
Tidak ada yang menyadari jika Deena sedang berpandangan mesra dengan seorang laki-laki yang baru saja ditabraknya.
Mata mereka berdua sedang saling beradu. Hingga akhirnya Deena tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lainnya.
"Maaf. Saya tidak sengaja Tuan. Apakah baju anda kotor?" Deena merasa tidak enak sekali. Namun laki-laki yang ditabraknya malah menatapnya dengan sangat serius sekali.
Deena merasa malu sekali dengan tatapan dari laki-laki tersebut. Hingga membuatnya menjadi salah tingkah.
"Jika tidak keberatan. Saya ijin permisi dulu Tuan. Permisi." Deena langsung melangkah pergi dari hadapan laki-laki tersebut. Tapi sayang! Tiba-tiba pergelangan tangannya langsung dicekal oleh laki-laki itu.
"Apa kamu tidak mengenaliku Deena?" Deena menatap bingung ke arah laki-laki yang sudah berani mencekal tangannya.
Sebenarnya Deena sudah merasa tidak asing dengan wajah sang laki-laki. Tapi Deena tidak mau terlihat sok kenal dengannya. Nanti jika salah orang? Deena sendiri yang akan merasa malu. "Maaf?"
"Aku Fadli? Teman kuliahmu dulu." Dan ternyata laki-laki tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Fadli.
Deena merasa sangat terkejut sekali mendengar ucapan Fadli. Karena menurutnya? Fadli terlihat sangat berbeda sekali dengan terakhir kali dia melihatnya. Emm! Lebih tepatnya semakin tampan.
"Fadli! Kamu Fadli?" Fadli langsung menganggukkan kepalanya.
"Astaghfirullah! Kamu beneran Fadli?" Deena masih tidak percaya. Dan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Fadli yang dulu biasa saja. Sekarang terlihat sangat tampan dan dibilang bisa bersaing dengan Akmal.
Tuntutan pekerjaannyalah yang membuat Fadli merubah penampilannya. Dan sekarang Fadli malah terlihat semakin matang serta dewasa.
"Kenapa kamu terlihat tidak percaya kepadaku Deena? Apa aku terlihat begitu buruknya. Hingga kamu sampai sebegitunya kepadaku?" Fadli merasa heran.
"Bukan! Bukan begitu maksud aku. Emm! Justru sekarang kamu terlihat jauh berbeda dengan dulu waktu kuliah," balas Deena.
Tiba-tiba pandangan mereka berdua teralihkan ke arah seseorang yang memanggil nama Deena.
"Fadli!" ucap orang tersebut.
"Nah 'kan! Cyra saja sudah bisa langsung mengenaliku. Masa kamu tidak!" Deena merasa malu.
"Bagaimana rasanya menjadi seorang Dosen, Pak Dosen?"
"Ka-kamu sekarang Dosen, Fadli?" Deena terkejut lagi mendengar pekerjaan Fadli.
__ADS_1
Fadli menganggukkan kepalanya kepada Deena. "Iya."
"Emm? Ko kamu tahu Cyra? Jika aku seorang Dosen. Pasti dari pak Akmal ya?" Cyra langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya pasti dari kak Akmallah. Lalu dari siapa lagi coba. Kak Akmal kan calon suaminya Cyra," ucapan Deena mengejutkan Fadli.
"Pak Akmal calon suamimu? Lalu suamimu yang dulu?" pertanyaan Fadli sukses mendapat cubitan kecil di lengan tangannya dari Deena.
Cyra yang melihat apa yang sedang dilakukan oleh Deena kepada Fadli. Membuatnya langsung tersenyum dibalik niqabnya.
"Tidak apa Deena. Tenanglah. Aku sudah tidak terlalu terpuruk ko."
Fadli memperlihatkan wajah kebingungan dengan sikap Deena dan ucapan Cyra.
"Suamiku sudah meninggal Fadli. Dan aku turun ranjang dengan kak Akmal. Nanti kamu datang ya ke acara pernikahanku dengannya." Cyra berusaha jujur. Karena itu lebih baik baginya.
Fadli sampai kehabisan kata-kata mendengar pengakuan jujur dari Cyra.
"Aku permisi dulu ya Deena, Fadli. Mau mengambil minuman, haus. Kalian mengobrollah dulu tanpaku." Cyra mengangguk pelan. Lalu pergi dari hadapan Fadli dan Deena tanpa mau mendengar jawaban dari mereka berdua.
Setelah kepergian Cyra. Deena langsung mencubit lagi lengan Fadli. Dan kali ini langsung membuat Fadli mengaduh kesakitan.
"Kenapa kamu mencubitku lagi Deena? Bahkan ini lebih sakit dari sebelumnya!"
