
Akmal, Cyra dan baby Zahwa. Saat ini mereka bertiga menikmati waktu kebersamaan mereka di ruang keluarga. Mereka bercanda, mengobrol dan menggoda baby Zahwa yang semakin menggemaskan saja.
Pemandangan harmonis dan manis dari mereka bertiga mengundang rasa penasaran dari para bibi yang ada di rumah itu.
Rata-rata para bibi, tukang kebun, penjaga rumah dan sopir. Masih berumur tiga puluh tahunan. Mereka semua berasal dari desa yang dan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Serta masih bersaudara satu sama lainnya dengan para bibi yang bekerja di rumah ayah Rafiq.
"Mbak Sukma. Lihatlah! Pak Akmal dan Bu Cyra terlihat harmonis dan mesra sekali ya," ucap bi Pipit yang paling muda di antara mereka semua.
Sedangkan bi Sukma sendiri adalah anak kandung dari bi Narsih yang sudah bekerja sangat lama di rumah ayah Rafiq.
"Kamu kenapa mengintip mereka Pipit. Nanti kalau ketahuan pak Akmal dan bu Cyra 'kan bisa malu," jawab bi Sukma.
"Iya juga sih. Tapi rasanya senang saja melihat kedekatan mereka berdua Mbak."
Bi Sukma seperti melamun sambil memandang ke arah Akmal dan Cyra yang sedang bercanda. "Ada kisah menyentuh sekali tentang perjuangan cinta Pak Akmal untuk bu Cyra."
Bi Pipit yang kepo langsung meminta penjelasan kepada bi Sukma. "Tolong ceritakan dong Mbak. Aku jadi penasaran."
Bi Sukma lalu menceritakan bagaimana kisah cinta Akmal kepada Cyra. Yang bertahan hingga bertahun-tahun lamanya dan pada akhirnya bisa bersanding di pelaminan.
"Hanya itu yang Mbak tahu dari Ibu. Ibu 'kan sudah bekerja sangat lama di rumah Pak Rafiq. Jadi beliau tahu semua tentang cerita apa saja yang terjadi di rumah itu."
"Bahkan rumah ini saja peninggalan mas Mirza untuk bu Cyra."
Bi Pipit terharu dan mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita dari bi Sukma.
"Sudah yuk kita kembali bekerja. Kamu jangan bikin bibi kamu malu. Karena kamu bisa diijinkan bekerja di keluarga yang taat beragama dan sangat baik seperti mereka."
"Iya Mbak. Pipit tahu itu ko. Dan insyaallah Pipit juga tidak mau membuat bi Darmi malu dengan sikap Pipit," bi Sukma cuma mengangguk saja.
Mereka berdua akhirnya melanjutkan lagi pekerjaan yang harus mereka lakukan.
Kembali ke Cyra dan Akmal lagi yang masih bercanda dengan riang gembira sebagai keluarga yang utuh dan harmonis.
"Emm! Abu. Umi mau tanya," ucap Cyra.
__ADS_1
Akmal mengalihkan pandangannya ke arah Cyra yang duduk di sebelahnya. "Tanya apa Sayang? Tanyakanlah saja."
"Abu mengeluarkan uang begitu banyak untuk kemarin. Apakah uang Abu tidak habis?"
Akmal tersenyum. "Uang masih bisa dicari Sayang. Tapi kebahagiaan sehari seperti kemarin, mungkin tidak akan bisa terulang kembali. Apalagi ketika melihat kamu, abi, umma, ayah dan mama, bahagia dengan kejutan dan hadiah dari Abu. Rasanya Abu ikut bahagia juga. Bahkan Abu ingin mengeluarkan lebih banyak lagi untuk kebahagiaan kalian semua."
Cyra langsung memeluk lengan Akmal dengan mesra. "Terimakasih Abu. Terimakasih atas semuanya. Ajari Umi untuk menjadi istri yang baik untuk Abu."
"Umi segalanya bagi Abu. Cinta ini tulus murni hanya untukmu. Dan insyaallah Abu akan menerima semua kekurangan serta kelebihan Umi."
"Ingatkan Abu juga. Jika Abu tanpa sengaja berbuat salah atau menyakiti perasaan Umi. Karena Abu cuma manusia biasa yang tidak akan luput dari dosa."
