IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
PERSIAPAN


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu. Semua sahabat sudah pada bahagia dengan pasangannya masing-masing.


Hamzah dan Misha dengan baby Abbiyya. Abraham dan Kalila masih menikmati masa-masa pengantin baru. Begitupula dengan Deena bersama Fadli yang baru saja menikah dan masih hangat-hangatnya. Tinggal Cyra dan Akmal saja yang masih OTW halal.


Semua orang berharap dan berdoa. Jika niat baik Akmal untuk mempersunting Cyra bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apa-apa.


Tidak terasa masa iddah Cyra cuma tinggal satu minggu lagi. Dan itu membuat Akmal semakin tidak tenang saja pikirannya, plus pekerjaannya di kampus entah kenapa tumben banyak sekali.


Dua minggu sebelumnya. Akmal sudah sangat sibuk sekali. Hingga dirinya jarang berkomunikasi dengan Cyra. Sampai sekarang pun dirinya masih sibuk.


Sedang sibuk di depan laptopnya seperti biasanya. Tiba-tiba atensinya teralihkan ke arah ponsel yang ada di sebelah laptop yang ternyata ada sambungan telepon dari abi Rasyid.


Sejenak Akmal meninggalkan pekerjaannya untuk mengangkat sambungan teleponnya itu. "Halo Abi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Nak. Kamu sedang apa?" jawab abi Rasyid.


"Sedang di rumah mengerjakan tugasnya anak-anak Abi."


Abi Rasyid merasa tidak enak. "Oh? Emm! Apakah Abi mengganggumu?"


"Tidak. Ada apa Abi menelpon Akmal?" tanya Akmal.


Abi Rasyid langsung saja mengutarakan niatnya. Untuk apa dirinya menghubungi Akmal saat ini, kalau bukan masalah pernikahan.


"Baiklah. Akmal mengerti Abi."


"Ingat ya Nak! Pernikahan kalian cuma tinggal dua minggu lagi ya. Insyaallah sebagian sudah Abi dan ayah kamu kerjakan."


Hati Akmal bergetar teringat jika dirinya sebentar lagi akan menikah dengan Cyra. "Iya Abi. Akmal ingat ko." Akmal tersenyum sendiri.


"Kalau begitu. Abi tutup dulu teleponnya ya Nak. Kamu kembalilah selesaikan pekerjaanmu itu."


"Iya Abi. Assalamu'alaikum."


Abi Rasyid langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam." Dan akhirnya sambungan teleponnya terputus juga.


Akmal tersenyum lagi. Lalu dirinya berjalan ke arah kalender yang tertempel rapi di dinding kamarnya sebelah meja kerjanya. Sejak malam lamaran itu. Dirinya selalu melingkari setiap angka di dalam kalender setiap harinya.

__ADS_1


Akmal tersenyum, sambil mengusap kalender miliknya. "Empat belas hari lagi. Semoga apa yang aku mimpikan berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apa-apa."


Pandangannya teralihkan lagi ke ara ponsel yang terdengar ada pesan masuk. "Dari Cyra," ucap Akmal


Akmal tentu saja langsung membuka pesan masuk tersebut dan membacanya. "Kak! Jangan lupa istirahat dan makannya jangan telat lagi seperti kemarin ya. Nanti jatuh sakit lagi. Membuat Cyra menjadi khawatir."


Akmal kemarin memang pernah jatuh sakit selama dua hari, karena telat makan dan kurang istirahat. Dan hal itu membuat Cyra sangat khawatir sekali.


Mendengar kabar jika Akmal sedang sakit. Hati Cyra seperti memberontak ingin melihat keadaannya. Tapi apalah daya, dirinya belum bisa bertemu dengannya. Dan yang bisa Cyra lakukan terus cerewet lewat pesan dan telepon untuk mengingatkan Akmal jangan lupa makan dan lain-lainnya.


Akmal tidak marah. Sedang sakit malah diceramahi Cyra. Justru dirinya merasa senang sekali melihat Cyra perhatian kepadanya.


Tidak bisa Cyra bohongi. Jika dirinya sudah benar-benar terjatuh ke dalam cinta Akmal yang begitu tulus kepadanya. Dan semakin ke sini. Cyra semakin yakin untuk melangkah bersama Akmal membina rumah tangga dengannya.


Akmal tersenyum lagi membaca pesan dari Cyra. "Iya Bidadariku. Kakak baru saja makan ko. Maafkan Kakak ya! Kemarin sudah membuatmu khawatir."


"Iya Abu. Aiza kangen Abu," Cyra sambil mengirimkan fotonya baby Zahwa.


"Makin cantik saja anak Abu. Jadi tidak sabar ingin kumpul bertiga sebagai keluarga kecil yang bahagia."


