
Sedangkan kembali ke rumah sakit lagi.
Saat ini Mirza sedang diperiksa oleh para tim medis yang tadi sengaja di panggil oleh Cyra, dengan memencet tombol darurat yang tersedia di situ.
Semua orang sedang menyingkir sejenak, untuk memberikan ruang kepada para tim medis tersebut.
Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya Mirza selesai juga diperiksa oleh para tim medis.
" Jangan capek-capek ya Tuan Mirza ," ucap Dokter ramah kepada Mirza.
Para Keluarga langsung mendekat, ketika melihat Mirza sudah selesai diperiksa.
" Dokter, bagaimana keadaan suami saya?? ," tanya Cyra.
" Keadaan Tuan Mirza belum stabil Nyonya, sepertinya Tuan Mirza sedang banyak pikiran, hingga membuat keadaannya belum ada perubahan sama sekali ," jawab sang Dokter.
Ayah Rafiq, Mama Jian, Cyra dan juga Umma Nada, langsung menebak, jika apa yang dipikirkan oleh Mirza sekarang berhubungan dengan Akmal.
" Mohon, jangan membuat Tuan Mirza terlalu banyak pikiran, karena itu bisa membuat kondisinya semakin drop, terutama untuk kesehatan otaknya yang sudah semakin memburuk ," ucap sang Dokter lagi.
" Lalu apa yang harus kami lakukan Dokter?? ," tanya Cyra.
" Jangan membuat Tuan Mirza terlalu capek dan banyak pikiran Nyonya, dan jika sudah membaik, secepatnya Tuan Mirza harus segera melakukan kemoterapi lagi ," jawab sang Dokter.
" Baik Dokter, kami mengerti ," ucap Ayah Rafiq.
" Kalau begitu, kami permisi dulu Tuan, Nyonya ," pamit sang Dokter.
" Iya Dokter, terimakasih ," jawab Cyra dan Ayah Rafiq secara bersamaan.
Setelah itu, para tim medis pun ke luar dari dalam ruang perawatan Mirza.
" Abi dengar kan, apa kata Dokter, jangan terlalu banyak pikiran ," kata Cyra.
" Akmal mana?? ," tanya Mirza.
" Ayah, Akmal mana?? ," tanya Mirza lagi kepada sang Ayah.
" Ayah sedang mencarinya, Mirza ," jawab Ayah Rafiq.
" Tolong jangan marahi Akmal, Yah, ini semua salah Mirza yang sudah menyuruh Akmal untuk segera menikah, hingga membuatnya tersiksa seperti sekarang ," kata Mirza.
" Tidak Nak, jangan kamu menyalahkan diri kamu sendiri ," jawab Ayah Rafiq.
" Sudah, kamu jangan terlalu banyak pikiran ya, biar urusan Akmal, Ayah saja yang menyelesaikannya ," ucap Ayah Rafiq lagi.
" Berjanjilah, kalau Ayah tidak akan memarahi Akmal nanti, jika dia pulang ," kata Akmal.
__ADS_1
" Baik Nak, Ayah berjanji kepadamu ," jawab Ayah Rafiq.
" Ayah ijin ke luar dulu ya, mau mencari angin ," pamit Ayah Rafiq, dan Mirza hanya mengangguk saja.
Ayah Rafiq pun lalu ke luar dari dalam ruang perawatan Mirza, untuk mencoba menghubungi Akmal.
" Kenapa nomornya sejak tadi tidak bisa dihubungi, apa Akmal sudah ganti nomor telepon?? ," ucap Ayah Rafiq bertanda tanya sendiri.
Ayah Rafiq yang tidak bisa menghubungi Akmal, dia mencoba menghubungi Hamzah, yang saat ini sedang berbincang dengan Akmal dan Abraham di dalam rumah kontrakannya Akmal.
Pandangan Akmal yang sedang merasa bingung dan bimbang, teralihkan ke arah ponsel Hamzah yang sedang berbunyi.
" Paman Rafiq ," ucap Hamzah sambil menunjukkan panggilan masuknya kepada Akmal.
" Aku mohon, jangan kamu beritahukan kepada Ayah di mana aku sekarang ," kata Akmal.
Sekarang gantian Hamzah yang merasa bingung, namun dia sudah berjanji kepada sang sahabat, untuk tidak memberitahukan keberadaannya kepada siapapun.
Walau begitu, Hamzah tetap mengangkat sambungan telepon dari Ayah Rafiq.
" Halo assalamu'alaikum Paman Rafiq ," salam dari Hamzah.
" Wa'alaikumussalam Hamzah ," jawab Ayah Rafiq.
" Apa ada yang bisa Hamzah bantu Paman?? ," tanya Hamzah.
" Emm, belum Paman ," jawab Hamzah berbohong.
" Tolong jika kamu atau Abraham sudah bisa menghubungi Akmal, suruh lah dia segera pulang, karena Mirza sedang sangat membutuhkannya ," kata Ayah Rafiq.
