IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
TIGA BULAN KEMUDIAN


__ADS_3

Kebetulan hari pertama berpuasa bagi Akmal itu hari senin, dan jam sudah menunjukkan pukul tiga dinihari.


Akmal yang sudah memasang alarm pun langsung terbangun untuk menunaikan sholat malam terlebih dahulu, setelahnya dia baru berlalu ke dalam dapur untuk sahur, walau itu cuma sedikit.


Akmal sedikit terkejut, ketika dia hampir sampai di dapur, melihat lampu dapur sudah menyala begitu terangnya.


Pikir Akmal, jika para Bibi yang sudah mulai memasak, tapi tidak tahunya, ketika dirinya sudah masuk ke dalam dapur, dia langsung melihat tubuh seorang wanita yang sangat dikenalnya, dan orang tersebut adalah Cyra.


" Cyra ," panggil Akmal.


Cyra yang sedang menyiapkan sesuatu pun, langsung reflek mengalihkan pandangannya ke arah Akmal.


" Kak Akmal ," kata Cyra.


" Kamu sedang apa di sini?? ," tanya Akmal.


" Cyra sedang membuat teh dan makan sahur ," jawab Cyra.


" Kamu mau berpuasa juga?? ," tanya Akmal.


" Iya, kebetulan perut Cyra sedang begah, jika Cyra buat puasa, rasanya anteng dan si baby juga sepertinya tenang di dalam sini ," jawab Cyra sambil mengusap perutnya.


" Apakah Kak Akmal juga mau berpuasa?? ," gantian Cyra yang bertanya.


" Iya, apakah makanannya masih ada?? ," jawab Akmal.


" Untuk makan malam semalam sudah habis, ini Cyra masak lagi, jika Kakak mau, bisa Cyra buatkan sebentar untuk Kakak ," kata Cyra.


Walau Cyra masih sedikit sebal dengan Akmal, tapi dia berusaha bersikap semestinya, apalagi Akmal yang ingin sahur untuk berpuasa.


Karena menyiapkan makan sahur untuk orang berpuasa, pahalanya sangat besar sekali.


" Tidak perlu, kamu makanlah, biar Kakak buat teh saja ," jawab Akmal.


" Tidak apa-apa, ini makanlah punya Cyra, Kak, biar Cyra membuat lagi, lagi pula cuma sebentar ko untuk menyiapkannya dan makanan juga ini belum Cyra makan ," kata Cyra sambil menyerahkan teh dan juga makanannya tadi.


Akmal benar-benar merasa sangat sungkan dan tidak enak sekali, ketika Cyra sedikit perhatian dengannya.


" Baiklah, terimakasih Cyra ," jawab Akmal pada akhirnya, dan Akmal lalu menikmati makanan tersebut, sambil memperhatikan Cyra yang sedang menyiapkan makanan satu lagi.


" Makanan Cyra selalu enak rasanya, walau cuma makanan simple dan sederhana seperti ini ," kata batin Akmal sambil mengunyah makanannya.


" Jika aku seperti ini, Cyra malah seperti istriku sendiri ," kata batin Akmal lagi.

__ADS_1


" Cyra, apakah Kak Mirza tidak ikut puasa?? ," Akmal mencoba bertanya dan mengajak mengobrol Cyra.


" Tidak, katanya badannya sedang tidak fit ," jawab Cyra.


" Nanti tolong katakan kepada Kak Mirza ya Cyra, apakah mau Kakak antar ke Dokter ," kata Akmal.


" Iya, nanti akan Cyra sampaikan Kak ," jawab Cyra, dan akhirnya makanannya pun sudah selesai disiapkannya.


" Jika kamu tidak mau satu meja dengan Kakak, biar Kakak pindah saja dari sini ," kata Akmal yang tahu bagaimana kebiasaannya Cyra.


" Tidak apa, Kakak duduklah saja ," jawab Cyra.


" Lagi pula Kakak duduknya juga tidak berdekatan dengan Cyra, makanlah Kak, keburu waktu subuh tiba nanti ," kata Cyra lagi.


Akmal dan Cyra duduknya berseberangan meja, Akmal duduk diujung sebelah kiri, begitupula dengan Cyra yang duduk di ujung sebelah kanan.


Rasanya Akmal sangat bahagia sekali bisa makan berdua begitu dengan Cyra, akan tetapi Akmal berusaha semaksimal mungkin, menunjukkan sikap biasa saja dihadapan Cyra.


Sebelum makan, baik Cyra dan Akmal tadi sudah berdoa terlebih dahulu, dan Akmal yang sudah selesai makannya, dia berpamitan kepada Cyra untuk berlalu ke dalam kamarnya.


Cyra hanya mengangguk saja, dan dia pun juga membersihkan piring yang tadi digunakan oleh Akmal.


