
Di dalam mobil. Akmal tersenyum sendiri. Tersenyum karena teringat dengan sikapnya tadi yang berani melamar Cyra secara langsung dihadapan ke dua orang tuanya.
Setelah sholat maghrib tadi. Akmal berdoa dan meminta kemantapan hatinya untuk melamar Cyra. Dan akhirnya, dia berani juga mengutarakan apa yang sudah menjadi keinginannya selama ini.
Ayah Rafiq yang melihat Akmal senyum-senyum sendiri sambil mengendarai mobil. Membuat Ayah Rafiq langsung melirik ke arah belakang kepada mama Jian sambil tersenyum mengkode.
"Biarkan saja." Mama Jian berbicara tanpa bersuara.
Sedangkan beralih kepada Cyra. Sesampainya di dalam kamar. Cyra langsung mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang.
Untuk pertama kalinya melihat sang putri tercintanya berbicara sendiri dengan suara lucu. Membuat Cyra sangat excited dan menangis terharu.
"Ya Allah. Masyaallah Aiza." Cyra langsung mengambil ponselnya. Karena dia tidak mau kehilangan momen pertama kali baby Zahwa berbicara sendiri.
Video berdurasi sekitar lima menit itu sukses membuat hati Cyra berbunga-bunga melebihi biasanya. Ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Karena ini pengalaman pertama kali di dalam hidupnya.
"Kamu pasti bahagia ya Nak. Karena baru saja main sama Abu." Seperti mengerti ucapan Cyra. Baby Zahwa berbicara lagi.
"Masyaallah anak Umi." Cyra langsung mencium gemas pipi baby Zahwa.
Karena rasa bahagia yang sedang dirasakannya. Orang yang pertama kali ingin Cyra tunjukkan baby Zahwa sedang berbicara sendiri adalah Akmal.
Akmal yang belum sampai di rumah. Dan kebetulan sedang berhenti di lampu merah mendengar dering pesan di ponselnya.
"Abu cudah campai yumah belum?" Cyra menirukan suara anak kecil sambil mengirimkan video baby Zahwa yang berbicara sendiri.
Akmal tersenyum manis membaca pesan tersebut. Lalu membuka video yang baru saja dikirimkan oleh Cyra.
Ayah Rafiq dan mama Jian yang mendengar suara baby dari dalam ponsel Akmal mereka langsung bertanya.
"Itu suara siapa Akmal? Apakah cucu Ayah?" ayah Rafiq sangat penasaran sekali.
"Iya Ayah. Lihatlah ini. Sangat menggemaskan sekali." Akmal langsung memberikan ponselnya kepada ayah Rafiq.
"Gantian Ayah." Mama Jian sudah tidak sabar ingin segera melihatnya juga.
"Cucu Ayah semakin menggemaskan sekali." ucap ayah Rafiq sambil memberikan ponsel Akmal kepada mama Jian.
"Masyaallah. Ya Allah gemasnya." Mama Jian ingin mencubit pipinya yang gemuk itu.
"Sepertinya dia bahagia karena baru saja kamu jenguk dan ajak main Akmal." Akmal menganggukkan kepalanya.
Hatinya merasa bahagia. Bahagia yang belum dia rasakan selama ini. Walau baby Zahwa bukan anak kandungnya. Namun melihat dia sakit dan tumbuh dengan sehat. Ada rasa bangga dan senang tersendiri di dalam hatinya.
Sesampainya di rumah. Akmal berjalan masuk ke dalam kamar sambil membalas pesan dari Cyra.
__ADS_1
"Masyaallah anak Abu. Makin pintar saja." balas Akmal ditambahi emoticon love.
"Bujuk Umi ya Nak. Supaya mau menikah dengan Abu. Biar kita bisa menjadi keluarga yang bahagia." Akmal tersenyum sendiri mengirimkan pesan seperti itu kepada Cyra.
Cyra di seberang sana yang sedang membacanya pun juga langsung tersenyum.
"Abu bilang cendili cama Umi. Bial Umi mau." Cyra membalasnya dengan bahasa anak-anak.
Akmal lagi-lagi terus tersenyum membaca balasan pesan dari Cyra.
"Bobo dulu ya Abu. Aiza cudah ngantuk." pesan dari Cyra lagi.
