
Siang harinya di sebuah rumah, ada tiga orang yang sedang sibuk saling bercengkerama ria.
Tiga orang itu sedang membicarakan Akmal, Mirza dan juga Cyra, dan ke tiga orang tersebut sangat mengenal sekali siapa itu Cyra, Mirza maupun Akmal.
" Aku jadi kasihan sama Pak Akmal ," kata Deena, kepada Misha dan juga Kalila.
Yaps, betul sekali tebakan kalian semua, jika ke tiga orang yang sedang membicarakan Akmal, Cyra maupun Mirza adalah sahabat Cyra sendiri.
" Iya, jujur ketika aku di ceritakan oleh Kak Abraham, aku merasa sangat terkejut sekali, kalau ternyata selama ini Pak Akmal mencintai Cyra ," kata Kalila.
" Aku kira perhatian dan pandangan Pak Akmal selama kita kuliah itu adalah pandangan kagum biasa, sebab Cyra begitu cerdas jika di dalam kelas, tidak tahunya ada maksud lain yang tersembunyi ," kata Kalila lagi.
" Iya, aku juga pernah tidak sengaja melihat Pak Akmal sedang memperhatikan Cyra, dan dia bahkan sampai senyum-senyum sendiri ," kata Deena.
" Ah masa sih?? ," tanya Kalila.
" Benar, dan aku juga pernah melihat lagi ketika Cyra dipanggil ke ruangan Pak Akmal, Cyra mengajakku untuk menemaninya, dan Pak Akmal berbicara serta melihat Cyra dengan pandangan yang terlihat sangat berbeda sekali ," jawab Deena.
" Kira-kira Cyra semalam sudah belah dur3n belum ya sama Kak Mirza?? ," kata Misha.
" Ish, kamu ini, malah membahas yang begitu ," kata Kalila.
" Iya, memangnya kenapa, itu kan sudah menjadi kewajiban seorang istri kepada suami, haram hukumnya menolak suami tahu ," jawab Misha.
" Iya tapi kan, hmm entahlah ," kata Kalila.
" Apakah kalian memperhatikan wajah Pak Akmal kemarin, ketika di pernikahannya Cyra, dia terus-terusan memandangi Cyra dan Kak Mirza dari jarak jauh ," kata Deena lagi.
" Iya, benar sekali, aku tahu dan melihatnya sendiri, sungguh pasti sangat sakit sekali hati Pak Akmal ya ," jawab Misha.
" Semoga Pak Akmal mendapatkan ganti lebih baik dari Cyra ," doa tulus dari Kalila.
" Aamiin ," jawab Deena dan Misha secara bersamaan.
" Lalu kamu sendiri kapan akan menyusul Cyra, Deena?? ," tanya Kalila.
" Kamu saja dulu, tuh sama Kak Abraham ," jawab Deena.
" Dia belum memintaku untuk menjadi istrinya, tapi jika dia serius denganku, aku berdoa, semoga tidak lama-lama mengutarakannya, sebab aku tidak mau sama laki-laki yang tidak pasti ," jawab Kalila.
" Enak tuh Misha, tinggal menghitung minggu lagi, kapan dia akan menikah dengan Kak Hamzah ," kata Kalila.
" Emm, membicarakan soal Kak Hamzah, apakah kamu nanti jadi bekerja dengannya, Misha?? ," tanya Deena dan pertanyaan itu langsung diangguki oleh Kalila.
__ADS_1
" Jadi, aku disuruh ikut mengembangkan bisnis Cafenya juga ," jawab Misha.
" Kak Hamzah kan baru saja membuka cabang Cafe baru, nah dari situ aku disuruh untuk mengelolanya sejak awal dan masih harus terus dibantu juga sih sama dia ," kata Misha lagi.
" Enak sekali sih hidup kamu Mish, kerjaan pun tidak susah mencari ," kata Kalila.
" Kamu kan bisa juga meminta bantuan sama Kak Abraham, Kalila ," kata Misha.
" Iya kali aku meminta bantuan tentang perbengkelan, mana sesuai dengan jurusan perkuliahan yang aku ambil ," jawab Kalila.
" Memangnya kenapa, aku saja juga tidak nyambung dengan jurusan yang aku ambil, ini tantangan ," jawab Misha.
" Tumben sekali kamu bijak ," kata Deena.
" Iya, karena sudah keseringan mendapatkan siraman rohani dari Kak Hamzah ," jawab Misha sambil tertawa.
" Nanti aku akan mencoba melamar jadi guru di Yayasan Keluarganya Pak Akmal, siapa tahu aku keterima di sana ," kata Kalila.
" Aku ikut donk ," kata Deena.
" Bukankah kamu di suruh melanjutkan S2 sama Ayah kamu Deena?? ," tanya Kalila.
" Iya sih, tapi rasanya aku juga ingin mencoba menjadi guru, untuk tambah-tambah pengalaman ," jawab Deena.
" Emm, kira-kira Cyra sendiri setelah menikah sama Kak Mirza, dia akan jadi ibu rumah tangga saja atau ikut membantu di Yayasan ya, kan Cyra pintar tuh, sayang saja jika dia cuma berdiam diri di rumah?? ," kata Kalila.
