
"Kami tidak mempermasalahkan apa status Cyra saat ini Mas Rasyid. Insyaallah kami bisa menerimanya sepenuh hati dan juga ikhlas lillahi ta'ala." Ridwan melanjutkan lagi ucapannya.
"Emm! Sebelumnya maafkan saya Mas Ridwan." Jawab abi Rasyid.
"Saya tidak bisa menerima lamaran Mas Ridwan untuk Cyra, anak saya." Gantian Ridwan dan Nurza yang saling pandang.
Senyum yang awalnya ada di bibir Fikri pun. Sekarang seakan menghilang karena mendengar ucapan abi Rasyid.
"Jika boleh tahu? Apa yang membuat Om Rasyid menolak lamaran saya?" Fikri merasa sangat penasaran sekali. "Apa pekerjaan saya menurut Om Rasyid masih kurang layak untuk menjadi suaminya Cyra?" ucap Fikri lagi.
Nurza terlihat sangat penasaran juga. "Iya Mas Rasyid. Fikri ini seorang Dokter anak. Dan saya sendiri berjanji akan menjadi Mama mertua yang baik untuk Cyra. Serta akan menganggap anak Cyra sebagai cucu kandung saya sendiri."
"Bukannya begitu Mbak Nurza. Tapi .... " ucapan umma Nada disela Ridwan.
"Tapi apa Mbak Nada?" sela Ridwan.
Umma Nada mengalihkan pandangannya ke arah abi Rasyid seperti meminta bantuan.
"Begini Mas Ridwan, Mbak Nurza dan Nak Fikri."
"Cyra sebenarnya sudah ada yang melamar. Dan Nak Fikri adalah laki-laki yang ke dua belas yang melamar Cyra." Fikri dan ke dua orang tuanya merasa sangat terkejut sekali.
"Di antara ke dua belas laki-laki itu. Sudah ada satu laki-laki yang Cyra terima. Dan kami bahkan sudah menentukan kapan mereka akan menikah setelah masa iddah Cyra selesai." jelas abi Rasyid.
"Tidak bisakah kamu menemukan Cyra terlebih dahulu dengan Fikri, Mas Rasyid?"
Abi Rasyid menggelengkan kepalanya. "Maaf Mas Ridwan. Saya tidak bisa mempertemukan mereka. Karena saya sudah berjanji untuk saya tepati kepada calon suami Cyra. Bahwa tidak ada laki-laki lain yang boleh melihat Cyra setelah ditentukannya tanggal pernikahan mereka."
Mencoba menerima dengan ikhlas. Itulah yang Ridwan, Fikri dan Nurza lakukan saat ini.
Umma Nada merasa tak enak. "Maafkan kami Mbak Nurza. Ini bukan kuasa kami. Dan yang menjalani adalah Cyra. Jadi semua keputusan kami serahkan semuanya kepadanya."
Nurza menghela nafasnya. "Iya. Insyaallah saya mencoba mengerti."
"Ternyata apa yang saya dengar itu tidak salah. Jika Cyra selalu menjadi rebutan sejak dulu. Bahkan setelah dia menjadi seorang janda sekalipun." ucap Ridwan.
Ridwan lalu berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Nurza dan juga Fikri. "Kalau begitu. Kami pamit undur diri dulu Mas Rasyid, Mbak Nada. Terimakasih atas waktunya."
Abi Rasyid menganggukkan kepalanya sambil membalas jabat tangan Ridwan. "Sama-sama Mas Ridwan. Semoga kalian semua selamat sampai di rumah."
__ADS_1
Ucapan abi Rasyid langsung di aamiinkan oleh semua orang. Setelahnya. Ridwan, Nurza dan juga Fikri. Lalu pulang dari rumah abi Rasyid menuju ke rumah mereka sendiri.
Mau tidak mau. Iya memang itu keputusan yang harus Fikri terima. Dan itu artinya dia belum berjodoh dengan Cyra.
Seandainya Akmal tahu. Dia pasti akan merasa cemburu dan tidak tenang pikirannya. Apalagi Fikri seorang Dokter anak.
Cyra yang sudah mendengar cerita dari sang umma. Dia hanya bisa menghela nafasnya saja. Karena bukan keinginan dirinya juga ada banyak laki-laki yang datang silih berganti ke rumah sang abi untuk melamarnya.
Sebisa mungkin Cyra tidak mau bercerita kepada Akmal. Karena Cyra takut melihat wajah dingin Akmal lagi.
...*________*...
Berpindah tempat. Lebih tepatnya di rumah Hamzah dan juga Misha. Saat ini di rumah mereka kedatangan tamu yaitu sahabat mereka sendiri. Siapa lagi jika bukan Abraham dan juga Kalila.
