
Seharian itu Akmal memilih menemani baby Zahwa di klinik. Urusan mengajar seperti biasanya. Dia ijin untuk hari itu saja demi sang putri angkat. Yah! Putri angkat. Karena memang Akmal sudah menganggap baby Zahwa sebagai putrinya sendiri.
Tidak bisa Cyra bohongi. Kehadiran Akmal di situ banyak sekali menolong dan juga membantunya. Dia seperti sebagai pengganti Mirza untuk dirinya dan juga baby Zahwa.
Begitupula dengan abi Rasyid, yang sangat memperhatikan sekali bagaimana sikap Akmal kepada sang cucu pertamanya itu.
"Alhamdulillah Nyonya Cyra. Baby Zahwa sudah stabil suhu badannya. Jika sampai sore nanti dia masih menunjukkan perkembangan yang baik. Saya akan memperbolehkan dia pulang."
Mendengar penjelasan dari sang Bidan. Semua orang merasa sangat senang sekali. Senyum kebahagiaan terpancar jelas di wajah semua orang.
"Anak Abu pasti kuat dong. Iya kan sayang. Hmm." Akmal merasa gemas sambil mencium pipi baby Zahwa.
Tidak terasa waktu sholat dhuhur pun tiba. Semua para laki-laki memutuskan untuk sholat dhuhur terlebih dahulu di mushola kecil yang disediakan di samping klinik.
"Abu sholat dulu ya sayang. Cium dulu dong." Terlihat sekali kasih sayang Akmal kepada baby Zahwa.
Dibalik niqobnya. Cyra tersenyum senang dan hatinya merasa nyaman dengan sikap Akmal yang begitu menyayangi putri semata wayangnya.
Seperti prediksi dari Bidan tadi. Ketika waktunya diperiksa lagi. Tubuh baby Zahwa memperlihatkan perubahan yang sangat signifikan, hingga waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Akhirnya, Bidan itu pun memperbolehkan baby Zahwa dibawa pulang oleh mereka.
"Alhamdulillah." Ucap syukur dari semua orang.
"Pulang ya sayang. Kasihan Umi, tuh lihat daritadi dia menangis terus." Akmal mengajak berbicara baby Zahwa sambil menggoda Cyra.
Cyra tersenyum sambil menunduk melihat sikap Akmal yang bisa selalu manis kepadanya. Sama dengan sikap Mirza dulu kepadanya.
Sesampainya di rumah abi Rasyid. Mereka semua langsung bergegas menunaikan ibadah sholat maghrib sebelum waktunya habis.
"Kakak sholatlah dulu. Nanti keburu waktunya habis. Biar Cyra nanti gantian sama yang lainnya." Akmal mengangguk. Setelahnya, dia berlalu pergi menuju ke ruang sholat yang ada di rumah abi Rasyid.
Seperti sikap ayah Rafiq kemarin. Abi Rasyid pun ingin menjamu besannya dengan sangat baik sekali.
"Sebelum pulang lebih baik kalian makan malam di sini dulu." Ayah Rafiq mengangguk setuju.
Di meja makan terjadi canda tawa dan perbincangan hangat di antara mereka semua. Tidak seperti kemarin ketika makan malam di rumah ayah Rafiq.
Sedang asik mengobrol dan berbincang. Tiba-tiba Akmal menyela ucapan mereka semua.
__ADS_1
"Maaf semuanya." Pandangan semua orang langsung teralihkan ke arah Akmal.
"Ada apa Nak?" umma Nada bertanya.
"Ada yang ingin Akmal sampaikan kepada kalian semua Umma." Abi Rasyid mengangguk memberi kode untuk melanjutkan ucapannya.
"Akmal tahu jika masa iddah Cyra masih kurang beberapa minggu lagi," Akmal berucap sambil melirik Cyra. Dan sikap Akmal malah membuat jantung Cyra berdebar-debar.
"Tapi Akmal tetap ingin melamar Cyra sebagai calon istri Akmal. Apakah Abi mengijinkan Akmal, untuk meminang Cyra sebagai istri Akmal?" Akmal berbicara dengan sangat tegas dan juga siap.
Cukup terkejut mereka semua. Terutama Cyra. Karena Akmal berani melamarnya dihadapan semua keluarganya.
Tidak mau menjadi orang tua yang tidak bijak. Abi Rasyid mencoba mengambil nafasnya dengan cukup panjang, supaya bisa berpikir dengan jernih sebelum memberikan jawaban kepada Akmal.
Sedangkan Akmal harap-harap cemas menunggu keputusan abi Rasyid.
"Sebelumnya. Abi hargai kejujuranmu Nak." Akmal mengangguk. Dan yang lainnya sangat serius mendengarkan.
"Tapi semua itu Abi tidak bisa memutuskannya sendiri," ucap abi Rasyid.
Akmal langsung mengalihkan pandangannya ke arah Cyra. Begitupun dengan yang lainnya.
