IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
HAMIL


__ADS_3

Bisik-bisik yang awalnya buruk tentang Cyra sekarang berbalik menyerang Aalifa. Sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Aalifa pergi dari taman itu dalam keadaan teramat marah sekali.


"Bereengseek! Siialan wanita murahan itu! Berani-beraninya dia membuatku malu di depan umum seperti tadi!" Aalifa memukul stir mobilnya.


"Niatku ingin mempermalukan dia. Kenapa malah aku yang kena batunya! Awas saja kamu Cyra!" wajah Aalifa sangat merah sekali.


Aalifa lalu menyalakan mesin mobilnya dan tancap gas dari parkiran taman tersebut dalam keadaan emosi yang meluap.


Sedangkan kembali ke Akmal dan Cyra lagi.


Cyra di dalam mobil menangis dalam diamnya. Hatinya terasa sakit sekali teringat dengan ucapan Aalifa yang menuduhnya sebagai wanita murahan. Seumur hidup, baru kali ini Cyra merasa sangat malu berada di tempat umum karena ucapan Aalifa tadi.


Akmal yang sedang menyetir. Hatinya ikut sakit melihat Cyra meneteskan air matanya seperti itu. Tiba-tiba Akmal menghentikan mesin mobilnya. Lalu dirinya menggenggam tangan Cyra dengan lembut.


"Umi! Stop! Jangan menangis lagi ya! Abu sedih melihatnya." Akmal mengusap air mata Cyra yang membasahi niqabnya.


"Apakah Umi begitu buruk sekali Abu. Karena Umi seorang janda yang menikah dengan laki-laki bujang seperti Abu. Terlebih lagi Abu adalah mantan adik ipar Umi sendiri," Cyra berbicara dengan berderai air mata.


"Suusst! Tidak ada yang salah akan hal itu ko Sayang. Kita sah kalau menikah. Karena tidak ada hubungan darah di antara kita berdua."


"Tenanglah. Ada Abu yang akan selalu menjaga Umi. Abu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Aalifa bisa merendahkan Umi seenak mereka sendiri," ucap Akmal lagi.


"Tenang ya. Ayo kita pulang ke rumah dulu."


Cyra mengangguk lemah saja dan berusaha menahan air matanya supaya tidak keluar lagi.


Sesampainya di rumah. Cyra langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan badannya di atas ranjang. Sedangkan baby Zahwa. Cyra letakkan di tempat khusus bermainnya yang penuh dengan mainan.


Akmal yang melihat hal itu hanya diam saja. Dan memberikan ruang untuk Cyra supaya bisa menenangkan diri.


Karena kecapekan menangis. Cyra akhirnya tertidur dengan sendirinya. Dan yang menjaga baby Zahwa tentu saja Akmal. Melihat baby Zahwa yang tiba-tiba rewel seperti ingin tidur. Akmal lalu membawanya ke atas ranjang dan memberikannya kepada Cyra untuk dia susuui.


Dengan mata terpejam karena masih mengantuk. Cyra meenyusui baby Zahwa hingga bisa tertidur dengan lelap. Sedangkan Akmal setelah memberikan baby Zahwa kepada Cyra tadi. Dirinya lalu memilih untuk keluar dari dalam kamar untuk menghubungi seseorang.


Orang yang Akmal hubungi adalah Hamzah. "Halo Ham. Assalamu'alaikum."

__ADS_1


Hamzah langsung menjawab salam dari Akmal. "Wa'alaikumussalam Mal. Ada apa?"


Akmal lalu menceritakan perihal sikap Aalifa tadi di depan umum kepada Cyra ketika masih di taman.


Hamzah benar-benar sangat terkejut mendengar cerita dari Akmal tentang Aalifa. Hamzah berpikir jika Aalifa tidak akan menganggu kehidupannya Akmal lagi. Tapi tidak tahunya. Ternyata di luar dugaan.


"Aku ingin kamu membuat laporan untukku, untuk menangkap Aalifa. Supaya dia jera dan tidak seenaknya sendiri mengatai Cyra seperti itu lagi nantinya."


"Hatiku sakit sekali melihat Cyra daritadi menangis terus sampai ketiduran begitu," ucap Akmal lagi.


"Iya baiklah. Aku mengerti maksud ucapanmu. Segera aku akan menghubungi temanku itu. Dan aku mohon ponselmu harus selalu aktif jika sewaktu-waktu temanku akan menghubungimu, Mal."


