
Sedangkan beralih ke Cyra lagi, setelah menerima telepon dari Kalila tadi, Cyra memilih membaca buku sebentar, sambil menikmati buah-buahan yang sudah diambil sebelumnya, setelah capek membaca buku, Cyra memilih untuk tidur siang.
Sekitar jam setengah tiga sore, Cyra yang sedang asik tertidur, tiba-tiba mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar, dan ketika sudah dibuka oleh Cyra, ternyata Akmal yang mengetuknya.
" Baru bangun tidur ya?? ," tanya Akmal, karena Akmal melihat Crya sedang mengucek matanya.
" Iya Kak, ada apa Kakak mengetuk pintu kamar Cyra?? ," tanya Cyra.
Semenjak Akmal sudah bertunangan dengan Aalifa, Cyra sudah bisa bersikap biasa saja dengan Akmal, begitupula dengan Akmal yang sudah tidak terlalu memperhatikan Cyra, walau belum bisa sepenuhnya sih.
" Dan Kakak apakah baru pulang dari kampus?? ," tanya Cyra.
" Iya, Kakak baru saja pulang dari kampus ," jawab Akmal.
" Itu, tadi Mama menyuruh Kakak untuk menyampaikan kepadamu, jika Kak Mirza akan pulang sedikit terlambat, karena sedang rapat, dan katanya nomor ponsel kamu tidak bisa dihubungi, makanya Kak Mirza menelpon lewat telepon rumah ," kata Akmal lagi.
" Astaghfirullah ," kata Cyra langsung mengambil ponselnya, dengan Akmal yang masih berdiri di depan pintu kamar.
" Astaghfirullah, ponsel Cyra mati Kak, lupa belum di charger ," kata Cyra kepada Akmal.
" Iya sudah di charger dulu, cuma itu yang ingin Kakak sampaikan kepadamu ," kata Akmal.
" Terimakasih Kak ," kata Cyra.
" Iya sama-sama ," jawab Akmal sambil tersenyum.
Walau status mereka, Cyra adalah Kakak iparnya Akmal, tapi Akmal tidak pernah sedikitpun menganggap Cyra sebagai Kakak iparnya, melainkan sebagai adiknya sendiri yang harus dia sayangi.
Aneh, ya memang itulah yang Akmal rasakan, status dia pun memang sudah bertunangan dengan Aalifa, tapi yang namanya cinta pertama, tidak akan bisa langsung disingkirkan dan digantikan oleh orang lain.
Itu artinya, nama Cyra masih berada di dalam hati Akmal, mungkin bersanding dengan nama Aalifa.
Pasti masih ada rasa, walau cuma sedikit saja di dalam dada. Apalagi Akmal dan Cyra berada di dalam satu rumah yang sama, yang setiap saat, setiap waktu dan setiap momen, akan selalu bertemu bahkan bersama.
Setelah itu, Akmal pun lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri yang tidak jauh dari kamar sang Kakak.
Akmal yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dia langsung saja melepaskan kemeja yang dipakainya, dan dia memilih 63rt3l4n74n9 dada saja untuk menghilangkan keringat sebelum mandi.
Sedang asik duduk di pinggir ranjang, sambil berbalas pesan dengan Aalifa, tiba-tiba Akmal mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
Dengan santainya, Akmal pun lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya, yang ternyata itu adalah Cyra.
" Astaghfirullah ," kata Cyra yang melihat Akmal 63rt3l4n74n9 dada saja.
__ADS_1
Cyra tentu saja langsung memalingkan mukanya dan merasa risih serta malu melihat Akmal sedang 63rt3l4n74n9 dada.
" Eh, Cyra ," kata Akmal sedikit terkejut dan cukup malu.
Padahal sebelum ada Cyra dulu, Akmal santai saja 63rt3l4n74n9 dada di dalam rumah, tapi sekarang dia harus membatasinya.
" Ada apa Cyra?? ," tanya Akmal berusaha santai saja.
" Emm, bolehkah Cyra meminta tolong Kak ," kata Cyra sambil menunduk.
" Mau minta tolong apa Cyra?? ," tanya Akmal.
" Lampu kamar mandi Cyra mati Kak, tolong gantikan sebentar ," jawab Cyra.
" Oh, iya, nanti akan Kakak gantikan ," jawab Akmal.
" Sebentar, Kakak mau pakai baju dulu ," kata Akmal lagi.
Cyra hanya mengangguk saja, dan dia lalu langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Cyra biasanya meminta tolong juga kepada sang Mama mertua, untuk menemaninya ketika sedang meminta bantuan Akmal.
Hanya saja, saat ini sang Mama mertua alias Mama Jian sedang pergi ke supermarket, jadi alhasil Cyra terpaksa harus berduaan saja dengan Akmal.