"Cyra sedang sensitif dengan pertanyaan seperti itu," ucap Deena lagi.
"Mana aku tahu Deena?"
"Sekarang kamu sudah tahu. Dan aku harap kamu jangan bertanya lagi kepadanya!" jawab Deena.
"Kalau begitu? Aku tanya saja kepadamu ya? Mana nomor ponselmu." Deena langsung mencatat nomor ponselnya di ponsel Fadli.
"Kamu mau ke mana?" karena Deena setelah mencatat nomor ponselnya ingin berlalu dari hadapan Fadli.
"Mau menyusul Cyra. Nanti pacar kamu bisa marah atau salah sangka kepadaku."
Fadli langsung menunduk dan tersenyum. "Aku belum punya pacar atau istri. Kalau kamu mau? Bagaimana denganmu saja."
Deena berpura-pura merajuk dihadapan Fadli. Tapi asli di dalam hatinya dia sedang tersenyum sangat manis sekali. "Kamu itu mau mengajak menikah atau mau mengajak pergi ke pasar? Hah!"
__ADS_1
"Lho? Memangnya kamu mau menikah denganku?"
"Bukankah aku ini jauh dari levelmu?" lanjut lagi ucapan Fadli.
"Sekarang level tidak penting. Yang penting siapa dulu yang berani melamarku dihadapan ke dua orang tuaku. Aku pasti mau," Deena sengaja memberi kode kepada Fadli.
"Kalau nanti malam aku datang ke rumahmu dan melamarmu. Apakah kamu akan langsung menerimaku?" goda Fadli.
Lagi-lagi Deena berpura-pura menunjukkan wajah sok jual mahalnya. "Kita lihat saja nanti. Bagaimana tanggapan Papa kepadamu."
"Ok! Siapa takut. Tunggu saja kedatanganku nanti malam bersama ke dua orang tuaku."
Fadli lalu melangkah satu langkah dan berada satu jengkal dihadapan Deena. "Jodoh siapa yang tahu. Jika karena pertemuan ini kamu adalah jodohku. Aku akan menjagamu seluruh jiwa dan ragaku. Dan aku serius akan hal itu." bisik mesra dari Fadli tepat di telinga Deena.
Deena tersenyum tipis sekali mendengar bisikan manja tersebut.
"Ok. Sampai jumpa nanti malam. Aku ingin lihat. Apakah kamu pembohong besar setelah sukses menjadi seorang Dosen. See you." Deena langsung berlalu dari hadapan Fadli.
Fadli hanya diam saja. Dengan tersenyum manis yang terlihat menggoda. Sambil terus memperhatikan Deena yang sedang mencari keberadaannya Cyra.
Selama kaki melangkah. Deena terus tersenyum sendiri. Dirinya tidak menyangka. Dulu tidak ada rasa sama sekali dengan Fadli. Tapi sekarang? Ada rasa di dalam dada yang ingin terus selalu bersamanya.
"Jika dia benar jodohku. Insyaallah aku juga akan menerimanya seluruh jiwa dan ragaku." Deena berucap di dalam hatinya.
Setelah puas menghadiri acara pernikahan Abraham dan Kalila. Cyra dan Deena memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.
Deena belum bercerita kepada Cyra tentang rencana Fadli tadi kepadanya. Karena Deena ingin melihat keseriusan Fadli terlebih dahulu akan ucapannya.
Fadli sendiri sebenarnya juga tidak ada niatan ingin melamar Deena. Namun karena melihat Deena masih sendiri dan wajahnya juga semakin cantik saja. Tanpa dia duga. Timbul perasaan ingin semakin dekat dengan Deena begitu saja di dalam hatinya.
Fadli berdoa di dalam hatinya. Jika memang Deena jodoh yang dia inginkan sejak dulu. Dirinya akan sepenuhnya mencintai Deena sampai maut memisahkan. Walau belum ada cinta yang kuat di dalam hati mereka berdua.
Siapa yang tahu. Awalnya mereka cuma berteman. Tidak tahunya ternyata mereka sudah dijodohkan oleh Allah subhanahu wata'ala di lauhul mahfudz.
Sore harinya. Sekitar jam setengah tiga sore. Gantian Akmal yang datang menghadiri pesta pernikahan Abraham dan Kalila seorang diri.
Setelah pulang mengajar jam dua siang tadi. Tanpa beristirahat terlebih dahulu. Akmal langsung bergegas menuju ke masjid agung tempat diadakannya pesta pernikahan Abraham dan Kalila.
Banyak pasang mata yang terus menatap ke arah Akmal yang terlihat matang dan juga tampan. Tapi Akmal tidak tergoda oleh mereka semua. Sebab wanita yang dia cintai sudah mendekati kata sempurna dibandingkan dengan yang lainnya.
__ADS_1
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...