IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
OH, AKMAL


__ADS_3

Malam harinya, untuk pertama kalinya Cyra ikut makan malam bersama dengan Keluarga sang mertua, dan dia begitu sangat malu sekali.


Bukan malu kepada Mama Jian maupun Ayah Rasyid, melainkan dengan Akmal.


Sungguh jika Akmal berada di rumah, Cyra benar-benar merasa tidak nyaman sekali.


Kita berada di dalam rumah mertua dengan para ipar saja, sudah sangat sungkan sekali rasanya, apalagi jika posisinya, ipar itu pernah menjadi Dosen sekaligus orang yang pernah melamarnya, tentu saja perasaan Cyra semakin tidak nyaman sekali.


Cyra mencoba bersikap biasa saja dulu, sebab dia masih awal menikah dengan Mirza.


Namun besar kemungkinan, suatu saat Cyra akan meminta untuk tinggal di rumah sendiri, karena itu akan membuatnya leluasa dalam bergerak.


" Waaah malam ini tumben Mama masak banyak sekali ," kata Akmal sambil duduk di kursi makan sebelah sang Mama.


" Iya, ini kan malam pertama Kakak ipar kamu makan malam di sini Akmal, dan sebagian masakan ini dia lho yang memasak ," jawab Mama Jian.


Jawaban dari Mama Jian, reflek membuat Akmal memandang ke arah Cyra yang duduk di samping sang Kakak.


" Benarkah, waaah Ayah mau mencoba mencicipi masakan putri Ayah dong ," kata Ayah Rafiq.


" Sini Ayah biar Cyra ambilkan, Ayah mau makan yang mana?? ," kata Cyra.


" Masakan kamu yang mana saja Cyra?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Yang ini Ayah ," jawab Cyra sambil menunjuk semua makanan yang tadi dia masak.


" Cobain yang itu dong, sepertinya enak ," jawab Ayah Rafiq.


Cyra langsung mengambilkan makanan yang tadi di tunjuk oleh sang Ayah mertua, setelah mengambilkan makanan untuk Ayah Rafiq, gantian Cyra mengambilkan makanan untuk sang suami.


" Terimakasih sayang ," kata Mirza dengan lembut sambil tersenyum.


" Sama-sama ," jawab Cyra.


" Apakah Mama mau Cyra ambilkan juga?? ," tanya Cyra kepada Mama Jian.


" Boleh dong, tuh yang ada di depan kamu Nak, Mama sedikit kejauhan mengambilnya ," jawab Mama Jian.


Cyra tentu saja dengan senang hati mengambilkan makanan yang Mama Jian maksud.


" Apakah Kak Akmal mau Cyra ambilkan juga?? ," tanya Cyra kali ini kepada Akmal.


" Oh, eh, emm, tidak perlu, aku bisa mengambilnya sendiri ," jawab Akmal sedikit tergagu.


" Baiklah ," jawab Cyra.


Akmal langsung mengambil makanan yang ingin dia makan malam itu, dan tanpa Akmal sadari makanan yang Akmal ambil adalah masakannya Cyra.


" Ma, tumben sekali masakan Mama rasanya beda kali ini?? ," kata Akmal.


Deg,!! hati Cyra berdebar ketika Akmal mengatakan hal itu kepada sang Mama, sebab Cyra takut jika masakannya terasa tidak enak.


" Memangnya kenapa Akmal, tidak enak ya?? ," tanya Mama Jian.

__ADS_1


" Enak Ma, justru bumbunya lebih terasa, dan gurih, Akmal suka ," jawab Akmal sambil lahap memakannya.


" Iya tentu saja berbeda rasanya, lha wong itu yang memasak adalah Cyra, Kakak ipar kamu Akmal ," jawab Mama Jian.


" Uhuuuk!! ," Akmal reflek tersedak mendengar jawaban dari sang Mama.


Mama Jian yang duduk di sebelah Akmal langsung memberikan air minum kepada Akmal.


" Makanya Mal, kalau makan jangan terburu-buru, walau enak rasanya ," kata Ayah Rafiq.


" Kamu ini, seperti anak kecil saja Mal ," kata Mama Jian juga kepada Akmal.


" Maaf ," kata Akmal merasa malu dengan Cyra.


Mirza yang melihat sikap Akmal, hanya menggelengkan kepalanya saja dan dia tidak merasa curiga sama sekali kepada Akmal.


Sedangkan Cyra, dia hanya bisa diam saja sambil menunduk dan menikmati makanannya dengan tenang.


" Oh ya Nak Cyra, kamu ko masih memanggil Akmal dengan panggilan Kakak, dia kan adik ipar kamu, harusnya Akmal yang memanggil kamu dengan panggilan Kakak?? ," kata Ayah rafiq.


Sedikit terkejut ketika mendengar sang Ayah mertua bertanya seperti itu kepadanya, namun untungnya Cyra memakai niqob, jadi wajahnya tidak terlihat jika dia sedang terkejut.


Dan untuk Akmal sendiri, mencoba berdiam diri terlebih dahulu, sebab dia ingin melihat serta mendengar bagaimana jawabannya Cyra untuk sang Ayah.


" Tidak apa-apa Ayah, Cyra sudah terbiasa memanggil Kak Akmal dengan panggilan Kakak, sebab dia ternyata Dosen Cyra di kampus dulu ," jawab Cyra.


