IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
KETERKEJUTAN MIRZA


__ADS_3

Sekitar jam delapan malam, akhirnya Mirza menunjukkan akan sadar dari pingsan dan pengaruh obatnya.


Cyra yang senantiasa di samping sang suami pun, langsung merasa sangat senang sekali.


" Abiiii, Kak Mirza ," teriak Cyra.


Semua orang yang sedang berbincang santai, langsung mendekat ke arah Cyra, termasuk Aalifa juga yang masih ada di situ.


Semua orang sudah mengerubungi Mirza, dan mereka sedang menantikan Mirza membuka matanya, dan alhamdulillah akhirnya apa yang mereka harapkan terkabul juga.


Mirza membuka matanya dan sedang menetralkan pandangannya untuk melihat sekitar.


" Cyra ," nama pertama yang diucapkan oleh Mirza.


" Iya Abi, Cyra ada di sini selalu menemani Abi ," jawab Cyra sambil menggenggam erat tangan Mirza.


Mirza lalu mengalihkan pandangannya ke arah semua orang.


" Di sini ramai sekali ," kata Mirza.


" Iya Kak, karena kami sangat peduli dengan Kakak ," jawab Akmal sambil tersenyum.


" Ada Nona Aalifa juga ," kata Mirza yang melihat Aalifa berdiri di samping Akmal.


" Ya Kak, tadi sengaja main ke rumah ," jawab Aalifa.


" Lebih baik, kamu jangan terlalu banyak bergerak dan berbicara dulu ya Nak, biar Abi panggilkan Dokter sebentar ," kata Abi Rasyid.


Abi Rasyid langsung memencet tombol darurat yang tersedia di situ untuk memanggil para petugas medis.


Dan tidak lama, para petugas medis itu langsung datang ke ruang perawatannya Mirza.


Semua orang langsung menyingkir, untuk memberikan ruang kepada petugas medis, untuk memeriksa keadaannya Mirza.


Sekitar beberapa menit kemudian, Dokter pun akhirnya selesai memeriksa keadaannya Mirza, dan membuat Cyra beserta Abi Rasyid langsung bertanya kepada sang Dokter.


" Dokter, bagaimana keadaan menantu saya?? ," tanya Abi Rasyid.


" Tuan Mirza masih harus dalam pantauan kami, Tuan, karena tubuhnya belum menunjukkan perubahan signifikan, apalagi kanker otak yang dialaminya masih belum ada perubahan sama sekali ," jawab sang Dokter.


" Apa Dok, ka-kanker otak?? ," kata Mirza sangat terkejut sekali.


Cyra yang melihat suaminya sangat terkejut begitu, langsung mencoba menenangkan, dengan mengusap pundaknya.


" Iya Tuan, tumor yang anda alami dulu tumbuh lagi, dan karena terlambatnya penanganan, sekarang sudah berubah menjadi kanker otak stadium akhir ," jawab sang Dokter lagi.


Wajah Mirza benar-benar terlihat sangat syok sekali, dan Akmal yang melihat dari jauh dan mendengar sendiri perbincangan mereka, menjadi ikut sedih.


" La-lalu berapa sisa umur saya Dokter?? ," tanya Mirza.

__ADS_1


" Panjang umur seseorang hanya Allah yang tahu Tuan, hanya saja dalam segi medis, kami memperkirakan antara sekitar lima belas sampai enam belas bulan saja Tuan ," jawab sang Dokter.


" Astaghfirullah ," kata Mirza sambil meneteskan air matanya.


Cyra yang tidak pernah melihat sang suami menangis, dia pun jadi ikut-ikutan meneteskan air matanya juga.


" Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan, untuk membantu anda melawan kanker yang anda derita itu, dengan melakukan berbagai prosedur terlebih dahulu, supaya kami tahu pengobatan apa yang pas diberikan kepada anda ," kata sang Dokter kepada Mirza.


" Setiap orang pasti akan mati Dokter, hanya saja permintaan saya, saya ingin melihat anak pertama saya lahir dulu ke dunia ini ," kata Mirza.


" Bantulah saya Dokter, karena saya harus kuat, supaya bisa mengadzani dan menggendongnya untuk pertama kali di seumur hidup saya ," kata Mirza lagi.


Perkataannya Mirza membuat para wanita, terutama Cyra dan Umma Nada, langsung meneteskan air matanya cukup deras, karena merasa terharu dan terenyuh dengan ucapannya Mirza.


" Insyaallah Tuan, semoga Allah meridhoi niat kita semua ," jawab sang Dokter, dan ucapan dari Dokter itu langsung di aamiinkan oleh semua orang.


" Anda malam ini harus istirahatlah dulu Tuan, karena besok anda akan melakukan serangkaian pemeriksaan, untuk menentukan pengobatan apa yang harus anda jalani ," kata sang Dokter.


" Baik Dokter ," jawab Mirza, dan lalu Dokter tersebut beserta asistennya yang sudah selesai dengan tugasnya, mereka semua berpamitan pergi kepada semua orang.


