
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit lamanya, dan mencari Cafe atau restoran yang menurut mereka cocok, akhirnya mobil yang Akmal kendarai sampai juga disebuah Cafe yang terlihat sangat nyaman dari luar.
Ketika mobil sudah terparkir dengan rapi, Akmal dan Cyra langsung saja masuk ke dalam Cafe tersebut.
Akmal begitu perhatian sekali kepada Cyra, bahkan ketika akan ke luar dari dalam mobil pun, Akmal sengaja membukakan pintunya.
Mereka berdua berjalan berdampingan berdua menuju ke dalam Cafe, sudah terlihat sangat serasi dan seperti sepasang suami istri, sangat cocok dan pas sekali.
" Kita duduk di sana saja ya ," kata Akmal sambil menunjuk meja yang dekat dengan jendela.
Cyra hanya mengangguk saja, dan bahkan ketika akan duduk pun, Akmal sengaja memundurkan kursinya untuk Cyra.
Hal yang tidak pernah Akmal lakukan kepada siapapun, termasuk Aalifa sekalipun.
" Terimakasih Kak ," kata Cyra.
" Iya ," jawab Akmal sambil tersenyum.
Entahlah, Akmal sendiri juga tidak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti itu kepada Cyra, padahal jelas-jelas yang patut mendapatkan perhatiannya begitu, ya cuma Aalifa saja.
Akmal dan Cyra yang baru saja datang, langsung didekati oleh salah satu waiter, untuk menanyakan makanan dan minuman yang akan mereka pesan.
" Di dalam sini ada makanan kesukaanmu Cyra, apakah kamu mau pesan itu?? ," tanya Akmal ketika sudah melihat menunya.
" Boleh deh Kak ," jawab Cyra.
Akmal dan Cyra lalu memesan beberapa makanan dan dua minuman, salah satunya makanan favoritnya Cyra.
Waiter tadi langsung permisi kepada Akmal serta Cyra, dan berlalu ke dalam dapur untuk menyiapkan apa yang sudah dipesan oleh Cyra dan Akmal.
" Kakak ko tahu makanan kesukaannya Cyra?? ," tanya Cyra.
" Bagaimana tidak tahu, kan hampir setiap hari dan setiap saat kamu masak atau beli makanan itu ," jawab Akmal.
Cyra hanya tersenyum tipis saja dibalik niqobnya, dan Akmal tahu akan hal itu, jika Cyra sedang tersenyum kepadanya.
Tidak ada obrolan yang terjadi antara Cyra dan Akmal, sambil menunggu makanan yang mereka pesan sudah jadi.
Cyra lebih memilih menatap ke luar jendela, untuk memandang orang-orang dan kendaraan yang sedang berlalu lalang, sedangkan Akmal sibuk memainkan ponselnya, sambil berbalas pesan dengan Aalifa.
Didalam berbalas pesannya, Akmal juga sering curi-curi pandang untuk memperhatikan Cyra.
Akhirnya, makanan dan minuman yang mereka pesan datang juga, sebelum makan, Cyra dan Akmal membaca doa terlebih dahulu.
Ketika baru beberapa suap mereka makan, tiba-tiba pandangan mereka berdua dikejutkan oleh sepasang suami istri yang memanggil nama Cyra dan Akmal.
" Hamzah, Misha ," kata Akmal dan Cyra secara bersamaan.
__ADS_1
Yah, ternyata sepasang suami istri itu adalah Hamzah dan juga Misha.
" Boleh tidak nih, kami berdua ikut gabung duduk di sini?? ," tanya Hamzah kepada Akmal dan Cyra.
" Boleh, tentu saja boleh, silahkan ," jawab Akmal.
Hamzah lalu duduk di samping Akmal, sedangkan Misha duduk di sampingnya Cyra.
" Kalian berdua saja nih ceritanya?? ," tanya Misha, dan Cyra langsung mengangguk.
" Lalu di mana Kak Mirza, Akmal, Cyra?? ," tanya Hamzah juga.
Akmal reflek langsung memandang ke arah Cyra, dan Cyra yang mendengar pertanyaan dari Hamzah, langsung meneteskan air matanya.
Misha dan Hamzah yang melihat Cyra menangis, langsung menjadi kebingungan sendiri.
" Lho, ko kamu menangis Cyra, ada apa?? ," tanya Hamzah.
" Kak Mirza sedang sakit di rumah sakit ," jawab lirih dari Cyra sambil menunduk.
" Kak Mirza terkena kanker otak, Hamzah, dan sekarang aku disuruh Abi untuk menemani Cyra makan ," kata Akmal menambahkan.
Cyra semakin menangis mendengar ucapannya Akmal, dan Misha yang melihat Cyra menangis, langsung membawanya ke dalam pelukannya, untuk mencoba menenangkannya.
