
Malam harinya, Akmal yang biasanya tidak terlalu sibuk dengan ponselnya, dia pun sekarang sering memegangi ponselnya, karena dia sedang sibuk berbalas pesan dengan Aalifa.
Akmal merasa nyambung dengan Aalifa, karena Aalifa tidak seperti wanita yang sering mengejarnya.
Jika Akmal menilai, Aalifa hampir sebelas dua belas dengan Crya, dan tanpa Akmal sadari, jika dirinya masih belum bisa jauh dari bayang-bayang Cyra.
" Sudah malam, Kakak mau tidur dulu Cyra ," balas Akmal.
" Eh, lho ko Cyra,? mati aku!! ," kata Akmal.
Akmal langsung saja buru-buru menghapus pesan tersebut untuk semua orang, supaya Aalifa tidak merasa curiga kepadanya.
" Ko dihapus Kak? ," balas Aalifa beberapa menit kemudian.
" Eh, tadi salah kirim ," balas cepat dari Akmal.
" Em, ini sudah malam, Kakak mau tidur dulu, kamu juga tidur ya, jangan tidur malam-malam ," balas Akmal lagi.
" Iya Kak, ini Aalifa juga baru selesai berwudhu, Kakak jangan lupa baca doa sebelum tidur ya ," balas Aalifa.
" Assalamu'alaikum ," salam dari Aalifa.
" Iya, Wa'alaikumussalam ," balas Akmal.
Akmal merasa sangat lega sekali, karena Aalifa belum sempat membaca balasan pesan darinya, dan sekarang dia sedang mengusap dadanya sambil menetralkan nafasnya.
Akmal yang sudah menunaikan sholat isya', dia pun mencoba memejamkan matanya, dan sama seperti sebelumnya, Akmal akan terbangun tengah malam untuk menunaikan sholat tahajud, witir dan sholat hajat.
Di dalam doanya, masih sama seperti malam-malam sebelumnya, Akmal meminta diberikan petunjuk, siapakah jodohnya yang sebenarnya, sebab hati masih belum terlalu yakin dengan Aalifa.
Akmal berdoa sangat khusuk sekali, hingga tanpa dia sadari, sudah hampir dua jam dia sholat dan bermunajat kepada Allah Sang Pencipta Alam.
Melihat jam masih menunjukkan pukul setengah empat pagi, Akmal memilih memejamkan matanya lagi, sambil menunggu adzan subuh berkumandang.
Di dalam tidurnya yang singkat itu, Akmal bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat indah sekali, dan Akmal melihat seorang wanita sedang duduk membelakanginya di kursi taman.
Ketika Akmal mendekat untuk melihat wajah dari wanita tersebut, Akmal dibuat sangat terkejut sekali, sebab wanita itu adalah Cyra, dengan niqob yang selalu di pakainya.
" Kak Akmal ," kata Cyra sambil tersenyum manis sekali.
Walau Cyra memakai niqob, tetap saja Akmal tahu, jika Cyra sedang tersenyum manis kepadanya.
Seketika, Akmal langsung terbangun dari tidurnya, dan bersamaan itu pula, dirinya mendengar kumandang adzan subuh dari dalam ponselnya.
" Astaghfirullah, mimpi apa aku tadi?? ," kata Akmal sambil mengusap wajahnya.
" Kenapa yang aku mimpikan Cyra, bukanlah Aalifa ," kata Akmal lagi.
__ADS_1
Jantung Akmal masih berdebar cukup kencang karena mimpi tadi, dan di saat dirinya sedang menetralkan detak jantungnya, tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
" Iya sebentar ," kata Akmal.
Akmal lalu beranjak turun dari atas ranjang untuk membukakan pintunya, yang ternyata ada sang Kakak.
" Ayo ke masjid Akmal ," kata Mirza.
" Iya Kak, sebentar, Akmal mau mengambil peci dulu ," jawab Akmal dan Mirza hanya mengangguk saja.
Akmal, Mirza dan Ayah Rafiq pun seperti biasanya, mereka bertiga menunaikan sholat subuh berjamaah di masjid.
Ketika sarapan, Akmal yang masih terbayang-bayang tentang mimpinya, malah tidak sadar dirinya diam-diam memperhatikan Cyra yang sedang bermesraan dengan sang Kakak.
" Mungkin tadi hanya bunga tidur, yang tidak seharusnya aku mimpikan ," kata batin Akmal.
Akmal pun lalu mencoba bersikap biasa saja dan menjalani harinya seperti biasanya.
Ketika berada di kampus, Akmal yang sedang mengajar, merasa jika ponselnya sedang bergetar di dalam saku celananya, dan di saat ada kesempatan, Akmal mencoba melihat siapakah yang sedang mengirimkan pesan kepadanya.