Akmal menganggukkan kepalanya walau Hamzah tidak bisa melihat. "Baiklah. Aku tunggu kabar selanjutnya darimu."


"Iya. Sekarang temanilah Cyra. Tenangkan dia," ucap Hamzah.


"Iya. Assalamu'alaikum," salam Akmal.


"Wa'alaikumussalam." Hamzah lalu mematikan sambungan teleponnya.


Tubuh yang sedang tidak fit. Seakan sirna melihat Cyra sedang bersedih seperti saat ini. Untung saja Akmal sudah tidak mengajar lagi. Jadi, jika sekarang dirinya membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Dia bisa tidur selama yang dia mau.


Hari-hari telah berlalu. Tanpa terasa sudah berjalan sekitar tiga hari saja sejak kejadian kemarin di taman. Namun Cyra masih terus kepikiran dengan ucapan Aalifa kepadanya. Hingga membuatnya jatuh sakit. Sebab Cyra menjadi tidak naafsu makan.


"Umi makan ya! Umi dari kemarin makannya cuma sedikit. 'Kan jadinya sakit begini?"


Cyra cuma mengangguk lemah saja. Dia akhirnya mau membuka mulutnya, ketika Akmal menyuapkan satu sendok makanan kepadanya. Dengan penuh perhatian Akmal menyuapi Cyra. Walau dirinya sendiri sebenarnya juga sedang tidak fit kondisinya.


"Wajah Abu terlihat pucat? Apakah Abu juga sakit?" Cyra baru sadar. Jika wajah Akmal sudah dari kemarin terlihat pucat.


Akmal menggelengkan kepala. "Abu tidak sakit. Hanya saja perut Abu dari kemarin rasanya eneg. Ingin muntah-muntah terus."


"Kita periksa ke dokter yuk Abu!"


Akmal menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak perlu. Abu sudah minum wedang jahe tadi buatan bibi. Dan sekarang sudah lebih baik."

__ADS_1


"Yang harus periksa ke dokter itu Umi. Bukan Abu. 'Kan Umi yang sedang sakit sekarang?"


Cyra memandang Akmal dengan tatapan lesunya. "Nanti saja. Umi sekarang masih kuat untuk menahannya."


"Umi mau pipis dulu sebentar," ucap Cyra lagi.


Akmal hanya mengangguk saja. Cyra lalu beranjak turun dari atas ranjang menuju ke dalam kamar mandi. Baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Cyra merasa kepalanya terasa sangat pusing sekali. Dan akhirnya dia jatuh pingsan di depan pintu kamar mandi.


Akmal yang melihat Cyra pingsan. Langsung segera berlari menghampiri Cyra. "Umi!" teriak Akmal.


Akmal langsung membawa Cyra ke klinik yang terletak tidak jauh dari kompleks perumahannya. Sedangkan baby Zahwa. Akmal tinggal di rumah bersama para bibi.


Akmal harap-harap cemas menunggu Cyra yang sedang diperiksa oleh dokter. Dan setelah beberapa saat. Akhirnya, Cyra selesai juga diperiksanya.


"Dokter! Bagaimana kondisi istri saya? kenapa dia bisa sampai pingsan begini?"


Sang dokter pun tersenyum. "Anda tenang saja Pak. Istri Anda tidak kenapa-kenapa. Saat ini istri Anda sedang hamil. Dan saran saya, istri Anda jangan terlalu banyak pikiran."


Akmal sangat terkejut sekali. "Apa Dok! Hamil?"


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum lagi. "Iya Pak. Istri Anda sedang hamil. Selamat ya Pak, saya ucapkan."


Wajah Akmal masih menunjukkan rasa keterkejutan yang teramat besar. "Untuk bisa tahu lebih lanjut lagi. Biar saya panggilan dokter kandungan yang ada di sini untuk memeriksa keadaan istri Anda."


Akmal menganggukkan kepalanya dengan gerakan kaku. "Iya baiklah. Terimakasih Dokter."


Sang Dokter hanya tersenyum saja. Lalu dirinya berpamitan pergi kepada Akmal. Sedangkan Akmal masih meminimalisir rasa keterkejutannya itu.


"Hamil? Cyra sedang hamil? Itu artinya? Aku akan punya anak sendiri dari Cyra?"


Akmal masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sang dokter. Sedang Cyra saat ini masih belum sadarkan diri dari pingsannya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2