" Oh ya, benarkah,? kenapa kamu tidak bercerita kepada Ayah, Akmal?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Maaf Ayah, lupa, karena dari kemarin pekerjaan Akmal sangat banyak sekali ," jawab Akmal.


" Iya terserah kalian saja, yang terpenting kalian tahu kedudukan kalian berdua, jika Akmal adalah adik ipar kamu Cyra ," jawab Ayah Rafiq.


" Iya Ayah ," jawab Cyra sambil mengangguk.


" Ayah, besok Cyra akan ikut mengajar di Yayasan, bolehkan Ayah?? ," kata Mirza.


" Tentu saja boleh dong Mirza ," jawab Ayah Rafiq.


" Memangnya kamu mau ikut mengajar apa Nak?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Cyra mau mencoba dulu di PAUD, Ayah ," jawab Cyra.


" Apa kamu tidak mau mencoba mengajar di SMA saja Cyra, kan nilai IPK kamu mendekati sempurna ," kata Akmal ikut menyahut.


" Benarkah Akmal?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Iya Ayah, Cyra termasuk mahasiswi cerdas di kampus, jadi sayang saja jika cuma mengajar di PAUD ," jawab Akmal.


" Kalau begitu, sambil mengajar di PAUD kamu juga mengajar di SMA bagaimana Cyra?? ," tanya Ayah Rafiq.


Cyra reflek melihat ke arah Mirza, dan Mirza pun mengangguk setuju dengan usul sang Ayah.


" Baiklah, Cyra setuju Ayah, jika Kak Mirza mengijinkan ," jawab Cyra.

__ADS_1


" Baiklah, jadi kamu mau ikut mengajar mulai hari apa Cyra?? ," tanya Ayah Rafiq lagi.


" Nanti Mirza akan carikan hari yang tepat Ayah, karena jika sekarang sepertinya belum bisa, sebab beberapa hari yang akan datang akan ada penilaian dari Dinas Pendidikan ," jawab Mirza.


" Terserah kamu mau mengatur kapan harinya Mirza, untuk Cyra bisa ikut mengajar, Ayah tidak apa-apa, Ayah mengijinkan kok ," jawab Ayah Rafiq.


" Terimakasih Ayah ," jawab Mirza dan Cyra secara bersama-sama.


Setelah selesai makan malam, mereka semua langsung bubar ke dalam kamar mereka masing-masing, kecuali Cyra dan Mama Jian yang sedang sibuk membereskan meja makan.


" Biar Cyra saja Mama yang membereskannya, Mama istirahatlah saja sama Ayah ," kata Cyra kepada Mama Jian.


" Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugas Mama juga ," jawab Mama Jian.


" Tidak apa-apa Ma, Mama duduk saja ya di sini ," jawab Cyra.


" Baiklah, jika memaksa ," jawab Mama Jian.


Cyra dengan cekatan dan telaten membersihkan semua piring dan peralatan kotor yang tadi untuk makan malam.


Di rumah Abi Rasyid, Cyra sudah terbiasa melakukan itu semua, walau ada pembantu, namun Cyra tidak mau berpangku tangan dengan para pembantu di rumahnya.


Begitupun di rumah Ayah Rafiq sekarang yang cukup banyak pembantu bekerja di situ.


" Cyra, Mama masuk dulu ya, itu Ayah sepertinya sedang memanggil Mama ," kata Mama Jian dengan tiba-tiba.


" Iya Ma, Cyra juga mendengarnya ko ," jawab Cyra.


Mama Jian langsung berlalu pergi meninggalkan Cyra sendirian di dalam ruang makan, dan karena melihat ada tumpukan cucian di dalam wastafel, Cyra pun berinisiatif untuk mencucinya.


" Kenapa kamu yang mencuci piring Cyra, kan masih ada Bibi yang nanti akan mencucinya ," kata seseorang yang sangat mengejutkan Cyra, hingga membuat gelas yang sedang dipegangnya terlepas dan pecah berserakan di lantai.


" Cyra!! ," kata orang itu sangat terkejut sekali dan juga merasa khawatir.


" Kak Akmal, biar Cyra sendiri saja yang membereskannya ," kata Cyra kepada Akmal yang tadi sedang menyapanya.


Akmal tadi sedang ingin mengambil minuman di dalam kulkas, dan dia tidak sengaja melihat Cyra sedang mencuci piring di dalam dapur.


" Tidak apa-apa, aku akan membantumu ," jawab Akmal.


Akhirnya, mereka berdua membereskan pecahan beling tadi secara bersama-sama, dengan Akmal yang mengambil pecahan yang besar, sedangkan Cyra yang menyapu pecahan yang kecil-kecil.


" Apakah aku tadi sangat mengejutkanmu, hingga reaksimu seperti itu ketika melihatku?? ," tanya Akmal kepada Cyra.


" Emm, jika Kakak sudah selesai, bisakah Kakak kembali lagi ke dalam, karena tidak baik berduaan begini tanpa adanya mahram Cyra, Kak ," jawab Cyra mengalihkan pembicaraan.


" Apakah kamu bahagia Cyra?? ," tanya Akmal semakin melantur saja.


" Maaf, tidak seharusnya Kak Akmal bertanya seperti itu kepada Cyra, permisi ," jawab Cyra, dan dia yang memilih pergi dari hadapan Akmal.


Karena sebagai seorang istri, Cyra sangat tahu sekali batasan-batasan apa yang harus dia lakukan, terlebih lagi dengan ipar yang mempunyai perasaan kepadanya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2