IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
PENJARA


__ADS_3

Meninggalkan kampus sejenak. Kita beralih ke rumah papa July, alias ayah kandungnya Aish.


Semalam papa July tidak bisa tidur sama sekali. Karena dia terus teringat dengan putri tercintanya. Setelah sarapan pagi bersama, papa July langsung bergegas pergi ke kantor polisi bersama sang istri.


Mobil yang papa July kendarai, akhirnya sampai juga di kantor polisi tempat Aish sedang ditahan saat ini.


Aish yang melihat kedatangan ke dua orang tuanya langsung menangis sejadi-jadinya. Dan meminta tolong untuk segera dibebaskan dari dalam penjara.


"Pa, Ma. Tolong Aish. Aish tidak betah berada di sini, Pa, Ma,"


Melihat sang putri berderai air mata seperti itu. Mama Ainul merasa sangat tidak tega sekali. "Pa! Tolong Aish, Pa."


"Sebelum Papa menolongmu. Sekarang ceritakan kepada Papa! Bagaimana kamu bisa sampai dimasukkan ke dalam penjara."


Aish menunduk malu dan takut untuk bercerita jujur kepada ke dua orang tuanya. Terutama kepada sang papa.


"Cepat cerita! Atau Papa menanyakannya sendiri kepada polisi!"


Bukannya bercerita. Aish malah semakin menunduk dan juga menangis.


"Mama! Lihatlah putrimu itu! Bukannya menjawab, malah menangis!" papa July merasa geram dengan Aish.


"Nak, jawablah. Jangan membuat papa semakin marah kepadamu," ucap mama Ainul dengan lembut.


"Hiks! Aish memang sudah sengaja ingin menabrak Nyonya Cyra, Pa."


"Ceritakan semuanya!" Papa July seakan menuntut penjelasan.


"Maaf? Permisi, ada apa ya Tuan. Kenapa anda berteriak seperti itu?"


Petugas polisi sampai mendatangi papa July. Karena dia yang merasa geram dengan Aish, tidak sadar sampai meninggikan suaranya dan terdengar oleh polisi yang berjaga.


"Maaf Pak Polisi," jawab mama Ainul.


Papa July tiba-tiba berdiri dan bertanya kepada pak polisi. "Maaf Pak. Bisakah saya mendapatkan penjelasan akan masalah yang sedang menimpa anak saya?"


Sambil mengangguk, pak polisi pun menjawab. "Baiklah. Ayo ikut dengan saya, Tuan."


Papa July langsung mengangguk. Lalu mengikuti langkah kaki sang polisi menuju ke ruang kantor dan mengarahkannya masuk ke dalam ruang kantor temannya Hamzah.


"Silahkan masuk Tuan," ucap pak polisi. "Anda bisa bertanya kepada atasan saya secara langsung di dalam."


Papa July mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada pak polisi itu. Dan pak polisi menjawabnya dengan ramah. Lalu kembali melanjutkan tugasnya lagi.


Mendengar suara masuk dari dalam ruangan. Papa July langsung membuka pintunya untuk menemui temannya Hamzah.

__ADS_1


"Iya Pak. Silahkan duduk," ucap ramah dari temannya Hamzah yang bernama Pak Toriq.


Papa July langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya pak Toriq.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya ramah dari pak Toriq kepada papa July.


"Pak polisi. Tolong beri saya penjelasan. Kenapa anak saya Aish maharani bisa sampai di masukkan ke dalam penjara?"


Pak Toriq mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari papa July.


Sebelum menjawab. Pak Toriq mengambil salah satu map yang ada di atas meja kerjanya. Dan juga membalikkan laptopnya kehadapan papa July.


"Ini map yang berisi kejahatan putri anda Aish maharani, beserta pasal apa saja yang dia langgar."


"Dan ini lihatlah dulu Tuan. Supaya anda bisa semakin jelas." Pak Toriq langsung memutarkan rekaman cctv mobil Aish yang ingin menabrak Cyra.


Papa July benar-benar sangat terkejut sekali melihat hasil rekaman cctv itu. Setelahnya, dia langsung membaca map yang ada dihadapannya.


"Bagaimana Tuan? Apakah sekarang sudah jelas bagi Anda? Kenapa kami sampai memasukkan dia ke dalam sel penjara?"


Papa July belum bisa menjawab karena masih syok.


"La-lalu? Siapakah yang sudah melaporkan putri saya ke sini Pak?"