"Aamiin," setelahnya Akmal memilih tidak membalasnya lagi. Karena dia ingin melanjutkan pekerjaannya yang masih kurang banyak.


Pekerjaan yang kurang banyak dan dirinya juga disibukkan dengan urusan pernikahannya yang semakin dekat. Serta urusan toko sparepart miliknya dan ke dua butik milik sang kakak. Semua itu membuat Akmal tidak sadar. Jika pernikahannya dengan Cyra cuma tinggal menghitung hari saja.


"Nak!" suara seseorang sedang memanggilnya dari balik pintu kamarnya.


Akmal tentu saja langsung segera bergegas membukanya. "Eh Mama."


"Kemarin itu yang kamu pesan jangan lupa diambil ya. 'Kan jadinya katanya hari ini?"


Akmal menepuk dahinya karena lupa. "Terimakasih Ma sudah diingatkan. Akmal benar-benar lupa."


"Sudah sana siap-siap dulu. Nanti diambil sama mamang saja ya. Biar urusan rumah, ayah sama Mama saja yang mengurus."


Akmal mengacungkan ibu jarinya. "Siap Mama."


Akmal pun langsung bersiap-siap, untuk mengambil barang yang sudah dipesannya untuk menunjang kelangsungan pernikahannya dengan Cyra.

__ADS_1


Beralih ke Cyra. Cyra sendiri semakin gugup saja menjelang hari pernikahannya. Walau ini bukan pernikahan pertama baginya. Tetap saja ada perasaan berdebar yang sejak kemarin dirasakannya.


"Apa kamu gugup Cyra?" tanya umma Nada yang melihat Cyra tidak tenang.


Cyra pun mengangguk. "Iya Umma."


"Ada banyak sesuatu yang Cyra pikirkan. Dan rasanya ada trauma tersendiri di dalam hati, Umma. Cyra takut, jika pernikahan ke dua ini tidak sesuai yang Cyra inginkan."


Umma Nada tersenyum. Dan dirinya sangat mengerti sekali apa yang sedang dirasakan oleh sang putri saat ini.


"Pasrahkan semuanya kepada Allah, Nak. Karena semua itu sudah menjadi ketetapan-NYA."


"Apa yang kamu impikan adalah hal yang wajar yang diinginkan oleh semua orang. Terutama bagi kaum perempuan. Tapi percayalah Nak. Allah memberikanmu ujian karena DIA ingin mengangkat derajatmu atau membuatmu mendapatkan yang jauh lebih baik dari sebelumnya." lanjut lagi ucapan umma Nada.


Cyra menggenggam erat tangan sang umma. "Terimakasih ya Umma. Terimakasih atas semuanya. Berkat Umma dan abi, Cyra bisa menjalani ini semua."


"Cyra banyak belajar dari semua ini. Semoga dengan kejadian yang terjadi di hidup Cyra. Bisa membuat Cyra semakin tambah dewasa dan menjadi istri serta ibu yang baik untuk suami dan anak-anak Cyra nantinya."


Umma Nada mengusap pipi Cyra dengan lembut. "Aamiin. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan abi dan Umma juga, Nak."


"Siapapun pilihan hatimu. Jika ia laki-laki yang baik dan sholeh. Pasti abi dan Umma akan merestuinya. Dan jadilah istri yang berbakti kepada suami. Terimalah gajinya dengan tulus ikhlas dan penuh terimakasih. Karena itu akan membuat keberkahan untuk keluargamu kelak dan insyaallah akan terhindar dari yang namanya berantem."


Cyra memeluk umma Nada dengan erat sekali, ketika mendapatkan nasihat yang sangat menyentuh hatinya.


Sekarang dirinya akan semakin memantapkan diri supaya pantas bersanding dengan Akmal yang sudah mencintainya sejauh ini.


Yang namanya takdir tidak ada manusia yang bisa mengingkarinya. Walau dia akan bersembunyi ke dalam lubang yang terdalam sekalipun.


Semoga yang diimpikan oleh Cyra dan Akmal, bisa terwujud dengan lancar tanpa adanya halangan yang berarti dari sekitar. Dan lagi pula, pernikahan Akmal dan Cyra sudah tersebar ke mana-mana. Semua keluarga besar masing-masing sudah mengetahui itu semua.


Yang namanya manusia pasti tidak akan jauh dari omongan pedas dan buruk maupun baik. Ada yang biasa saja mendengar Cyra dan Akmal akan menikah. Pastinya ada pula yang menghujat atau mendukung mereka berdua.


Secara agama. Jika Akmal dan Cyra ingin menikah. Hukumnya sah-sah saja. Dan orang yang menghujat, biasanya mereka yang tidak mendalami ilmu agama.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2