IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
HANCUR


__ADS_3

Mirza yang sudah ke luar dari dalam kamarnya, dia langsung berjalan menuju ke arah Akmal.


Mirza cukup terkejut ketika melihat Akmal sedang memegangi ponselnya.


" Kamu kenapa mengambil ponsel Kakak, Akmal? ," tanya Mirza, dan reflek karena terkejut Akmal sampai menjatuhkan ponsel Mirza dengan cukup keras.


" Astaghfirullah, kamu kenapa Akmal,? jika capek beristirahatlah ," kata Mirza sambil mengambil ponselnya.


Sedangkan Akmal masih terbengong, entah nyawanya sedang menyangkut di mana.


" Akmal,? kamu kenapa,? ko jadi bengong sendiri?? ," kata Mirza kepada Akmal.


" Akmal!! ," kata Mirza lagi sambil memukul pundak Akmal, dan barulah Akmal tersadar dari masa melamunnya.


" Eh iya Kak, maaf ," jawab Akmal.


Akmal sekuat tenaga menetralkan perasaan dan juga sikapnya dihadapan sang Kakak, supaya Mirza tidak merasa curiga kepadanya.


" Kamu kenapa?? ," tanya Mirza lagi.


" Oh tidak apa-apa Kak, hanya sedang terkejut saja ," jawab Akmal.


" Terkejut kenapa sih memangnya Akmal?? ," tanya Mirza sambil menghitung jumlah undangan yang tadi baru saja dia ambil dari dalam kamar.


" Itu tadi ponsel Kakak bergetar, dan tidak sengaja Akmal melihat wallpaper ponselnya, terus Akmal amati, ko rasa-rasanya seperti kenal dengan gadis yang berfoto dengan Kakak ," kata Akmal mencoba mencari tahu.


" Iya dia calon istri Kakak dong Akmal ," jawab Mirza.


" Namanya Cyra, dia kan mahasiswi di kampus tempat kamu mengajar, entahlah dia murid kamu atau tidak, Kakak juga tidak pernah bertanya kepadanya ," kata Mirza lagi.


Duaaaarrrr!!!


Seperti meledak hati Akmal, mendengar cerita dari sang Kakak yang akhirnya mau jujur juga kepadanya tentang calon istrinya.


Akmal diam-diam mengambil nafas panjang, sebelum menjawab perkataan dari sang Kakak, dan setelah tenang barulah Akmal berbicara lagi.


" Coba Akmal lihat siapa nama lengkapnya, karena nama Cyra di kampus cukup banyak Kak ," kata Akmal.


" Ini ambillah satu undangannya ," jawab Mirza.


Akmal berpura-pura membaca kartu undangan pernikahannya Mirza.


" Cyra Adeeva Rasyid, kalau ini Akmal tahu Kak, dia salah satu murid Akmal ," kata Akmal mencoba biasa saja.


" Jika Cyra tahu, kalau Dosennya akan menjadi adik iparnya pasti dia malu, dasar dunia ini sempit ," kata Mirza sambil tertawa, sambil juga menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Hehehe iya Kak, lucu sekali, dia yang biasanya memanggil Akmal, dengan panggilan Bapak, sekarang Akmal yang akan memanggil dia dengan panggilan Kakak ," kata Akmal sambil tertawa.


Tawa untuk menyembunyikan kesedihannya yang mendalam atas rasa patah hati yang dirasakannya sekarang.


" Besok Kakak mau ke rumahnya sebentar, mau mengambil barang yang ketinggalan di sana, kalau kamu mau ikut, ayo ikut saja ," kata Mirza.


" Boleh Kak, nanti kabari saja jika mau berangkat ," jawab Akmal.


" Ok siap ," jawab Mirza.


" Emm, Kak, ini tinggal sedikit, Akmal mau ke dalam kamar sebentar, mau ganti baju sekalian mau buang air besar, rasanya sudah tidak tahan ," kata Akmal mencari alasan, sebab dia sudah tidak tahan berada di situ bersama sang Kakak.


" Iya, terimakasih, sudah sana cepat ke kamar mandi ," jawab Mirza.


" Akmal tinggal ya Kak ," kata Akmal lagi, dan Mirza hanya mengangguk saja.


Akmal langsung berlari menuju ke dalam kamarnya, karena dia ingin segera menumpahkan kesedihannya di dalam kamar pribadinya.


Sesampainya di dalam kamar, Akmal langsung menangis, iya menangis, karena saking sakit hatinya sudah mencintai gadis secara diam-diam selama empat tahun lamanya, malah sang gadis akan menikah dengan sang Kakak.


Jika sudah begini, siapakah yang patut di salahkan, Mirza atau keadaan, karena Mirza sengaja menutup-nutupi siapa calon istrinya kepada Akmal, atau keadaan yang selalu membuat kejadian setiap Akmal ingin bertemu dengan Cyra bersama Mirza.


Wallahualam bish-shawab ( hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya ).