Cyra yang ditatap oleh semua orang, jantungnya semakin berdetak lebih kencang sekali.
"Nak. Jawablah." Umma Nada menyadarkan Cyra yang malah diam saja.
"Cyra. Maukah kamu menikah dengan Kakak?" tatapan Akmal terlihat sangat serius sekali.
"Kakak akan menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Cinta Kakak tulus dan murni sejak dulu kepadamu. Maukah kamu menjadi ibu untuk anak-anak Kakak kelak wahai bidadari hatiku?" terdengar sangat romantis dan manis sekali ucapan Akmal.
Akmal dan Mirza bagi Cyra sama-sama romantis dan juga manis. Tapi mereka berbeda cara menunjukkannya. Mereka mempunyai porsinya sendiri-sendiri dalam bersikap. Dan rasanya pun yang dirasakan oleh Cyra di dalam hatinya juga berbeda.
Mama Jian tersenyum sangat tipis sekali. Karena merasa bangga mempunyai anak laki-laki yang pemberani dan sangat menghargai seorang wanita. Bahkan dirinya juga tidak segan-segan berbicara romantis dihadapan abi Rasyid.
"Emm!" Cyra menetralkan rasa gugup dan groginya.
"Sebelumnya maafkan Cyra, Kak. Jika seumpama ucapan Cyra saat ini membuat Kakak kecewa." Jantung Akmal berdebar-debar.
__ADS_1
Dug! Dug! Dug! Seperti orang yang ada di sekitarnya bisa mendengar suara detak jantungnya.
"Ijinkan Cyra untuk berpikir terlebih dahulu Kak. Jika waktunya tiba. Cyra akan memberikan jawaban untuk Kakak, yang insyaallah itu adalah jalan yang terbaik yang Allah berikan kepada Cyra dan juga Kakak." Akmal mengangguk setuju.
"Baiklah. Kakak menghargai keputusanmu Cyra. Dan semoga jawabanmu nanti seperti yang sudah Kakak impikan selama ini." Cyra mengangguk pelan.
Selesai makan malam. Ayah Rafiq langsung mengajak mama Jian dan Akmal untuk kembali pulang ke rumah mereka sendiri.
Kali ini Cyra ikut mengantarkan keluarga ayah Rafiq sampai di teras depan rumahnya .
Lambaian tangan dan senyuman dari semua orang pertanda perpisahan sementara bagi mereka semua. Dan ketika mobil Akmal sudah tidak terlihat lagi dihadapan mata. Abi Rasyid langsung mengajak umma Nada dan Cyra untuk masuk ke dalam rumah.
Cyra yang akan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba dipanggil oleh abi Rasyid.
"Iya Abi? Ada apa?" Cyra bertanya.
"Abi dan umma tidak melarang kamu jika ingin bersama Akmal, Cyra. Abi tidak peduli omongan orang lain. Karena yang terpenting adalah kebahagiaanmu dan Zahwa." Umma Nada tersenyum mendengar ucapan abi Rasyid.
"Akmal pemuda yang baik. Dia sholeh. yang terpenting dia mau menerima kamu dan juga Zahwa dengan tulus. Bagi Abi itu sudah yang terpenting Cyra," ucap abi Rasyid lagi.
"Iya Nak." Umma Nada ikut berbicara.
"Walau terasa aneh dan terlalu cepat di mata semua orang, jika kamu ingin menikah lagi. Umma yakin sejatinya itu bukan kehendakmu. Umma dan abi juga yakin, jika itu adalah takdir dan jalan yang terbaik yang sudah Allah berikan kepadamu." Cyra masih serius mendengarkannya.
"Jika ada laki-laki sholeh dan baik yang datang melamarmu, janganlah kamu tolak. Karena penyesalan yang akan kamu dapatkan dikemudian hari jika kamu menolaknya." Cyra tersenyum tipis dibalik niqabnya.
"Iya Abi, Umi. Cyra mengerti," jawab Cyra.
"Terimakasih atas dukungannya. Cyra mau bermunajat terlebih dahulu kepada Sang Pencipta untuk mendapatkan jawaban yang terbaik bagi kita semua." Abi dan umma Nada menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, Cyra dan Aiza pamit ke dalam kamar dulu." Abi dan umma Nada mengangguk lagi. Dan setelah itu, Cyra pun berlalu pergi dari hadapan ke dua orang tuanya menuju ke dalam kamarnya.
Apa yang dikatakan oleh abi Rasyid dan umma Nada membuat Cyra kepikiran terus. Sebab Cyra juga tahu, jika Akmal memang laki-laki yang sholeh dan juga baik. Hanya saja dirinya takut. Jika mendapatkan gunjingan dari semua orang yang mengenalnya. Kalau dirinya terlalu cepat menikah lagi. Terlebih dengan adik dari almarhum suaminya.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1