IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KEJUTAN AGAIN


__ADS_3

"Cyra ijin ke luar ya Abu. Abu tidurlah lagi saja," begitulah ucapan Cyra kepada Akmal.


Akmal pun hanya mengangguk dan tersenyum lemah saja. Sebab dirinya benar-benar merasa lemas dan juga pusing. Untung saja Akmal sakitnya sekarang setelah acara sudah selesai. Jika kemarin dia jatuh sakit. Bisa beda lagi ceritanya.


Cyra pun lalu ke luar dari dalam kamar sambil menggendong baby Zahwa, yang sudah bangun dari tidurnya, tapi belum mandi.


Ketika sudah sampai di lantai bawah. Cyra tidak sengaja berpapasan dengan sang abi.


"Tadi Akmal ko tidak ikut sholat subuh berjamaah di masjid kenapa Cyra?"


"Kak Akmal sakit Abi. Badannya semalam panas sekali."


Abi Rasyid terkejut mendengarnya. "Sekarang apakah dia tidur lagi?"


Cyra cuma mengangguk saja. "Titip Aiza sebentar ya Abi. Cyra mau memasakkan sesuatu untuk kak Akmal."


Abi Rasyid lalu mengambil alih baby Zahwa dari gendongannya Cyra. Setelahnya Cyra langsung berlalu menuju ke dalam dapur.


"Sama Kakek dulu ya sayang. Ayo kita main di ruang keluarga."


Abi Rasyid mengajak baby Zahwa untuk duduk bersantai di ruang keluarga. Dan tidak lama ayah Rafiq pun datang.


"Ko Zahwa sama kamu Rasyid? Mana Akmal dan Cyra?"


"Kata Cyra, Akmal sedang sakit. Semalam badannya panas. Sekarang masih tidur lagi," ayah Rafiq mengangguk-anggukan kepalanya saja.


Beralih ke Cyra. Ketika Cyra baru saja masuk ke dalam dapur. Dia dikejutkan dengan umma Nada dan mama Jian yang sedang asik masak berdua dibantu oleh para bibi.


"Lho Nak! Kenapa ke sini? Mana Zahwa?" tanya mama Jian.


"Lagi sama Abi, Ma."


"Lalu kamu ke sini mau apa? Biar Umma sama mama kamu saja yang memasak."


"Cyra mau memasak masakan kesukaannya kak Akmal sekalian mau bikin bubur. Kak Akmal semalam badannya panas Umma, dan wajahnya juga terlihat pucat. Sekarang dia, Cyra suruh tidur lagi, Umma."


Umma Nada dan mama Jian cukup terkejut mendengar Akmal sedang sakit.


"Nak Akmal sedang sakit?"


Cyra langsung menganggukkan kepalanya. "Iya Umma."


"Untung saja sakitnya ketika acara sudah selesai," ucap mama Jian.


"Akmal memang dari kemarin sangat sibuk sekali. Bahkan tidurpun terlalu larut. Kalau nggak jam dua ya jam tiga pagi. Nanti bangunnya pasti kesiangan dan jadinya sholat subuh pun lebih sering di rumah."

__ADS_1


Cyra menjawab sambil menyiapkan bahan-bahan yang ingin dimasaknya. "Kak Akmal ternyata sudah berusaha keras untuk membahagiakan Cyra."


"Iya Nak. Mama jujur senang sekali akhirnya kamu bisa menikah dengan anak ke dua Mama. Dan jika ada yang berani nyinyir sama kamu. Mama yang akan menghadapinya!" mama Jian berapi-api.


Mendengar ucapan mama Jian. Cyra tersenyum sambil memeluk mama mertuanya dengan penuh rasa sayang. Sedangkan umma Nada juga ikut senang. Karena sang putri bisa mendapatkan mertua yang baik dan penyayang.


Akhirnya, mereka bertiga memasak bersama dengan masakan mereka masing-masing. Kapan lagi coba bisa masak bersama seperti itu. Penuh keseruan dan kebersamaan yang mereka rasakan ketika memasak bersama.


Ketika Cyra sudah selesai membuatkan bubur dan selesai memasak masakan kesukaannya Akmal. Dia langsung saja menghidangkannya di atas meja makan. Begitupun dengan masakan dari para mama. Setelahnya, Cyra berlalu menuju ke dalam kamar untuk membangunkan Akmal.


Pintu kamar sudah terbuka. Cyra langsung melihat Akmal tertidur lelap dengan posisi miring menghadap pintu.


Cyra mendekat, lalu mengusap pipinya dengan lembut. "Abu. Abu bangun yuk. Sarapan dulu. Biar badannya ada tenaga."


Akmal menggenggam tangan Cyra dengan lembut. "Iya baiklah," sambil mencium telapak tangan Cyra.


Dengan perlahan. Akmal turun dari atas ranjang dengan keadaan lemas. Dirinya bersama Cyra lalu keluar dari dalam kamar menuju ke ruang makan sambil bergandengan tangan dengan mesra.