Cyra semakin mengeratkan pelukannya sambil menganggukkan kepalanya.
Cyra tiba-tiba melepaskan pelukannya. "Oh ya Abu. Kapan nih Umi akan diajari mengurus butik milik kak Mirza?"
"Karena kemarin 'kan? Kita belum sempat. Sebab ditahan abi untuk jangan bertemu dulu."
"Nanti saja ya Umi, kalau pernikahan kita sudah berjalan beberapa hari atau minggu," jawab Akmal.
"Karena percaya tidak percaya. Orang yang baru saja menikah. Masih dilarang untuk beraktifitas di luar rumah."
"Namun? Kita tidak boleh langsung menentangnya. Selagi tidak menyalahi syariat agama. Lebih baik kita diam dan menghormati tradisi itu yang sudah berjalan dari nenek moyang kita."
Cyra mengangguk lagi. "Iya. Dulu Umi dan kak Mirza juga pernah mendapatkan nasihat seperti itu dari umma dan abi, ketika baru saja menikah."
Akmal cuma tersenyum saja menanggapi ucapannya Cyra. "Emm Umi. Umi sendiri mau berbulan madu ke mana?"
"Ke mana ya? Umi bingung jika ditanya seperti itu."
"Yang dekat-dekat saja deh Abu. Lagi pula kita mengajak Aiza. Umi takut jika dia kecapekan dan nanti bisa jatuh sakit."
"Ok. Nanti akan Abu pikirkan ke mana." Cyra mengangguk saja dan juga tersenyum.
Sedang asik mengobrol. Tiba-tiba baby Zahwa rewel, sepertinya dia sudah merasa mengantuk.
__ADS_1
Akmal langsung mengajak Cyra masuk ke dalam kamar untuk menidurkan baby Zahwa.
Untuk pertama kalinya. Akmal melihat Cyra meenyusuii baby Zahwa dengan gesit sekali.
"Abu jadi haus juga."
Cyra tersenyum mendengar ucapannya Akmal.
"Cepat sedikit ya Aiza. Gantian Abu. Abu haus nih. Kalau kelamaan nanti Abu menangis lho!" Akmal sambil menggoda baby Zahwa yang sedang neenen. Hingga membuat baby Zahwa tertawa terbahak-bahak.
"Abu! Sudah dong. Jangan mengganggu Aiza terus. Biarkan dia tidur. Nanti bisa rewel," Cyra merasa gemas dengan mereka berdua.
Akmal seperti tidak mendengarkan ucapan Cyra. Malah dia sengaja menggelitik perut baby Zahwa menggunakan wajahnya. Hingga lagi-lagi baby Zahwa tertawa terbahak-bahak.
"Huh hmmmmmm!" Cyra mengambil nafasnya cukup panjang.
"Sudah capek! Bobo ya. Tuh neen lagi. Kalau nggak mau. Abu neen lho!" baby Zahwa seperti mengerti apa ucapan Akmal. Dia langsung neenen lagi dengan sangat lahap sekali.
Tidur bertiga di atas ranjang. Dengan baby Zahwa berada di tengah-tengah. Membuat Akmal ikut menepuk-nepuk pelan tubuh baby Zahwa yang sedang asik neenen. Pada akhirnya baby Zahwa tertidur juga dengan ditandai dilepaskannya puutiing Cyra.
"Biar Abu saja yang memindahkannya," Cyra cuma mengangguk saja.
Setelah selesai memindahkan baby Zahwa ke dalam box babynya. Akmal langsung menerjang tubuh Cyra dan gantian dia yang menggantikan posisi baby Zahwa seperti tadi.
Cyra tertawa geli dengan tingkah Akmal yang seperti itu kepadanya. Bayi besar yang sangat manja sekali.
"Jika begini ceritanya. Lama kelamaan tubuh Abu semakin gendut."
Cyra langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya Akmal.
"Ini masih jam sepuluh pagi Abu. Abu tidak mau sholat dhuha?"
Akmal lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam yang menempel cantik di dinding kamar. "Emm baiklah. Untung saja diingatkan. Kalau tidak? Bisa bahaya nanti."
Cyra tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapannya Akmal. Akmal pun langsung turun dari atas ranjang untuk menuju ke dalam kamar mandi. Dan setelahnya, dia menunaikan ibadah sholat sunah dhuha di dalam kamar.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...