IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
TERKEJUT


__ADS_3

Akhirnya, mobil yang Mirza kendarai sampai juga di sebuah rumah mewah, yang Akmal yakini itu benar rumah Cyra yang dulu pernah mengantarkannya pulang walau hanya sekali.


Berusaha bersikap biasa saja, itulah yang sedang Akmal lakukan sejak tadi.


Mobil yang sudah terparkir rapi, membuat Akmal dan Mirza langsung ke luar dari dalam mobil.


Rumah Cyra sedang ada banyak orang, mungkin orang-orang itu yang akan membantu mendekor atau menyiapkan pernikahan Cyra dan Mirza nanti.


" Assalamu'alaikum ," salam Mirza kepada semua orang yang ada di situ.


" Wa'alaikumussalam ," jawab serempak dari semua orang.


" Ayo mari-mari masuk Nak Mirza, kamu sudah ditunggu Cyra sejak tadi ," kata salah satu saudara kepada Mirza.


Mirza hanya mengangguk saja sambil tersenyum sopan kepada saudara tersebut, begitupun dengan Akmal yang melakukan hal yang sama seperti Mirza tadi.


" Eh ada Nak Mirza sudah datang ," kata Umma Nada ketika melihat kedatangan Mirza.


" Umma ," kata Mirza sambil bersalaman dan mencium tangan Umma Nada.


" Ayo mari-mari silahkan duduk di dalam saja, di sini sedang berantakan ," ajak Umma Nada mengajak masuk ke dalam ruang Keluarga.


Akmal dan Mirza langsung mengikuti langkah kaki dari Umma Nada untuk masuk ke dalam ruang Keluarga.


Ketika sudah sampai di ruang Keluarga, mata mereka berdua langsung melihat Cyra sedang mengerjakan sesuatu bersama beberapa wanita, yang Mirza yakini jika mereka semua adalah saudaranya.


" Cyra, Nak Mirza sudah datang ," kata Umma Nada.


" Iya Umm ..... Pak Akmal?? ," jawab Cyra sangat terkejut melihat Akmal berjalan di belakang Mirza.


" Ayo silahkan duduk ," kata Umma Nada.


" Nak Mirza, dia siapa?? ," tanya Umma Nada sambil menunjuk Akmal, karena memang Umma Nada belum pernah melihat Akmal sama sekali.


Pernah melihat, cuma di dalam foto saja, dan Umma Nada sudah lupa.


" Dia Akmal, Umma, adik kandung Mirza yang ternyata Dosennya Cyra di kampus ," jawab Mirza.


" Waaaah, ko bisa kebetulan begini ya ," kata Umma Nada.


Untung saja Cyra memakai niqob, coba kalau tidak, wajahnya pasti akan terlihat jelas sekali, jika sedang terkejut melihat Akmal berada di rumahnya, di tambah lagi ternyata Dosen yang kemarin melamarnya adalah adik kandung dari calon suaminya sendiri.


Akmal sendiri terus menatap Cyra, dengan tatapan yang tidak bisa Cyra jabarkan dengan kata-kata.


Karena tatapan Akmal seperti menusuk kulit hingga ke pori-pori.

__ADS_1


" Se-sebentar, Cyra akan buatkan minum dulu ," kata Cyra.


Mirza hanya mengangguk sambil tersenyum super manis kepada Cyra, sedang Akmal, masih tanpa ekspresi dan terus memandangi Cyra.


Sepeninggal Cyra, Umma Nada mencoba mengajak berbicara Mirza tentang persiapan pernikahannya dengan Cyra.


Dan Akmal yang mendengar, masih berpura-pura bersikap biasa saja sambil memperhatikan rumah Cyra yang penuh dengan alat-alat penunjang pernikahan.


Tidak lama, akhirnya Cyra selesai juga membuat teh manis untuk Akmal dan Mirza.


Cyra lalu menghidangkan teh hasil buatannya tadi, di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetaran.


" Kak Mirza silahkan di minum ," kata Cyra.


" Terimakasih calon istriku ," jawab Mirza, dan Cyra tersenyum sangat malu dari biasanya, sebab ada Akmal di situ.


" Kak Akmal, silahkan tehnya ," kata Cyra juga kepada Akmal.


" Iya, terimakasih ," jawab Akmal sambil mengangguk.


Cyra yang gemetaran karena merasa malu dan juga terkejut, serta belum bisa menetralkan sikapnya, dia sampai tidak sengaja menyenggol teh yang akan dia berikan untuk sang Umma.


Alhasil tangan Cyra terkena cipratan air teh yang masih panas, hingga membuat Cyra mengaduh kesakitan.


" Cyra!! ," kata Mirza dan Akmal secara bersamaan.