" Ko kamu tahu Misha?? ," tanya Deena dan Kalila secara bersamaan.
" Iya, kemarin pas di acara pernikahannya, tidak sengaja aku bertanya kepada Cyra ," jawab Misha sambil tertawa pelan.
" Hmm, apapun jalan yang kita ambil semoga diridhoi oleh Allah, dan satu hal..... jangan pernah melupakan satu sama lainnya, ok teman ," kata Kalila.
" Ok siap ," jawab Misha dan Deena secara bersamaan.
Misha dan Kalila, serta Deena lalu melanjutkan lagi mengobrol mereka ke sana dan ke sini, minus Cyra.
Biasanya juga Cyra akan ikut berkumpul bersama mereka, namun karena berhubung Cyra baru saja menikah dengan Mirza, ya mereka tidak berani menggangunya sama sekali.
Akmal sendiri siang ini ada jam mengajar di kampus, dan sama seperti sebelumnya, dia mengajar dengan serius diselingi dengan mengobrol santai, supaya para mahasiswi atau mahasiswanya tidak merasa tegang ketika diajar olehnya.
Hati terdalam manusia siapakah yang tahu. Seharian Akmal terus tersenyum dan menyapa balik setiap orang-orang yang menyapanya, namun sebenarnya itu cuma kedok belaka untuk menutupi patah hatinya yang terdalam karena Cyra.
Hari-hari telah berlalu, tidak disangka sudah tujuh hari Cyra dan Mirza menikah, dan hari ini adalah hari minggu, yang rencananya Mirza akan memboyong Cyra untuk tinggal di rumah sang Ayah.
__ADS_1
Bersama ke dua mertuanya, dan adik iparnya, saat ini Mirza sudah berada di perjalanan menuju ke rumah Ayah Rafiq.
Ayah Rafiq sudah menunggu kedatangan Abi Rasyid di rumahnya untuk pertama kalinya sebagai besannya.
Di rumah, Ayah Rafiq sudah menyediakan berbagai macam makanan untuk menyambut kedatangan Mirza dan Keluarga barunya.
Akmal yang seharusnya mengajar hari itu, disuruh sang Ayah untuk jangan mengajar dulu, karena dia disuruh untuk menemaninya bersama Mama Jian untuk menyambut Keluarga Abi Rasyid.
Walau terpaksa, karena itu artinya dia akan melihat Cyra dan sang Kakak, Akmal pun tetap menurut, sebagai anak yang berbakti kepada orang tua.
Dan setelah menempuh perjalanan sekitar beberapa menit lamanya, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mirza dan Abi Rasyid sampai juga di sebuah rumah mewah milik Ayah Rafiq.
" Assalamu'alaikum Mas Rafiq ," kata Abi Rasyid sambil bersalaman dengan Ayah Rasyid.
" Wa'alaikumussalam, mari-mari ayo silahkan masuk ," jawab Ayah Rafiq sangat senang sekali.
Akmal yang daritadi bersikap biasa saja, setelah melihat kedatangan Mirza dan Cyra yang terlihat semakin mesra, hatinya mulai sakit lagi.
Sungguh sangat susah sekali mengobati luka, jika luka itu terus didapatkan setiap saat dan setiap waktu.
Cyra sendiri yang melihat Akmal berdiri disamping Ayah Rafiq, dia hanya bisa tersenyum kaku sambil mengangguk untuk menyapanya.
Saat ini mereka semua sudah pada duduk di ruang tamu rumah Ayah Rafiq dengan Akmal yang diam-diam mencuri pandang ke arah Cyra yang duduk di sebelah Mirza.
" Senang sekali rasanya kalian semua datang ke sini Rasyid ," kata Ayah Rafiq.
" Iya, kami ke sini ingin berkunjung sekalian mengantarkan Cyra yang mulai hari ini akan diajak tinggal di sini oleh Nak Mirza, benar begitu kan Nak Mirza ," jawab Abi Rasyid.
" Benar Abi ," jawab Mirza sambil mengangguk.
" Waaah, benarkah, sungguh aku sudah lama ingin mempunyai anak perempuan, sekarang akhirnya bisa terpenuhi juga ," kata Ayah Rafiq.
" Iya, nanti Mama ada teman curhat jika di rumah ," kata Mama Jian ikut berbicara.
Semua orang nampak senang menyambut kedatangan Cyra di rumah Ayah Rafiq, tapi tidak dengan Akmal, sebab itu artinya dia akan setiap hari bertemu dengan Cyra.
Akmal tidak tahu jika kedatangan sang Kakak ke rumah, akan memboyong Cyra tinggal bersama, sungguh sangat sulit sekali bagi Akmal untuk menolak maupun menghindar.
Sebab posisinya benar-benar sangat sulit sekali, berada ditengah-tengah dua orang yang sama-sama ada dihatinya.
Yang satu gadis yang dia cintai, yang satunya lagi Kakak kandung yang sangat dia sayangi dan hormati.
Obat sakit hati, ya membuka hati untuk mencari pengganti, jika terpuruk dengan keadaan, bukannya terobati, akan semakin makan hati.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...