperti biasanya. Setelah tiba gilirannya Cyra masuk. Cyra langsung disuruh untuk rebahan di ranjang pasien yang sudah disediakan.
"Saya cek dulu ya Nyonya."
Sang dokter kandungan sedikit terkejut ketika mengecek keadaannya Cyra. "Nyonya! Anda sudah mengalami pembukaan tiga."
Wajah Akmal dan Cyra yang awalnya santai sekarang menjadi tegang tatkala mendengar jika Cyra sudah mengalami pembukaan tiga.
"Apa Nyonya daritadi merasakan perutnya mulas?"
Cyra mengangguk. "Iya Dok. Bahkan saya sudah berulang kali ke kamar mandi tadi."
"Itu tanda-tanda pembukaan Nyonya, tapi Nyonya tidak sadar. Sebentar! Akan saya USG dulu."
Cyra dan Akmal sangat memperhatikan sekali ketika sang dokter sedang memeriksa janin yang ada di dalam perut Cyra.
"Ini ketuban Anda juga tinggal setengah Nyonya."
"Kita harus segera mengeluarkan bayi Anda, Nyonya Cyra."
"Tapi Dok! 'Kan perkiraan lahirnya masih dua minggu lagi."
"Perkiraan lahir itu tidak bisa menjadi patokan Nyonya. Jika sudah mengalami pembukaan kita harus segera menindaklanjutinya."
__ADS_1
"Saya sarankan sekarang juga Anda harus rawat inap Nyonya. Karena dikhawatirkan jika Anda pulang. Pembukaan yang Anda alami akan semakin bertambah."
Akmal dan Cyra saling pandang. Niat yang cuma ingin kontrol malah mendapatkan kejutan yang tidak terduga. Yang pastinya bisa menjadi cerita nanti jika sang baby sudah lahir ke dunia.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dokter," Akmal berucap mantap sekali.
Sang dokter pun langsung sigap. "Baik Tuan Akmal. Sebentar. Biar asisten saya menyiapkan ruangan bersalin dulu untuk Nyonya Cyra."
Akmal mengangguk. Sambil menunggu ruang bersalinnya siap. Sang Dokter pun memeriksa lagi keadaannya Cyra yang semuanya baik-baik saja. Normal seperti biasanya.
Cyra dan Akmal saat ini sedang berjalan bersama sang asisten dokter menuju ke ruang bersalin. Sesampainya di dalam ruang bersalin. Cyra disuruh rebahan di ranjang pasien yang ada di situ. Dan tidak lama sang dokter kandungan pun datang.
Mereka semua mempersiapkan semua alat yang dibutuhkan. Karena siapa tahu pembukaan yang dialami oleh Cyra akan berjalan dengan. Cyra sendiri saat ini sudah diinfus tangannya oleh dokter kandungan tersebut.
"Tuan Akmal. Saya tinggal keluar sebentar. Anda bisa menemani Nyonya Cyra untuk jalan-jalan di sekitar sini supaya cepat bertambah pembukaannya."
Akmal menganggukkan ucapan sang dokter. "Baik Dokter."
Dokter itu lalu keluar meninggalkan Cyra dan Akmal di dalam ruang bersalin itu bersama baby Zahwa. Jujur ini pengalaman pertama kali untuk Akmal menemani Cyra yang mau melahirkan seperti itu. Dulu ketika melahirkan baby Zahwa tidak seperti ini. Jadi Akmal sedikit kebingungan. Apalagi posisinya dia saat ini sedang menggendong baby Zahwa.
"Umi! Abu mau menelpon Ayah atau yang lainnya dulu ya! Untuk segera datang ke sini dan menjaga baby Zahwa."
Cyra mengangguk. "Iya Abu. Biar Umi jalan-jalan sendiri dulu nggak apa-apa ko."
Akmal lalu mencoba menghubungi abi Rasyid. Dan kebetulan abi Rasyid sedang berada di jalan karena ingin berangkat ke rumah sakit.
"Iya Nak. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Abi. Abi bisa segera datang ke rumah sakit sekarang juga tidak!" Akmal sambil menyebutkan alamat rumah sakitnya.
Abi Rasyid sangat terkejut sekali. "Rumah sakit! Memangnya siapa yang sakit Nak?"
"Cyra sudah mau melahirkan Abi. Abi tolong segeralah ke sini untuk menjaga Aiza. Karena niat kami tadi cuma mau kontrol biasa saja. Tapi tidak tahunya Cyra sudah mengalami pembukaan tiga."
"Astaghfirullah! Baiklah. Abi akan ke sana dulu sebentar sampai yang lainnya datang."
Akmal cuma mengangguk saja. Dan setelahnya sambungan telepon mereka terputus. Selesai menghubungi abi Rasyid. Akmal langsung menghubungi ayah Rafiq dan mama Jian. Sama seperti abi Rasyid tadi. Mama Jian dan ayah Rafiq sangat terkejut. Dan tidak pakai lama, mereka berdua langsung segera menyusul Akmal ke rumah sakit.
Begitupun dengan abi Rasyid tadi yang juga langsung menghubungi umma Nada untuk segera ikut pergi ke rumah sakit diantar oleh sopir pribadi yang ada di rumahnya.
...~.~...
__ADS_1