IKHTIAR CINTA AKMAL

IKHTIAR CINTA AKMAL
MASIH AKMAL


__ADS_3

Akmal hanya diam saja sambil memandangi Cyra yang sudah berlalu pergi dari hadapannya.


Mau bisa sembuh bagaimana luka hatinya, jika dia saja harus setiap hari bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya yang sudah bersanding dengan sang Kakak.


Akmal hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, dan menyesali pertanyaan tadi yang sudah dia tanyakan kepada Cyra.


Semua itu reflek belaka, karena mereka cuma berdua saja di dalam dapur.


Setan cepat sekali menguasai hati Akmal, hingga Akmal melupakan status Cyra, sebagai istri dari Kakak kandungnya.


" Astaghfirullah, apa yang tadi sudah aku katakan kepada Cyra?? ," kata Akmal sambil mengusap wajahnya.


Akmal yang tadinya ingin mengambil air minum, seketika lupa dan memilih beranjak masuk lagi ke dalam kamarnya sendiri.


Kamar Akmal dan Mirza letaknya tidak terlalu jauh, bisa dibilang berdekatan, jika Akmal berjalan menuju ke dalam kamarnya, dia akan melewati kamar sang Kakak terlebih dahulu.


" Tangan kamu kenapa sayang?? ," tanya Mirza kepada Cyra.


Suara Mirza tidak sengaja didengar oleh Akmal yang sedang berjalan ke arah kamarnya, karena baik Mirza dan Cyra, lupa menutup pintunya dengan rapat.


Ingin sekali Akmal menulikan telinganya, tapi yah yang namanya sifat manusiawi, terlebih lagi setan cepat menguasai hati, Akmal jadi mengurungkan diri untuk masuk kembali ke dalam kamar pribadi.


Akmal saat ini malah memilih menguping dan mengintip sedikit apa yang sedang dilakukan oleh Mirza kepada Cyra.


" Oh, tadi ketika sedang mencuci gelas, tidak sengaja terlepas Kak, dan pecah di lantai ," jawab Cyra.


" Sini biar Kakak obati, pasti sakit ya terkena pecahan gelas ," kata Mirza.


" Cyra terkena pecahan gelas, kenapa tadi dia terlihat biasa saja?? ," kata batin Akmal.


Iya wajar saja jika Cyra biasa saja di hadapan kamu, Akmal, kan kamu bukan siapa-siapanya Cyra, cuma ipar saja statusnya.


" Terimakasih suamiku ," jawab Cyra.


" Tunggu sebentar, akan Kakak ambilkan kotak P3K dulu ," kata Mirza lagi.


Cyra hanya mengangguk saja dan Mirza langsung mengambilkan kotak P3K yang ada di dalam kamarnya.


Sambil membuka kota P3Knya, Mirza pun mencoba melihat luka goresan pecahan gelas tadi.


" Untung saja lukanya tidak terlalu dalam, tapi jika tidak diobati juga bisa infeksi ," kata Mirza.


Dengan sangat telaten, Mirza mengobati luka di tangan Cyra.

__ADS_1


" Aaah, sakit Kak ," kata Cyra.


" Ditahan sebentar ya, sedang Kakak bersihkan ini, takutnya ada pecahan kecil yang menusuk di dalamnya ," jawab Mirza.


" Aaaah, Cyra tidak tahan Kak dengan rasa sakitnya ," kata Cyra lagi sambil menangis.


Akmal yang mendengar Cyra mengaduh kesakitan, hatinya seperti bisa ikut merasakan rasa sakitnya juga.


" Sebentar lagi selesai sayang, nah ...... sudah selesai ," kata Mirza yang sudah selesai memberikan plester kecil di tangan Cyra yang terluka tadi.


Mirza lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Cyra, yang ternyata niqobnya sedang basah karena terkena air matanya tadi.


" Hei istriku sedang menangis ternyata ," kata Mirza, dan semua yang Mirza maupun Cyra bicarakan masih didengar jelas oleh Akmal.


Mirza mencoba membuka niqob Cyra, dan Akmal yang melihat, langsung mengalihkan pandangannya sambil memegangi dadanya.


Sebab Akmal seakan belum siap melihat wajah Cyra yang tersembunyi itu.


Karena rasa penasaran yang tinggi, Akmal pun mencoba mengintip lagi, namun untungnya Cyra sedang duduk membelakangi pintu, jadi Akmal tidak bisa melihat dengan jelas wajah Cyra yang cantik nan manis itu.


" Wajah secantik ini ko menangis, senyum dong ," kata Mirza sambil mengusap air mata Cyra.