" Baik Paman, nanti akan Hamzah sampaikan kepada Akmal ," jawab Hamzah.
Akmal dan Abraham mendengar jelas pembicaraan antara Hamzah dan Ayah Rafiq melalui sambungan telepon.
" Baiklah Nak, terimakasih ," ucap Ayah Rafiq.
" Paman, jika boleh tahu, bagaimana kondisi dari Kak Mirza? ," tanya Hamzah.
" Maafkan Hamzah ya Paman, belum bisa datang ke sana menjenguk Kak Mirza, karena Hamzah masih banyak kerjaan sekarang ," kata Hamzah lagi.
" Iya tidak apa-apa Nak ," jawab Ayah Rafiq.
" Keadaan Mirza saat ini belum stabil, karena dia sedang terlalu banyak pikiran ," jawab Ayah Rafiq.
" Dokter menyarankan Mirza untuk jangan terlalu stres, karena itu bisa membuat dirinya semakin drop, dan membuat daya kerja otaknya semakin meningkat ," jelas Ayah Rafiq lagi.
" Mirza kemarin mengalami penyumbatan pembuluh darah di otaknya, karena merasa terkejut mengetahui Akmal pergi, dan alhamdulillah, Dokter sudah bisa menanganinya dengan baik ," jelas Ayah Rafiq selanjutnya, sedangkan Hamzah masih diam mendengarkan.
__ADS_1
" Jika Mirza semakin stres, bisa dipastikan, tekanan itu akan membuat pembuluh darah di otaknya rusak, dan itu bisa menyebabkan kelumpuhan total atau kematian ," kata Ayah Rafiq lagi.
" Astaghfirullah hal'adzim ," ucap Hamzah sangat terkejut.
" Jadi, tolong bantu Paman ya Nak, suruh Akmal pulang untuk membicarakan masalah ini dengan baik-baik ," kata Ayah Rafiq lagi.
" Baik Paman, baik, Hamzah akan berusaha membantu Paman, mencari keberadaannya Akmal ," jawab Hamzah.
" Terimakasih ya Nak, kalau begitu Paman tutup dulu ya teleponnya, assalamu'alaikum ," kata Ayah Rafiq.
" Iya Paman, wa'alaikumussalam ," jawab Hamzah. Setelahnya, sambungan telepon mereka akhirnya terputus.
Hamzah lalu mengalihkan pandangannya ke arah Akmal, dan menceritakan semuanya apa yang tadi dikatakan oleh sang Ayah kepadanya.
Hati Akmal remuk dan hancur, mengetahui kenyataan jika kondisi sang Kakak memburuk karena dia.
" Ayolah Mal, pulanglah, kasihan Kak Mirza ," bujuk Hamzah.
" Iya Mal, bicarakanlah baik-baik kepada Paman Rafiq tentang keinginanmu itu, dan segeralah temui Kak Mirza, supaya dia tidak terus kepikiran keadaanmu ," bujuk Abraham juga.
" Aku tidak bisa ," jawab Akmal.
" Aku tidak bisa dan aku tidak kuat melihat Kak Mirza seperti sekarang karena kesalahanku ," ucap Akmal lagi.
" Mal ," Hamzah berucap.
" Sudahlah, jangan membujukku terus ," jawab Akmal.
" Jika kalian sudah tidak ada keperluan lagi, tolong pulanglah, dan biarkan aku sendirian di sini ," ucap Akmal kepada ke dua sahabatnya.
" Semoga Allah segera membuka mata hati mu, Mal ," doa Hamzah yang langsung di aamiinkan oleh Abraham.
" Kalau begitu, kami permisi dulu ," pamit Hamzah dan Akmal hanya mengangguk saja.
Akhirnya, Hamzah dan Abraham benar-benar pergi dari rumah kontrakannya Akmal, untuk meninggalkan dia sendirian lagi.
Akmal terus merenung, dan seperti tidak bersemangat dalam menjalani kesehariannya, hingga tidak sadar, ternyata dirinya sudah tinggal di rumah kontrakan itu selama satu minggu lamanya.
Dan selama satu minggu itu pula, orang yang Mirza cari, cuma Akmal dan Akmal seorang, hingga membuat tubuhnya semakin drop dan terlihat semakin kurus.
Ayah Rafiq, Mama Jian, Cyra, Umma Nada bahkan Abi Rasyid, yang sudah mengetahui duduk permasalahannya pun, semakin khawatir melihat kondisinya Mirza.
Mereka sudah terus berusaha mencoba mencari keberadaannya Akmal, namun belum bisa mengetahui di mana Akmal berada. Dan Hamzah bersama Abraham, sampai sekarang belum memberitahukan perihal di mana keberadaannya Akmal kepada semua orang, walau mereka sudah datang menjenguk Mirza di rumah sakit.
...ποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈποΈ...
...***TBC***...
__ADS_1