"Kamu sudah cocok ko Kalila untuk menjadi seorang ibu," Kalila tersenyum mendengar ucapan Misha.
"Doakan saja. Semoga nanti setelah menikah. Aku bisa segera menyusulmu dan juga Cyra." Misha langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Gantian Abraham yang mengobrol bersama Hamzah. "Maafkan aku ya Ham. Aku baru bisa menjenguk Misha saat ini. Karena dari kemarin bengkel alhamdulillah selalu ramai. Dan aku juga harus membeli suku cadang di luar kota."
Hamzah tersenyum. "Tidak apa-apa. Santai saja. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."
"Sudah ko Kak. Bahkan sejak hari pertama." Bukan Hamzah yang menjawab. Melainkan Misha.
Pandangan mereka semua lalu teralihkan ke arah tamu yang baru saja datang dan langsung mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." Jawab serempak dari semua orang.
"Wah! Panjang umur. Orang yang sedang dibicarakan langsung datang dihadapan mata." ucap Hamzah. "Ayo masuk Mal. Silahkan duduk."
Akmal langsung duduk di sofa sebelah Abraham. "Oh ya nih Misha. Aku bawakan kue untuk kalian semua."
Misha menerimanya dengan suka cita. Dan lalu dia masuk ke dalam untuk menyiapkan kue itu di atas sebuah piring.
"Dari mana kamu Mal? Apa sengaja ingin datang ke sini?" tanya Abraham.
"Tidak! Kebetulan aku sedang membeli kue untuk mama di toko roti seberang. Jadi aku putuskan mampir ke sini saja. Sekalian ada yang ingin aku sampaikan kepada Hamzah. Eh! Tidak tahunya ada kamu juga di sini."
"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan kepada Hamzah? Apakah jika aku tidak ada di sini kamu tidak akan memberitahukannya juga kepadaku?" Abraham terlihat sensitif sekali.
__ADS_1
Akmal langsung merangkul pundak Abraham. "Kamu kenapa bro. Sedang datang bulan ya?" canda Akmal.
"Kamu tetap akan ku kasih tahu. Tapi nanti setelah dari rumah Hamzah. Tenanglah" Akmal menepuk-nepuk pelan pundak Abraham.
Hamzah menyelanya. "Sudah! Sekarang katakan. Apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku?"
Akmal tersenyum terlebih dahulu. Sebelum menjawab pertanyaan dari Hamzah.
"Malah senyum sendiri begitu. Gila!" sindir Abraham.
"Sepertinya kamu memang harus ganti jenis keelamin Abraham." Abraham semakin marah mendengar ucapan Akmal. Sedangkan Kalila malah langsung tertawa.
"Aku mau menyampaikan kepada kalian semua. Jika setelah masa iddah Cyra. Dua minggu yang akan datang. Aku akan melangsungkan pernikahanku dengannya. Dan aku ingin kalian semua datang ke acara pernikahanku."
Seperti kejutan yang teramat besar sekali ucapan Akmal saat ini. Hamzah, Abraham, dan juga Kalila sangat terkejut mendengarnya.
Begitu pula dengan Misha yang baru saja datang dari dalam rumah sambil membawa dua piring roti yang berbeda rasa. "Apa! Kak Akmal akan menikah dengan Cyra!"
"Memangnya? Apakah Cyra sudah menerima Kakak sebagai calon suami" tanya Misha.
Pandangan semua orang langsung teralihkan ke arah Akmal.
Sambil mengangguk Akmal menjawab. "Alhamdulillah. Lima hari yang lalu Cyra sudah menerima lamaran Kakak. Dan malam harinya abi Rasyid menentukan hari pernikahan kami berdua."
"Kapan pernikahan Kakak dan Cyra akan dilangsungkan?" gantian Kalila yang bertanya.
"Dua bulan dari sekarang Kalila. Nanti kalian akan dapat undangannya."
Hamzah tiba-tiba berdiri lalu memeluk Akmal ala laki-laki. "Selamat Mal. Aku sangat senang sekali mendengar berita ini. Sungguh pengorbananmu tidak sia-sia selama ini."
Abraham pun ikut berdiri juga. Lalu menepuk pundak Akmal dengan kuat. "Aku pun juga senang mendengarnya Mal. Salut aku kepadamu. Aku sendiri mungkin tidak akan bisa sepertimu."
"Terimakasih. Ini juga berkat doa kalian semua."
Hamzah dan Abraham tersenyum. Lalu mereka duduk kembali ke tempat duduknya semula.
Sungguh usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika belum berhasil. Itu tandanya bukan rejeki. Dan pasti ada hikmah dibaliknya. Karena Allah pasti sudah memberikan jalan ke luar dari setiap usaha yang sedang dilakukan oleh umatnya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
__ADS_1
...***TBC***...