
Cyra yang melihat Mirza sering melamun karena memikirkan Akmal, dan hanya mau makan jika dipaksa untuk makan, membuatnya semakin bersedih saja.
Jika bukan karena calon buah hatinya yang menguatkannya saat ini, Cyra pasti juga akan sama kurusnya seperti Mirza.
" Abi, abi makan yuk, Umi suapi ya ," kata Cyra dengan riang gembira untuk menutupi kesedihan hatinya.
Mirza yang sedang melamun, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Cyra, sambil menggelengkan kepalanya.
Para orang tua yang kebetulan ada di situ, merasa kasihan melihat Cyra yang berusaha kuat dihadapan Mirza.
" Umma kasihan melihat Cyra, Abi ," kata Umma Nada kepada Abi Rasyid.
" Tahan air mata Umma, jangan sampai Cyra dan Mirza melihatnya ," jawab berbisik dari Abi Rasyid.
" Ayah, apakah belum ada kabar tentang Akmal?? ," tanya Mama Jian kepada Ayah Rafiq.
" Belum ada Mama ," jawab pelan dari Ayah Rafiq.
Ayah Rafiq, Mama Jian, Umma Nada dan Abi Rasyid, lalu pada diam sambil menatap ke arah Cyra, yang akhirnya berhasil bisa membujuk Mirza untuk makan.
Sekitar empat hari lamanya Mirza berada di rumah sakit kemarin, para orang tua sudah pada berunding tentang perjodohan yang Akmal jalani dengan Aalifa.
Ayah Rafiq akhirnya setuju, ketika Abi Rasyid, Umma Nada dan Mama Jian, menyuruhnya untuk menyetujui keinginan Akmal yang tidak mau melanjutkan lagi perjodohan tersebut.
Akan tetapi, ketika Ayah Rafiq mencoba menghubungi Akmal, untuk memberitahukannya perihal tersebut, sampai sekarang dirinya belum bisa menghubungi Akmal sama sekali.
Keluarga Aalifa sendiri sejak beberapa hari yang lalu sudah diberitahu oleh Ayah Rafiq, jika Akmal sudah tidak mau melanjutkan lagi perjodohan ini.
Marah,? tentu saja Pak Ismail merasa marah dengan sikap Keluarga Ayah Rafiq, yang seperti menyepelekan Keluarganya.
Selaku Ayah dari pihak perempuan dan sudah menyiapkan semuanya sejak awal, merasa seperti tidak dihargai semua usahanya selama ini.
" Maafkan kami Pak Ismail, saya sendiri sudah berusaha membujuk Akmal, apalagi ditambah dengan keadaan Mirza yang semakin memburuk ," begitulah ucapan yang Ayah Rafiq sampaikan kepada Pak Ismail kemarin.
Ayah Rafiq beralasan, jika yang membuat Akmal tidak mau melanjutkan perjodohan ini, karena faktor keadaan sang Kakak yang semakin memburuk.
Sengaja Ayah Rafiq berbohong dan tidak mau berbicara jujur kepada Pak Ismail, tentang sikap Aalifa yang dinilai buruk oleh Akmal.
__ADS_1
Awalnya Pak Ismail marah-marah kepada Ayah Rafiq, namun, di saat Pak Ismail sudah bisa berpikir dengan jernih dan juga sudah bisa meredakan amarahnya, dia mencoba menghubungi Ayah Rafiq untuk menanyakan bagaimana keadaan Mirza saat ini.
Sebagai seorang Ayah, Pak Ismail sangat tahu sekali, bagaimana perasaan Ayah Rafiq saat ini, hingga akhirnya Pak Ismail menjadi luluh dan bisa memaafkan Keluarga Ayah Rafiq.
Jika Pak Ismail dan Mama Atika sudah bisa menerima keputusan Ayah Rafiq, tapi tidak dengan Aalifa. Dia malah marah-marah sendiri dan tidak terima dengan pembatalan nikah, yang sudah sangat diharapkannya sejak mengenal Akmal.
Aalifa terus menerus mencoba menghubungi Akmal, akan tetapi tidak bisa, karena nomor ponselnya sudah diblokir oleh akmal.
Namun Aalifa juga tidak kehabisan akal, dia mencoba menghubungi Akmal menggunakan nomor baru, dan berhasil. Alhasil Aalifa mencoba merayu, mendekati dan membujuk Akmal lagi untuk mau melanjutkan rencana pernikahan mereka.
" Sampai kapanpun Kakak tidak akan mau menikah denganmu, Aalifa!! ," ucap Akmal pada saat itu kepada Aalifa.
Genap satu minggu Akmal pergi dari rumah, dia terus mendapatkan nasihat dari ke dua sahabatnya, untuk mau menjenguk sang Kakak di rumah sakit, tapi semuanya sia-sia. Karena Akmal masih kekeh dengan pendiriannya.
