
Jika ujug-ujug langsung Akmal dan Cyra menikah? 'Kan babnya kurang nyambung sayang.
Jadi sementara masih iklan dulu. Biar kalian semua semakin greget. Hehehe.
Lagi pula Fadli dan Deena menikah kurang dua minggu lagi. Otomatis akan duluan mereka dibandingkan dengan Akmal dan Cyra. Ok? Sampai di sini mengerti?
------\_\_------
Lusa berikutnya. Fadli benar-benar datang sesuai dengan pesan dari Deena, jam berapa dia harus datang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Deena. Fadli sangat terkejut sekali. Karena di dalamnya ada banyak sekali orang. Dari kakek, nenek, saudara, sepupu, dan masih ada banyak yang lainnya lagi. Mereka semua pastinya terlihat sangat berpendidikan serta kaya.
Deena sangat tahu sekali jika Fadli sedang minder pada saat itu. Sebagai calon istri yang baik. Deena merangkul Fadli untuk ikut bergabung dengan semua keluarganya. (Ini bukan merangkul pundak seperti itu ya readers artinya). Dan semua keluarga Deena pun juga menyambut Fadli dengan baik serta ramah.
Semua diskusi sudah berjalan dengan lancar. Undangan juga sudah disiapkan. Lima hari setelahnya. Semua undangan sudah selesai dicetak. Di hari berikutnya, Fadli dan Deena mulai menyebarkan undangan tersebut.
Orang yang pertama kali ingin Deena kasih tahu adalah Cyra. Dan sebelum datang ke rumahnya. Deena mencoba menghubungi Cyra terlebih dahulu.
"Halo! Assalamu'alaikum Deena?"
"Wa'alaikumussalam Cyra. Kamu sedang apa?" ucap Deena.
"Sedang ada di rumah bersama Aiza seperti biasanya."
"Kalau saat ini aku mau datang ke rumahmu! Bisakan?" tanya Deena.
"Tentu saja bisa. Aku selalu di rumah ko."
Deena mengangguk. "Baiklah. Tunggu aku yah. Setengah jam lagi aku sampai di rumahmu."
"Iya. Hati-hati di jalan ya Deena," ucap Cyra.
"Ok. Assalamu'alaikum."
Sambungan telepon mereka akhirnya terputus. Ketika Cyra sudah menjawab salam dari Deena.
Seperti ucapan Deena. Sekitar tiga puluh menit kemudian. Deena akhirnya sampai di rumah Cyra.
Cyra menyambutnya dengan ramah dan suka cita. "Mari-mari silahkan masuk Deena."
Deena tersenyum. "Terimakasih Cyra."
"Zahwa lucu sekali. Tambah gemuk ya sepertinya?"
Cyra menganggukkan kepalanya. "Iya? Dia semakin lahap minum ASI-nya dan membuatku mudah lapar."
__ADS_1
"Sebentar ya? Aku mau meminta tolong kepada bibi untuk menyiapkan minuman dan camilan untuk kita." Deena hanya mengangguk saja.
Setelah menyuruh sang bibi. Cyra pun langsung mengobrol dengan Deena. "Ada hal penting yang ingin aku ceritakan kepadamu Cyra."
Cyra merasa sangat penasaran sekali. "Hal penting apa Deena? Aku jadi penasaran."
Deena lalu mengambil sebuah undangan pernikahannya dari dalam tasnya yang akan dia berikan kepada Cyra. "Ini? Bacalah sendiri."
Tanpa banyak berbicara. Cyra pun langsung mengambil dan membaca kartu undangan pernikahan tersebut.
Cyra benar-benar sangat terkejut sekali. "Masyaallah. Tabarokallah Deena. Ini? Kamu sama Fadli?"
Deena langsung mengangguk. "Fadli teman kita waktu kuliah dulu?"
Deena mengangguk lagi. "Iya. Fadli yang itu. Yang kemarin tidak sengaja bertemu di pernikahannya kak Abraham dan Kalila."
"Masyaallah." Cyra tersenyum senang dibalik niqabnya.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa menikah dengannya? Sedangkan yang aku tahu? Kamu tidak ada hubungan sama sekali dengan dia."
Deena tersenyum geli. Jika teringat dengan pertemuannya dengan Fadli kemarin di pesta pernikahan Abraham dan Kalila.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum begitu Deena? Ayo dong cepat cerita kepadaku!" Cyra benar-benar sangat penasaran sekali.
Deena langsung menceritakan bagaimana pertemuan singkatnya dengan Fadli kemarin. Ketika dirinya dan Fadli tidak sengaja bertemu di pernikahan Abraham dan Kalila.
"Dulu tidak ada rasa selama empat tahun bertemu. Tapi sekarang? Cuma dalam hitungan menit saja. Allah membuka mata hati kalian berdua. Sungguh indah kisah cintamu itu Deena."