Papa July bertanya dengan wajah yang terlihat sangat syok sekali dengan perbuatan sang putri.


"Bolehkah saya meminta alamat tempat tinggalnya Pak? Karena saya ingin bertemu dia secara langsung."


"Bantulah saya Pak. Saya cuma melaksanakan tugas sebagai seorang Ayah. Setidaknya saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membebaskan putri saya."


Pak Toriq melihat ketulusan dan kasih sayang yang besar di mata papa July terhadap Aish. Dan pada akhirnya, ia pun memberikan alamat tempat tinggal Hamzah kepada papa July.


Setelah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Dan juga mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. Papa July kembali lagi untuk menemui sang putri dan juga sang istri yang tadi sengaja dia tinggal.


Aish dan mama Ainul tadi ketika ditinggal oleh papa July. Mama Ainul terus mendesak Aish untuk berterus terang kepadanya.


Mendengar sendiri pengakuan dari sang putri. Mama Ainul sebenarnya merasa kecewa dengan sikap Aish yang terlalu dibutakan oleh cinta.


Aish dan mama Ainul yang melihat kedatangan sang papa. Mereka berdua langsung sedikit menegakkan duduknya.


"Apa latar belakang kamu melakukan itu kepada Nyonya Cyra, Aish!"


Terlihat sekali di wajah papa July penuh dengan amarah dan pertanyaan yang membuatnya penasaran.


"Dia sudah merebut laki-laki yang Aish cintai Pa," jawab Aish sambil menunduk.

__ADS_1


"Siapa laki-lakinya? Apa dia yang sudah menyelamatkannya?"


Aish mengangguk membenarkan ucapan sang papa.


Papa Aish terlihat mengusap wajahnya sangat kasar. "Astaghfirullah."


"Laki-laki tidak cuma dia saja Aish. Dan cinta juga tidak bisa dipaksakan." Papa July menjedanya sejenak. "Jika dia tidak mencintaimu, ya sudah tinggalkan saja. Jangan membuat dirimu hancur ke dalam cinta buta yang tiada orang yang mau menolongmu."


Aish menangis menyesal. Menyesal akan perbuatannya yang sangat gegabah terlalu termakan amarah yang menguasai diri.


"Tinggallah di sini dulu. Papa akan mengusahakan, supaya kamu bisa segera ke luar dari sini," ucap papa July.


"Ayo Ma. Kita pulang."


Mama Ainul langsung berdiri dari duduknya untuk pergi dari rutan itu.


Dengan terpaksa Aish menurut. Ketika dirinya dibawa masuk kembali ke dalam sel tahanan oleh para polisi yang berjaga. Dan melihat kepergian ke dua orang tuanya dengan perasaan sedih yang mendalam.


Sedangkan untuk Hamzah sendiri. Saat ini dia sudah berada di cafe miliknya.


Sedang asik melayani pelanggan cafenya. Hamzah merasa ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Benar saja ketika sudah dilihatnya, ternyata ada panggilan masuk dari Abraham.


"Assalamu'alaikum Abraham."


Diseberang sana, Abraham langsung menjawabnya. "Wa'alaikumussalam Ham. Kamu sedang apa sekarang?"


"Sedang ada di cafe seperti biasanya. Ada apa?"


"Nanti malam aku mau datang ke rumahmu. Aku mau memberikan undangan pernikahanku dengan Kalila untukmu."


Sangat terkejut sekali si Hamzah mendengar Abraham yang tidak tahunya akan segera menikahi Kalila. "Wah? Hebat sekali kamu bro. Tidak menyangka secepat ini kamu akan segera menikah."


Abraham tertawa di seberang sana. "Maaf. Sengaja aku tidak mau cerita. Aku ingin ini menjadi kejutan untuk kalian semua."


Dengan bernada sebal Hamzah menjawabnya. "Iya. Kamu berhasil membuatku terkejut."


Abraham masih tertawa mendengar ucapannya Hamzah. "Lantas bagaimana? Apakah nanti malam kamu ada di rumah?"


"Aku ada di rumah ko," jawab Hamzah.


"Oh ya. Apakah kamu sudah tahu kalau Akmal dan Cyra baru saja mengalami kecelakaan?"


Kali ini kebalik. Jika tadi Hamzah yang terkejut, sekarang Abraham yang merasa terkejut mendengar ucapannya Hamzah. "Apa! Kecelakaan?"


Bodohnya Hamzah. Dia malah langsung mengangguk, padahal Abraham tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2