" Astaghfirullah hal 'adzim ," ucap Hamzah terkejut.
" Sudah sejak dulu, sejak dia masih muda ," jawab Akmal.
" Kak Mirza sudah pernah menjalani 0p3r451, akan tetapi tidak tahunya tumor otak itu tumbuh lagi, dan sekarang menjadi kanker ," cerita Akmal, dan wajahnya terlihat sangat bersedih sekali.
" Astaghfirullah, yang sabar Cyra, aku yakin kamu pasti kuat, ingat ada dedek di dalam perut kamu ," kata Misha sambil mengusap pundak Cyra.
Cyra hanya kuat mengangguk saja menanggapi ucapannya Misha.
" Sudah ya, kita makan lagi Cyra, kasihan si dedek, ingat nasihat Kakak tadi ," kata Akmal mengalihkan pembicaraan.
Lagi dan lagi Cyra cuma mengangguk saja menanggapi Akmal, dan dia akhirnya menikmati makanannya lagi dengan tidak berselera.
Makanan dan minuman yang dipesan oleh Hamzah dan Misha pun sudah diantarkan juga oleh waitress, dan akhirnya mereka berempat bisa makan bersama-sama.
" Setelah ini, kalian apakah akan kembali lagi ke rumah sakit?? ," tanya Hamzah.
" Iya, setelah ini, kami akan kembali ke rumah sakit lagi ," jawab Akmal.
" Bolehkah kami ikut juga?? ," tanya Hamzah lagi.
" Silahkan saja ," jawab Akmal lagi.
__ADS_1
" Kalian sendiri dari mana?? ," tanya Cyra kepada Misha.
" Kita berdua dari berbelanja bulanan tadi ," jawab Misha, dan Cyra hanya ber oh ria saja.
Setelah selesai menikmati makanannya, akhirnya mereka berempat berlalu pergi ke rumah sakit lagi.
Sebelum ke rumah sakit, baik Cyra, Akmal, Misha serta Hamzah, mereka membeli camilan dan juga makanan untuk mereka bawa ke rumah sakit.
Mereka naik mobil mereka sendiri-sendiri, dan Hamzah bersama Misha sedang mengobrol membicarakan Cyra dan Mirza saat ini.
" Kak, kasihan sekali ya nasib Cyra ," kata Misha.
" Itulah takdir sayang, tidak ada yang tahu bagaimana jalannya ," jawab Hamzah sambil terus mengendarai mobilnya.
" Justru Kakak lebih kasihan sama Akmal ," kata Hamzah lagi.
" Lha ko bisa?? ," tanya Misha.
" Dia sudah berusaha semaksimal mungkin melupakan Cyra, dan ketika dia sudah berhasil menyingkirkan Cyra dari dalam pikiran dan juga hatinya, tapi keadaan malah selalu membuatnya bersama ," jawab Hamzah.
" Kakak ko bisa tahu ini semua?? ," tanya Misha.
" Akmal sendiri yang cerita sama Kakak, ketika kami bertiga bersama Abraham juga sedang nongkrong kemarin ," jawab Hamzah.
" Jika seumpama Kak Mirza meninggal, apakah Cyra dan Kak Akmal bisa menikah Kak?? ," tanya Misha lagi.
" Ini seumpama ya Kak, bukannya Misha mendoakan Kak Mirza meninggal ," jelas Misha.
" Boleh, kenapa tidak boleh, asal sudah selesai masa iddahnya ," jawab Hamzah, dan Misha hanya mengangguk saja.
Sedangkan beralih ke mobilnya Akmal, Akmal melirik Cyra yang sedang bersandar di sandaran kursi, sambil menatap kosong ke depan, dan kali ini Cyra duduk di kursi depan bersama Akmal.
Pikiran Cyra entah melayang ke mana, sambil melamun, Cyra terus mengusap perutnya yang sudah buncit itu, dan bahkan usapannya daritadi disambut dengan tendangan dari calon babynya.
" Nabi Muhammad SAW bersabda:
β Sungguh, besarnya pahala bersamaan dengan besarnya cobaan. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang rela, maka baginya ridha-Nya, dan barang siapa yang benci, maka ia akan mendapatkan kebencian-Nya,βΒ (HR. At Tirmidzi)."
Cyra langsung mengalihkan pandangannya, ketika mendengar Akmal menyebutkan sebuah hadist, begitupula dengan Akmal yang melirik Cyra.
" Yang kuat Cyra, karena Allah tidak akan memberikan cobaan yang hambanya tidak akan mampu mengatasinya ," kata Akmal lagi sambil tersenyum.
Cyra hanya tersenyum saja menanggapi semua nasihat dari Akmal untuknya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1