Akmal yang tersadar karena keceplosan sebab merasa khawatir dengan Cyra, dia langsung mengurungkan niatnya untuk membantu Cyra dan memilih bersikap biasa saja lagi.


" Umma akan mengambilkan salep dulu untuk lukanya ," kata Umma Nada.


" Sini Cyra, Kakak lihat tangannya ," kata Mirza.


" Kita belum menjadi mahram Kak, dosa ," kata Cyra.


" Hmm, kalau begini ceritanya, Kakak semakin tidak sabar ingin segera menikah denganmu Cyra ," kata Mirza, dan Cyra reflek menatap ke arah Akmal, ketika Mirza berkata seperti itu kepadanya.


Ternyata Akmal juga sedang menatap ke arahnya, yang membuat Cyra semakin tidak nyaman saja dengan situasi saat ini.


Atensi Cyra, Akmal dan juga Mirza langsung teralihkan dengan kedatangan dari Umma Nada yang sudah datang sambil membawa salep untuk lukanya Cyra.


" Sini biar Umma bantu obati Cyra ," kata Umma Nada.


" Biar Cyra sendiri Umma, Cyra bisa ko ," jawab Cyra.


" Baiklah, kalau begitu Umma tinggal dulu, mau membantu yang lainnya, kamu temani Nak Mirza dan Nak Akmal ya Cyra ," kata Umma nada.

__ADS_1


" Iya Umma ," jawab Cyra.


" Nak Mirza, Nak Akmal, Umma tinggal dulu ," pamit Umma Nada.


" Iya Umma ," jawab Mirza dan Akmal hanya mengangguk sambil tersenyum saja.


Cyra langsung mengoleskan salep tadi ke tangannya yang sakit, supaya tidak melepuh atau memerah kulitnya.


" Pasti kamu kecapekan ya, makanya bisa sampai tidak konsentrasi begini ," kata Mirza mengajak berbicara Cyra.


" Iya Kak, Cyra daritadi belum beristirahat karena sibuk membantu yang lainnya ," jawab Cyra berbohong, padahal yang membuatnya begitu, karena Akmal terus memandanginya hingga membuat Cyra merasa grogi.


" Nah kan, kemarin Kakak di marahi ketika mengeluh capek, sekarang kamu sendiri malah kecapekan begini ," kata Mirza lagi, sedangkan Akmal memilih diam, saja tanpa ada niatan ingin ikut berbicara.


" Akmal, cerita dong, bagaimana Cyra jika dia sedang berada di kampus, pasti banyak sekali ya laki-laki yang mendekatinya ," kata Mirza tiba-tiba bertanya kepada Akmal.


" Apaan sih Kakak, jangan aneh-aneh deh tanyanya kepada Pak Akmal ," kata Cyra menegur Mirza.


" Cyra memang menjadi primadona di kampus Kak, karena dia terkenal sangat sholehah serta cerdas dan juga aktif di kegiatan sosial ," jawab Akmal.


" Bahkan, kemarin Cyra baru saja di lamar oleh seseorang, ketika akan di wisuda Kak ," kata Akmal sambil melirik Cyra.


Cyra sangat tahu sekali siapa yang sedang Akmal bicarakan sekarang.


" Oh ya, hmm, banyak sekali sih calon istriku ini di lamar oleh laki-laki lain, padahal Cyra sudah lama bertunangan dengan Kakak, tapi masih ada yang melamarnya ," kata Mirza.


" Tapi Kakak tenang saja, laki-laki itu di tolak ko sama Cyra, karena Cyra begitu mencintai Kakak ," jawab Akmal.


" Itu artinya Cyra memang ditakdirkan berjodoh dengan Kakak ," kata Mirza, sedangkan Cyra memilih diam saja sambil menundukkan kepalanya.


Bahkan jantung Cyra sekarang sedang tidak baik-baik saja, karena berada di antara Akmal dan juga Mirza.


Setelah puas berbincang, dan berada di dalam situasi yang kurang mengenakkan, akhirnya Mirza berpamitan pulang kepada Cyra beserta Umma Nada untuk kembali pulang ke rumah.


Di rumah tadi tidak ada Abi Rasyid, sebab Abi Rasyid sedang bertugas di rumah sakit, belum waktunya dia pulang.


Di sepanjang perjalanan pulang, Akmal tertawa sendiri di dalam hati.


Dia mentertawakan dirinya sendiri, karena sifatnya yang bodoh bisa mencintai gadis seperti Cyra, selama empat tahun lamanya, namun pada akhirnya hanya patah hati yang dia terima.


Sungguh empat tahun yang sia-sia untuk mencintai satu wanita, namun tidak kesampaian cintanya, karena sang wanita akan menikah dengan laki-laki lain.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2