"Badan Abu masih hangat,"


Akmal tersenyum. "Lihat senyumanmu dan Aiza. Rasa sakit ini tidak akan ada lagi rasanya."


Sesampainya di ruang makan. Ternyata semua orang sudah pada duduk di kursinya masing-masing.


Akmal yang sudah duduk di kursi yang ujung sendiri lalu tersenyum. "Tidak apa-apa ko Umma. Cuma kecapean saja."


"Makan yang banyak Nak. Atau jangan-jangan kamu sakit karena semalam baru malam pertama dengan Cyra," goda mama Jian.


Mata Akmal dan Cyra langsung melotot sangat lebar sekali. Karena merasa malu digoda seperti itu oleh sang mama.


"Cyra sedang datang bulan ko Ma."


"Iyah! Kasihan sekali anak Mama. Sudah sakit tidak bisa tersalurkan pula."


Candaan dari mama Jian sukses membuat pipi Akmal terlihat merah sekali. Kontras dengan wajahnya yang sedikit pucat.


"Sudahlah Mama. Jangan Mama ganggu Akmal terus. Lihatlah! Dia malu hingga pipinya memerah." Ayah Rafiq ternyata sama saja.


Semua orang langsung tersenyum dan merasa lucu melihat wajah Akmal yang memerah seperti itu. Dan baru kali ini mereka melihat Akmal merasa malu seperti sekarang. Hingga pipinya memerah begitu.


Akmal tidak mau menanggapi candaan dari sang mama dan sang ayah. Dia memilih menikmati bubur buatan Cyra dan makanan yang sudah dimasakkan khusus oleh sang istri untuknya.


Pagi itu. Mereka semua menikmati sarapan dengan bahagia dan suasana yang baru sebagai keluarga yang utuh.


Baby Zahwa yang sedang berada di kursi duduknya sendiri seperti memperlihatkan gestur ingin digendong oleh Akmal. Bahkan baju yang dipakai oleh Akmal ditarik-tarik dengan tangan kecilnya.

__ADS_1


Akmal yang melihat merasa gemas sekali. "Anak Abu mau digendong Abu ya? Abu lagi sakit Sayang. Sama umi dulu ya Sayang."


Cyra lalu mengambil baby Zahwa dari kursi duduknya dan memangkunya. "Sama Umi dulu ya Sayang. Nanti kalau Abu sudah sembuh, Aiza boleh main lagi ko sama Abu."


"Oh ya Nak. Setelah sarapan, Ayah sama mama mau pamit pulang ke rumah."


"Abi juga Cyra. Karena nanti siang, Abi ada shif di rumah sakit."


Cyra mengangguk. "Iya Ayah, Abi. Kalian hati-hati di jalan."


"Terimakasih Abi, Ayah. Sudah membantu jalannya acara pernikahan Akmal dan Cyra. Hingga bisa berjalan dengan lancar seperti kemarin."


"Nanti sebelum pulang. Duduklah dulu di ruang keluarga. Ada yang ingin Akmal sampaikan kepada kalian semua."


Walau merasa bingung dan juga penasaran. Para orang tua pun tetap menyetujui ucapannya Akmal. Dan saat ini mereka semua sudah pada duduk santai di ruang keluarga setelah sarapan, sambil menunggu Akmal yang sedang masuk ke dalam kamar kembali.


Sesampainya di ruang keluarga. Akmal lalu memberikan empat tiket sekaligus kepada ke dua orang tuanya dan ke dua mertuanya.


"Ini apa Nak?" tanya abi Rasyid.


"Itu tiket umroh untuk kalian semua Abi."


"Masyaallah. Tabarokallah. Ini beneran kamu mengumrohkan kami berempat, Nak?" umma Nada merasa terharu sekali.


Walau mereka semua sudah pernah umroh. Tapi ketika mendapatkan kesempatan untuk menunaikan ibadah suci itu lagi. Hati mereka bergetar dan merasa terharu dengan hadiah yang Akmal berikan kepadanya.


Akmal menganggukkan kepalanya. "Iya Umma. Itu sebagai ungkapan rasa syukur Akmal. Atas nikmat yang sudah Allah berikan kepada Akmal."


Umma Nada menangis terharu. "Masyaallah."


"Apakah kamu dan Cyra juga akan ikut umroh bersama kami, Akmal?" tanya ayah Rafiq.


"Tidak! Nanti saja Ayah. Jika umur Aiza sudah lebih besar lagi."


"Lalu kami akan berangkat kapan ini Nak?" tanya abi Rasyid.


"Dua minggu lagi Abi. Semuanya sudah Akmal siapkan. Kalian berempat tinggal berangkat saja."


Abi Rasyid tiba-tiba berdiri dari duduknya. Dan langsung memeluk Akmal dengan erat sebagai ungkapan terimakasih kepadanya.


Cyra tersenyum manis dibalik niqabnya. Dan dia merasa bangga, melihat kejutan luar biasa yang sudah sang suami berikan kepada ke dua orang tuanya dan juga mertuanya.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2