Sebagai seorang sahabat, Hamzah dan Abraham merasa prihatin dengan keadaan Akmal dan juga Kak Mirza, oleh karena itu, mereka berdua terus meyakinkan Akmal, jika semuanya akan baik-baik saja, walau dirinya pulang ke rumah.
Ayah Rafiq sebetulnya juga sudah sering mencoba menemui Akmal di kampus, hanya saja Ayah Rafiq tidak pernah bertemu dengan Akmal, sebab Akmal selalu menghindar jika melihat keberadaan sang Ayah di kampus tempatnya mengajar.
Tapi tidak untuk saat ini. Genap delapan hari Akmal pergi, Ayah Rafiq mencoba menemui Akmal lagi di kampus.
Ayah Rafiq menyuruh para Dosen yang lainnya, untuk jangan memberitahukan keberadaannya kepada Akmal, supaya Akmal tidak pergi lagi darinya.
" Ayah!! ," ucap Akmal dengan ekspresi terkejut.
" Akmal tunggu,!! jangan pergi Nak!! ," cegah Ayah Rafiq, ketika melihat Akmal akan pergi dari hadapannya.
Akmal lalu mengurungkan niatnya untuk pergi dan berbalik badan menghadap sang Ayah lagi.
Ayah Rafiq berjalan mendekati Akmal dan mengajak Akmal untuk berbicara dari hati ke hati.
" Duduklah dulu di sini bersama Ayah ," kata Ayah Rafiq.
Akmal pun menurut, dia lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya di samping sang Ayah.
" Kamu sudah besar Akmal ," ucap Ayah Rafiq.
" Kamu juga sudah bisa menentukan pilihanmu sendiri ," ucap Ayah Rafiq lagi.
__ADS_1
" Hingga tanpa Ayah sadari, jika Ayah terlalu memaksamu untuk mengikuti kemauan Ayah, tanpa mau melihat betapa tersiksanya dirimu dengan kemauan Ayah itu ," kata Ayah Rafiq dan Akmal masih diam mendengarkan.
" Pulang ya Akmal, kasihan Kakak kamu ," bujuk Ayah Rafiq.
" Keadaan Kakak kamu semakin drop dan semakin memburuk, karena dia terlalu stres cuma memikirkanmu saja selama beberapa hari ini ," bujuk Ayah Rafiq lagi hingga membuat Akmal tanpa sadar meneteskan air matanya.
" Walau kamu sudah tidak mau pulang ke rumah lagi, setidaknya temuilah Kakak kamu dulu, bujuk dia untuk bertahan melawan sakitnya, supaya Cyra tidak terlalu banyak memikul beban di pundaknya ," ucap Ayah Rafiq dengan suara lembut.
" Akmal mau pulang, jika Ayah tidak memaksa Akmal untuk menikah dengan Aalifa ," kata Akmal.
" Baiklah, Ayah setuju Nak, karena kebahagiaan anak adalah yang utama bagi orang tuanya ," jawab Ayah Rafiq.
" Maafkan Ayah, jika Ayah sudah khilaf kepadamu ," ucap Ayah Rafiq.
Akmal refleks langsung memeluk sang Ayah dengan sangat erat sekali, sambil meneteskan air matanya. Sebab dia sudah membuat sang Ayah meminta maaf kepadanya.
Pelukan erat dari Akmal tentu saja langsung dibalas oleh Ayah Rafiq, sebagai ungkapan kerinduan yang dirasakannya sejak kemarin.
" Ayah tidak perlu meminta maaf, justru di sinilah Akmal yang bersalah kepada Ayah ," ucap Akmal sambil menangis cukup deras.
" Seorang Ayah pasti akan selalu memaafkan kesalahan anaknya, Akmal ," jawab Ayah Rafiq sambil tersenyum.
" Ayo, kita segera pergi ke rumah sakit ," ajak Ayah Rafiq.
" Pasti Kakak kamu sangat senang melihat kehadiranmu ," kata Ayah Rafiq lagi sambil menepuk pundak Akmal.
" Iya Ayah, tapi Akmal mau cuci muka dulu ," jawab Akmal.
" Cuci muka lah, biar para wanita yang ada di sini tidak melihat wajah jelek mu karena baru saja menangis ," canda Ayah Rafiq, dan Akmal langsung tertawa.
Ketika Akmal sudah selesai mencuci muka, dirinya bersama Ayah Rafiq langsung bergegas menuju ke rumah sakit tempat Mirza sedang dirawat.
Setelah sekian lama tidak berhasil dibujuk oleh Hamzah dan Abraham, akhirnya, Akmal luluh juga dengan bujukan dari sang Ayah.
Namun, di saat Akmal dan Ayah Rafiq baru saja sampai di rumah sakit, mereka berdua dikejutkan dengan keadaan Mirza yang semakin memburuk, hingga membuat para Dokter merasa sedikit ketakutan, jika mereka tidak bisa membantu Mirza untuk bertahan.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...