" Sayang maafkan Kakak ," kata Mirza kepada Cyra.


" Karena Kakak tidak jujur selama ini kepadamu, jika Kakak pernah 0p3r45i tumor otak ," kata Mirza lagi.


" Hingga akhirnya Allah menghukum Kakak, karena tidak jujur kepadamu, dengan penyakit ini ," kata Mirza.


" Tidak apa-apa Kak, Cyra tidak marah ," jawab Cyra.


" Janganlah lagi mengingat masa lalu, karena sekarang sudah ada Cyra yang akan selalu menemani Kakak sepanjang waktu ," kata Cyra sambil mengusap pipi Mirza.


Mereka semua yang ada di situ, hanya diam saja, sambil mendengarkan Cyra dan Mirza yang sedang berbincang.


Situasi sekarang benar-benar menguras emosional sekali dan juga air mata, karena cinta Cyra dan Mirza terlihat begitu sangat besar sekali, terlebih lagi, Mirza ingin sembuh supaya bisa melihat anaknya lahir ke dunia.


Pandangan mereka semua teralihkan ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka dari luar, yang ternyata yang membukanya adalah Ayah Rafiq dan Mama Jian.


" Mirzaaaa!! ," kata Ayah Rafiq dan Mama Jian, dan mereka berdua langsung berjalan mendekat ke arah Mirza, yang sedang saling berpegangan tangan dengan Cyra.


" Nak, kenapa kamu bisa masuk ke rumah sakit?? ," kata Mama Jian.


" Semua sudah terlambat Ma ," jawab Mirza.


" Apa maksud kamu Nak?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Nak Mirza terkena kanker otak stadium akhir Mas Rafiq ," jawab Abi Rasyid mewakili mereka semua.


" Astaghfirullah ," kata Ayah Rafiq dan Mama Jian secara bersamaan.


" Ka-kanker otak!! ," kata Ayah Rafiq.

__ADS_1


" Bukankah dulu Mirza sudah pernah menjalani 0p3r451 pengangkatan tumor otak?? ," tanya Ayah Rafiq kepada dirinya sendiri.


Akmal yang mendengar, langsung mencoba menjawabnya.


" Iya Ayah, ternyata 0p3r451 itu tidak semuanya membuat bibit tumornya mati atau menghilang ," jawab Akmal.


" Hingga tanpa Kak Mirza sadari, tumor itu tumbuh lagi, dan sekarang sudah berkembang menjadi kanker ," jelas Akmal.


" Astaghfirullah, apa yang harus kita lakukan ," kata Mama Jian sambil menangis tersedu.


" Mama tenang saja, Mirza akan bertahan hidup sampai anak Mirza besar Ma ," jawab Mirza menenangkan sang Mama.


Mama Jian semakin menangis, mendengar Mirza malah menenangkannya.


Mata Ayah Rafiq tidak sengaja melihat ada Aalifa di antara mereka.


" Lho ada Nak Aalifa juga di sini?? ," tanya Ayah Rafiq.


" Iya Ayah, tadi sengaja ingin bertemu Kak Akmal ," jawab Aalifa sambil tersenyum.


" Ini sudah malam Nak, lalu kamu mau tidur di mana?? ," tanya Mama Jian.


" Aalifa bisa menginap di hotel ko Ma ," jawab Aalifa.


" Jangan, kamu tidur di rumah saja, di rumah ada kamar tamu yang kosong ," kata Ayah Rafiq.


" Terimakasih Ayah ," jawab Aalifa.


" Iya, sama-sama ," jawab Ayah Rafiq.


" Ayah sama Mama katanya mau pulang besok?? ," tanya Akmal.


" Mendengar kabar dari kamu, Ayah dan Mama langsung menitipkan Nenek sama Bibi kamu sementara waktu Akmal ," jawab Ayah Rafiq.


" Iya Akmal, karena Mama dan Ayah kepikiran terus dengan Kakak kamu, jadinya kami langsung putuskan pulang hari ini juga ," kata Mama Jian juga.


" Sudah malam, lebih baik, kamu antarkan Aalifa pulang ke rumah dulu Akmal ," kata Ayah Rafiq.


" Baik Ayah ," jawab Akmal.


" Kalau begitu, kami pamit pulang juga ya Abi, Paman, semuanya ," kata Hamzah juga.


" Iya Nak, maafkan kami yang tidak bisa menjamu kamu dan Nak Misha dengan baik ," jawab Abi Rasyid.


" Terimakasih ya Nak, sudah mau menyempatkan datang ke sini ," kata Ayah Rafiq juga.


" Iya Abi, Paman, sama-sama ," jawab Hamzah.


Akhirnya, Akmal, Aalifa, Hamzah dan juga Misha, berlalu pergi ke luar dari dalam ruang perawatan tersebut, setelah mengucapkan salam kepada mereka semua.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2