Deena tersenyum ketika Cyra memujinya. "Masih kalah indah dengan kisah cintamu itu Cyra. Karena bagaimanapun juga. Kisah cintamu ada banyak makna di dalamnya dan juga pelajaran yang dapat diambil."
"Akan tiba masanya nanti. Kamu bercerita kepada anak cucumu bagaimana jalan kisah cintamu yang penuh menguras air mata dan perasaan."
"Tapi percayalah. Kami semua sangat mendoakanmu supaya bisa segera bersanding dengan kak Akmal di pelaminan."
Gantian Cyra yang tersenyum mendengar ucapan Deena. "Iya! Kamu benar Deena."
"Tapi aku harap. Di antara orang-orang yang aku sayangi dan dekat denganku. Jangan ada yang bernasib sama sepertiku."
"Percayalah. Ada pelangi setelah badai." Ucap Deena
"Senyum dan hadapilah. Karena kak Akmal akan selalu bersamamu. Dia laki-laki yang sangat baik sekali Cyra. Jangan sia-siakan kesempatan, jika tidak mau menyesal nantinya."
"Aku tahu Deena. Itulah kenapa aku mau menerima lamaran kak Akmal. Walau nantinya akan banyak gunjingan kepada hubungan kita berdua."
"Jangan dengarkan apa kata mereka. Yang penting kamu sekeluarga bahagia tanpa mengganggu kehidupan mereka semua," kata Deena.
__ADS_1
"Hmm! Semangat ya! Sini biar Zahwa aku gendong sebentar. Daritadi dia melihat ke arahku terus."
Cyra langsung memberikan baby Zahwa kepada Deena. Dan mereka mengobrol lagi dengan santai sambil membicarakan ini dan itu.
Setelah puas mengobrol dan baby Zahwa merasa mengantuk. Deena memutuskan untuk pamit kepada Cyra.
Deena tidak kembali pulang ke rumahnya. Namun dia langsung pindah tempat ke rumah Misha, Kalila serta teman-temannya yang lain.
Sama seperti Cyra. Mereka semua merasa sangat terkejut sekali dengan berita mengejutkan yang diberitahukan oleh Deena. Namun walau begitu? Mereka semua tetap mendoakan dengan tulus semoga diberikan kelancaran sampai hari pernikahan tiba.
Tidak Deena saja yang sedang menyebar undangan. Fadli pun sama. Di kampus dia sedang menyebar undangan kepada para Dosen yang dikenalnya.
Tibalah saatnya dia memberikan kartu undangannya kepada Akmal. Setelah mendengar kata masuk dari dalam. Fadli lalu membuka pintunya untuk masuk ke dalam ruang kerja Akmal.
"Oh kamu Fadli. Silahkan duduk?" ucap Akmal.
Jika mereka cuma berdua saja. Akmal akan memanggil namanya saja. Karena itu permintaannya Fadli. Namun? Jika di luar dan sedang berada di antara para mahasiswa. Akmal akan memanggil dia dengan panggilan Bapak.
Fadli langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Akmal.
"Saya ke sini cuma ingin memberikan ini Pak." Fadli menyodorkan kartu undangannya kepada Akmal.
"Apa ini?" Akmal menerima kartu undangan tersebut.
Akmal sama seperti yang lainnya. Dia merasa terkejut sekali. "Kamu sama Deena?"
Fadli menganggukkan kepalanya. "Iya Pak."
"Cinta tidak ada yang tahu kapan datangnya." Fadli tersenyum malu. "Dulu saya cuma berteman saja. Bahkan tidak ada perasaan apa-apa kepadanya. Tapi sekarang Allah membuka mata hati saya Pak."
"Selamat Fadli. Bapak ikut senang mendengarnya. Semoga pernikahan kalian berdua dilancarkan oleh Allah Subhanahu Wata'ala."
Ucapan Akmal langsung di aamiinkan oleh Fadli. "Aamiin."
"Dan Fadli doakan juga. Semoga pernikahan Bapak dengan Cyra, bisa berjalan dengan lancar sampai selamanya. Aamiin."
"Aamiin. Emm! Kamu ko bisa tahu Fadli?"
"Fadli sudah tahu semuanya ko Pak. Ternyata cinta Bapak selama ini kepada Cyra tidak bertepuk sebelah tangan. Walau dulu pernah terhalang oleh kehadiran kakak kandungnya Bapak."
"Emm!" Kali ini Akmal sangat terkejut melebihi yang tadi.
Fadli tersenyum melihat wajah kakunya Akmal. Dan baru kali ini dirinya bisa sedekat ini dengan Akmal.
...🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️🎗️...
__ADS_1
***TBC***