IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
INSIDEN AGAIN


__ADS_3

Akmal, Cyra dan sang manajer butik hanya diam saja melihat pak Sahab menangis seperti itu. Mereka merasa kasihan. Namun rasa kecewa yang mereka rasakan lebih besar dari rasa iba yang ada di dalam dada.


"Mohon ampunlah kepada Allah, Pak. Karena Bapak sudah memberikan rejeki yang tidak halal kepada anak dan istri Bapak," ucap Cyra.


"Apakah istri Bapak tahu dengan apa yang Pak Sahab lakukan?" tanya Akmal.


Pak Sahab menganggukkan kepalanya. "Tahu Pak."


"Jika sudah tahu. Apakah istri Bapak tidak memberitahu atau menasihati Bapak. Jika perbuatan Pak Sahab itu salah!" Akmal sampai menggebrak meja karena merasa gemas.


Pak Sahab menjelaskan sambil menangis. "Sudah Pak. Istri saya sudah memberitahu saya. Tapi saya tidak mendengarkannya. Sebab kami sudah lelah ditagih dan diteror sama penagih hutang."


"Jika kami memperkerjakan Anda tanpa upah. Itu namanya kami sudah dzolim kepada Anda, Pak. Tapi kami juga sudah tidak bisa memperkerjakan orang seperti Bapak di butik kami. Jalan satu-satunya yang harus kami ambil ya melaporkan Anda ke polisi. Sebab ini sudah termasuk pencurian. Dan kami dirugikan dengan hal itu. Bahkan kami tidak rela."


Pak Sahab sangat ketakutan sekali mendengar ucapan Akmal yang akan melaporkannya ke pihak yang berwenang. "Mas Akmal. Ampun Mas. Tolong beri saya kesempatan satu kali lagi. Jangan laporkan saya ke polisi. Ampun Mas," berderailah air mata pak Sahab sangat deras sekali.


"Mbak Cyra. Maafkan saya. Tolong jangan masukkan saya ke penjara," pak Sahab mencoba membujuk Cyra.


"Saya tidak bisa membantu Bapak. Semua keputusan ada di tangan suami saya, Pak. Berdoalah saja. Semoga suami saya tidak memasukkan Anda ke dalam penjara," jawab Cyra.


Akmal yang mempunyai jiwa besar. Tidak tega dengan orang. Apalagi melihat pak Sahab yang menangis pilu dihadapannya. Membuat hatinya sedikit terbuka dan bergetar untuk memaafkan.


"Jika ada orang yang berbuat buruk atau jahat kepada kalian. Janganlah pernah kalian membalasnya, walau mereka sudah sangat keterlaluan sekali kepada kalian. Balasan yang tepat untuk orang yang sudah berbuat jahat kepada kita. Adalah dengan cara berbuat baik kepadanya. Sebab perbuatan baik adalah balasan yang sangat terpuji untuk membuat orang yang berbuat jahat kepada kita menjadi tercela. Jika orang yang kita baiki masih berbuat jahat kepada kita. Diamlah. Bersabar dan berserah diri-lah kepada Allah. Karena Allah pasti akan mendatangkan balasan yang setimpal kepadanya." Wallahu a'lam bish-shawabi.


"Baiklah! Saya tidak akan melaporkan Bapak ke polisi. Tapi Bapak harus menerima hukuman dari saya."


Wajah pak Sahab terlihat sedikit cerah mendengar ucapan tersebut. "Apapun hukuman yang akan saya terima. Saya siap menerimanya Mas Akmal."


"Saya akan tetap mempekerjakan Bapak. Tapi cuma menjadi cleaning service di butik ini. Dan gaji yang bapak terima akan saya potong lima puluh persen untuk membayar kerugian yang Bapak timbulkan. Bagaimana?"


Pak Sahab langsung menganggukkan kepalanya. "Saya mau Mas Akmal. Itu jauh lebih baik daripada saya masuk ke dalam penjara. Berapapun gaji yang akan Mas Akmal dan Mbak Cyra berikan kepada saya. Saya akan menerimanya dengan sepenuh hati."


"Tapi masih ada syarat lagi dari saya," ucap Akmal.

__ADS_1


Pak Sahab menjawabnya dengan mantap. "Apapun syaratnya saya akan mematuhinya Mas Akmal."


"Bapak tidak bisa keluar dari butik ini sampai kerugian yang Bapak timbulkan itu lunas terbayarkan. Dan jika Pak Sahab ketahuan melanggar ketentuan itu atau sengaja mengundurkan diri dari sini. Siap-siap penjara akan menanti Bapak walau Bapak sudah membayar setengahnya. Apa Bapak sanggup?"


"Jika Bapak tidak sanggup dengan persyaratan yang saya berikan. Silahkan ikut dengannya untuk masuk ke dalam penjara. Dan semua hutang Bapak yang sebesar lima ratus juta itu saya anggap lunas!" Akmal menunjuk sang manajer butik.


