
Setelah sate terhidang di atas meja makan bersama lauk yang lainnya. Saat ini semua orang sudah pada duduk di ruang makan untuk siap menikmati sate yang sudah dibeli oleh Akmal.
Akmal terlihat sekali sangat excited untuk memakan sate yang sudah dibelinya itu. "Ayo! Di makan. Akmal sudah tidak sabar ingin mencicipi sate ini."
"Kamu itu lho Mal! Seperti tidak pernah makan sate saja!"
Akmal membenarkan ucapan sang ayah. "Akmal memang tidak pernah memakan sate ini Ayah."
Semua orang langsung memandang aneh ke arah Akmal. Dan curiga dengan sate yang sudah terhidang di atas meja makan itu.
"Memangnya ini sate apa Abu? Yang sudah Abu beli?"
Pertanyaan Cyra mewakili pertanyaan semua orang.
"Sate kuda. Abu ingin sekali memakan sate kuda."
Terkejut! Sungguh sate yang dibeli oleh Akmal diluar ekspetasi mereka semua. Dan tidak cuma Akmal saja yang belum pernah memakan sate kuda. Tapi mereka semua. Termasuk para bibi dan mamang yang bekerja di rumah ayah Rafiq.
Para mamang yang sudah mencicipi sate yang diberikan oleh Akmal. Mereka merasa sedikit berbeda dengan sate yang biasanya mereka makan.
"Ini sate apa ya? Ko rasanya aneh tapi enak?" ucap salah satu mamang.
"Kalau sate daging sapi bukan seperti ini teksturnya. Ini dagingnya sedikit lembut dan tidak ada lemaknya sama sekali," ucap mamang yang lainnya.
"Entahlah! Aku pun juga merasa begitu. Coba nanti kita tanya para bibi."
Mamang yang lainnya mengangguk setuju. Begitupula dengan para bibi yang sedang menikmati sate tersebut di dapur.
"Bi Ningsih! Ini sate apa sih? Apa sate sapi ya?"
Bi Ningsih yang ditanya oleh bi Darmi pun juga merasa kebingungan. "Aku juga tidak tahu. Tapi rasanya enak, sedap."
"Kenyalnya berbeda dari daging sapi?"
Para bibi menganggukkan ucapan Narsih. Tiba-tiba dari arah pintu dapur, ada bi Tukiyah yang baru saja masuk ke dalam dapur.
"Eh-eh-eh! Kalian mau dengar sesuatu dari saya tidak?"
Semua orang langsung penasaran dengan ucapan dari bi Tukiyah. Termasuk bi Narsih sekalipun.
__ADS_1
"Apa tho Tukiyah?" tanya bi Narsih.
"Itu lho Bi. Sate yang dibeli mas Akmal ternyata sate kuda. Tidak sate ayam maupun kambing atau sapi."
Semua orang langsung merasa terkejut sekali. Bahkan bi Darmi sampai reflek memuntahkan sate yang baru saja digigitnya. Bi Darmi tidak menyangka. Jika daging yang baru saja masuk ke dalam mulutnya adalah daging kuda. Dan sekarang para bibi tidak pada bertanda tanya lagi sate apa yang saat ini mereka makan.
Kembali kepada Akmal dan yang lainnya.
"Sa-sate kuda Nak?"
Akmal membenarkan ucapan umma Nada. "Iya Umma! Entah kenapa Akmal ingin sekali memakan sate ini."
"Lagi pula halal ko kita makan sate kuda."
"Halal sih halal. Tapi ekstrim bagi Abi," jawab abi Rasyid.
Akmal tertawa mendengar ucapan abi Rasyid. "Sudah yuk mari makan. Jika tidak mau sama satenya 'kan masih bisa makan yang lainnya."
Akhirnya! Mereka semua makan hidangan yang sudah dihidangkan di atas meja makan itu. Yang paling banyak menghabiskan sate kudanya adalah Akmal. Sedangkan yang lainnya cuma mencicipi seperlunya. Walau mereka termasuk suka dengan rasanya. Tapi mereka semua memilih tidak melanjutkan memakannya.
"Alhamdulillah. Rasanya kenyang sekali. Dan alhamdulillah juga, Abu tidak mual sayang karena sate kuda ini." Akmal berucap sambil mengusap perut Cyra dengan lembut.