" Kan sudah Kakak obati lukanya ," kata Mirza lagi sambil mencium pipi Cyra.


Jantung Akmal berdetak sangat kencang sekali, melihat Mirza mencium pipi Cyra begitu mesra sekali, dan bukan salah Mirza jika ingin bermesraan dengan Cyra.


Cyra hanya diam saja sambil terus memandang lekat wajah Mirza yang berada persis di depannya.


" Bibir ini, hanya boleh tersenyum manis dan selalu bahagia sayang ," kata Mirza sangat romantis sekali.


Lama kelamaan wajah Mirza semakin dekat, hingga akhirnya, bibirnya dan bibir Cyra menempel dengan sempurna.


Akmal melihat dengan sangat jelas sekali, ketika sang Kakak mencium Cyra tepat di bibirnya, dan mereka berciuman cukup lama pun masih Akmal perhatikan.


Akmal yang bodoh, harusnya dia pergi sejak awal dari depan kamar sang Kakak, jadinya rasa sakit yang dia rasakan tidak menjadi berkali-kali lipat, karena melihat kemesraan sang Kakak dengan Cyra.


Tanpa banyak bersuara, akhirnya Akmal pun pergi juga dari depan kamar sang Kakak menuju ke dalam kamarnya sendiri.


Dan sesampainya di dalam kamar, Akmal langsung meninju angin untuk meluapkan perasaan marahnya yang tidak bertuan.


Hati Akmal benar-benar terasa sangat sesak sekali, sebab melihat pemandangan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.


" Sepertinya aku harus tinggal di apartemen atau di mana, karena aku tidak kuat jika harus satu rumah dengan Kak Mirza ," kata Akmal berbicara sendiri.

__ADS_1


" Tapi, jika aku pisah rumah sama Ayah dan Mama, pasti mereka akan merasa curiga denganku ," kata Akmal merasa bingung sendiri.


" Aaargggh, astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan ," kata Akmal lagi.


Sedangkan di dalam kamar Mirza, Mirza yang sudah puas berciuman dengan Cyra, dia pun lalu tersenyum sangat manis sekali.


" Mau lanjut sayang?? ," tanya Mirza.


" Terserah Kakak, Cyra menurut ," jawab Cyra sambil tersenyum manis.


" Ok sebentar, biar Kakak tutup dulu pintunya, kalau ada yang melihat malah bahaya ," kata Mirza.


Cyra hanya tersenyum saja, dan Mirza lalu beranjak berdiri dari duduknya untuk menutup rapat pintu kamarnya.


Selesai menutup rapat pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam, Mirza dan Cyra melakukan sunnah rasul lagi untuk kesekian kalinya.


Mereka masih menikmati masa-masa pengantin baru mereka, yang rasanya hmm sungguh benar-benar sangat indah dan nikmat sekali.


Pagi harinya, ketika jam sudah menunjukkan pukul hampir setengah lima pagi, Mirza yang ingin menunaikan sholat subuh di masjid yang dekat dengan rumahnya, tidak sengaja berpapasan dengan Akmal yang ingin berjalan menuruni tangga.


" Eh Akmal, mau ke masjid juga kamu?? ," tanya Mirza.


" Iya Kak, apa Kakak juga mau ke masjid?? ," jawab Akmal sambil melirik rambut Mirza yang masih basah, karena baru saja selesai mandi 7unub.


" Iya, ayo kita bersama saja ," kata Mirza.


" Ayo Kak ," jawab Akmal sambil berkata di dalam hatinya.


" Pasti Kak Akmal semalam baru melakukan itu dengan Cyra ," kata batin Akmal sambil berjalan beriringan dengan sang Kakak menuju ke masjid.


Sedangkan Cyra sendiri yang sudah selesai mandi dan juga sudah selesai menunaikan sholat subuh sendirian di dalam kamar, dia langsung saja bergegas ke luar dari dalam kamar untuk membantu memasak di dapur.


" Eh Nyonya Cyra, ada apa Nyonya ke sini,? apa ada yang bisa kami bantu Nyonya?? ," tanya sang bibi kepada Cyra.


" Cyra mau membantu memasak Bi ," jawab Cyra.


" Tidak perlu Nyonya, biar kami saja yang memasaknya ," jawab sang Bibi.


" Tidak apa-apa, sudah menjadi kebiasaan Cyra ko Bi, memasak setiap pagi ," kata Cyra.


" Baiklah ," jawab sang Bibi pasrah.


Akhirnya, Cyra pun membantu para Bibi yang sedang memasak untuk menyiapkan sarapan pagi nanti.

__ADS_1


...πŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈπŸŽ—οΈ...


...***TBC***...


__ADS_2