Begitupula dengan hati Mirza, yang sengaja di tutup oleh Allah untuk jangan memberitahukan perihal Cyra kepada Akmal.


Supaya menjadi pembelajaran untuk Akmal, jangan terlalu mencintai satu wanita atau terfokus dengan satu wanita saja hingga melupakan cara mendapatkan wanita itu bagaimana.


Akmal selama empat tahun ini cuma berani memandangi Cyra saja dan memanfaatkan kedekatannya dengan Cyra, tanpa mau atau berani mengungkapkan perasaannya sejak awal.


Itulah pertanda dari Allah, jika Allah ingin Akmal lebih gentle lagi dalam bertindak, untuk mencari calon istri supaya tidak keduluan dengan laki-laki lainnya lagi.


" Ya Allah Ya Rabbi, kenapa Engkau menjodohkan Cyra dengan Kakak hamba sendiri, rasanya hamba tidak bisa melihat mereka bersanding di pelaminan ," kata Akmal tersedu-sedu.


Tidak pernah yang namanya jatuh cinta, sekalinya bisa merasakan jatuh cinta, pada saat itu pula secara bersamaan harus merasakan rasa sakit yang teramat sakit yang tidak pernah dia rasakan di sepanjang umurnya.


" Rasa sakit hati ini belum bisa hamba hilangkan, tapi hamba harus melihat mereka bersanding beberapa hari lagi ," kata Akmal sambil memukul dadanya.


Sebegitu dalamnyakah rasa cinta Akmal untuk Cyra, hingga dia bisa sampai merasakan rasa sakit yang teramat sakit sekali saat ini.


Walau hatinya sakit, karena harus melihat gadis yang sangat di cintainya akan menikah dengan sang Kakak, namun Akmal tidak ada niatan sama sekali ingin merebut Cyra dari Mirza.


Akmal mencoba mengalah, Akmal mencoba menerima keadaan, karena memang sejak awal, Kakaknyalah yang sudah dijodohkan oleh sang Ayah dengan Cyra.


Akmal mencoba menenangkan hatinya, supaya sang Kakak ketika melihatnya tidak merasa curiga dan banyak bertanya kepadanya, sebab Akmal juga ingin segera melihat sang Kakak segera menikah.

__ADS_1


Keesokan paginya, Akmal jadi ikut pergi bersama Mirza ke rumah Cyra.


Sejak dari rumah, perasaan Akmal sudah tidak karuan sekali, dan bahkan di dalam mobil pun Akmal lebih banyak diam daripada berbicara dengan sang Kakak.


" Kamu sepertinya sedang lelah Akmal, lihatlah ada kantung mata di matamu ," kata Mirza.


Kantung mata Akmal itu karena semalam Akmal sedang bersedih dan juga menangis.


" Iya Kak, Akmal sedang banyak pekerjaan, dan semalam Akmal lembur untuk menyelesaikannya ," jawab berbohong dari Akmal.


" Jangan terus terforsir dengan pekerjaan, nanti kamu bisa sakit ," kata Mirza.


Dan kata-kata Mirza, membuat Akmal jadi teringat dengan pesan yang dikirimkan oleh Cyra kemarin ke dalam ponsel sang Kakak yang tidak sengaja dia baca.


" Iya Kak, Akmal tahu, dan Akmal juga tidak setiap hari bergadang ko ," jawab sekedarnya saja dari Akmal.


Mirza hanya mengangguk saja, dan ketika sedang asik menyetir, tiba-tiba telinganya mendengar suara dering ponsel yang berbunyi, setelah dilihat ternyata ponsel itu miliknya sendiri.


Mirza langsung memakai handsfree miliknya, sebelum mengangkat sambungan telepon yang ternyata dari Cyra.


" Halo Assalamu'alaikum Cyra ," kata Mirza.


Hmm, lagi-lagi hati Akmal memanas mendengar Mirza menyebut nama Cyra, namun sekuat tenaga Akmal menahan perasaan sedihnya itu.


" Wa'alaikumussalam Kakak ," jawab Cyra.


" Kakak jadi ke sini untuk mengambil sisa undangannya?? ," tanya Cyra.


" Jadi dong calon istriku yang cantik ," jawab Mirza dengan begitu manis sekali.


Semakin cemburu saja hati Akmal, mendengar Mirza bisa semesra itu dengan Cyra.


" Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan ya Kak, Cyra tunggu di rumah ," kata Cyra.


" Iya Khumairahku, assalamu'alaikum ," jawab Mirza.


Lalu sambungan telepon mereka terputus, setelah Mirza mendengar jawaban salam dari Cyra.


Dari luar Akmal sudah terlihat biasa saja mendengar Mirza sedang menerima telepon dari Cyra, tapi siapa yang tahu dalamnya hati seseorang, kecuali sang pencipta langit dan bumi.


Hati Akmal hancur setiap saat, ketika sang Kakak bisa begitu romantis dengan Cyra seperti tadi.


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2