Baru saja mama Jian selesai berucap. Eh! si Akmal mengatakan keinginannya lagi yang sangat dia inginkan.
"Oh ya Abi, Ayah. Apakah kalian mempunyai teman yang memelihara kuda?"
Abi Rasyid dan ayah Rafiq langsung saling pandang mendengar ucapan Akmal.
"Memangnya kenapa Nak?"
Akmal langsung menjawab pertanyaan abi Rasyid. "Akmal ingin sekali melihat kuda melahirkan."
"Hah!" ucap semua orang.
"Astaghfirullah!" Cyra langsung mengusap dadanya sambil beristighfar.
"Astaghfirullah. Ayah kira kamu mau naik kuda. Tidak tahunya!" ayah Rafiq terlihat gemas dengan Akmal.
"Memangnya kenapa Ayah? Sepertinya seru melihat kuda melahirkan."
__ADS_1
"Seru-seru! Apanya yang seru!" ucap ayah Rafiq.
"Daripada ingin melihat kuda melahirkan. Nanti lebih baik. Kamu sendiri yang membantu Cyra melahirkan. Biar tahu bagaimana proses seorang ibu mengeluarkan bayinya!"
"Abu! Abu jangan aneh-aneh deh!"
Cyra memijat dahinya karena permintaan tak biasa dari Akmal. Sungguh melihat suami yang mengalami kehamilan simpatik membuat Cyra lebih pusing dari kehamilan sebelumnya.
Karena Akmal menginginkan permintaan yang sepertinya sulit untuk dikabulkan. Akmal sedikit merajuk dan menjadi tidak naafsu makan. Walau begitu, Cyra tetap perhatian dengan menyuapi Akmal makan dengan penuh perhatian.
Untuk malam itu. Cyra dan Akmal bersama baby Zahwa menghabiskan malam mereka dengan menginap di rumah ayah Rafiq.
Ini adalah pertama kalinya bagi Cyra tidur di dalam kamar Akmal. Dan untuk pertama kalinya juga. Cyra tidak tidur di dalam kamar Mirza.
Cyra memperhatikan sekali apa saja yang ada di dalam kamar Akmal. Cyra tersenyum sendiri ketika teringat pertama kali dirinya masuk ke dalam kamar sang suami. Semua kejadian yang terjadi di rumah ayah Rafiq masih teringat jelas di ingatannya.
Bohong! Jika Cyra mengatakan sudah melupakan Mirza. Karena sampai kapanpun nama Mirza akan selalu di dalam hatinya yang terdalam. Berdampingan dengan nama Akmal yang saat ini singgah di hatinya.
Langkah kaki Cyra terhenti. Ketika dirinya sampai di meja kerja Akmal yang di atasnya ada sebuah foto miliknya waktu kuliah dulu yang diambil oleh Akmal secara candid.
"Bismillah. Kamu adalah jodohku. Baik sekarang maupun selamanya. Till Jannah my Cyra." Cyra membaca tulisan yang ada dibalik bingkai foto tersebut sambil tersenyum sendiri.
Pandangan Cyra teralihkan ke arah Akmal yang saat ini sedang memanggil dirinya dengan mata yang terpejam.
"Umi! Kenapa Umi berdiri di situ? Umi tidak bisa tidur ya?" suara Akmal khas sekali orang yang masih mengantuk.
Cyra masih tersenyum. Dirinya lalu berjalan ke arah ranjang dan merebahkan badannya di samping sang suami.
Akmal lalu memeluk Cyra dengan erat, membawanya ke dalam selimut yang dipakainya. Dan mereka tidur dengan saling memeluk satu sama lainnya.
"Jangan pergi! Jangan pernah meragukan cinta Abu untuk Umi. Lebih baik Abu mati saja daripada harus kehilangan Umi. Karena separuh jiwa Abu adalah Umi."
Akmal berucap tanpa membuka matanya sama sekali dengan posisi memeluk Cyra.
"Tidurlah Sayang. Sampai kapanpun Umi akan selalu menjadi milik Abu." Cyra mengusap lembut dagu Akmal.
Serasa tenang dengan pelukannya Cyra. Akmal cepat lelap lagi dalam tidurnya. Dan malam itu mereka tidur dengan nyenyak dibawah satu selimut yang sama.
...~.~...
__ADS_1