Karena Akmal dan Cyra sedang berpuasa, Akmal memilih langsung berpamitan kepada ke dua orang tuanya, untuk segera berangkat ke kampus, sedangkan Cyra, memilih menyiapkan keperluan yang akan dibawa oleh Mirza ke sekolah.


Singkat cerita, adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang, berhubung Cyra ingin makan ini dan itu sesuai seleranya, dia pun sudah memasak serta menyiapkannya sejak jam empat sore tadi.


Padahal di situ ada banyak pembantu, hanya saja Cyra ingin menyiapkan semuanya sendiri dan juga untuk sang suami.


Akmal yang kebetulan baru saja masuk ke dalam ruang makan, dia tidak sengaja melihat makanan yang sudah disiapkan oleh Cyra.


" Tumben sekali Bibi masak makanan itu ," kata Akmal berbicara sendiri.


Cyra yang mendengarnya lalu menjawabnya.


" Bukan Bibi yang memasak Kak, tapi Cyra ," jawab Cyra.


" Oh, kamu ya ," jawab terkejut dari Akmal.


" Apakah Kakak mau?? ," tanya Cyra.


" Apakah boleh?? ," tanya balik dari Akmal.


" Boleh, kita kan harus saling berbagi ," jawab Cyra.

__ADS_1


" Mau dong sedikit, masakan kamu pasti enak ," kata Akmal sambil menyerahkan piringnya.


Cyra hanya tersenyum saja, dan dia lalu mengambilkan makanan untuk Akmal yang tadi di masaknya.


Tiba saatnya adzan maghrib berkumandang, karena Cyra berpuasa, alhasil Mirza ikut makan juga menemani Cyra yang sedang berbuka puasa.


Walau di situ ada Mirza, akan tetapi Akmal sudah bertekad dan niat di dalam hatinya, untuk bersikap sewajarnya demi kebaikan hatinya.


" Cyra, masakan kamu enak sekali, aku suka ," puji Akmal dengan jujur kepada Cyra.


" Kamu suka sayur itu Akmal?? ," tanya Mirza.


" Iya Kak, ini enak ko, cobain deh ," jawab Akmal.


" Kakak tidak terlalu suka ," kata Mirza.


" Abi mau makan yang mana?? ," tanya Cyra.


Mirza langsung menunjuk makanan yang ingin dimakannya, dan walau Cyra sedang berbuka puasa, dia tetap mendahulukan apa yang ingin dimakan oleh sang suami, yang terpenting dirinya tadi sudah membatalkan puasanya dengan meminum air putih.


Mirza, Akmal dan juga Cyra, mereka bertiga makan bersama di meja makan, sedangkan Ayah Rafiq dan Mama Jian, akan makan malam nanti saja setelah sholat isya'.


Waktu silih berganti, dan ketika hari kamis, Akmal yang ingin berpuasa lagi, tidak sengaja, untuk ke dua kalinya bisa sahur bersama Cyra.


Lagi dan lagi mereka sahur berdua, namun kali ini ada Mirza yang ikut menemani Cyra.


Begitu terus, hingga beberapa kesempatan Akmal dan Cyra bisa sahur serta berbuka puasa bersama.


Insyaallah Akmal istiqomah dalam niatnya, dan Akmal juga sudah memfokuskan diri cuma kepada Aalifa saja, serta mencoba menghilangkan bayang-bayang Cyra dari dalam pikiran dan juga perasaannya.


Tanpa Akmal sadari, dia sudah menjalankan puasa tersebut, sekitar tiga bulan lamanya, dan selama tiga bulan itu, Akmal sudah benar-benar berpasrah diri hanya kepada Allah, hingga akhirnya dia berhasil mengalihkan bayang-bayang Cyra di dalam hatinya.


Kehamilan Cyra juga tidak terasa sudah memasuki usia tujuh bulan, jalan ke delapan bulan.


Mirza senantiasa selalu ikut menemani Cyra untuk cek kandungan, dan dia sangat senang sekali, melihat perkembangan sang calon buah hatinya, yang sangat sehat serta berkembang sesuai umurnya.


Ketika baru saja pulang dari cek up ke Dokter, tiba-tiba, Mirza merasakan rasa yang tidak nyaman ditubuhnya, bahkan tubuhnya saja mengeluarkan keringat dingin yang cukup banyak.


Hal itu membuat Cyra menjadi sangat khawatir sekali, dan dia langsung meminta bantuan kepada siapa saja yang ada di rumah.


Namun, sayang sekali, ketika Cyra sedang bertanya kepada salah satu asisten rumah tangganya, di mana keberadaan Mama dan Ayah, asisten itu menjawab jika Mama Jian dan Ayah Rafiq, sedang berkunjung ke rumah Nenek Akmal dan Mirza yang sedang sakit yang ada di kampung.


Alhasil, mau tidak mau, Cyra meminta bantuan kepada Akmal yang sedang berada di kampus untuk segera pulang.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2