" Assalamu'alaikum Kak, Kak Akmal sedang apa?? ," salam dari Aalifa.
" Wa'alaikumussalam, ini Kakak sedang mengajar Aalifa ," balas Akmal.
" Kak Akmal seorang guru ya?? ," tanya Aalifa.
" Masyaallah, hebat sekali Kak Akmal ," balas Aalifa.
" Alhamdulillah ," balas Akmal.
" Kamu sendiri sedang apa Aalifa,? apa tidak bekerja? ," tanya Akmal.
" Bekerja Kak, cuma tidak terlalu sibuk juga ," jawab Aalifa.
" Iya sudah, Kakak mau melanjutkan lagi ya mengajarnya ," balas Akmal.
" Iya Kak, semangat ," balas Aalifa sambil menambahi emoticon semangat dan senyum manis.
Akmal tidak menjawab apa-apa, cuma membalas dengan memberikan emoticon senyum simple yang meneduhkan.
Ketika jam pulang ke rumah, di saat dirinya sudah selesai mengajar, di waktu Akmal berhenti di lampu merah, tidak sengaja matanya melihat ada plang biro jasa haji dan umroh.
Entah kenapa, tiba-tiba Akmal menjadi kepikiran ingin menunaikan ibadah umroh.
Hati Akmal seperti tergerak, ketika melihat tulisan umroh, padahal biasanya, dia hanya memandangnya sekilas saja tulisan umroh di plang tersebut.
" Apakah aku harus umroh, untuk menghilangkan kegundahan hatiku?? ," kata Akmal bertanda tanya sendiri.
__ADS_1
" Akan aku pikirkan dulu ," kata Akmal.
Akhirnya, mobil yang Akmal kendarai sampai juga di rumah sang Ayah.
Empat hari tidak terasa sudah berlalu dari hari ketika Akmal berkunjung ke rumah Aalifa. Dan malam ini di rumah Ayah Rafiq sudah banyak barang-barang hantaran yang nantinya akan mereka serahkan kepada Aalifa.
Saat ini Akmal sedang termenung di pinggir jendela kamarnya, dengan ke dua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya.
Di saat sedang asik termenung, telinga Akmal mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar, dan ketika sudah di buka, ternyata sang Kakaklah pelakunya.
" Ada apa Kak?? ," tanya Akmal.
" Ini barang yang kamu cari, tadi tidak sengaja ditemukan sama Mama ," jawab Mirza.
" Oh ya, terimakasih Kak ," kata Akmal.
" Iya sama-sama ," jawab Mirza.
" Emm, bolehkah Kakak berbicara berdua saja denganmu Akmal?? ," tanya Mirza.
" Boleh, ayo silahkan masuk Kak ,'' jawab Akmal.
Mirza pun lalu masuk ke dalam kamar si Akmal dan langsung duduk di pinggir ranjang milik Akmal.
" Ada apa Kak?? ," tanya Akmal.
" Apakah kamu bahagia Akmal dengan perjodohan ini?? ," tanya balik dari Mirza.
" Kenapa Kakak bertanya seperti itu,? apakah wajah Akmal terlihat tidak bahagia?? ," kata Akmal.
Dan Mirza langsung mengangguk membenarkan perkataan dari sang adik.
" Entahlah Kak, Akmal belum tahu rasa ini akan berlabuh dengan siapa, namun yang pasti Akmal ingin menjalani perjodohan ini terlebih dahulu ," kata Akmal lagi.
" Jika kamu sudah mengambil keputusan ini, pesan Kakak, jalani dengan bersungguh-sungguh, jangan sakiti Aalifa, bimbing dia menuju ke surganya Allah, kelak ketika dia menjadi istrimu ," pesan Mirza.
" Iya Kak, pasti, dan Kakak salah satu panutanku, untuk menjadi imam rumah tangga yang baik dengan istri ," jawab Akmal.
" Iya sudah, Kakak mau tidur dulu, jangan terlalu dipikirkan, berdoalah kepada Allah, perbanyak sholat tahajud untuk meminta petunjuk, siapakah jodoh kamu yang sesungguhnya, sebelum semuanya terlambat ," kata Mirza sambil menepuk pundak Akmal.
" Iya Kak ," jawab Akmal.
Mirza pun hanya mengangguk saja dan dia langsung berlalu ke luar dari dalam kamar Akmal.
" Andai Kakak tahu, jika gadis yang aku inginkan sudah menjadi istri Kakak ," kata batin Akmal sambil memandangi pintu kamarnya yang sudah tertutup dari luar.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...