Karena mereka cuma berdua saja di dalam kamar, apalagi mereka bukan mahram, Cyra sengaja membuka pintu kamarnya secara lebar-lebar.
Akmal yang sudah disuruh masuk oleh Cyra, dia lalu masuk sambil membawa tangga yang sudah dia ambil sebelumnya.
" Apakah ada yang bisa Cyra bantu Kak?? ," tanya Cyra.
" Tolong pegangin saja tangganya ya ," jawab Akmal.
Cyra pun menurut, dia lalu memegangi tangganya supaya Akmal tidak terjatuh, dan Akmal yang sudah naik ke atas tangga, segera mengganti lampu kamar mandi dengan yang baru.
Setelah selesai, Akmal pun mencoba turun ke bawah, eh tidak tahunya, dia malah tidak sengaja menginjak tangan Cyra, hingga Cyra mengaduh kesakitan.
" Astaghfirullah, maaf Cyra, Kakak tidak sengaja ," kata Akmal merasa terkejut.
Akmal bahkan sampai reflek memegang tangan Cyra, untuk melihat tangan yang diinjaknya tadi. Dan Cyra pun juga tidak sadar hanya diam saja, ketika tangannya dipegang seperti itu oleh Akmal.
" Merah tangannya, sebentar, ini harus segera dikasih minyak, biar tidak bengkak ," kata Akmal.
Cyra hanya diam saja, dan Akmal lalu mengambil kotak P3K milik sang Kakak yang dia tahu di mana letaknya.
__ADS_1
Ketika minyak yang dia cari sudah Akmal dapatkan, dia lalu duduk di samping Cyra, yang sedang duduk di pinggir ranjang.
" Sini tangannya, biar Kakak olesi minyak, sekalian Kakak p174t perlahan ," kata Akmal.
Lagi dan lagi Cyra tidak sadar, dia malah memberikan tangannya untuk Akmal p174t.
Tangan Cyra lalu Akmal olesi dengan minyak, setelahnya, Akmal pun m3m174t pergelangan tangan Cyra dengan lembut.
Baik Cyra dan Akmal, mereka berdua belum sadar dengan apa yang sekarang mereka lakukan, bahkan duduknya pun mereka cukup dekat sekali.
Cyra yang sekilas mencium aroma parfum milik Akmal, barulah dia tersadar, jika sekarang yang memegang tangannya bukanlah sang suami, melainkan laki-laki lain.
" Astaghfirullah, biar Cyra sendiri Kak, terimakasih atas bantuannya ," kata Cyra langsung menarik tangannya.
" Astaghfirullah, maafkan Kakak, Cyra, Kakak tidak bermaksud ....?? ," perkataan Akmal terhenti karena disela oleh Cyra.
" Iya Kak, tidak apa-apa, Cyra mengerti, lagi pula Cyra juga bersalah ko ," kata Cyra.
" Nanti jika masih sakit, dipijat sendiri ya Cyra, kalau tidak bisa, minta tolong saja sama Kak Mirza ," kata Akmal.
" Maafkan Kakak, Kakak benar-benar tidak sengaja menginjak tangan kamu dan memegangnya tadi ," kata Akmal lagi.
" Tidak apa-apa Kak, namanya juga musibah ," jawab Cyra masih sambil menunduk untuk menghindari zina mata.
" Kalau begitu Kakak ke kamar dulu ya ," pamit Akmal, dan Cyra hanya mengangguk saja.
Akmal lalu ke luar dari kamar Cyra, sambil membawa ke luar tangga yang tadi untuk membenarkan lampu.
Ketika sudah menaruh tangga ke tempatnya semula, barulah Akmal masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, hati Akmal merasa gelisah sekali, ada rasa yang tidak bisa dia ungkapkan ketika melihat Cyra terluka seperti tadi.
Rasanya, dia seperti bisa merasakan rasa sakit yang sedang Cyra rasakan tadi.
" Ya Allah, kenapa perasaan ini selalu hinggap di hati hamba, padahal hamba sudah ada Aalifa, yang sebentar lagi akan menjadi istri hamba ," kata Akmal berbicara sendiri.
" Harus sampai kapan ya Allah, aku menyimpan perasaan ini yang rasanya sangat menyiksa hamba sekali ," kata Akmal lagi sambil mengusap wajahnya.
Sesak sekali hati Akmal, dan yang bisa dia lakukan sekarang, cuma pasrah kepada Allah, serta menjalani hari sesuai arus, seperti air yang sedang mengalir.
Karena pada hakekatnya, seberapa besar Akmal memberontak, jika garis takdir sudah menentukan, dia tetap tidak bisa berbuat apa-apa.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...