"Saya mau bekerja di sini kembali walau harus dibayar sedikit Mas Akmal. Daripada saya masuk ke dalam penjara. Kasihan anak dan istri saya."


"Walau saya tidak tahu kapan hutang saya itu lunas. Setidaknya saya sudah mencoba melunasinya," ucap pak Sahab lagi.


Akmal menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya. "Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan Pak Sahab."


"Ikut dengannya supaya bisa dibuatkan surat perjanjian hitam di atas putih," Akmal menunjuk sang manajer butik lagi.


"Tolong kamu buatkan berkas seperti apa yang saya mau. Dan jangan lupa materai enam ribu atau sepuluh ribunya. Setelah ditandatanganinya berikan kepada saya. Mengerti!"


Sang manajer butik langsung mengangguk. "Sangat mengerti Mas Akmal."


"Bagus! Sudah kalian cepat pergi dari sini. Dan mulai saat ini Pak Sahab sudah tidak bekerja lagi di bagian gudang."


Pak Sahab merasa malu dengan Akmal. Dirinya berjanji untuk memperbaiki diri. Dan bertekad untuk menyicil kerugian yang di alami di butik ini. Walau dirinya tidak tahu kapan lunasnya hutangnya tersebut.


Setelah menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh pak Sahab. Akmal dan Cyra sudah bisa bernafas lega. Saat ini cuma baby Zahwa yang mengobati kepenatan mereka dengan kelucuan yang dilakukannya.


"Semoga hukuman yang Abu berikan bisa membuat pak Sahab merasa jera."


Cyra lalu menjawab ucapan Akmal. "Aamiin. Semoga saja pak Sahab bisa berpikir lebih bijak lagi."


"Karena memang seharusnya pak Sahab dimasukkan ke dalam penjara. Tapi hati kecil Umi juga tidak tega untuk melakukan itu."


"Umi benar. Ini juga bisa menjadi pelajaran untuk kita Sayang. Jangan seratus persen percaya dengan manusia. Karena pada hakikatnya manusia hanya bisa membuat kekecewaan di dalam hati."


Cyra mengangguk dan tersenyum tipis dibalik niqabnya. Setelahnya. Akmal bersiap-siap berangkat ke kampus untuk mengajar. Sedangkan Cyra memilih untuk kembali pulang ke rumah.

__ADS_1


Malam harinya ketika selesai makan malam. Dan mereka berdua sedang duduk santai di ruang keluarga untuk menonton televisi. Akmal dan Cyra berbincang santai sambil memperhatikan baby Zahwa yang sedang sibuk bermain sendiri.


"Besok kita jadi ke rumah Gus Afnan, Umi?" tanya Akmal.


Cyra mengangguk dengan semangat. "Jadi dong Abu. Umi sudah tidak sabar untuk segera melihat pondok pesantren miliknya."


Cyra merasa kebingungan. "Eh tapi tunggu dulu. Gus Afnan itu siapa Abu? Katanya namanya Gus Alzam?"


Akmal tersenyum. "Gus Afnan ya Gus Alzam. Nama panggilannya di sana Gus Afnan. Cuma orang-orang tertentu saja yang memanggilnya Gus Alzam. Termasuk Abu."


Cyra mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti.


"Baiklah. Nanti Abu akan ijin kepada anak-anak dulu untuk pergi ke sana."


Cyra menganggukkan kepalanya. Dan keesokan harinya. Sebelum Akmal dan Cyra pergi ke Yayasan Pondok Pesantren milik Gus Alzam atau biasa dipanggil dengan Gus Afnan. Cyra tiba-tiba teringin membeli camilan dulu di supermarket depan.


"Kita 'kan bisa membelinya nanti sambil berangkat Umi?"


Cyra merengek seperti anak kecil. "Tidak mau. Umi juga sekalian ingin naik motor bersama Abu."


Akmal sedikit terkejut. "Hah! Naik motor?"


Cyra menganggukkan kepalanya. "Huum! Naik motor. Tapi cuma berdua saja. Aiza tinggal di rumah dulu. Umi takut jika sambil mengajak Aiza."


"Baiklah ayo. Biar Abu keluarkan dulu motornya," jawab Akmal.


Cyra merasa senang sekali. "Ok siap! Umi mau mengambil niqab sama dompet dulu.


Akmal cuma mengangguk saja. Setelahnya dirinya ke luar dari dalam kamar untuk mengeluarkan motor matic miliknya yang keluaran terbaru.


Di saat sudah menitipkan baby Zahwa kepada bibi. Akmal dan Cyra segera pergi ke supermarket yang tidak jauh dari kompleks perumahannya. Selesai membeli barang dan camilan yang dibutuhkan. Cyra dan Akmal memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Berhubung parkir mobil dan motor digabung jadi satu. Akmal yang sedang membelokkan stir motornya tidak sengaja menyenggol spion mobil yang ada di sebelahnya hingga patah. Kebetulan sang pemilik mobil yang baru saja keluar dari dalam supermarket dan melihat hal itu. Dia langsung mendekat dan marah-marah kepada Akmal.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2