"Mimpi indah ya sayang. Abu sayang Aiza dan Umi." Akmal sungguh berani sekali.
Cyra tertawa pelan membaca pesan dari Akmal. Akan tetapi dia tidak mau membalas pesannya.
...___*___...
Di sebuah taman yang sangat indah. Cyra yang sedang menimang dan menggendong baby Zahwa dengan perasaan bahagia. Tiba-tiba ada yang menutup matanya dari belakang.
Cyra tentu saja merasa sangat ketakutan sekali. Hingga membuatnya langsung gemetaran.
"Si-siapa kamu! Lepaskan tanganmu dari mataku!" ucap Cyra.
Setelah melihat orang tersebut. Cyra langsung memeluknya dengan berderai air mata.
"Kak Mirza!"
Mirza pun langsung memeluk Cyra tidak kalah eratnya.
"Kenapa setiap kali Umi bertemu dengan Abi selalu menangis? Lihatlah Aiza. Dia bingung melihat Umi." Mirza mengusap air mata Cyra.
"Umi rindu Abi," ucap Cyra.
"Abi juga rindu dengan Umi. Tapi ... "
"Tapi apa Abi?" Cyra bertanda tanya.
"Ada orang yang lebih merindukan Umi dibandingkan Abi." Mirza tersenyum dengan teduh sekali.
"Siapa orangnya Abi?" Cyra merasa kebingungan.
"Ayo ikut Abi." Mirza menuntun tangan Cyra menuju ke sebuah ruangan yang terbuat dari emas yang sangat menyilaukan mata.
"Tempat apa ini Abi?" namun Mirza hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Dia orangnya yang sangat merindukanmu." Mirza menunjuk orang yang sedang berdiri menghadap ke sebuah mihrab.
Orang tersebut lalu berbalik badan menghadap Mirza dan Cyra sambil tersenyum sangat manis sekali.
"Kak Akmal!"
Mirza tersenyum. Lalu perlahan jalan mundur kebelakang. Membuat Cyra merasa kebingungan dan tanpa ia sadari. Akhirnya, Mirza menghilang dari pandangan mata.
"Kak Mirza! Kak!" teriak Cyra. Dan tidak tahunya, Akmal sudah berada di depannya.
"Kak Mirza sudah bahagia di sana Cyra." Cyra yang terkejut langsung berbalik badan menghadap ke arah Akmal.
"Ayo melangkahlah bersamaku menuju surganya Allah. Insyaallah Kakak akan menuntunmu seperti kak Mirza menuntunmu dulu." Akmal menggandeng tangan Cyra dengan lembut.
Mereka berdua lalu melangkah ke depan secara bersama-sama menuju ke sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan mata. Dan bersamaan itu pula Cyra langsung terbangun dari tidurnya.
"Huh! Huh! Huh!" nafas Cyra tidak beraturan.
Mimpinya seakan nyata didepan matanya. Dan membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Aku bermimpi apa tadi?"
"Rasanya begitu nyata sekali." Cyra belum bisa menetralkan perasaannya.
Melihat kesamping. Cyra melihat baby Zahwa sedang tertidur dengan sangat pulas sekali.
Melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih. Itu artinya dia sudah melewatkan sholat tahajudnya.
Untuk meredakan perasaannya yang berkecamuk. Cyra memilih beranjak turun dari atas ranjang menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi. Setelahnya dia menunggu adzan subuh berkumandang.
Begitupula dengan Akmal. Dia yang memilih mengaji setelah menunaikan sholat hajat tadi malam. Dan saat ini Akmal sedang menunggu adzan subuh berkumandang.
Akmal tidak peduli kalaupun akan disebut tidak tahu malu. Karena berani menikahi istri dari almarhum kakaknya.
Semua karena Allah. Akmal niatkan untuk beribadah kepada-Nya, walau harus mendapatkan cibiran pedas sekalipun.
Tidak akan luput satu manusia pun di dunia ini yang jauh dari cibiran mulut manusia yang lainnya.
Rasulullah yang sangat mulia akhlaknya saja mendapatkan cacian dan hinaan serta makian dari kaum Quraisy. Apalagi kita manusia biasa yang penuh dengan dosa.
Semoga Cyra bisa mengambil hikmah dari mimpi yang baru saja dialaminya. Sebelum penyesalan datang terlambat kepadanya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1